• Shortcuts : 'n' next unread feed - 'p' previous unread feed • Styles : 1 2

» Publishers, Monetize your RSS feeds with FeedShow:  More infos  (Show/Hide Ads)


Date: Tuesday, 16 Sep 2014 22:10

Proses homeschooling yang kami jalani banyak terinspirasi dengan pendekatan unschooling. Itu berarti, kami berusaha menciptakan lingkungan keseharian berkualitas dan memberikan ruang yang besar bagi anak-anak untuk bereksplorasi.

Pada satu sisi, model semacam ini memberikan ruang yang besar bagi anak-anak untuk mengeluti passion-nya. Mereka bebas dan memiliki keleluasaan yang besar untuk melakukan hal-hal yang disukai.

Tapi pada saat bersamaan, ada tantangan stamina belajar dan kualitas belajar yang melekat pada model ini. Anak yang bebas merdeka biasanya juga cenderung lebih mudah bosan dan determinasinya kurang kuat. Belum lagi, anak-anak cenderung merasa jago, padahal mereka baru kenal dan baru sekedar bisa. Itulah yang kami rasakan sebagai tantangan belajar anak-anak.

minecraft-monas

***

Bagi kami, belajar bukan hanya tentang passion. Stamina dan kualitas belajar juga penting untuk membuat mereka tumbuh dan berkembang secara maksimal. Stamina yang kuat membuat mereka tak mudah menyerah dan akan memperbesar kapasitas belajar mereka.

Untuk itu, kami berusaha mengajarkan kepada anak-anak untuk menyelesaikan sebuah proyek dengan tuntas. Mereka tak boleh suka-suka dan seenaknya sendiri. Proyek boleh berganti, tapi proyek lama harus selesai sampai titik tertentu yang disepakati. Ini adalah bagian dari belajar tentang konsekuensi keputusan dan menguatkan stamina.

Juga, kami mengajari anak-anak untuk “membungkus” proyek. Seperti yang kami lakukan bersama Yudhis yang sudah berhasil membuat “Kelas Minecraft“. Menurut ukuran kami, proyek ini sukses. Yudhis terlibat aktif mulai dari perencanaan, eksekusi hingga akhir. Dia belajar membuat silabus, video tutorial, setup server Minecraft, hingga melakukan pendampingan pada teman-temannya selama dua bulan. Untuk anak seusia 13 tahun,  proses yang dilakukannya sudah luar biasa.

yudhis-video-minecraft

***

Tapi kami tak ingin berhenti dan berpuas diri. Kami ingin menaikkan lagi kapasitas Yudhis dengan memintanya membuat “video ringkasan” Kelas Minecraft yang diselenggarakannya. Pesan ini kami sampaikan sebelum kelasnya berakhir sehingga Yudhis masih sempat melakukan screen recording kegiatan teman-temannya di Minecraft.

Lalu, hasil dari dokumentasi itu dijadikan video. Lala membantu Yudhis dan memberikan feedback untuk proses pembuatan video ini. Yudhis diperbolehkan menggunakan alat kerja ibunya dan software yang digunakan Yudhis untuk membuat video ini adalah iMovie.

Inilah video ringkasan “Kelas Minecraft” yang dibuat oleh Yudhistira:

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Yudhis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Tuesday, 16 Sep 2014 00:43

Kesempatan sering datang melalui hal sederhana dan dengan cara tiba-tiba. Seperti kemarin, Minggu (14 September 2014), kami tiba-tiba mendapatkan kesempatan untuk berkunjung dan bersilaturahmi ke rumah mas Andreas Harsono, seorang penulis yang mempromosikan jurnalisme sastrawi dan sekaligus aktivis Hak Asasi Manusia.

Kami sudah cukup lama merencanakan untuk berkegiatan bersama, tapi tak kunjung terjadi karena kesibukan.

Dan hari Minggu ini semua tiba-tiba terjadi. Jendela kesempatan seperti terbuka. Dan kami memutuskan untuk mengambil kesempatannya. Semuanya hanya berawal dari posting Facebook, percakapan di komentar yang langsung menjadi keputusan untuk janji kunjungan dan anak-anak bermain bersama.

