• Shortcuts : 'n' next unread feed - 'p' previous unread feed • Styles : 1 2

» Publishers, Monetize your RSS feeds with FeedShow:  More infos  (Show/Hide Ads)


Date: Monday, 17 Jun 2013 00:07
familyderm

(c) familyderm.net/

Ketika resource keluarga relatif sudah terekspos pada anak, tantangan keluarga homeschooling selanjutnya adalah menggunakan resource eksternal untuk melampaui keluarga.

Tujuan membuka akses di luar keluarga adalah agar anak dapat mengakses pengetahuan, wawasan, keterampilan dan pengalaman hidup yang ada di luar keluarga.

Kami sebenarnya sudah memulainya ketika anak-anak mulai berkegiatan dan kursus di luar seperti mengikuti klub renang dan belajar gitar. Juga, kegiatan Pramuka yang dijalani anak-anak bersama teman-temannya di Klub Oase.

Saat Yudhis sudah mengijak remaja, kami merasakan kebutuhan itu semakin kuat. Kebutuhan menjelajahi dunia yang lebih luas, kebutuhan membuka wawasan melampaui hal-hal yang selama ini dikenalnya.

Magang, Klub, Organisasi, Pelatihan

Ada banyak jalan untuk mengekspos anak-anak pada dunia luar, seperti mengikuti klub, organisasi, les, pelatihan, magang, dan sebagainya.

Secara pribadi, kami menyukai magang. Magang adalah proses belajar melalui dunia nyata, melalui ahli pada sebuah bidang tertentu. Magang bisa di dunia profesional, bisnis, atau dunia sosial. Intinya, anak-anak tidak belajar dari teori, tetapi dari problem dan solusi yang ada di dunia nyata.

Yudhis pernah mengikuti pelatihan Optimizer di Bisma Center dan sempat magang menjadi mentor. Tetapi setelah kami perhatikan, Yudhis tidak terlalu menunjukkan minat ke arah sana. Dia melakukan yang kami sarankan, tetapi jika tak kami sarankan maka dia tak melakukannya.

So, kami mencoba lagi hal lain. Kali ini bukan magang. Kami mencoba membuka wawasannya melalui “kuliah online”. Sebenarnya bukan kuliah online, tetapi kegiatan menonton video di TED.

Memperluas Wawasan melalui TED

Ya, kami menggunakan video-video TED untuk memperluas wawasan agar proses homeschooling kami tak terbatas pada hal-hal yang diketahui/dikuasai oleh orangtua. TED yang berisi video presentasi 3-20 menit dari tokoh-tokoh yang sangat beragam memberikan sarana yang luar biasa untuk membangun wawasan.

Mengapa TED? Satu kualitas materinya. Yang kedua murah (gratis) dan terjangkau. :)

Cara yang kami gunakan adalah memberikan pilihan pada Yudhis untuk menonton video. Terserah dia video mana yang ingin ditontonnya. Sesekali kami minta dia melihat secara acak supaya dia belajar menjelajahi dunia baru. Buat kami, yang penting dia berkenalan dan suka dulu. Kualitas kegiatan nanti menyusul sambil berjalan.

Dari proses yang sudah berjalan 2 minggu ini, kami kemudian meminta Yudhis untuk membuat posting di Dunia Yudhis, setidaknya 1 kali seminggu. Minggu ini kami tambahkan permintaan kepadanya untuk membuat log tentang video-video TED yang ditontonnya.

***

Tentu saja masih banyak jalan lain untuk membawa anak-anak melampaui apa-apa yang dimiliki keluarga. Setiap keluarga memiliki kebebasan untuk merancang yang paling sesuai dan paling memungkinkan untuk dijalani.

 

 

 

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 14 Jun 2013 00:07

Titik berangkat homeschooling adalah keluarga. Keluarga menempati tempat yang sangat krusial dalam proses homeschooling karena keluarga menjadi model pembelajaran yang pertama bagi anak. Dan pembelajaran yang paling banyak terjadi adalah melalui kegiatan-kegiatan informal dalam keseharian.

Anak mengobrol bersama orangtua, mendengar dan mengamati segala sesuatu yang terjadi dan ada di rumah, mengeksplorasi benda-benda di rumah, mengikuti dan meniru kegiatan orangtua adalah contoh kegiatan penting dalam homeschooling. Apalagi ketika anak menjalani homeschooling usia dini.

Oleh karena itu, penting untuk membangun budaya keluarga.

family

Apa itu budaya keluarga?

Secara sederhana, budaya keluarga adalah segala sesuatu yang dipraktekkan keluarga sehari-hari. Budaya keluarga bukan sebuah hal yang diinginkan dan diidealkan, tetapi kenyataan yang dijalani dan dilihat anak sehari-hari.

Contoh sederhana budaya keluarga adalah cara memanggil ayah/bunda, gaya komunikasi ayah-bunda & orangtua-anak. Kebiasaan mengisi waktu luang. Apa yang biasa ditanyakan/dianggap penting. Dan sebagainya.

Walaupun semua aspek budaya keluarga harus dikembangkan, menurutku setidaknya ada 3 budaya keluarga yang penting diperhatikan dalam konteks homeschooling, yaitu budaya spiritualitas, budaya pengembangan diri, dan budaya bakti/karya keluar.

Budaya Spiritualitas

Budaya spiritualitas berkaitan dengan hubungan anak dengan Tuhan serta penanaman nilai-nilai moralitas. Karena anak belum banyak memahami konsep abstrak, proses belajar tentang spiritualitas dan tata nilai sebagian besar diperoleh anak melalui pengamatan atas keteladanan yang dilakukan orangtua dan kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan dengan spiritualitas yang dibangun keluarga.

Budaya Pengembangan Diri

Budaya pengembangan diri berkaitan dengan kebiasaan berfikir terbuka, bertanya (bukan menghakimi), dan senang mencari ilmu. Termasuk di dalam budaya ini berkaitan dengan relasi orangtua dengan sumber ilmu (buku, internet, media, dan sumber ilmu lainnya). Termasuk di dalam pengembangan diri ini adalah keterlibatan orangtua dengan hobi yang ditekuni dengan sungguh-sungguh.

Budaya Bakti/Karya untuk Orang Lain

Sementara budaya pengembangan diri berkaitan dengan kepentingan pribadi, budaya penting lainnya yang perlu dibangun di keluarga adalah kebiasaan bakti/karya untuk orangtua lain. Dari kebiasaan orangtua melakukan kerja profesi & kerja sosial, anak akan belajar secara bertahap untuk tidak berfokus pada diri sendiri (self-sentris), tetapi menyadari bahwa keberhasilannya terkait dengan karya dan nilai manfaat yang diciptakannya untuk orang lain.

***

Nah, mari kita coba refleksikan ketiga budaya itu di dalam keluarga kita. Setiap keluarga pasti sudah memilikinya. Dan setiap keluarga memiliki kebiasaan-kebiasaan yang khas, yang berbeda antara satu keluarga dengan lainnya.

Sekarang, tantangan kita adalah terus mengasah kebiasaan-kebiasaan baik keluarga kita agar semakin berkualitas sehingga secara alami anak melihat yang baik, tumbuh dan belajar dengan nyaman di rumah.

 

(c) Kredit photo: bemidji.k12.mn.u

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 12 Jun 2013 00:07

Pilihan homeschooling memang tak mudah dimengerti oleh sebagian (baca: banyak) orang. Kalau menyangkut pendapat orang luar, kita mungkin menganggapnya biasa. Yang tidak enak itu kalau respon ketidakmengertian dan ketidaksetujuan kita alami dari keluarga terdekat kita.

Kami pun mengalami hal seperti ini.

Ibuku, hingga hari ini masih belum merelakan cucu-cucunya tidak sekolah dan homeschooling. Sebenarnya sih naik-turun. Kadang tidak bermasalah, kadang dipertanyakan.

Buat kami, ketidaksetujuan Ibu kami anggap sebagai tanda kecintaannya kepada para cucunya. Beliau ingin melihat cucu-cucunya berhasil di masyarakat dan tak hidup susah. Dan kami akan berusaha mewujudkan harapannya itu.

Finger-style

***

Kami sangat memahami Ibu yang saat ini usianya sudah hampir 80 tahun dan memiliki latar belakang sebagai pensiunan kepala sekolah.

