• Shortcuts : 'n' next unread feed - 'p' previous unread feed • Styles : 1 2

» Publishers, Monetize your RSS feeds with FeedShow:  More infos  (Show/Hide Ads)


Date: Tuesday, 19 Aug 2014 00:01

Untuk membantu teman-teman yang ingin belajar tentang homeschooling, beberapa tahun terakhir ini kami mengadakan webinar homeschooling. Biasanya setahun sekali walaupun terkadang setahun dua kali karena banyak yang bertanya dan meminta.

Tahun 2014 ini, Webinar Homeschooling sudah diadakan pada bulan Maret-April. Kami merencanakan webinar berikutnya akan diadakan tahun 2015 yang akan datang. Tapi, ternyata banyak yang minta untuk diadakan webinar homeschooling lagi. Inbox dengan pertanyaan yang sejenis datang berulang. Bahkan, beberapa orang ingin datang untuk bertanya dan berdiskusi tentang homeschooling.

Sebenarnya kami sudah sediakan ebook homeschooling dan podcast homeschooling yang bisa dinikmati gratis. Posting tentang homeschooling yang sudah kami tuliskan di Rumah Inspirasi juga sudah banyak sekali. Tapi kelihatannya itu belum mencukupi.

***

Webinar Homeschooling (lagi)

Oke… Setelah menimbang, kami memutuskan untuk mengadakan lagi webinar homeschooling. Terlalu repot untuk menjawab pertanyaan satu-persatu. Untuk menerima tamu-tamu yang mau konsultasi homeschooling, terus terang kami tak sanggup. Kami ini hanya keluarga biasa yang membutuhkan ruang privat untuk beraktivitas. Kalau tamu terus berdatangan, rasanya sangat tidak praktis.

Jadi, format yang sanggup kami selenggarakan adalah webinar.

Mengapa formatnya webinar dan bukan seminar fisik?

  • Seminar fisik membutuhkan persiapan yang banyak, mulai mencari tempat, akomodasi, pembicara, dsb. Webinar (seminar online) membutuhkan effort yang relatif bisa kami lakukan.
  • Seminar fisik hanya bisa didatangi keluarga yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Dengan webinar, seluruh kegiatan bisa diikuti oleh peserta dari manapun (baik di Indonesia maupun luar negeri) sepanjang terhubung dengan koneksi Internet yang memadai.
  • Seminar fisik memiliki waktu lebih terbatas dan biaya yang lebih mahal. Webinar membuat kita bisa melakukan pembahasan aneka tema dengan jangka waktu lebih lama (8 pertemuan, seminggu sekali selama 2 bulan). Tentunya, biaya webinar jauh lebih ekonomis dibandingkan biaya seminar fisik. Apalagi bagi keluarga yang tinggal di luar kota (tak ada biaya transportasi dan webinar bisa diikuti bersama keluarga & teman).

Tapi, tentu saja ada kekurangan webinar dibandingkan seminar fisik, misalnya kualitas interaksi peserta. Juga, kekurangannya adalah ketergantungan pada kualitas koneksi Internet. Kalau koneksi bagus, webinar lancar, tapi kalau kualitas koneksi buruk maka webinar menjadi kurang nyaman.

Untuk mengatasi kekurang itu, nanti kita akan ada kopdar (kopi darat) pertemuan setelah sesi webinar selesai untuk silaturahmi ngobrol-ngobrol. Nah, karena peserta sudah dibekali ilmu selama webinar, mudah-mudahan obrolannya menjadi lebih fokus.

Sedangkan untuk menangani masalah kualitas koneksi Internet, setiap webinar akan ada rekamannya. Jadi, bagi yang koneksinya sedang buruk atau sedang tidak bisa hadir saat webinar; materi rekamannya bisa diunduh sehari setelah webinar berlangsung.

***

webinar-plan570

So, bagaimana teman-teman?

Informasi tentatif webinar rencananya akan dilaksanakan 8 sesi selama September-Oktober. Saya sedang menyusun kerangka materinya. Mudah-mudahan dalam minggu ini sudah ada pengumuman resmi sehingga teman-teman bisa mendaftar.

Tunggu ya…

 

UPDATE Webinar

Jika Anda ingin mendapatkan update mengenai kepastian jadwal webinar homeschooling, silakan mengisi formulir di bawah ini. Kami akan mengirimkan email kepada Anda setelah ada kepastian jadwal webinar:

Author: "Aar" Tags: "Aar"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 07 Aug 2014 22:30

Beberapa hari yang lalu, aku menemani kegiatan bermain dan belajar Duta. Kami main-main menggunakan materi flashcard yang ada di Bentang Ilmu. Permainan yang kami lakukan adalah matching game.