***

andreas-harsono1

Andreas Harsono dan Hak Asasi Manusia

Aku mengenal dan mengagumi mas Andreas Harsono sebagai sosok yang idealis dan profesional. Aku salut dengan kegigihan perjuangannya, keberaniannya, dan gaya tulisan mendalam sekaligus enak dibaca pada tulisan-tulisannya.

Andreas Harsono adalah seorang yang kukenal dengan dua wajah. Wajah pertama adalah aktivis hak asasi manusia. Wajah kedua adalah penulis dan pegiat jurnalisme sastrawi.

Aku mengenal Andreas Harsono pertama kali sebagai aktivis hak asasi manusia saat dia sedang melakukan penelitian tentang isu kebebasan beragama di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Kesan pertamaku saat bertemu dengannya, “Orang ini sangat detil dan profesional. Dia sangat berdedikasi dengan pekerjaannya.”

Gara-gara pertemuan pertama itu, aku kemudian membaca blognya: AndreasHarsono.net. Aku membaca tulisan-tulisannya tentang tentang Papua, konflik Madura-Dayak di Sambas, kekerasan terhadap Ahmadiyah, perebutan sumber daya air, dan sebagainya.

Aku pikir, “Orang ini agak gila!” Dia meliput dan menulis tema-tema yang sangat sensitif dan beresiko tinggi. Yang menarik buatku, dia menuliskan isu-isu sensitif itu dengan dukungan data lapangan yang dikumpulkan secara serius. Dia berusaha menulis dengan jujur sesuai fakta yang dimilikinya dan perspektif HAM yang menjadi sudut pandangnya.

Terlepas setuju atau tidak setuju pada isi tulisannya, menurutku dia telah melakukan pekerjaannya dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh; sebuah hal yang aku perhatikan masih langka di negeri ini. Dan aku selalu hormat pada orang-orang yang berdedikasi dengan pekerjaannya.

Andreas Harsono dan Jurnalisme Sastrawi

Proses membaca tulisan Andreas Harsono membawaku pada perkenalan sebuah genre menulis yang disebut jurnalisme sastrawi, sebuah model penulisan reportase (fakta, bukan fiksi) yang dilakukan dengan gaya “sastra” sehingga enak dibaca. Kurang lebih mirip gaya tulisan di majalah Tempo, seperti itulah ilmu jurnalisme sastrawi. Ternyata Andreas Harsono, yang mantan reporter Jakarta Post itu adalah salah satu pelopor penulisan jurnalisme sastrawi yang dipelajarinya saat mendapatkan beasiswa Nieman Fellowship on Journalism di Harvard University pada tahun 1999 yang lalu.

Bersama Prof Janet Steele dan koleganya di Yayasan Pantau, Andreas Harsono mengembangkan pelatihan jurnalisme sastrawi. Pelatihan yang hingga kini sudah diikuti sekitar 1500 orang itu menggunakan silabus yang berpijak pada “Sepuluh Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

Setiap kali membaca silabus dan jadwal pelatihan Jurnalisme Sastrawi alias pelatihan narasi yang diselenggarakan Yayasan Pantau, aku selalu berharap bisa mengikutinya. Tapi selalu saja ada hal yang membuatku tak bisa. Kadang waktu, kadang biaya, dan seterusnya. Sampai saat ini, aku masih ingin belajar tentang jurnalisme sastrawi karena aku merasa keterampilan menulis ini bisa meningkatkan kualitas penulisanku. Mudah-mudahan suatu saat aku bisa mengikutinya.

***

andreas-harsono2

Tak ada agenda dan acara khusus dalam pertemuan dengan mas Andreas Harsono tadi sore. Anak-anak berenang bersama di kolam renang apartemennya. Kami datang sekeluarga lengkap bersama ibu, keluarga Andit ditambah tante Ari & Ardian yang kebetulan sedang mampir bertamu.