Mungkin homeschooling yang kami jalani memang sangat aneh dalam pandangan ibu, yang memiliki latar belakang sekolah. Apa yang beliau anggap penting dalam pendidikan, kami tak mementingkannya. Sebaliknya, apa yang menurut kami penting tak dianggap penting oleh ibu.

Sebagai contoh, di dalam banyak percakapan beliau selalu menceritakan perkembangan cucu-cucunya yang lain: tentang sekolah bagus, juara kelas, rata-rata rapor, menang lomba macam-macam, jadwal sekolah yang padat dari pagi sampai sore, dan sebagainya.

Kami mendengarkan dengan baik cerita ibu dan selalu mendukung prestasi para sepupu Yudhis. Tapi kalau untuk anak-anak kami sendiri, terus terang tema-tema itu memang tak masuk dalam prioritas. Kami tak menganggap penting nilai rapor, juara di kelas (wong tak ada saingan di kelas), kompetisi, dan padatnya jadwal. Jadi kalau ditanya tentang hal-hal seperti itu, kami memang tak bisa menjawabnya.

Sebaliknya, apa yang menurut kami penting seperti skills: craft, gitar, komputer itu tak dinilai penting oleh ibu. Salah satu cerita menarik tentang perbedaan sudut pandang ini terjadi beberapa waktu yang lalu, saat kami mengunjungi ibu, usai Festival Pendidikan Rumah (FESPER) di Yogyakarta.

Saat itu, Lala sangat bersemangat dan ingin menunjukkan perkembangan belajar Yudhis. Dalam satu kesempatan Lala meminta Yudhis untuk memainkan gitar di hadapan eyangnya. Yudhis memainkan “Minuet” yang menurut kami lumayan-lumayan saja.

Ibu biasa-biasa saja mendengarkan permainan gitar Yudhis. Tak mengkritisi, tapi juga tak memuji. Tapi ada satu hal yang tak kami perkirakan. Tiba-tiba ibu bangkit dari kursinya sambil berkomentar,” Kalau bisa main gitar, terus buat apa…?!”

Aku tertegun dan sempat kehilangan reaksi. Rasanya dunia berhenti beberapa detik. Dan setelah “tersadar”, aku dan Lala saling memandang dengan tersenyum.

Kami sama sekali tak menjawab komentar ibu yang memang sudah beranjak dari tempat kegiatan bersama itu.

***

Dari percakapan itu, kami semakin menyadari bahwa kesenjangan diantara kami dengan Ibu memang teramat sangat jauh. Dengan latar belakang pengalaman sebagai mantan guru, bagi beliau yang terpenting adalah masuk ke sekolah yang bagus, menjadi juara, terus melanjutkan pendidikan S1, S2, dan S3. Itulah pendidikan. Itulah jalan hidup yang terbaik untuk seorang anak. Titik.

Ditambah lagi, ada perbedaan usia dan akses informasi yang membuat kesenjangan itu menjadi lebih lebar lagi.

Tapi apa yang bisa kami lakukan? Apakah kami akan berbantah-bantahan tentang homeschooling? Nggak lah. Tak ada gunanya berbantah-bantahan.

Apakah kami akan berhenti homeschooling karena ketidaksetujuan ini? Tentu saja tidak.

Homeschooling tetap jalan terus karena anak-anak adalah tangung jawab kami sebagai orangtuanya. Ketidaksetujuan terus berusaha diencerkan. Selebihnya adalah iringan doa.

Begitulah. Semuanya adalah bagian dari dinamika yang memperkaya kehidupan kita.

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 10 Jun 2013 04:44

TED-1Melewati usia 12 tahun, Yudhis memang baru masuk usia pra-remaja. Tapi aku merasa dia bukan anak kecil lagi. Apalagi, dia sudah menyelesaikan Ujian Paket A (SD) yang entah kapan pengumumannya dan seperti apa hasilnya.

Usai ujian SD, kami duduk bersama di meja dan membuat kesepakatan tentang kegiatan Yudhis. Ini adalah perjalanan awal kami menjalani homeschooling untuk remaja.

Dalam diskusi itu, ada 3 program homeschooling yang kami bicarakan bersama Yudhis. Yang pertama adalah meneruskan pondasi keilmuannya: matematika & bahasa (wajib). Yang kedua mengeksplorasi dan menekuni hal-hal yang diminati (kesepakatan). Yang ketiga adalah mengembangkan wawasannya, baik sosial, sains, ekonomi & budaya (terserah Yudhis).

Program ketiga (wawasan) itu adalah program baru baginya. Sasarannya adalah melampaui keluarga (beyond family), agar dia mendapatkan inspirasi/pengetahuan dari sumber-sumber di luar kami, keluarganya.

***

Jadwal Kegiatan

Untuk Yudhis, kami memintanya membuat jadwal kegiatan mingguan yang diketik, diprint, dan ditempel di dinding. Jadwal itu menjadi kesepakatan dan alat bagi kami untuk berdiskusi/mengecek perkembangannya. Kami berusaha mempercayainya dan hanya sesekali bertanya mengenai pemenuhan jadwal-jadwal yang dibuatnya.

Setiap hari kegiatannya terbagi 3 bagian: pagi, siang, sore/malam. Selain kegiatan wajib yang kami tetapkan (matematika & bahasa), Yudhis mengatur jadwal kegiatannya, termasuk kegiatan berenang 3 kali seminggu, pramuka setiap dua minggu sekali, les gitar, dan lainnya.

Untuk mengembangkan minat grafis, kami berdiskusi dan bersepakat. Berdasarkan ketertarikan Yudhis pada 3D, Yudhis akan mulai mengeksplorasi Blender. Sebelumnya Yudhis mengeksplorasi Sketchup. Tapi karena minatnya pada bentuk-bentuk non linear, alat yang lebih tepat untuk dieksplorasinya adalah Blender.

Di luar Blender, Yudhis terus ingin mengeksplorasi dan memodifikasi minecraft (Minecraft Mods). Satu lagi, Yudhis akan terus mengasah Photoshop-nya melalui karya.

Tentang kegiatan membuka wawasan yang kami tawarkan, secara mengejutkan Yudhis memasukkan kegiatan menonton video TED setiap hari dalam jadwalnya. Aku sempat menyarankan untuk menguranginya menjadi 2 atau 3 kali per minggu. Tetapi Yudhis memutuskan mau mencoba menontonnya setiap hari. “Videonya kan pendek, cuma 20 menit,” alasan Yudhis.

Oke kami bersepakat.

***

Belajar melalui TED

Program mengembangkan wawasan baru saja mulai berjalan. Idealnya kegiatan ini dilakukan dengan memperbanyak klub kegiatan, kursus, magang dan sejenisnya. Tapi karena yang ideal itu belum terwujud, kami memulainya dengan cara yang paling memungkinkan bagi kami, yaitu melalui video-video TED (www.ted.com).

TED adalah situs yang berisi kumpulan video-video inspiratif beragam tema. Video-video ini merupakan rekaman dari presentasi para ahli dari berbagai bidang dalam konferensi TED. Temanya sangat beragam dan isinya inspiratif, sesuai dengan tema TED: ideas worth spreading.

Saat menyarankan Yudhis untuk menonton TED (sebagai penyeimbang kesenangannya menonton video-video tentang Minecraft), kami sebenarnya agak ragu apakah Yudhis sudah bisa dan apakah Yudhis menikmatinya?

Ternyata Yudhis sangat menikmatinya. Diantara video pertama yang ditontonnya, ada “Hack a Banana” yang diceritakannya dengan antusias kepada kami:

***

Bagaimana selanjutnya?

Seperti biasa… kami akan terus berproses, belajar, dan menikmati perjalanan homeschooling ini.

 

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling, Kegiatan Yudhis, ..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 09 Jun 2013 00:09

Internet

Internet adalah alat belajar yang luar biasa. Bukan hanya karena Internet menjadi perpustakaan terbesar di dunia. Tetapi Internet juga merevolusi cara belajar kita. Aku termasuk orang yang merasakan nikmatnya revolusi belajar melalui Internet.

Pengalaman sebagai Pembelajar di Internet

Belajar di Internet tak ada yang memaksa. Kita belajar karena kita butuh atau karena kita ingin tahu mengenai sesuatu. Kalau kita tak berinisiatif, maka kita tak akan mendapatkan apapun.