Awalnya materi flashcard yang sudah kami print di kertas tebal itu dipotong-potong. Ada flashcard gambar+nama, ada yang gambar dan namanya terpisah.

Awalnya aku mengenalkan nama-nama benda menggunakan flashcard gambar+nama. Proses ini aku lakukan beberapa kali.
Setelah itu, Duta bermain matching antara gambar dan tulisan namanya.

Duta-FC

Terakhir, Duta main tempel-tempel dan menarik garis antara gambar dan huruf pertama. Juga, Duta bermain mengenali pola gambar berulang dengan menempelkan gambar yang benar.

Kegiatan ini berlangsung sekitar 20 menit.

 

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Duta"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 04 Aug 2014 00:23

Dalam proses homeschooling, yang belajar bukan hanya anak-anak, tetapi juga orangtuanya. Kualitas pembelajaran menjadi luar biasa saat anak melihat contoh dari orangtuanya. Semua praktisi homeschooling sangat faham tentang hal itu.

Kami pun belajar dan berusaha menerapkan hal itu.

Untuk mengajarkan anak-anak lentur bersikap dan senang belajar apapun, saat ini aku “bereksperimen” dengan diriku.

Caranya?

Aku mencoba belajar grafis dan memasak! :)

not-a-race
Belajar Melenturkan Diri

Diantara hal-hal yang tak kusukai dan tak kukuasai adalah pekerjaan teknis dan seni. Selama umur yang sudah lebih dari 40 tahun ini, sebagian besar aktivitasku di dunia konseptual, baik saat belajar maupun saat bekerja.

Secara pribadi, aku tahu itu. Aku nyaman dan merasa kuat di area konseptual dan di situlah aku terus mengasah dan memperkuatnya.

Tapi hidup bukan hanya perihal mengasah kekuatan. Hidup juga banyak berisi kekuatan untuk melenturkan diri menghadapi berbagai peristiwa yang ada dalam hidup kita. Jika kita kaku, maka hati dan hidup kita akan mudah patah.

Nah, dalam rangka mengasah kelenturan hati dan meningkatkan keterampilan, beberapa hari terakhir ini aku belajar membuat quote untuk Rumah Inspirasi. Kelihatannya bagi sebagian orang ini adalah hal yang sepele, tapi tidak buatku. Banyak aspek teknikal yang tidak aku kuasai dan itu menuntutku membuka diri untuk proses belajar dengan bertanya dan diajari Lala dan Yudhis. Hasil belajarku bisa dilihat di: Quote Homeschooling & Parenting.

Hal kedua yang sedang aku pelajari adalah mengerjakan urusan dapur alias belajar memasak, lengkap mulai persiapan, memasak, menyajikan, hingga membereskan usai memasak. Kebetulan ada kondisi yang memicu untuk belajar memasak, yaitu Lala mulai sering “ngantor” keluar rumah untuk urusan bisnis yang baru kami rintis. Untuk proses belajar memasak ini, partner belajarku adalah Tata yang menjadi asisten sekaligus teman diskusiku.

raising-children

Proses Belajar Bersama

Buatku ini proses yang menarik. Kami sekeluarga menjalani proses belajar bersama, walaupun sebenarnya yang belajar adalah aku.

Lala berusaha mentransfer ilmu memasak dan gratis padaku. Yudhis menjadi guru teknis grafisku. Tata juga belajar memasak bersamaku. Dan tentu saja, aku sendiri harus belajar melapangkan hati dan membuat tanganku yang kaku ini menjadi lebih terampil.

Proses ini kami bahaskan bersama anak-anak. Walaupun proses ini masih awal, aku ingin anak-anak tahu bahwa orangtua-nya pun terus belajar. Mereka juga melihat bahwa belajar itu bukan hanya perihal penguasaan teknis, tetapi juga merupakan olah hati dan sikap. Dampak belajar pun bukan hanya pada penguasaan materi yang dipelajari, tapi juga pada kehidupan keseharian.

Hati lapang, sikap lentur, pikiran terbuka, tangan semakin terampil, dan konsistensi belajar terjaga. Itulah pelajaran besar tentang kehidupan yang ingin aku bagi bersama anak-anak melalui proses ini.

 

Author: "Aar" Tags: "Aar"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 02 Aug 2014 03:23

Kemarin adalah hari baru di bulan baru. Seperti biasa kalau bulan baru Duta pasti sibuk mengejar-ngejar aku untuk membuatkan jadwal baru untuknya. Sepertinya Duta senang melihat jadwalnya dan mengetahui apa saja yang harus dilakukannya sepanjang hari.