Usai renang, kami ngobrol kesana-kemari tentang bermacam hal sambil makan malam. Walaupun dilakukan dengan santai, materi pembicaraan sebenarnya relatif berat. Aku melihat Yudhis menyimak pembicaraan kami dengan serius.

Tak lama mengobrol, anak-anak yang besar kemudian main bilyard bersama Norman Harsono, anak pertama mas Andreas. Ini pertama kali bagi Yudhis, Tata, dan Ardian bermain bilyard dan mereka sangat menikmatinya.

***

Sekitar pukul 20.00, kami meninggalkan apartemen tempat tinggal mas Andreas. Waktu 3.5 jam berlalu dengan cepat tanpa terasa. Banyak obrolan bernas dan pencerahan selama interaksi singkat yang hanya beberapa jam tersebut.

Senang akhirnya bisa main dan bertemu mas Andreas.

 

Author: "Aar" Tags: "Aar, Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 12 Sep 2014 03:04

Minggu lalu aku mendapatkan kesempatan mengikuti Focus Group Discussion (FGD) mengenai kebijakan pendidikan di jalur Nonformal dan Informal. Acara diselenggarakan di Gedung Energy, SCBD, tepatnya di salah satu ruang Pasca Sarjana Universitas Paramadina yang ada di lantai 18 gedung tersebut.

Penyelenggara FGD ini adalah pokja pendidikan Kantor Transisi Jokowi-JK. Tujuannya adalah mendapatkan feedback dari masyarakat tentang kebijakan pemerintah di bidang pendidikan nonformal & informal.

Undangan untuk acara ini datang mendadak. Aku sempat ragu karena undangan tak kunjung datang sampai H-1. Kebetulan aku sedang mengikuti pelatihan bisnis. Tapi setelah mas Bukik Setyawan yang menjadi salah satu tim di pokja memberikan kepastian acara, aku memutuskan untuk hadir dulu dalam FGD.

Ternyata pilihan untuk meninggalkan training Google setengah hari tak salah. Di FGD, aku ketemu dan belajar dari para praktisi dunia informal dan nonformal yang keren dan namanya tak asing lagi. Ada Prof Daniel Rosyid (Surabaya), mas Ahmad Bahrudin (Qaryah Thayibah, Salatiga), mas Hanny Setiawan (Solo Mengajar, Solo), mas Harry Santosa (Milennial Learning Center, Depok), pak Nukman Luthfi (pakar media sosial), dan mbak Najeela Shihab (Cikal).

Diskusi mengalir dan tajam dengan moderator mas Bukik Setyawan. Selain mas Bukik, dari Pokja Jokowi-JK hadir mas Kreshna Aditya, bang Saor Siagian, bang Alpha, dan Rian Ernest.

***

Dalam waktu yang terbatas, materi diskusi sangat lebar. Tapi ada benang-benang merah yang muncul dalam proses diskusi itu.

Hal pertama, semua narasumber menyepakati bahwa pendidikan nonformal dan informal adalah inisiatif masyarakat yang harus dijaga dan dihargai oleh pemerintah. Penghargaan pemerintah atas inisiatif masyarakat seharusnya bukan dengan cara mengontrol dan menstandarkan, tetapi dengan memfasilitasi. Prinsipnya adalah sedikit mengatur.

Hal kedua, model pendidikan yang terstandardisasi seperti sekolah tak akan menyelesaikan problem pendidikan di masyarakat. Bahkan, seperti kata mas Bahrudin sekolah justru menjauhkan anak-anak dari realitas masalah di desanya. Anak-anak desa yang bersekolah justru tercerabut dari akarnya karena pendidikan berorientasi pada kota.

Hal ketiga, pendidikan seharusnya lebih menekankan pada basis lokalitas dan komunitas. Seperti yang ditekankan mas Harry Santosa, kita membutuhkan pendidikan berbasis potensi, baik potensi individual maupun potensi komunitas yang ada di masyarakat.