Aku teringat, sekitar 13 tahun yang lalu saat aku mulai belajar membuat website, saat itu di rumah hanya ada koneksi Internet dengan sistem dial up dengan kecepatan 56 kbps. Pada waktu itu rasanya masih sedikit sekali bahan belajar yang ada, sangat berbeda dengan masa kini di mana bahan belajar berlimpah, baik dalam bentuk tutorial teks, dengan ilustrasi gambar, maupun dalam bentuk video. Dan tentu saja, kualitas koneksi Internet jauh lebih baik yang membuat kita bisa mengakses video dengan relatif lancar, tanpa masalah.

Selama bertahun-tahun itu, aku menikmati proses belajar dengan aneka model, mulai diskusi di forum seperti forum Joomla, tutorial teks yang dibuat para blogger, video tutorial seperti di Lynda, webinar seperti di Scrap Orchard, atau perkuliahan seperti di Coursera. Di luar model kelas atau membership seperti Lynda.com atau Coursera.org, sebagian besar proses belajar itu menggunakan sarana mesin pencari (Google).

Proses belajar itu bukan hanya kami lakukan. Anak-anak pun belajar menggunakan Internet dalam proses kesehariannya. Sebagai contoh, Duta (4 tahun) mulai belajar bahasa Inggris di Reading Eggs. Tata (8) dan Yudhis (12) belajar dengan banyak sumber, mulai matematika di IXL.com, bahasa Inggris di Raz Kids, Science di BBC Bitesize, Photoshop di PSD Tuts, Sketchup di SketchUp Learn, gitar di Songsterr, dan berbagai tempat lain yang mereka temukan dalam proses googling.

Lesson Learned:

Sebagai pembelajar, ada banyak pelajaran yang aku dapatkan selama proses menggunakan Internet

  • Internet menyediakan ruang belajar yang tak terbatas. Batasnya adalah keingintahuan kita untuk belajar.
  • Belajar di Internet tak mengenal usia, mulai anak-anak hingga nenek-nenek. Untuk anak-anak, yang penting adalah pendampingan untuk memastikan bahwa materi dan proses belajar mereka appropriate, sesuai usia mereka.
  • Kita perlu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris agar dapat memanfaatkan berbagai peluang belajar yang ada.
  • Pelajaran petama dan penting yang harus dikuasai adalah menggunakan mesin pencari (Google) untuk mencari informasi yang kita butuhkan.
  • Teknologi dan sarana terus berkembang, demikian juga model belajar. Semuanya semakin mudah dan semakin berkualitas, baik dalam mode asynchronous (web, tutorial, video tutorial, forum) maupun synchronous (webinar, lecture).
  • Investasi untuk berlangganan koneksi Internet yang bagus sangat penting. Kualitas Internet yang bagus membuat proses belajar nyaman dan peluang belajar semakin terbuka.

 

Seminar Online (Webinar)

Webinar Homeschooling 2013

Internet bukan hanya menjadi sarana konsumsi (belajar), tetapi juga menjadi sarana penting untuk produksi (berbagi, berkarya). Dalam proses edukasi untuk homeschooling dan pendidikan anak, kami mulai menyelenggarakan webinar (seminar online) sejak 2011. Webinar homeschooling kami selenggarakan sebagai pengembangan dari seminar dan edukasi tentang homeschooling agar dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

Pada awalnya kami agak ragu-ragu, apakah masyarakat sudah siap dengan seminar online, tanpa pertemuan secara fisik. Ternyata para peserta antusias. Memang ada sedikit kegamangan di awal karena mencoba hal baru. Tapi setelah mencoba sekali dan ternyata tak sulit, proses selanjutnya berjalan mulus. Ada kasus peserta yang mengalami kesulitan akses karena buruknya kualitas koneksi internet. Tapi problem ini diatasi dengan kehadiran rekaman webinar.

Melalui webinar yang menggunakan platform WizIq, peserta terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jangkauan peserta juga sangat beragam, mulai kota-kota di Jawa seperti Surabaya, Malang, Cirebon, Semarang, hingga berbagai kota lain seperti Medan, Pekanbaru, Padang, Ujung Pandang, Manado, Denpasar, hingga Maluku. Yang membahagiakan, webinar homeschooling ini juga dihadiri peserta dari berbagai negara seperti Singapura, Belanda, Oman, Korea Selatan, Suriname, dan lain-lain. Memang, berkat Internet batas fisik geografis menjadi hilang dan tak relevan lagi. Yang relevan adalah kualitas koneksi Internet.

Lesson Learned:

Dari proses penyelenggaraan webinar sebagai sebuah metode pembelajaran online, ada beberapa pelajaran yang kami peroleh, antara lain:

  • Masyarakat Indonesia sudah siap untuk belajar secara online melalui webinar. Respon peserta sangat positif terhadap webinar. Tentu saja, masih butuh edukasi lebih jauh agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui asyiknya belajar melalui sarana webinar dan Internet pada umumnya.
  • Kualitas infrastruktur Internet di Indonesia masih belum merata dan tidak stabil (karena menggunakan mobile internet). Kami memutuskan untuk hanyak menampilkan slideshow dan suara, tanpa video streaming untuk memperkecil beban bandwidth.
  • Untuk memperkecil entry-barrier, penyelenggara harus membangun kenyamanan sehingga banyak peserta yang berani mencoba untuk ikut. Selain memberikan asistensi penuh pra-webinar, kami membuat mekanisme refund, serta menyediakan rekaman untuk seluruh peserta.

 

e-Learning Digital Mommie

DigitalMommie

Memasuki tahun 2013, kami mencoba mengembangkan e-Learning Digital Mommie untuk menjadi sarana belajar bagi keluarga. Semboyan Digital Mommie adalah “Dari Rumah Menjangkau Dunia”. Yang dituju adalah pembelajaran untuk orangtua dan anak.

Visi kami adalah menyediakan materi pembelajaran untuk membantu keluarga Indonesia berkarya dan mengambil manfaat dari kehadiran Internet. Anak-anak yang mahir membuat karya digital, orangtua yang tidak gaptek, bahkan bisa memperoleh manfaat ekonomi dari Internet.

Kami mengembangkan materi utama berupa video tutorial yang dikemas dalam bentuk paket belajar mandiri dan workshop online. Saat ini baru ada program workshop online untuk membuat blog dan Workshop Internet for Kids. Kami masih terus mengembangkan produk-produk lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga Indonesia.

Dalam program workshop online, cara belajar yang kami kembangkan untuk para peserta adalah:

  • Belajar & hak akses semua materi selama 7 bulan
  • Email secara periodik untuk memandu proses belajar
  • Belajar melalui video tutorial
  • Belajar terpadu: konsep, video tutorial, dan praktek
  • Tanya-jawab materi workshop di website Digital Mommie
  • Coaching clinic, webinar 2 kali per bulan selama 7 bulan

Saat ini masih terlalu dini untuk mengevaluasi e-Learning Digital Mommie. Hingga saat ini, kami melihat antusiasme yang sangat besar. Respon dan feedback peserta pun sangat membahagiakan.

***

Keluarga Indonesia yang cerdas. Keluarga Indonesia yang terampil berkarya. Itulah mimpi kami untuk Indonesia.

Image courtesy of jscreationzs / FreeDigitalPhotos.net
Author: "Lala" Tags: "Artikel Pendidikan, Artikel Teknologi, L..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Tuesday, 04 Jun 2013 04:06

Walaupun ujian kelulusan SD (Kelas 6) belum diumumkan, Yudhis terus melanjutkan proses belajarnya. Setiap hari dia melakukan kegiatan belajarnya seperti biasa. Santai-santai serius. Yang penting terus berjalan melangkah maju, setapak demi setapak.

Beginilah proses homeschooling yang kami jalani untuk anak-anak di rumah. Kami tak mengenal libur panjang seperti anak sekolah. Dalam homeschooling di keluarga kami, kalau mau libur ya libur saja, tak perlu menunggu waktu-waktu tertentu. Tapi kalau tak mau libur, ya terus menjalani keseharian: belajar, bermain, bekerja.

Dalam satu hari, Yudhis biasanya menargetkan untuk menyelesaikan 2 materi IXL. Biasanya satu diselesaikan pagi, satu lagi di sore/malam. Tapi, terkadang dia selesaikan 2 IXL itu di pagi hari. Itu adalah bagian dari jadwal dan komitmen yang dibuatnya sendiri.