Ada perkembangan yang cukup menyenangkan untuk urusan jadwal Duta. Kalau dulu Duta meminta bintang untuk semua hal yang berhasil dia lakukan di jadwalnya, maka kini Duta sudah tidak membutuhkan itu lagi. Dia melakukan “cek” di dalam kepalanya saja.

Jadi kalau Duta melihat jadwalnya hari ini dia hanya berkata, “Reading Eggs – udah, Duta’s Book (sebutan untuk lembar kerja yang aku berikan untuk Duta) - udah, nanti aku Tenis sama Gym. Yeaaa”. Lalu dia meneruskan lompat-lompat dan guling-gulingnya.

jadwal-duta-agustus

Sebaliknya, jika ada materi yang belum dia lakukan maka dia yang akan mengejarku untuk minta diberikan materi tersebut. Seperti materi worksheet yang ada dalam jadwal tanggal 1 kemarin, “Mana worksheet aku? Aku mau kerja”. Lalu aku memberikannya satu set jatah worksheetnya hari ini.

Aku memang membagi-bagi materi belajar Duta dalam paket kecil-kecil agar mudah diserap oleh Duta. Hal ini terasa sekali manfaatnya terutama kalau kami sedang sibuk atau ada tamu. Kemarin pun seperti itu, ada tamu datang tapi Duta tetap asyik dengan paket materinya.

Nah, yang lucu adalah biasanya selesai mengerjakan worksheet maka Duta akan mendatangiku untuk minta penilaian, tapi kemarin aku lihat setelah selesai mengerjakan materinya Duta langsung asyik dengan mainannya. Waktu aku tanya “mana worksheetnya? sini ibu periksa”. Duta jawab “Sudah, aku dapet bagus”. Lalu dia menyerahkan worksheetnya. Aku lihat sudah ada nilainya, jadi aku pikir mas Aar yang periksa materi Duta.

Tidak lama mas Aar menghampiri Duta dan bertanya, “Duta mana worksheetnya? Bapak periksa?” lhoo. kok Bapak periksa? Bukannya sudah diperiksa mas Aar? Lalu aku memperlihatkan hasil pekerjaan Duta, mas Aar pun bingung karena tidak merasa periksa materi Duta. Tapi kenapa kertasnya sudah ada tanda A+?

Waktu aku tanya ke Duta, “Ini siapa yang kasih nilai?”. Dengan santai Duta jawab “Duta, ini dapet A+ karena Duta bener, kalau ini B karena Duta salah salah, ini B+ karena salah dikit, ini A- karena kurang rapi” eeeeiiitttss…. hahahaha. Gaya menerangkannya kok persis seperti kalau aku lagi menilai worksheet dia ya? hahaha.. susah sekali aku untuk menahan geli melihatnya.

Coba bandingkan, ini worksheet dengan penilaian aku:

belajar-duta

Ini worksheet hasil penilaian Duta:

belajar-duta2Gaya kan cara Duta menilai dirinya sendiri? hehehe…

Bagaimanapun juga, bagiku ini bagian dari perjalanan perkembangan kecerdasan Duta. Yang penting lagi, Duta menikmati hari-hari & jadwal belajarnya.

Buat teman-teman yang juga ingin membuat jadwal pelajaran untuk anak-anaknya, silakan unduh jadwal belajar bulan Agustus 2014 ini (versi kosong) bisa teman-teman isi sendiri lalu save atau langsung print. Silakan klik pada gambar di bawah untuk download.

Bulan ini temanya Mr Men (tepatnya MASIH Mr Men, maklum Duta benar-benar suka banget dengan Mr Men). O iya, kalau ingin menyimpan hasil isi teman-teman, maka pastikan membuka dan mengisinya di Adobe Reader ya.

jadwal-belajar-agustus

*materi worksheet Duta bisa didapat di situs BentangIlmu

Author: "Lala" Tags: "Download Gratis, Kegiatan Duta"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 01 Aug 2014 03:04

Salah satu pertanyaan yang juga sering datang kepada kami selain bagaimana sosialisasi anak homeschooling & kurikulum homeschooling adalah bagaimana keseharian homeschooling keluarga kami? Sebenarnya itu mudah dijawab sih, “Baca aja RumahInspirasi.com” karena sebagian besar isinya memang diisi dengan keseharian kami. Tapi ternyata tetap belum menjawab pertanyaan teman-teman yang tertarik atau ingin menjalankan homeschooling.