Hal keempat, keberadaan teknologi akan merubuhkan sekolah dengan model konvensional seperti yang ada pada saat ini. Hal ini disampaikan oleh pak Daniel Rosyid. Seperti yang dikuatkan pak Nukman Luthfi, anak-anak sekarang hidup dan belajar dengan cara berbeda, dan itu menciptakan peluang-peluang baru yang berbeda pula.

Hal kelima, keluarga dan komunitas memegang peran penting dalam pengembangan model-model pendidikan yang beragam sebagaimana yang menjadi visi pendidikan Jokowi-JK. Keragaman ini harus didukung dengan tidak memaksa menjadi seperti sekolah. Standar-standar persekolahan jangan diterapkan pada pendidikan nonformal dan informal.

Hal keenam, jika dibutuhkan pengintegrasian dengan pendidikan formal proses pendidikan kesetaraan perlu dievaluasi dan disederhanakan. Menurut pak Daniel Rosyid, pemerintah seharusnya mengakui keluarga sebagai satuan pendidikan yang diakui.

Hal ketujuh, pemerintah dapat memberikan dukungan dengan menjadi fasilitas-fasilitas sekolah dan pemerintahan seperti perpustakaan, laboratorium, lapangan, bengkel, bangunan, dan sebagainya sebagai public goods yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Pemerintah perlu menjadikan sekolah bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi menjadi sentra kegiatan masyarakat.

FGD-pokja-Jokowi

Photo (c) Bukik

***

Itulah materi Fokus Group Discussion tentang pendidikan nonformal dan informal yang aku tangkap. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan kebijakan untuk pendidikan pada pemerintahan yang akan datang.

Sebelum acara diskusi itu, aku membuat tulisan singkat tentang usulan kebijakan pemerintah dalam pendidikan nonformal & informal.

 

Author: "Aar" Tags: "Aar"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 12 Sep 2014 03:03

Awal 2014, aku mendapat pesan melalui Facebook untuk membuat satu tulisan mengenai usulan kebijakan pendidikan di bidang nonformal & informal. Kerangkanya adalah visi misi Jokowi-JK saat kampanye presiden. Pesan itu disampaikan oleh salah seorang anggota Pokja Pendidikan dari Kantor Transisi Jokowi-JK.

Tak ada janji apapun mengenai bagaimana hasil akhirnya. Tapi setidaknya suara mengenai pendidikan di luar sekolah didengarkan. Jadi aku kemudian mencoba untuk menuliskannya, yang tak mudah karena aku hanya seorang praktisi pendidikan.

learn

***

Berdasarkan visi Jokowi yang menolak penyeragaman sekolah dan fokus yang terus diulang tentang pendidikan karakter, aku memutuskan tulisanku pada dua area itu. Berbeda dari kebijakan pendidikan umumnya yang berfokus pada sekolah, aku mengusulkan penggunaan jalur non-sekolah (informal dan nonformal) sebagai sarananya. Bahkan, aku menolak untuk standardisasi pendidikan informal dan nonformal yang dibuat menjadi serupa dengan sekolah.

Beberapa pokok gagasan yang kusampaikan:

  1. Kebijakan standardisasi yang hanya mengandalkan sekolah formal tak mencukupi untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia yang sangat beragam. Menyamakan model pendidikan anak-anak pedalaman dan Jakarta adalah kemustahilan.
  2. Fokus seharusnya bukan pada lembaga (schooling), tapi pada proses belajar (learning) yang dibutuhkan dan dijalani anak-anak.
  3. Pemerintah perlu menggunakan jalur pendidikan informal & nonformal yang disediakan oleh UU Sisdiknas untuk membangun keragaman model pendidikan. Tapi, pemerintah jangan punya kehendak untuk mengontrol dan mengubahnya menjadi sekolah seperti kebijakan yang berlangsung hingga saat ini.
  4. Penggunaan jalur informal & nonformal akan membuka partisipasi publik yang luas dengan aneka bentuk model pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, seperti: Sokola Rimba (Jambi), Sekolah Mesjid Terminal – Mester (Depok), SR Sangu Akik (Malang), Qaryah Thayibah (Salatiga), sekolah alam, sekolahrumah, dan aneka inisiatif sekolah berbasis komunitas lainnya.
  5. Untuk kebutuhan keselarasan dengan jalur pendidikan formal (sekolah), mekanismenya harus disederhanakan. Salah satu idenya misalnya mengambil model Cambridge CIE yang berfokus pada standar dan ujian, sementara proses belajar diserahkan pada masyarakat.
  6. Tentang pendidikan karakter, menurutku pemerintah tidak boleh hanya tergantung pada sekolah. Tidak fair jika sekolah hanya menjadi satu pihak yang dianggap bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter. Pemerintah perlu mendidik, memberdayakan, dan melibatkan keluarga & masyarakat untuk proses pendidikan karakter.
  7. Pemerintah perlu melakukan kampanye nasional tentang pendidikan parenting dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang selama ini aktif melakukan edukasi seperti: gerakan Ibu Profesional (Septi Peni Wulandani), Indonesia Strong from Home (Ayah Edy), Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (Ratna Megawangi), Yayasan Buah Hati (Elly Risman), dan lain-lain.
  8. Pengembangan model pendidikan parenting juga perlu dilakukan melalui jalur-jalur struktural, misalnya PKK, Dharma Wanita, dll. Juga, melalui aneka kerjasama dalam proses pendidikan pra-nikah, masa kehamilan, dan forum kerjasama sekolah-orangtua.

Tulisan selengkapnya:

Download

Author: "Aar" Tags: "Aar, Artikel Pendidikan"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 05 Sep 2014 04:45

Beberapa bulan terakhir, beredar rancangan peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pengaturan sekolahrumah (homeschooling). Aku kira materi itu hanya wacana, tapi ternyata masih beredar sampai sekarang.

Terus terang aku bingung. Arah kebijakan pemerintah baru tentang pendidikan dan menterinya saja belum dipilih, kok draft keputusan menteri-nya sudah disiapkan? Apa bukan fait-accomply terhadap menteri yang baru? Nggak tahu deh. Aku memang tidak terlalu ngerti politik.

rubber stamp marked with regulation

So, mari lanjut.

Ini pendapat pribadiku. Secara umum, aku tidak sepakat dengan draft peraturan menteri ini.

Alasan pertama, spirit peraturan ini adalah kontrol.

Pemerintah menggunakan paradigma lama yaitu ingin mengontrol warganegara-nya, bukan memfasilitasi. Alasannya mungkin biar bisa dikelola, pemerintah butuh data. Tapi hakikatnya adalah kontrol. Mengontrol materi yang dipelajari, mengontrol prosesnya, mengatur penyelenggaraannya dan memberikan sanksi kalau tidak dipenuhi.

Apakah itu berarti negara tidak boleh mengonrol pendidikan informal & nonformal? Tentu saja boleh. Tapi tentu bukan dengan pengaturan rigid seperti sekolah (formal). Jika ingin memfasilitasi inisiatif warganegara, harusnya yang dikedepankan adalah bagaimana mempermudah setiap anak mendapatkan hak-hak belajarnya, misalnya: kemudahan mendapatkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional), kemudahan proses mengikuti ujian, menjaga kualitas ujian, memfasilitasi dengan sarana publik seperti perpustakaan, laboratorium, learning center, dsb.

Alasan kedua, penyeragaman menjadi seperti sekolah.

Pendidikan informal dan nonformal berbeda dengan pendidikan formal (sekolah). Walaupun ada proses integrasi informal ke dalam formal melalui proses penyetaraan, tetapi pendidikan informal dan nonformal tidak semestinya dibakukan seperti sekolah. Mensyaratkan orangtua pendidikan memiliki ijazah seperti guru adalah berlebihan. Pemerintah bisa memberi panduan standar minimal, tetapi memberikan ruang bagi masyarakat untuk berinovasi dalam prosesnya. Jika tujuannya ingin mengintegrasikan dengan formal, peraturan menterinya adalah tentang Pendidikan Kesetaraan, bukan tentang sekolahrumah (pendidikan informal) dalam arti luas.