Nah, hasil dari proses belajar itu, hari ini Yudhis menyelesaikan 35% materi belajar matematika kelas 7. Sertifikat ini adalah bagian dari proses pendokumentasian belajar yang dilakukan Yudhis.

ixl-yudhis-35-k7

 

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Yudhis, belajar, matematika, ma..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Tuesday, 04 Jun 2013 03:55

Dalam keseharian yang seringkali naik dan turun, ada hal-hal minimum yang berusaha kami jaga untuk proses belajar anak-anak. Diantara hal minimum itu adalah belajar IXL Math.

Proses belajar matematika ini ibarat berjalan maju selangkah demi selangkah. Ini adalah bagian dari proses belajar ketekunan. Dan hasilnya akan bisa dirasakan sedikit demi sedikit. Tak terlalu kelihatan, tetapi merupakan progres perkembangan maju ke depan.

Satu setengah bulan setelah Tata naik ke kelas 4, hari ini Tata meniti milestone belajar matematika-nya. Hari ini dia melewati 30% materi belajar matematika kelas 4.

IXL-tata-30-K4

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Tata, IXL, math, Tata"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 27 May 2013 23:53

Salah satu mimpiku adalah membuat sekolah virtual atau e-Learning untuk anak-anak Indonesia. Setahap demi setahap, mimpi itu sedang aku bangun. Dan saat ini aku membangunnya melalui Digital Mommie.

Melalui Digital Mommie, aku ingin berbagi ilmu mengenai pemanfaatan teknologi digital (gadget, komputer, internet) untuk keluarga. Yang aku maksudkan keluarga adalah orangtua dan anak. Mimpi besar Digital Mommie adalah: ibu-bapak tidak gaptek, anak terampil menggunakan teknologi untuk berkarya, dan orangtua bisa mendapatkan penghasilan dari rumah.

Aku sudah memulainya dengan “Workshop Online Membuat Blog” yang berisi kegiatan belajar selama 7 bulan, 1 bulan pertama dipandu dan 6 bulan setelahnya belajar mandiri. Kalau mau belajar membuat blog, silakan langsung mendaftar. Saya sudah membuat sistemnya sehingga setiap peserta bisa masuk kapan pun diinginkan. Informasi dan pendaftaran “Workshop Online Membuat Blog” bisa dilihat di SINI.

***

Untuk membuat pola belajar Digital Mommie yang lebih terstruktur, mas Aar sedang membantu membuatkan Kerangka Digital Mommie untuk Pendidikan Digital (KDM) atau bahasa kerennya Digital Mommie Framework on Digital Literacy. Sedangkan untuk kontennya aku berkolaborasi dengan mas Aar & Wiwiet, sahabatku yang juga memiliki passion besar untuk digital story telling.

Kerangka Digital Mommie (KDM) menekankan pada keterampilan memanfatkan teknologi digital. Jadi penekaman KDM bukan pada teori, tetapi pada praktek menggunakan dan memanfaatkan teknologi digital.

digitalkiddie

 

Ada 7 (tujuh) area keterampilan yang dikembangkan Digital Mommie dalam KDM, yaitu:

  1. COBA: Keterampilan Mengoperasikan, Mengelola, dan Memperbaiki.
  2. BUAT: Keterampilan Membuat, Berkarya, dan Berinovasi.
  3. BAGI: Keterampilan Berkomunikasi, Berbagi, dan Berkolaborasi.
  4. CARI: Keterampilan Mencari, Menilai, dan Mengelola Informasi.
  5. PIKIR: Keterampilan Berfikir Kritis, Memecahkan Masalah, dan Mengambil Keputusan.
  6. MAWAS: Keterampilan Menjaga Diri, Bersikap Legal dan Etis.
  7. CATAT: Keterampilan Mengumpulkan dan Membangun Portofolio.

***

Webinar Digital Literacy

Kerangka Digital Mommie (KDM) untuk Pendidikan Digital ini bisa menjadi referensi Anda dalam pengembangan keterampilan digital pada anak maupun diri sendiri. Anda bisa belajar sendiri dengan memanfaatkan semua resource yang ada di Internet.

Pada saat yang sama, Digital Mommie akan membuat program-program belajar dengan menggunakan kerangka KDM bagi keluarga yang membutuhkannya. Apa saja kegiatan belajar digital literacy ala Digital Mommie?

Untuk menjelaskan tentang Digital Literacy, Digital Mommie akan mengadakan Webinar.

Tema Webinar: “Digital Literacy: Pendidikan untuk Mencegah Gaptek”
Waktu: Jumat, 31 Mei 2013 pukul 19.00-20.00
Pembicara: Mira Julia & Sumardiono
Tempat: Online melalui platform Wiziq
Biaya: Rp 50 ribu (setiap peserta mendapat bonus GRATIS mengikuti program Digital Kids: Blog Pertamaku)

Untuk kesertaan, biaya pendaftaran silakan ditransfer ke:

Bank BCA No: 686-00-777-93
BCA cabang Kramat Kwitang Jakarta
A.n. Mira Julia Putri Utari

Bank Mandiri No: 123-000-552-830-4
Bank Mandiri Cempaka Putih Jakarta
A.n. Mira Julia Putri Utari

Setelah melakukan transfer, pendaftar diharapkan melakukan konfirmasi pendaftaran ke support@digitalmommie.com.

PosterDigitalKiddie

 

Author: "Lala" Tags: "Artikel Pendidikan, Artikel Teknologi, L..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 26 May 2013 00:30

Sudah lama kami ingin membuat quote inspiratif yang berilustrasi untuk page Rumah Inspirasi. Tetapi banyak kendala kesibukan sehingga materi itu selalu tertunda-tunda karena posisi prioritasnya memang rendah.

Sampai sekitar 2 minggu yang lalu kami teringat bahwa ada Yudhis yang jago Photoshop dan bisa membuat quote itu. Lalu kami tawarkan “pekerjaan” itu kepada Yudhis dan Yudhis ternyata mau menerimanya.

Lalu mulailah Yudhis membuat quote berilustrasi. Awalnya kami melihat beberapa sampel quote dan memberikan pengantar kepada Yudhis mengenai quote itu, misalnya pemilihan latar belakang, warna, font, dan seterusnya. Setelah itu, Yudhis langsung mencoba dan menafsirkan quote yang kami berikan secara visual.

Pada awal proses, Yudhis masih sering berkonsultasi dan meminta feedback kepada kami tentang desain quote yang dibuatnya. Tetapi setelah beberapa kali membuat, dia mulai semakin percaya diri. Dia hanya minta feedback hasil akhirnya saja.

***

Proses membuat quote berilustrasi ini adalah bagian dari proses belajar kreativitas dan melatih sense visual Yudhis. Sambil membuat quote, kami sering berdiskusi mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan desain.Kami juga memperlihatkan kepadanya statistik dari quote yang dibuatnya di page Rumah Inspirasi.

Inilah beberapa quote yang dibuat Yudhis:

Quote-#2a

Quote-#6a

Quote-#8a

 

 

***

Jika Anda suka dan ingin mendukung semangat Yudhis membuat quote, Anda dapat melakukannya dengan cara sering berbagi quote Rumah Inspirasi di Facebook.

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Yudhis, desain, photoshop, quot..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 25 May 2013 00:30

Kejutan dibuat Tata bulan ini. Tanpa kami ketahui, dia mengikuti Workshop Online Membuat Blog yang diselenggarakan oleh Digital Mommie.

Pada awalnya, yang kami tahu dia menemani Eyang Putrinya yang ikut workshop. Tapi ternyata Tata belajar membuat sendiri blognya. Dia bahkan mendahului Eyang Putrinya yang sibuk dengan berbagai kegiatan.

***

project-tata

Kegiatan yang dilakukan Tata adalah membuat blog lho, bukan sekedar mengisi blog. Blog baru ini berbeda dari blog lamanya. Blog lama Tata adalah Dunia Tata, sementara blog barunya adalah Project Tata.

Project Tata dibuat sepenuhnya oleh Tata tanpa campur tangan sedikit pun dari kami. Tata belajar mulai dari nol, membuat blog di Blogger, mengganti background, header, lengkap dengan pernak-pernik yang lain seperti integrasi media sosial, membuat chatbox, dan termasuk mengganti kursor mouse dengan bentuk yang lucu.

Tata belajar dengan cara mengikuti video tutorial Digital Mommie. Setiap hari Tata menunggu datangnya email dan video tutorial untuk proses belajarnya.