Banyak juga teman yang ingin main seharian di rumah hanya untuk melihat proses belajar kami. Padahal kalau itu yang dilakukan dijamin kecewa karena proses belajar kami mungkin tidak seideal yang dibayangkan orang-orang.

Kami ini adalah praktisi homeschooling yang menganut aliran “Belajar dari keseharian”. Jadi sebisa mungkin pelajaran yang ada menyatu dengan keseharian  mereka. Misal, alih-alih membuat sesi khusus memasak, kami membuka pintu dapur dan sesi masak keseharian untuk direcoki anak-anak dan menjadi cara mereka belajar. Kami menjadikan kebiasaan mencuci piring, mencuci baju, menjemur baju, menyetrika, membereskan kamar, merapikan tempat tidur,  mainan dan aneka pekerjaan rumah tangga lain sebagai bagian dari pelajaran. Kami menggunakan pasar, supermarket, rumah eyang/saudara, lingkungan sebagai tempat mereka belajar.

Lalu kapan belajarnya? Itu jadi pertanyaan lanjutan. Mungkin maksud dari penanya adalah “Kapan belajar matematika, sains dan pelajaran yang ada di sekolah lainnya?” Kalau itu memang anak-anak membuat sendiri jadwal belajarnya. Tapi itu pun sifatnya sangat lentur. Jadwal itu menjadi alat untuk anak-anak belajar mengatur prioritas hariannya. Mereka berproses bersama kami, kadang mulus kadang tidak. Ada hari-hari di mana mereka “taat jadwal”, ada hari-hari di mana jadwal itu bubar jalan karena suatu kondisi.

Kondisi yang paling sering membuat jadwal kacau biasanya berasa dari diri kami (orangtuanya). Misalnya, kami mengajak mereka pergi seharian. Atau, kami sedang sibuk ada deadline sehingga Tata & Yudhis kami minta untuk memastikan Duta tidak rewel, Dan itu semua membuat jadwal mereka terganggu. Atau ada tamu mendadak yang datang bersama anak kecil sehingga akhirnya hari mereka berlalu dengan bermain bersama anak-anak tamu yang datang.

Lalu kalau sudah begitu bagaimana? Well, sebagaimana ritme kehidupan yang naik turun, kami belajar berdamai dengan ritme keseharian belajar anak-anak kami. Kalau ada sebuah kondisi yang mengacaukan jadwal kami, yah kami buat keputusan kalau hari itu atau sampai sebuah periode tertentu untuk libur. Begitu kondisi kembali kondusif belajar pun dimulai kembali untuk mengejar “ketertinggalan”. Kurang lebihnya seperti itu.

Seperti kemarin, terus terang aku masih terbawa hawa “libur”. Masih pengen santai-santai dan menyiapkan hati untuk mulai proses belajar hari Senin. Ternyata kemarin semua anak-anak sudah “ON”. Yudhis & Tata sudah kembali ke dalam skejul keseharian mereka, Duta bahkan mengerjakan aneka craft & worksheet sendirian. Padahal pagi sampai siang kami masih jalan ke rumah saudara dalam rangka hari raya.

Sebuah hal manis yang aku rasakan dari proses homeschooling adalah “beban” keluarga ini kami tanggung bersama. Bukan sekedar bapak dan ibu, tapi juga oleh anak-anak. Kalau bapak capek, ada ibu dan anak-anak yang mengangkatnya membiarkan bapak istirahat sejenak. Begitu pula kalau ibu letih, ada bapak & anak-anak yang berusaha mandiri di posnya masing-masing. Sementara kalau anak-anak yang “mbelenger” kami sebagai orangtua berusaha tidak langsung marah tapi berusaha menggali sebab dari ketidakmampuan mereka memenuhi jadwal harian.

Jadi, keseharian homeschooling kami adalah kerja tim di beragam titik. Sebagai tim, kami harus menjaga komunikasi dan ritme kerjasama. Keadaan mungkin tidak pernah selalu bisa sempurna, tapi dalam setiap keletihan, kejatuhan, ketidaksempurnaan selalu ada anggota tim yang bersedia menjaga dan menyempurnakannya.

craft-duta

yudhis-werewolfst1

Notebooking:notebooking

keseharian-homeschooling

Author: "Lala" Tags: "Kegiatan Belajar, Lala, keseharian"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 31 Jul 2014 22:00

Setahap demi setahap, Tata mengayunkan langkah dalam proses belajarnya sehari-hari. Selain aktif menggambar yang hasilnya diunggah di blog Dunia Tata, proses belajar yang secara kontinu dilakukan Tata adalah matematika.