Alasan ketiga, kerancuan pengertian sekolahrumah.

Perbedaan substansi sekolahrumah dan sekolah adalah: sekolahrumah berarti orangtua mengambil alih tanggung jawab pendidikan dan terlibat aktif dalam prosesnya; kalau anak bersekolah berarti orangtua mendelegasikan pendidikan pada guru/sistem eksternal. Jadi, sekolahrumah adalah pendidikan berbasis keluarga, bukan lembaga dan termasuk pendidikan informal. Komunitas sekolahrumah adalah kumpulan keluarga yang berbagi bersama. Jadi, tak boleh ada lembaga seperti sekolah yang menyebutkan diri komunitas sekolahrumah/homeschooling. Aturan ini membuat sekolahrumah menjadi tak berbeda dengan sekolah formal.

Alasan keempat, peluang komersialisasi.

Spirit sekolahrumah adalah partisipasi pendidikan oleh masyarakat dan memperkuat peran keluarga dalam kehidupan bermasyarakat. Draft peraturan ini memberikan ruang komersialisasi yang besar. Aku menolak keras draft pasal 4 huruf f yang menyatakan bahwa badan hukum komunitas sekolahrumah bisa lembaga komersial (perusahaan).

komunitas-hs

Alasan kelima, pendidikan non-sekolah bukan hanya sekolahrumah.

Sebenarnya pendidikan alternatif (yang bukan sekolah formal) itu luas. Selain sekolahrumah, ada sekolah komunitas dengan variasi bentuknya yang sangat banyak. Lembaga-lembaga yang menyebutkan diri Komunitas Homeschooling itu sebenarnya adalah sekolah fleksibel atau dalam kategori luas bisa disebut sekolah komunitas. Kalau lembaga-lembaga homeschooling itu ingin dilegalkan, sebaiknya masuk saja dalam kategori sekolah komunitas (pendidikan nonformal) atau PKBM tanpa harus menyebutkan dengan embel-embel sekolahrumah.

Demikian pendapatku. Jika teman-teman ingin mengkaji sendiri rancangan aturannya, draft peraturan menteri itu bisa diunduh di SINI

***

Menurutku, jika pemerintah ingin memfasilitasi dan membantu masyarakat yang melakukan kegiatan belajar mandiri, yang mendesak untuk dibuat aturan adalah mengenai Ujian Kesetaraan dan perpindahan ke formal. Sebab, ujian kesetaraan dan proses perpindahan ke sekolah ini masih dibutuhkan oleh banyak keluarga karena berbagai alasan.

Untuk ujian kesetaraan, yang dibutuhkan adalah mempermudah proses mengikuti ujian dan meningkatkan kualitas Ujian Kesetaraan.

Untuk mempermudah, proses pendaftaran ujian kesetaraan dilakukan seperti dulu. Bisa dilakukan langsung atau melalui lembaga nonformal dengan administrasi sederhana. Tak perlu syarat rapor. Jika anak siap ujian, maka bisa ujian. Kurang lebih modelnya seperti Ujian Cambridge atau Ujian TOEFL. Ujian kesetaraan hanya boleh dilakukan oleh anak informal & nonformal, anak sekolah tak boleh ikut.

Dari sisi kualitas, yang perlu dijaga dalam ujian kesetaraan adalah kualitas soal, proses ujian (jangan asal lulus dengan bayar atau ada contekan yang dibagikan), jangka waktu ijazah dikeluarkan dipercepat. Juga, dari sisi kualitas yang penting adalah transparansi biaya ujian.

Tentang perpindahan dari informal/nonformal ke formal/sekolah, sebenarnya sudah diatur dalam PP 17 tahun 2010 pasal 73. Isi PP ini sudah cukup bagus. Untuk memperkuat PP ini, perlu dibuat aturan yang lebih teknis melalui Peraturan Menteri agar semakin kuat landasan bagi pelaksanaannya di lapangan.

***

Disclaimer: posting ini adalah pendapat pribadi, tidak mewakili keluarga homeschooling lain dan asosiasi tertentu.