***

Inisiatif Tata membuat blog sendiri dengan cara mengikuti tutorial Digital Mommie ini agak mengejutkan kami. Tapi kejutannya membahagiakan.

Kami tak mengira Tata (8 tahun) bisa mengikuti video tutorial yang ditujukan untuk orang dewasa dan menyelesaikan tugas step-by-step dengan lengkap. Berarti, anak-anak digital natives ini memang memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital yang luar biasa.

Apa yang dilakukan Tata itu memicu semangat kami untuk segera menyelesaikan program Digital Mommie yang memang ditujukan untuk anak-anak. Tema besarnya adalah “Digital Literacy”, pendidikan untuk menyiapkan anak-anak agar melek Internet dan terampil memanfaatkan teknologi digital, baik untuk ekspresi diri, proses kreatif, maupun untuk berkarya.

Mudah-mudahan minggu depan program Digital Mommie untuk anak-anak ini sudah bisa diluncurkan.

 

 

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Tata, blog, digital literacy, d..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 24 May 2013 14:41

Sudah lama pengen curhat tentang tukang ojek deket rumah yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebenernya sih sudah kutahan-tahan, tapi hari ini rasanya sebelku udah agak-agak numpuk jadi perlu penyaluran supaya besok masih bisa senyum kalau ketemu tukang ojek. Hehe..

Jadi, tadi siang aku janjian ketemu mb Shakina Mirfa di LMPI jam 10. Karena lek Gana ada sidang (kena tilang polisi) jadilah aku terpaksa naik ojek ke Utan Kayu:

Tukang-Ojek

Komik Benny & Mice

“Berapa bang ke Utan Kayu?”
“Biasa neng, 25rb”
“Lha kan deket. 20rb aja ya” tawarku
“Nggak bisa neng.” dan dengan kompaknya semua tukang ojek yang mangkal nggak mau kalau aku nggak pake abang itu. Itu giliran dia katanya. 25rb itu sama seperti kalau aku naik taxi, lebih murah malah kayaknya kalau ambil yang tarif bawah. Tapi berhubung aku buru-buru (dan itulah kesempitanku) jadi aku pasrah.

***

Aku tahu, sebenarnya itu biasa banget. Tapi masalahnya ini kejadian berkali2 dalam perbandingan yang luar biasa jauh. Jadi misalnya, di hari aku harus mengajar ke UI, aku harus berangkat jam 6.30 dan lek Gana belum sampai rumah jam segitu, mau tidak mau harus naik ojek ke stasiun KA Tebet. Berapa tarif dari abang ojek? 25ribu! Padahal, kalau pulangnya aku naik ojek juga, para tukang ojek yang mangkal di KA Tebet memberi tarif 15rb sampai rumah. Lumayan kan bedanya nyaris 50% (xixixi, emak2 banget ya aku, nggak mau rugi).

Ok lah, itu yang jauh. Ke pasar Ciplak yang deket rumah aja, mereka tarifin ekstra juga. Jadi kalau dari rumah ke pasar tarifnya 7000 (no nego). Padahal, kalau pulang dari pasar Ciplak, tarifnya 5000 plus si abang ojek mau lho bantu angkat2 belanjaanku yang segambreng, maklum belanjaan seminggu.

Makanya, aku lebih suka belanja ke pasar kaget yang walau lebih jauh, harus naik angkot, tapi bisa bareng Yudhis. Ada 2 keuntungan: Yudhis jadi belajar jadi kuli pasar, harga angkot JELAS, malah kalau aku tambah uang ekstra bisa diantar sampai depan pager. Lumayan.

***

Aku tahu posting ini nggak penting banget untuk dibaca. Hahaha.. Tapi paling tidak buatku sedikit lega. Soalnya, ngomel-ngomel ke abang ojek itu rasanya gak guna. Antara kasihan sama males debat yang gak penting tapi kesel. Jadi gimana dong, daripada numpuk keselnya. Mending ditulis aja lah.. kenang-kenangan. Yang pasti hal ini semakin membuatku menghargai keberadaan lek Gana yang setia mengantarku ke mana-mana.

Author: "Lala" Tags: "Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 24 May 2013 00:00

Sambil kursus gitar seminggu sekali, Yudhis terus memperdalam keterampilannya bermain gitar dengan cara belajar otodidak secara online di Songsterr.

Kali ini, hasil belajarnya adalah Minuet. Permainan gitar ini pernah dipertunjukkannya di FESPER 2013 di Yogyakarta yang lalu.

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Yudhis, fingerstyle, gitar, min..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 23 May 2013 14:53

curhatBeberapa waktu terakhir hari-hariku makin berisi dengan banyak hal di luar urusan rumah. Waktuku semakin banyak terbagi antara anak-anak, domestik & pekerjaan keluar rumah.

Walau sudah dibantu dengan jadwal harian yang ditempel di meja kerja tapi tetap rasanya waktu berjalan super cepat. Dan kalau sudah seperti ini rasa bersalahku pada Duta membesar. Yudhis & Tata lumayan mandiri dan bisa mengatur hari-harinya sendiri, tapi aku merasa kadang energiku sudah tak cukup untuk mengimbangi keinginan-keinginan Duta.

Memang sih, ada mas Aar yang mengambil alih sebagian besar proses belajar Duta. Tapi tetap saja, Duta mencari-cariku untuk menemaninya bermain. Walau aku tidak pergi ke kantor selayaknya ibu-ibu bekerja lainnya, tapi ada hari-hari di mana aku harus pulang malam karena ada pertemuan atau bahkan pelatihan/pekerjaan di luar kota. Dan biasanya jika ini terjadi, maka beberapa hari setelahnya Duta menjadi lebih manja dari biasanya. Tidurnya saja dengan posisi menaruh sebagian badannya di atas badanku, seakan memastikan bahwa aku akan tetap ada di sampingnya ketika dia terjaga.

***

Aku tahu ada banyak ibu-ibu bekerja di luar sana yang punya kisah & dilema rasa bersalah jaaauuuuh lebih dahsyat daripada yang kurasa saat ini. Untukmu wahai para ibu yang harus bekerja dan meninggalkan kekasih hati di rumah, semoga kita semua senantiasa dikuatkan hati & pikiran serta diberikan tambahan tenaga dariNya untuk bisa tetap melayani kekasih hati di rumah. Semoga Allah senantiasa menjaga, mencukupkan, menyempurnakan & memberikan cara terbaik untuk mengganti segala waktu yang terbagi.

#JustCurhat

 

Author: "Lala" Tags: "Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 22 May 2013 03:06

Hari ini aku sharing dengan komunitas WomanOPTIMIZER di Rumah Ilmu milik Mas Mono (aka Ayam Bakar Mas Mono). Acara ini adalah bagian dari materi pengayaan yang diadakan oleh BISMA Center.

Aku berbagi tips menjadikan bisnis yang sifatnya taktis menjadi strategis, dari pedagang yang bertumpu pada transaksi menjadi pebisnis yang membangun sistem & brand.

Aku juga sharing tentang pentingnya sebuah Web Kredibel sebagai wajah bisnis kita di dunia maya. Juga seberapa pengaruh desain dalam sebuah web kredibel. Di mana titik yang perlu diperkuat, apa-apa yang perlu diperhatikan hingga buka-bukaan tentang berapa sih sebenarnya biaya yang dibutuhkan untuk membuat web yang kredibel.

Acaranya berlangsung meriah. Tidak hanya dari  jumlahnya yang membludak, tapi juga antusiasme peserta yang luar biasa lengkap dengan aneka pertanyaan seputar desain web. Sampai ketemu di kelas ya :)

 

Author: "Lala" Tags: "Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 22 May 2013 00:20

karpDi dunia teknologi, kita sudah cukup terbiasa mendengar kisah beberapa tokoh yang tidak menamatkan kuliah alias dropout, tetapi sukses. Sebut saja Bill Gates, pendiri Microsoft yang dropout Harvard. Atau, Steve Jobs (pendiri Apple) dan Mark Zuckerberg (pendiri Facebook) yang memilih merintis bisnis daripada meneruskan kuliahnya.

Nah, saat dropout kuliah menjadi hal yang tak terlalu dipertanyakan, kini muncul fenomena baru di dunia teknologi, yaitu dropout SMA. Kisahnya dialami oleh David Karp, pendiri Tumblr, sebuah platform blogging yang baru diakusisi Yahoo.