Catatan ini adalah dokumentasi milestone kegiatan belajar Tata.

IXL-Tata-K5-80-persen

Author: "Aar" Tags: "Uncategorized"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 31 Jul 2014 03:42

Masih tentang Mr Men. Saat ini Duta memang betul-betul suka dengan Mr Men. Bahkan sekarang dia kerap menyebut dirinya paduan antara Mr Quiet, Mr Strong, Mr Happy & Mr Cool. Hehe..

Selama hari Idul Fitri, energi rasanya habis dari aneka perjalanan kunjungan kesana kemari. Apalagi kami tinggal di Jakarta yang ternyata tetap macet walau katanya sebagian penduduknya sudah pulang kampung. Makanya, saat sampai rumah dan Duta langsung mengajak main & berkegiatan, rasanya berat sekali.

Karena perjalanan panjang, sepertinya Duta juga capek sehingga dia menjadi malas berkegiatan sendirian. Kalau sudah begitu mulai deh, Duta rewel dan minta perhatian. Untung kakak Tata baik mau menemani Duta gambar-gambar.

Awalnya mereka menggambar asal-asalan di kertas. Kemudian mereka menggunakan gambarnya untuk saling bercerita. Kemudian gambar pun beralih ke iPad dengan hasil lebih lucu karena berwarna-warni.

Yang menarik buatku adalah prosesnya. Duta ternyata menggambar Mr Men dengan melihat buku-buku serial Mr Men yang dimilikinya.

Karakter Mr Men yang mudah ditiru oleh anak-anak membuat mereka bahagia karena merasa sudah bisa  menggambar karakter dari buku kesukaannya.

 Gambar Duta:

Mr.Men karya Duta

Gambar Tata:

Mr Men Karya Tata

 

Gambar Duta & Tata (di ipad)

Mr Bump Mr Greedy Mr Messy Mr Nosey Mr Tickle

Author: "Lala" Tags: "Kegiatan Belajar, menggambar, Mr Men"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 30 Jul 2014 00:52

2048Aku diperkenalkan aplikasi game 2048  ini oleh aki Ridwan dalam perjalanan ke Cidokom beberapa waktu yang lalu. Pertama diperkenalkan rasanya biasa saja, permainan ini terlihat terlalu sederhana dan kurang menantang untukku.

Ada sebuah kotak 4×4 yang diawali dengan 2 angka kelipatan 2, biasanya angka 2 & 2, terkadang 2 & 4. Kemudian kita tinggal gerakkan kotak ke kiri-kanan-atas-bawah. Jika 2 angka yang sama bertemu mereka akan bersatu, misal 2 ketemu 2 jadi 4, 4 ketemu 4 jadi 8 dan seterusnya. Setiap gerakan akan menambahkan satu angka baru di dalam kotak. Tugas kita adalah membuat angka 2048 dari hasil gabungan angka kelipatan 2 tersebut. Sederhana bukan?

Pertama berkenalan aku hanya sempat main sebentar, karena batere Tab aki keburu habis. Sampai rumah aku penasaran karena belum menang, kemudian aku cari aplikasinya di iphone. Ternyata aplikasinya ada. Jadinya aku langsung download dan coba, dengan keyakinan paling sebentar juga selesai.

Ternyata nggak euy. Perlu beberapa waktu buatku sampai akhirnya berhasil memenangkan permainan ini. Yang menarik adalah, ternyata permainan sederhana ini cukup mengasah otak dan bikin penasaran. Bahkan membuat penasaran mas Aar yang biasanya tidak tertarik dengan game.

Dalam kesempatan lain lain, Yudhis berceritakalau dia ternyata sering main 2048 tapi versi gambar. Kalau ada 2 gambar yang sama ketemu jadi gambar lain yang berbeda.

Dari proses bermain game 2048 ini, terasa sekali bagaimana anak-anak itu “moved” dengan apa yang sedang dilakukan oleh orangtuanya. Karena aku dan mas Aar seakan berkompetisi siapa yang berhasil menaklukan 2048 ini duluan, anak-anak jadi ikutan. Karena mereka tidak punya gadget, jadi mereka bermain versi desktop di web ini. Tata bahkan mencoba bermain 2048 versi terbalik (pembagian) dari 2048 menjadi 2.

Duta pun tidak mau kalah, dia jadi ikutan suka permainan 2048. Permainan ini mudah dilakukan sehingga Duta pun bisa, walaupun tentu saja masih suka-suka memainkannya.