 

Author: "Aar" Tags: "Artikel Pendidikan"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 27 Aug 2014 22:30

Berapa lama proses menyiapkan anak hingga bisa mandiri? Sehari, dua hari? Sebulan, dua bulan?

Dari pengalaman pribadi di keluarga kami, ternyata waktu yang dibutuhkan kurang lebih 5 tahun.

Ha, lima tahun?

Hehehe… betul.

Kasus itu kami ambil dari keterampilan Tata memasak (membuat kue). Sejak mulai berkegiatan membuat kue bersama di usia sekitar 5 tahun, sekarang Tata relatif sudah bisa mandiri membuat kue; mulai mencari resep, menyiapkan bahan, hingga membuat adonan. Pada bagian yang berhubungan api (baking), dia masih butuh bantuan. Tapi secara umum, hampir semua proses sudah bisa dilepas. Bahkan, dia sudah mulai bisa menggunakan feeling saat membuat donat tentang jumlah bahan yang harus ditambahkan.

tata-donat

***

Buatku, lima tahun proses yang kami jalani bersama Tata ini menarik. Mungkin ada juga faktor perkembangan fisiknya (usia 10 tahun) yang membuat dia sekarang sudah lebih terampil. Tapi tak bisa dipungkiri, berbagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, selama bertahun-tahun juga menjadi faktor stimulus yang penting dalam perkembangannya.

Apakah harus lima tahun? Tentu saja tidak. Itu hanya salah satu contoh, dari satu kasus yang kami alami.

Apakah lima tahun lama? Rasanya sih tidak juga karena kami hanya menikmati proses dan tak pernah memikirkannya.

Nah, ternyata buah dari proses yang berjalan selama ini baru mulai terasa. Dengan kemandirian Tata, sekarang ini yang menjadi teman dan mentor Duta untuk belajar memasak adalah Tata. Saat Duta minta bikin donat sementara kami sedang sibuk dengan pekerjaan, Tata menjadi dewi penyelamat karena dialah yang menemani Duta membuat donat.

Jadi buat teman2 yang anaknya masih kecil, santai dan dinikmati prosesnya ya… Stimulasi jalan terus, tapi jangan terlalu berharap bisa segera melihat hasilnya. Semua ada waktunya… :)

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Tata"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 27 Aug 2014 03:26

Sesaat menjelang pergi ke acara reuni Perempuan Inspiratif Nova, ibu memberi kabar bahwa beliau diundang oleh ibu Sue Aziz untuk menghadiri acara minum teh di SOGO. Ibu yang memang pecinta teh langsung semangat & mengajakku untuk menghadirinya juga.

Kebetulan waktunya cocok, jadilah pulang dari acara halal bihalal aku langsung melaju ke Kota Kasablanka. Kebetulan Sogo Kasablanka satu gedung dengan klub olahraga anak-anak. Kebetulan anak-anak sedang latihan team sampai jam 7 malam. Jadi rasanya banyak sekali kebetulan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

***

Saat aku datang di acara Tea Party Sogo Kasablanka, acara sudah berjalan kurang lebih setengah jam. Di sana sudah duduk manis ibu, tante Ari dan ibu Aziz lengkap dengan mangkuk berisi sesuatu seperti pangsit rebus berbau aneka rempah. Dikemudiannya aku baru tahu kalau itu adalah Chinese Seafood Ravioli Sauce. Rasanya? Hmm, raviolinya lumayan tapi kuahnya menurutku agak sedikit keasinan. Sambil menikmati ravioli aku berusaha menyimak Ratna Soemantri sang Tea master mendemonstrasikan cara membuat teh & menjelaskan seperti apa teh yang berkualitas itu.

Sering sih aku mendengar kalau teh yang baik adalah teh yang dibuat dari pucuk daun teh. Tapi terus terang rasanya baru kali ini aku minum teh “beneran” yang dibuat dari pucuk daun teh yang tehnya bisa aku makan langsung. Ternyata daun teh kering yang bagus itu cukup enak dimakan langsung. Rasanya kriuk2 seperti krupuk, tapi ada sensasi pahit teh yang enak. Dimakan gitu aja sambil minum teh dingin rasanya enak sekali. Aku juga baru tahu kalau teh berkualitas itu ternyata bisa diseduh langsung dengan air dingin.