Cerita tentang latar belakang David Karp itu diceritakan oleh News Republik. Alkisah, saat usia 14 tahun dan menyelesaikan kelas 1 SMA di Bronx High School of Science, ibu Karp memberikan pilihan untuk homeschooling yang membuat Karp meninggalkan bangku SMA-nya.

Keluar dari SMA, bukan berarti Karp berhenti belajar. Karp mengambil kelas bahasa Jepang dan terus belajar matematika, sambil magang di perusahaan pembuat animasi. Pada usia 16, Karp membuat website dan memulai debutnya sebagai pebisnis teknologi. Dan sekarang, di usianya yang ke-26, situs Tumblr yang didirikannya dibeli Yahoo senilai Rp 10 triliun.

Mengomentari latar belakang pendidikannya, Karp menyatakan bahwa keberhasilannya bukanlah alasan bagi remaja lain untuk meninggalkan sekolah. Saat diwawancarai Associated Press, Karp mengatakan,”Aku tak akan merekomendasikan itu pada anak-anak di luar sana. Aku berada di posisi yang unik karena mengetahui dengan jelas apa yang ingin kulakukan pada saat pendidikan komputer di sekolah New York pada saat itu tak terlalu bagus.”

Nasihat yang serupa diberikan oleh Vivek Wadhwa, dosen di Stanford Law School yang mengajar tentang “startup company”. Viviek menyatakan bahwa keluar sekolah untuk mengejar mimpi adalah seperti membeli tiket lotere. Untuk setiap keberhasilan, ada 100.000 yang gagal. Dan DO sangat mungkin untuk mengantarkan seseorang menjadi
pengangguran.

***

Dari perspektif orangtua homeschooling yang memandang pendidikan dengan sudut pandang berbeda, aku melihat fenomena ini sebagai inspirasi yang menarik.

a. Pendidikan adalah investasi terbaik

Pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan. Tetapi pendidikan tidak identik dengan sekolah dan kuliah, apalagi sekedar mengejar gelar. Pendidikan adalah proses meningkatkan kualitas diri, baik sikap, wawasan, pengetahuan, maupun keterampilan. Ujungnya adalah kemampuan hidup dan berkarya di masyarakat. Sekolah atau tak sekolah
(otodidak, homeschooling), yang penting adalah terus belajar.

b. Belajar tak hanya di sekolah/kuliah

Pendidikan/belajar sekarang banyak jalannya. Sekolah adalah salah satu jalan, bukan satu-satunya. Apalagi dengan adanya Internet, ruang belajar menjadi sangat luas dan tak terbatas. Tutorial, belajar online, menyimak kultwit, seminar & pelatihan, dan sebagainya. Belum lagi magang dan belajar langsung pada orang/perusahaan yang sukses. Semua itu adalah belajar juga. Yang paling penting adalah kualitas pembelajaran, bukan tempat belajarnya.

c. Ada banyak jalan menuju sukses

Rumus sukses yang diajarkan saat ini adalah kuliah dan mendapatkan gelar. Apapun yang terjadi, ikuti saja prosesnya, maka kesuksesan akan menunggu di ujung sana. Kini, kita semakin banyak menyaksikan jalur-jalur kesuksesan yang beragam. Kesuksesan bukan hanya lulus kuliah dan menjadi pegawai perusahaan besar. Kesuksesan bisa diperoleh
dari dunia bisnis serta profesi-profesi lain yang seringkali tak berhubungan dengan ijazah.

d. Pekerjaan non-ijazah

Tak berijazah bukan berarti menjadi penganggur dan orang gagal. Banyak pekerjaan yang tak mendasarkan pada ijazah. Sebut saja penulis, seniman, fotografer, programmer, dan tentu saja pebisnis. Dalam pekerjaan-pekerjaan itu, yang ditanyakan bukan ijazah, tetapi output/karya. Apa yang sudah dihasilkan? Seberapa bagus prestasinya? Kuncinya adalah kualitas pribadi dan kualitas karya.

e. Hidup berdasarkan passion

Rumus lama keberhasilan adalah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Bertahan sekolah dan mengejar kuliah, apapun yang terjadi, karena itu adalah tiket menuju sukses. jika Anda tak menikmati saat belajar dan berproses menuju keberhasilan, Anda tak akan bisa menikmati saat Anda berhasil. Hasilnya seringkali adalah kesuksean pekerjaan/karir yang tak disertai kebahagiaan karena pekerjaan yang dilakukan bukanlah yang sungguh-sungguh diinginkan.

Oleh karena itu, penting untuk mendidik anak-anak yang berbahagia yang memiliki passion atas apa-apa yang dijalaninya. Karena passion adalah penggerak besar internal yang akan membuat seseorang mau belajar dan bekerja keras, bersusah-payah, dan pada saat bersamaan sekaligus menikmatinya.

 ***

Berani gambling 1:100.000?

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling, Artikel Pendidika..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 20 May 2013 00:06

anak-sakitSudah 4 malam ini aku kurang tidur karena Duta demam. Malam pertama demam lumayan tinggi sampai aku sulit untuk memejamkan mata, karena bolak balik Duta bangun minta pipis, minta minum & memastikan badannya tidur di atas badanku.

Anehnya siang hari suhu tubuhnya membaik. Walau lebih lemas & rewel, tapi Duta masih bisa beraktivitas. Makan – minumnya juga bagus. Aku pikir Duta kena flu, tapi setelah kuperhatikan tidak terlihat tanda-tanda batuk atau pilek. Waktu aku tanya apa yang sakit, apakah kepalanya, tangannya, kakinya, perutnya. Ternyata kata Duta jawabnya perut. Tapi pup-nya bagus tidak ada masalah. Mas Aar bilang mungkin maksud Duta perutnya mual karena suhu tubuhnya naik.

Malamnya panas Duta kembali naik dan susah tidur. Akhirnya kami berikan Duta obat penurun panas. Duta tidur lebih tenang walau masih berkali-kali bangun. Begitu pula malam setelahnya, masih rewel. Sampai akhirnya kemarin aku benar-benar jadi panik karena demamnya yang stabil. Bagaimana kalau kena DB?

Aku gugling, mencari ciri-ciri Demam Berdarah dan kurang lebih seperti ini:

Ciri-ciri Demam DBD atau Demam Pelana Kuda:
Hari 1 – 3 Fase Demam Tinggi
Demam mendadak tinggi, dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata, badan ngilu dan nyeri, serta mual/muntah, kadang disertai bercak merah di kulit.
Hari 4 – 5 Fase KRITIS
Fase demam turun drastic dan sering mengecoh seolah terjadi kesembuhan.
Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya “Dengue Shock Syndrome”
Masa kritis
Prinsipnya, orang tua harus benar-benar menghitung hari, sejak kapan anaknya demam. Satu hari berarti satu hari penuh atau 24 jam setelah mulainya demam. Karena dengan begitu, bisa ditentukan kapan anak masuk dalam fase kritis yang merupakan momok mengerikan pada DBD. Pada DBD, demam biasanya akan turun setelah berlangsung 3-4 hari. Namun, justru pada saat demam turun anak dapat masuk ke masa kritis, atau sebaliknya sembuh tanpa komplikasi apapun.*

Belum lagi ternyata DB tidak selamanya keluar bercak. Jadi aku betul-betul bingung. Apalagi Duta habis cacar kan kemarin, jadi tubuhnya ya memang penuh bercak nyaris pudar karena cacar. Dan karena ini pengalaman pertama kami dengan gejala DB jadinya agak panik gimana gitu.

Rasanya sudah pengen bawa Duta ke rumah sakit untuk diperiksa. Tapi mas Aar bilang kalau DB itu belum ada obatnya. Jika dibawa ke rumah sakit dan positif DB pun penanganannya hanyalah diberi banyak minum/cairan & obat penurun demam. Kami bukan anti rumah sakit, tapi memang berusaha untuk bertahan pakai pengobatan non-medis jika masih bisa.

***

Hari ini berarti masuk hari ke-lima (semoga aku tidak salah hitung). Aku bersyukur Duta minumnya banyak dan bolak-balik ke kamar mandi. Karena salah satu ciri-ciri yang patut diwaspadai adalah jika anak jarang buang air kecil. Jika dalam 6 jam tidak buang air kecil maka itu tanda-tanda dehidrasi, sedang kalau anak sering buang air kecil berarti jumlah cairan yang diminum anak cukup.