Di sini aku mulai merasa bahwa ternyata tanpa sadar beberapa hari terakhir anak-anak dipaksa senam otak dengan permainan 2048. Untuk Duta malah ada bonus belajar kelipatan 2. Cara bermainnya yang sederhana tapi tidak mudah ditaklukan menjadikan permainan ini bisa menjadi salah satu cara merangsang logika anak dengan cara menyenangkan. Hanya saja, hati-hati kecanduan yaah… terutama kalau belum berhasil menaklukannya :)

win-2048

 

Author: "Lala" Tags: "Games/Apps, game"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 27 Jul 2014 03:54

Berkali-kali mengikuti pemilu, baru kali ini aku merasa terharu-biru oleh pelaksanaan pemilihan umum.

Pemilihan presiden 2014 menurutku adalah pemilu paling menarik. Dinamika dan retorika sangat tajam di media sosial sering membuat hati dan pikiran terguncang-guncang. Pada saat bersamaan, pilpres 2014 ini memberikan daya tarik besar bagi masyarakat untuk berpartisipasi karena menganggap pilpres ini sangat penting untuk menentukan arah bangsa Indonesia ke depan.

Aku merasa, pilpres ini merupakan proses pendidikan yang mahal dan sekaligus berharga bagi seluruh warga negara dengan latar belakang apapun. Kami pun tak ingin melewatkan kesempatan belajar melalui pilpres 2014 ini. Lala (ibunya) membawa Yudhis untuk hadir pada kampanye kedua kubu, baik kampanye Jokowi-Jk di Bundaran HI maupun kampanye Prabowo-Hatta di Gelora Bung Karno. Dan aku belajar menyimak berita dan interaksi di social media tentang pilpres ini.

***

Ada beberapa catatan kecilku sebagai warga negara mengenai beberapa fenomena yang menurutku penting untuk bangsa ini:

Transparansi Membangun Partisipasi

Tak bisa dipungkiri, keberhasilan pelaksanaan pilpres 2014 adalah prestasi besar bangsa Indonesia. Memang belum sempurna (dan tak akan pernah sempurna), tetapi kita mengalami perkembangan yang lebih baik dalam hal budaya memilih pemimpin, check-and-balance, partisipasi publik dalam pengambilan keputusan.

Ketersediaan internet dan media sosial, serta kesediaan pengurus negara ini untuk membuka diri memberikan kesempatan luar biasa bagi warga negara untuk terlibat. Politik bukan hanya urusan para elit dan aktivis politik, tetapi juga menjadi urusan warga negara. Warga negara bukan hanya menjadi konsumen informasi, tapi bisa menjadi produsen. Kita bisa menyatakan opini tanpa harus merasa terancam.

Karena transparansi dibuka, aku melihat partisipasi publik yang luar biasa. Proses kampanye dikontrol oleh masyarakat sehingga ruang janji palsu, omong kosong, dan kebohongan-kebohongan yang biasanya dilakukan para politisi bisa dipersempit. Setiap kampanye dan perilaku politisi dibahaskan bukan hanya dibahaskan secara normatif, tapi bahkan dikuliti setajam silet, lengkap dengan pro dan kontranya.

Usai masa pencoblosan, rakyat beramai-ramai memotret dan mendokumentasikan rekap hasil pemilihan, bahkan mengunggahnya ke Internet. KPU juga membuka diri untuk diawasi publik saat proses penghitungan suara dengan membuka akses data perhitungan suara. Situs Kawal Pemilu, Bowo Harja, Universitas Muhammadiyah Malang.

Berdasarkan prinsip transparansi, siapapun yang tidak percaya dengan data KPU juga bisa membangun basis data sendiri yang tinggal disajikan ke masyarakat. Nanti data itu tinggal diadu dan saling dikritisi. Ini akan menjadi ruang uji sehingga siapapun tak bisa mengklaim punya data yang berbeda. Dengan demikian, masyarakat benar-benar mendapatkan hasil yang jujur, apapun dan siapapun yang menang.

Transparansi adalah hal yang basic dan memiliki dampak luar biasa dalam pengelolaan urusan publik. Transparansi menerangi ruang gelap yang biasanya sering menjadi transaksi liar para politisi dan birokrat busuk.

Dengan transparansi, semuanya bisa adu data. Diskusi dan perbincangan bisa didasarkan atas data, bukan hanya opini apalagi fitnah. Siapapun yang punya data, bisa membukanya ke publik. Lembaga apapun serta partai yang merasa memiliki data hasil pemilihan juga bisa mengunggahnya ke Internet. Kecurangan-kecurangan bisa didokumentasikan dan diunggah ke publik. Dalam proses yang transparan, masyarakat luas bisa mengetahui dan bisa membandingkan.