Kemudian dibagikan teh hangat yang disajikan dengan cangkir cantik dari Royal Albert. Sambil menikmati teh, Ratna Soemantri terus menjelaskan ragam info seputar teh,  mulai sejarah teh sampai bagaimana tata cara minum teh yang benar. Bagaimana posisi cangkir, sendok, tangan dll. Wah, rumit  juga ternyata cara minum teh ya, hehehe

Setelah menikmati teh dingin & panas, saatnya demo masak oleh Chef Abboud. Kali ini yang dimasak chef Abboud adalah Orange-Pear Rosemary Compote Trifle (namanya panjang bener ya?). Ini adalah potongan buah pear yang dimasak dengan rosemary & parutan kulit lemon yang disiram cream cheese ditambah potongan jeruk & stroberi.

Yang seru buatku adalah karena aku berhasil menjawab pertanyaan yang dilontarkan MC setelah demo masak. Jadi segelas besar makanan lezat yang baru dibuat chef Abboud menjadi hadiah untukku. Waaaa ini benar-benar diet setahun bisa porak poranda dalam setengah jam. Sayangnya kue yang enak itu tidak bisa dibawa pulang kecuali aku beli gelasnya, hehe..

Akhirnya dengan berat hati karena tahu diri kalau tubuh ini sudah berat sekali makanan enak itu hanya kucolek-colek sebagian, dan mungkin karena menahan diri rasanya kok jadi dobel enaknya ya??

acara-minum-teh-sogo

tea-party-bersama-royal-albert-dan-green-pan

Dalam acara Tea Party Sogo ini, selain makanan lezat tadi aku juga dapat hadiah + goodiebag dari SOGO berisi handuk, piring keramik & teko teh keramik.

Jadi lumayan terhibur dari melepaskan Orange-Pear Rosemary Compote Trifle yang lezat itu. Senang juga bisa berfoto dengan ibu Aziz (Madame Soka) & Ratna Soemantri (pengarang buku The Story in a Cup of Tea).

Terima kasih SOGO, sering-sering undang kami ya. O iya, dalam acara minum teh kemarin Ibu dapat satu tea set isi 6 sedangkan tante Ari dapat satu penggorengan dari Green Pan. Benar-benar bertabur hadiah, senangnya ^_^

hadiah-acara-minum-teh

Author: "Lala" Tags: "Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 25 Aug 2014 00:53

Dalam proses penciptaan suatu karya pasti tersimpan berbagai kisah menakjubkan. Inilah yang melandasi Tabloid NOVA membuat ajang “Perempuan Inspiratif NOVA” karena NOVA percaya setiap kisah itulah yang berkesan dan bisa menginspirasi perempuan-perempuan lain untuk berkarya.

Sejak tahun 2008 Tabloid NOVA memilih dari ribuan perempuan Indonesia untuk berbagi kisah dan mimpinya agar menjadi inspirasi bagi setiap perempuan di pelosok Indonesia.

reuni-pin3Aku merasa beruntung bisa menjadi salah satu keluarga besar Perempuan Inspiratif NOVA (PIN) karena pernah menjadi Perempuan Inspiratif Nova 2013 untuk bidang teknologi. Jaringan pertemanan & persahabatan yang terjalin selama karantina membuatku serasa punya saudara dari ranah Aceh sampai Larantuka.

Makanya, aku semangat ketika menerima undangan halal bihalal plus reuni PIN dari tahun 2008-2013. Aku sadar sih, kemungkinan kumpul semua pasti kecil karena sebagian besar pemenang PIN 2013 berasal dari luar Jakarta. Benar deh, begitu aku datang ke resto Soemantri di Plaza Senayan, dari angkatan 2013 hanya aku dan mbak Nina yang hadir.