Walau tidak seceria biasanya, tapi menurutku Duta masih cukup aktif. Dia masih bermain seperti biasa (hanya agak lebih mudah tersinggung). Tapi bagaimanapun kalau dari gugling, maka ini masuk masa-masa kritis. Tentu saja harapanku Duta masuk ke bagian yang tiba-tiba sembuh saja tanpa komplikasi. Mohon doanya yaaa..

Duta sudah bangun nih. See you around :)

*Sumber: Pengetahuan Bunda
Author: "Lala" Tags: "Kegiatan Duta, Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 19 May 2013 00:18

thomasbookSetiap anak memang memiliki kesukaannya masing-masing. Yudhis dulu suka Barney, Dora, Blues Clues. Tata suka aneka produk Disney. Duta suka Thomas the Tank Engine.

Dari kesukaannya ini Duta belajar banyak hal. Belajar logika, berhitung, mengenal huruf, warna, menggambar dll. Waktu di awal, Duta suka bermain sendiri. Dengan aneka permainan & buku Thomas yang dia miliki, Duta berkhayal sambil ngoceh-ngoceh sendiri.

Ini suara ocehannya. Duta melakukan ini sambil “membaca” buku Thomas kesukaannya:

***

memorygameSaat ini, Duta lagi suka bermain matching game. Awalnya dia main matching game di komputer & ipad. Begitu Duta punya matching game berbentuk fisik, ternyata dia lebih suka pakai kartu betulan. Kartunya itu dia bawa ke mana-mana dan dia betul-betul menjaga jumlah kartunya tetap utuh. Waktu itu kami lagi camping dan kartu Bertie hilang, waaaah… yang namanya nyari itu sampai aku deg-degan gimanaaa kalau nggak ketemu. Untunglah ketemu, fiuh!

Hampir setiap saat Duta mengajak kami untuk bermain matching. Dari sini ternyata Duta belajar banyak hal. Dia belajar sabar, sportif, berhitung dll. Belajar dari sesuatu yang disukai memang benar-benar menyenangkan.

Author: "Lala" Tags: "Kegiatan Duta, Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 17 May 2013 22:11

Tidak terasa Yudhis sudah 12 tahun. Berarti sudah 12 tahun yang lalu aku memulai perjalananku sebagai seorang ibu. Percaya tidak percaya rasanya.

Sebelum Yudhis lahir, kami sempat tinggal sebentar di daerah Bogor. Waktu itu aku belum tahu bagaimana rasanya melahirkan. Jadi waktu temanku mengajak melahirkan di rumah dengan bantuan paraji (dukun beranak), aku senang-senang saja. Apalagi waktu temanku melahirkan, besoknya dia sudah bisa duduk dengan enaknya. Kok bisa? Katanya kalau sama paraji nggak robek, jadi cepet sembuhnya. Dia bilang, “gak sakit La, kayak pup aja”. Weeeew….

Sayang, ketika waktunya melahirkan tiba aku ada di Jakarta. Jadi aku harus melahirkan di rumah sakit. Waktu itu aku tidak menyangka kalau sakitnya sakit sekali. Kok bisaaaa temenku bilang nggak sakit? Apa karena dia di paraji bukan di dokter? Karena begitu dokter kan langsung kres kres kres (gunting) untuk memudahkan kepala bayi keluar. Jadi mau tidak mau ada proses menjahit yang menurutku jauuuh lebih sakit daripada proses melahirkannya.

Yudhis lahir sebagai bayi yang mungil. Kepalanya saja jauh lebih kecil dari susuku yang saat itu bengkak. Sebelumnya sahabatku yang lain melahirkan dengan berat 4kg jadi bayinya langsung besar. Makanya aku sempat bingung lihat anakku kok kecil banget, takut agak-agak kurang gizi. Hehe.. Untungnya dokter bilang kalau 2.75 itu normal.

***

Itu 12 tahun yang lalu. Dan sejak itu pula seluruh duniaku berubah. Bersama Yudhis aku belajar menjelajah sisi baru dari diriku yang sama sekali belum pernah kulalui. Banyak pilihan hidupku setelahnya yang sangat bergantung pada dirinya.

Walau keinginan untuk tidak menyekolahkan anak sudah ada jauh sebelum Yudhis lahir, tapi tak kupungkiri ketika Yudhis berusia 6 bulan, aku sempat tergoda untuk memasukkan Yudhis ke “preschool bayi”. Sebenarnya aku lebih tertarik karena tempatnya yang bagus & fasilitasnya yang lengkap. Alasan itu yang membuatku mendaftarkan Yudhis pada sebuah tempat untuk hak pakai fasilitas (bukan masuk kelas) selama satu tahun.

Sayang, tempat itu kemudian meniadakan membership fasilitas dan mengeksklusifkan untuk murid saja. Jangan-jangan terganggu sama aku yang cuma pakai fasilitas tapi sounding ke sana kemari kalau anakku gak sekolah. Xixixi..

Mungkin karena sering melihat bapak-ibunya depan komputer maka sejak kecil Yudhis tertarik dengan komputer. Untungnya ada banyak guru-guru bertebaran untuknya. Satu karya yang pernah dibuatnya waktu kecil adalah video tentang dirinya dan teman-temannya. Diisi background rekaman suaranya ketika berusia 2 tahun.

***

Kini Yudhis mulai beranjak remaja. Pilihan lagunya tak lagi “macaroni & cheese”nya Barney tapi sudah bergeser menjadi lagu-lagu sejenis Area 11 seperti Shi No Barado dari Area 11 & Go! Fighting Action Power. Belajarnya pun mulai semakin mandiri. Saat ini Yudhis mulai mengunggah karya 3Dnya di Google Warehouse setelah sebelumnya asyik bikin-bikin ruang:

replika Kamar Kerja

Selain Google Sketchup, Yudhis juga suka bermain-main dengan photoshop. Sebagian karyanya bisa dilihat di situs pribadinya.

 ***

Satu hal yang menarik dari perkembangan Yudhis adalah kesukaannya membaca. Terus terang, karena aku ini penggemar komik & games, jadi anak-anakku pun akhirnya tumbuh menjadi penggemar komik & games. Walau di luar itu kami tetap menstimulus mereka dengan buku-buku anak “bermutu”, tapi kesukaan Yudhis kecil ya komik. Kalau ke toko buku pun yang dipilih adalah komik.

Sampai suatu hari, Yudhis kelihatan mulai bosan dengan buku komik, lalu dia mulai melihat koleksi buku-bukuku yang lebih “berat” dan ternyata dia suka. Dia mulai menyukai buku-buku Roald Dahl, novel detektif & buku-buku koleksi masa kecilku. Ketika FESPER kemarin, Yudhis dapat buku Pearl of China karya Anchee Min yang habis dilahapnya sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta.

Aku rasa itu jadi momen pergeseran kesukaan membacanya. Sejak itu Yudhis mulai mencari-cari buku yang lebih tebal lagi. Waktu ujian ke Salatiga, Yudhis terkesima melihat koleksi tante Wieda yang sarat buku-buku keren. Yudhis bilang selesai ujian Yudhis ingin mulai mengoleksi buku-buku living book seperti koleksi tante Wieda. Ternyata, belum sempat pergi ke toko buku, ada kejutan datang tepat di hari ulang tahun Yudhis.

Satu set kiriman buku datang dari mb Retnadi (pemilik toko buku online HalamanMoeka) & mb Aan Diha (seorang penulis cerita anak). Isinya?? Buku-buku yang ada dalam daftar keinginan Yudhis. Woooow.. terima kasih kejutan cintanya ya mb Aan & mb Retnadi.

yudhisdanbuku

Sambil menyusun bukunya Yudhis berkata, “Bu, mulai sekarang aku betul-betul mau koleksi buku-buku seperti ini. Aku suka banget soalnya”

***

yudhisDi sini aku merasa bahwa ternyata, walau Yudhis suka game, suka komik & suka nonton film, tapi semua itu tidak menyurutkan kesukaannya membaca buku-buku living book.

Waktu aku tanya, lebih suka mana antara nonton film, main game, baca komik dan baca buku novel, Yudhis tertawa dan bilang “Mana mungkin dibandingkan bu, rasanya kan lain. Aku suka semuanya”. Nah lho.. gimana dong? hehe..

Ketika pertanyaannya aku ganti, “Menurutmu mana yang lebih bermanfaat, nonton film, main game, baca komik atau buku novel?”. Yudhis jawab, “Semuanya ada manfaatnya bu. Walau mungkin ada satu kegiatan yang isinya cuma bikin aku hepi, tapi kan bikin hepi itu manfaatnya besar biar semangat mengerjakan yang lain”. Hahaha, gitu ya?