Transparansi membantu akuntabilitas. Transparansi memberikan ruang besar bagi siapapun untuk beradu kredibilitas; siapa yang jujur, konsisten, mencla-mencle, semuanya tercatat dan bisa ditelusuri balik. Kejujuran akan membangun trust (kepercayaan). Ini akan membuat proses pendidikan politik yang baik bagi masyarakat sehingga masyarakat bisa belajar untuk beradu argumen dan berbeda pendapat dengan lebih beradab.

Pasca pilpres, transparansi juga dapat digunakan untuk mendokumentasikan janji-janji calon presiden untuk dikawal dan ditagih. Siapapun presiden yang menang, proses yang transparan akan memberikan keuntungan bagi masyarakat banyak.

Tentu saja ada dampak sampingan dari transparansi yang begitu terbuka di media sosial. Perang informasi, disinformasi, pertengkaran, dan perseteruan pun mendera masyarakat yang tergagap-gagap dengan deraan transparansi online ini. Tapi menurutku, efek positif transparansi jauh lebih besar dibandingkan dampak negatifnya.

Relawan yang terbeli hatinya

Fenomena baru pilpres 2014 adalah relawan, sekelompok masyarakat umum/awam yang mengorganisir diri untuk mendukung seorang calon yang mereka percayai. Mereka mencurahkan waktu dan uang dalam kegiatannya. Bahkan profesionalitas dan kredibilitasnya pun dibawa dalam proses menjadi relawan. Relawan ini bukan aktivis partai dan mereka tidak dibayar. Mereka adalah orang-orang yang “terbeli hatinya”.

Berbeda dari orang-orang politik dan bayaran yang mengharapkan kompensasi jabatan/proyek atas dukungannya, para relawan lebih menekankan pada kesamaan nilai, visi, dan harapan. Berbeda dari pendukung biasa, para relawan adalah orang-orang yang aktif bergerak. Setelah masa pilpres selesai, para relawan kembali menekuni pekerjaannya yang biasa dan dia menjadi pengawas terhadap presiden yang didukungya.

kill-the-dj

Menurutku relawan adalah simbol penting partisipasi publik dalam politik. Ini adalah angin segar bagi siapapun yang ingin melakukan kontribusi bagi masyarakat luas melalui jalur politik. Mereka bisa membangun basis dukungan dari masyarakat luas (non partai) jika bisa membeli kepercayaan masyarakat.

Jumlah basis relawan di luar partai dan kelompok kepentingan adalah salah satu ukuran nyata akseptibilitas seorang tokoh publik.

Nah, di sinilah pentingnya para politisi untuk membeli hati masyarakat. Buatku pesannya jelas. Jika Anda politisi atau pejabat publik, buatlah diri Anda dipercaya. Tunjukkan diri Anda memang berpihak pada kepentingan umum masyarakat melalui ucapan, aksi, dan kebijakan nyata. Komunikasikan dengan baik karya-karya nyata Anda untuk publik. Jika Anda bisa menunjukkan bahwa Anda bukan hanya membela kepentingan pribadi dan kelompok Anda, semakin luas basis dukungan yang bisa Anda terima.

 

Membangun kepercayaan untuk menyumbang

Salah satu problem demokrasi Indonesia yang masih muda (baru 3x melakukan pemilihan presiden langsung) adalah politik transaksional. Dengan alasan kebutuhan dana yang besar, para politikus mendapatkan dana-dana besar dari para cukong yang kemudian menagih “investasi” dengan konsesi proyek

Fenomena baru dalam pilpres ini adalah pengumpulan dana dari publik (micro funding). Walaupun wujudnya masih embrio dan mungkin masih banyak akal-akalan (mis: penyumbang adl timses sendiri), menurutku demokrasi kita bergerak ke arah yang benar.

Tentu saja sumbangan atau iuran untuk mendanai kampanye itu bukan sama sekali baru. Yang menjadi berbeda, sumbangan itu bukan hanya diperoleh dari para aktivis partai, tapi dari masyarakat luas.

Pembiayaan politik, menurutku, idealnya dibiayai oleh para pemegang manfaatnya yaitu publik (masyarakat). Kalau politik dibiayai negara, itu ibarat pebisnis yang semua produknya sudah dipastikan laku tanpa kejelasan kualitas produknya. Pebisnis semacam ini biasanya cenderung korup dan tak akan survive di dunia nyata.