Sama anak remaja harus pinter tarik ulur. Semakin lama, posisiku mulai bergeser, tak hanya sekedar menyuruh tapi lebih ke memberi pengertian “kenapa” sebuah hal perlu dilakukan. Yudhis kecil kini sudah beranjak remaja. Call me lebay, tapi aku benar-benar merasa waktuku bersamanya tinggal sebentar. Tak lama lagi dia akan segera terbang untuk mencari jati diri & menjalani hidupnya.

Selamat ulang tahun sayangku, semoga apapun yang kau lakukan di masa depan senantiasa selalu dalam lindunganNya, dan semoga Tuhan berkenan menyampaikanmu pada takdir terbaikmu, menjadikanmu manusia yang bermanfaat bagi semestaNya. Amin.. love you, Tong!

Author: "Lala" Tags: "Kegiatan Yudhis, Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 17 May 2013 05:52

Salah satu tugas utama zaman kita ini adalah membangun sebuah komunitas global yang di dalamnya semua orang dapat hidup bersama dalam sikap saling menghormati. Tugas itu membutuhkan komitmen dan kontribusi dari semua kelompok masyarakat, yang selalu menggaungkan bahwa inti dari ajaran yang diyakininya adalah belas kasih (compassion).

Karen Armstrong, seorang pemikir dan penulis spiritualitas menyerukan pada seluruh kelompok untuk kembali pada kaidah emas: “Perlakukan orang lain seperti engkau ingin dirimu diperlakukan” atau dalam bahasa lain “Jangan memperlakukan orang lain yang dirimu tak ingin diperlakukan seperti itu.”.

Presentasi Karen Armstrong  pada TED yang mendapatkan penghargaan TED 2008 kemudian melahirkan gerakan “Charter for Compassion” yang melibatkan ribuan orang dari berbagai kelompok dan agama untuk menghadirkan piagam komitmen bersama. Komitmen bersama itu dirumuskan dalam bentuk Piagam Belas Kasih (Charter of Compassion) oleh sebuah Council of Coscience  berisi individu-individu yang mewakili enam tradisi iman (Yudaisme, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, dan Konghucu).

***

charter-for-compassion

Berikut ini bentuk final Piagam Belas Kasih dalam Bahasa Indonesia

Piagam Belas Kasih

Prinsip belas kasih tersemat dalam jiwa semua tradisi agama, etika atau kerohanian, dan menyeru kepada kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana yang kita ingin diperlakukan. Belas kasih memaksa kita bekerja tanpa kenal lelah untuk menghapuskan penderitaan sesama manusia. Dan untuk melepaskan kepentingan kedudukan kita demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain, serta untuk menghormati kesucian tak terganggu-gugat setiap orang, memperlakukan setiap orang dengan keadilan, kesamaan dan rasa hormat yang mutlak, tanpa pengecualian.

Adalah juga penting dalam kehidupan masyarakat dan perorangan untuk terus-menerus menahan diri secara konsisten dan empatik dari tindakan menyakiti orang lain. Bertindak dan berkata-kata kasar karena rasa dendam, kesombongan bangsa, atau kepentingan diri, untuk mengurangkan, mengeksploitasi atau menyangkal hak asasi siapa pun dan menghasut kebencian melalui fitnah – bahkan terhadap musuh pun– adalah suatu penyangkalan terhadap kemanusiaan bersama. Kami mengaku bahwa kami telah gagal hidup berbelas kasih dan malahan ada juga yang menambah penderitaan sesama manusia atas nama agama.

Oleh itu kami menyeru kepada semua orang, laki-laki dan perempuan, supaya:
~ menghidupkan kembali perasaan belas kasih sebagai asas etika dan agama
~ untuk kembali kepada prinsip asali bahwa setiap tafsiran Kitab Suci yang melahirkan kekerasan, kebencian atau penghinaan, adalah tidak sah
~ untuk menjamin kaum muda diberi informasi yang tepat dan menghargai tradisi, agama dan kebudayaan lain
~ untuk mendorong penghargaan yang positif terhadap kepelbagaian budaya dan agama
~ untuk menyemai empati atas penderitaan semua umat manusia – termasuk mereka yang dianggap musuh.

Kita sangat perlu menjadikan belas kasih sebagai suatu kekuatan yang jelas, bercahaya dan dinamik dalam dunia kita yang terpolarisasi. Berakar dalam tekad mendasar untuk mengatasi keakuan, belas kasih dapat meruntuhkan batas-batas politik, dogmatik, ideologis dan keagamaan. Lahir dari ketergantungan kita yang mendalam antara satu dengan yang lain, belas kasih adalah esensil bagi hubungan antara manusia dan untuk menggenapi kemanusiaan. Belas kasih adalah jalan ke pencerahan, dan tak dapat diabaikan dalam menciptakan suatu ekonomi yang adil dan suatu kehidupan global bersama yang damai.

(Naskah asli Charter of Compassion dalam bahasa Inggris dapat dibaca di SINI).

***

Sebagai individu dan anggota masyarakat yang mengimani Tuhan, saya berkomitmen mendukung nilai-nilai dan gerakan ini. Kita butuh menjadikan belas-kasih sebagai dasar dalam interaksi kita di masyarakat, apapun iman kita, yang menjadi dasar untuk mencari solusi di dalam perbedaan & gesekan-gesekan yang terjadi di sekitar kita.

Author: "Aar" Tags: "Artikel Umum"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 16 May 2013 15:27

Beberapa hari sebelum ulang tahun mas Aar, Tata sudah sibuk saja browsing & mencari di tumpukan buku resep kira-kira kue apa yang sanggup dia buat untuk bapaknya. Karena Tata tahu kalau bapaknya tidak suka kue manis, maka dia memilih untuk membuat Cheesecake. Setelah browsing & tanya sana-sini, akhirnya diputuskan untuk membuat Japanese Cheesecake. Tata bahkan pergi ke minimarket untuk membeli sisa bahan yang tidak kami miliki.

Hari itu, walau mas Aar tidak suka ada pesta untuk ulangtahunnya, Tata tetap bangun jam 4 pagi dan membuat kue keju untuk bapaknya. Aku hanya membantunya melelehkan susu+krimkeju+mentega di atas kompor & memasukkan adonan ke oven. Selebihnya Tata yang melakukannya. Makanya begitu kue keju masuk oven, Tata langsung tertidur pulas kecapekan. Menjelang waktu sarapan, baru deh Tata dibantu Duta menghias kue keju untuk bapak Aar.

ulangtahunbapakaar

***

Tidak ada sebuah perayaan yang khusus di hari ulang tahun mas Aar, karena mas Aar memang tumbuh besar di keluarga yang nyaris tidak pernah merayakan ulang tahun, jauh berbeda dengan tradisi keluargaku yang sering banget “merayakan” sesuatu alias seneng kumpul untuk makan-makan bersama.

Aku dan mas Aar tumbuh dari karakter & tradisi keluarga yang sangat berbeda. Hal itu membentuk kami menjadi pribadi yang juga hampir tanpa irisan. Otak kanan vs otak kiri, pendiam vs cerewet, sabar vs mudah meledak, pecel vs pizza, buku vs games, mikir baru jalan vs jalan baru kesandung. Hehe.. dan seterusnya dan seterusnya.

Mungkin yang terjadi di antara kami adalah Opposite Attraction. Aku mengagumi kecerdasannya, kesahajaannya, kemampuan analitiknya yang kuat, kesabarannya, kekayaan pengetahuannya, kehati-hatiannya sementara mungkin mas Aar menyukaiku justru karena ke-odoy-an yang kumiliki.

Its not physical attraction that made him attracted to me. Its plain simple, the magical connection between my heart and his.

Selamat ulang tahun cintaku. Memikirkanmu selalu menghangatkan hatiku. Semoga Tuhan berkenan selalu membentangkan langitNya untukmu, mencurahkan segala berkahNya dan membawamu senantiasa menyatu dalam kehendakNya. I love you dear, hari ini, esok dan selamanya.

*Photo by Yudhis Samiaji

Author: "Lala" Tags: "Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Next page
» You can also retrieve older items : Read
» © All content and copyrights belong to their respective authors.«
» © FeedShow - Online RSS Feeds Reader