Dengan pembiayaan oleh publik, peran para cukong dapat dikurangi karena para politikus memiliki hutangnya ke masyarakat, bukan kepada para cukong yang bisa dipastikan kepentingannya adalah pribadi dan kelompoknya.

Tapi tentu saja proses ini tak mudah, bahkan sangat sulit bagi politikus konvensional yang dikarbit oleh organisasi, bukan melalui kiprah riil di msyarakat. Tapi jika kesadaran menyumbang ini terpelihara, para politikus muda yang benar2 bekerja untuk rakyat banyak dan lintas kelompok bisa mendapatkan “dana murah” untuk idealisme politiknya.

 

Kampanye hitam hanya bisa dikalahkan dengan pendidikan

Dalam pilpres ini, aku dapat ilmu baru yaitu istilah kampanye negatif dan kampanye hitam. Kampanye negatif itu ada fakta awal, tetapi dimaknai/ditafsirkan sesuai kepentingan untuk menyerang lawan. Nah, kalau kampanye hitam adalah fitnah yang sebenarnya terlarang dalam kampanye.

Yang membuatku sempat terkaget-kaget, kampanye hitam ini ternyata sangat luar biasa banyaknya. Facebook feed tiba-tiba bermunculan link-link dengan judul provokatif, menyerang, dengan sumber dan cerita yang tidak masuk akal. Psikologi masyarakat ditohok dengan mempermainkan isu yang membangkitkan ketakutan di bawah sadar dan prasangka-prasangka yang ada di masyarakat.

Yang lebih mengejutkan, banyak anggota masyarakat yang terdidik atau kelihatannya baik, ternyata ikut berpartisipasi menyebarkannya di social media.

Setahuku, memang tak ada cara menghentikan kampanye hitam. Yang jelas-jelas wujudnya memang bisa ditangkap dan dibawa ke ranah pidana. Tapi sebagian besar kampanye hitam itu berasal dari kegelapan sesuai namanya.

Jalan satu-satunya untuk menetralkan kampanye hitam adalah pendidikan, terutama information literacy, baik mengenai cara menilai kualitas informasi di Internet hingga etika saat memproduksi dan berbagi informasi. Ini salah satu pekerjaan besar untuk bangsa kita yang sudah diserbu dengan fasilitas (internet) tapi masih tergagap-gagap dalam pemanfaatannya.

 

Pahlawan-pahlawan baru

Setiap zaman membutuhkan jenis-jenis inspirasi heroisme yang berbeda.  Pilpres 2014 ini melahirkan inspirasi tentang bagaimana masyarakat bisa berkontribusi dan menjadi “pahlawan” melalui aneka karya dan keahliannya.

Jika kepahlawanan adalah sebuah bentuk kontribusi untuk kebaikan masyarakat yang melintasi sekat-sekat kelompok, kita melihat banyak karya yang luar biasa.

Diantara contoh kepahlawanan baru itu seperti Ainun Najib dkk yang menggunakan keahliannya dalam bidang teknologi untuk mengawal proses perhitungan suara yang dilakukan KPU melalui pembuatan situs Kawal Pemilu. Yang dilakukan Kawalpemilu adalah memberikan pemaknaan riil terhadap makna transparansi proses perhitungan suara.

Termasuk diantara bentuk inspirasi inisiatif yang lain adalah video-video speech composing kreatif karya Eka Gustiwana yang menghibur dan cukup bermanfaat untuk memberikan penghiburan dalam suasana kampanye yang panas. Di luar dua sosok itu, tentu saja masih banyak contoh-contoh inisiatif kreatif dan kontribusi yang sudah dilakukan masyarakat pada pilpres 2014 ini.


***

Tahapan pilpres belum selesai.

Jumat, 25 Juli 2014 kubu Prabowo-Hatta mengajukan banding atas keputusan pemenang Pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Apapun hasilnya nanti, ini adalah pembelajaran luar biasa untuk kita semua sebagai bangsa.

Mudah-mudahan kita semua bisa bersabar dalam proses pembelajaran demokrasi ini. Tanpa berusaha membuat pembenaran atas kecurangan, segala upaya perbaikan harus dipijakkan pada jalur hukum dan tanpa kekerasan (non-violence).

Author: "Aar" Tags: "Aar"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 21 Jul 2014 00:16

Berawal dari posting seorang teman di Facebook yang memberikan hasil test kecenderungan otaknya otak kiri atau otak kanan, aku mencoba-coba ikutan test juga.