• Shortcuts : 'n' next unread feed - 'p' previous unread feed • Styles : 1 2

» Publishers, Monetize your RSS feeds with FeedShow:  More infos  (Show/Hide Ads)


Date: Saturday, 19 Apr 2014 02:08

Diantara keseharian Yudhis yang sibuk menekuni proses belajar Blender 3D, Yudhis tetap melakukan proses belajar matematika, bahasa Inggris, dan lainnya.

Saat ini Yudhis telah menyelesaikan 80% dari materi belajar matematika kelas 8 di IXL. Dalam kurikulum Amerika, ini adalah materi kelas terakhir di IXL. Setelah ini, proses belajarnya mulai masuk Aljabar dan Geometri. Kami belum memutuskan tools apa yang akan digunakan pasca kelas 8. Alternatif yang terlihat saat ini adalah IXL Math dan Khan Academy.

Sertifikat ini adalah proses pendokumentasian kegiatan belajar Yudhis.

Yudhis-IXL-K8-80

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Yudhis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 18 Apr 2014 05:15

Kelahiran buku itu rasanya seperti melahirkan. Lebay memang, hehehe… Yang pertama karena aku laki-laki, jadi tidak pernah merasakan kehamilan sehingga tidak pantas membandingkan kelahiran buku dengan kehamilan. Yang kedua, memang lebay aja.. :)

Tapi sungguh rasanya memang lega dan bahagia saat pertama kali melihat setumpuk buku “Apa itu Homeschooling” yang diterbitkan penerbit Panda Media diantarkan ke rumah. Ada sekitar 250 exp pre-order. Tidak banyak memang, tapi lumayanlah waktu yang dibutuhkan untuk menandatangi dan membungkus buku-buku tersebut. Kemarin bekerja keroyokan bersama Lala dan dibantu Ibu, hingga malam “baru” menghasilkan sekitar 100 exp yang sudah siap kirim.

Terima kasih teman-teman yang sudah memberi dukungan melalui pemesanan pre-order. Sebagian buku dikirimkan semalam via JNE. Sebagian lagi menyusul. Mudah-mudahan hari Senin semuanya sudah terkirim.

Buku Apa Itu Homeschooling

***

Menulis buku adalah sebuah perjuangan besar buatku. Walaupun pada dasarnya aku suka menulis, proses menulis buku membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan menulis posting. Ada kerangka penulisan, ada akurasi materi penulisan yang harus diperhatikan, ada gaya bercerita yang konsisten, juga jumlah minimal halaman yang harus dipenuhi. Belum lagi, ada faktor penerbit yang akan menilai apakah naskah itu layak diterbitkan atau tidak berdasarkan pertimbangan komersial. Belum proses revisi dan editing sebelum masuk ke mesin cetak. Prosesnya bolak-balik selama beberapa bulan.

Itu semua berbeda dengan menulis posting seperti di blog Rumah Inspirasi ini. Isinya bisa suka-suka. Tema materi yang ditulis dan panjang-pendeknya juga terserah kita. Waktu penulisannya juga bisa sesempatnya. Kalau pas sibuk, libur dulu menulis. Kalau pas longgar, menulis lagi.

Buat penulis non-profesional seperti aku, menulis buku itu ibarat perjuangan. Aku butuh waktu berbulan-bulan untuk melakukan riset, refleksi dan menjaga konsistensi menulis. Dan… hampir selalu proses itu terinterupsi kegiatan yang lebih prioritas yaitu memastikan agar dapur tetap mengepul.

Sebenrnya itu hanya dalih yang semestinya tak pantas kusebutkan. Tapi itulah kenyataan yang kualami. Sampai saat ini, aku belum cukup konsisten dan produktif untuk menulis buku. Oleh karena itu, aku selalu salut dengan penulis produktif seperti Dahlan Iskan, yang mampu menghasilkan puluhan buku diantara kesibukannya yang pasti jauh padat daripada aku.

***

Buku “Apa itu Homeschooling” adalah buku homeschooling ketiga yang kutuliskan. Buku pertama berjudul “Homeschooling Lompatan Cara Belajar”, yang kedua adalah “Warna-warni Homeschooling”. Buku pertama adalah karyaku sendiri, sementara buku kedua merupakan kumpulan tulisanku bersama beberapa praktisi homeschooling lain. Saat ini, dua buku pertama sudah tidak ada lagi di rak-rak toko buku. Mungkin karena termasuk “slow moving books” dan secara komersial kurang menguntungkan, buku itu tak diproduksi lagi.

Buku “Apa itu Homeschooling” berisi kristalisasi proses belajar dan praktek homeschooling yang kujalani hingga saat ini. Buku ini berisi sudut pandang dan cara berfikir (mindset) keluarga yang ingin menjalani homeschooling. Aku berusaha menyarikan pengetahuanku tentang homeschooling menjadi 35 pokok-pokok gagasan tentang homeschooling dan membuatnya menjadi hal yang sederhana dan mudah dibaca/difahami, tanpa terlalu menyederhanakannya.

Cara berfikir (mindset) tentang homeschooling menurutku penting diketahui karena homeschooling bukan hanya perihal ijazah, sosialisasi, kurikulum seperti yang sering ditanyakan. Ada sudut pandang dan cara berfikir yang berbeda dalam homeschooling yang perlu diketahui karena modelnya berbeda dengan sekolah yang kita kenal dan jalani selama ini.

Buku ini hadir dengan niat sebagai alat edukasi masyarakat mengenai homeschooling. Dengan buku ini, mudah-mudahan keluarga yang ingin tahu tentang homeschooling bisa lebih memahami apa itu homeschooling. Demikian juga, keluarga yang ingin memulai homeschooling dapat memiliki pijakan untuk langkah awal. Buku itu dapat dijadikan sebagai tools untuk menjelaskan kepada pasangan, kakek-nenek, kerabat atau teman yang ingin mengetahui tentang homeschooling.

Mau membantu promosi buku ini? Wah, tentu itu adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan buatku. Jika buku ini makin tersebar, berarti makin banyak masyarakat yang teredukasi tentang homeschooling dan melihat alternatif-alternatif pendidikan selain sekolah. Tentu saja, promosi itu juga akan membuat buku ini semakin laris, penerbit bahagia, dan membuatku (serta penulis lainnya) semakin semangat menulis buku-buku yang lain lagi, hehehe…

Cara membantu bisa dilakukan dengan berbagi foto buku di media sosial, bikin quote isi buku, bikin kultwit, bikin komentar & review di blog/notes, juga menulis resensi di media massa. Tentu saja, jangan lupa beli bukunya..:)

Buku akan mulai ada di toko-toko buku dalam waktu dekat.

***

O ya, bagi yang ingin mendalami proses belajar tentang homeschooling, kebetulan kami sedang menyelenggarakan Webinar Homeschooling pada bulan Mei 2014 ini. Webinar ini biasanya kami adakan satu atau dua kali setahun. Silakan dimanfaatkan bagi Anda yang membutuhkannya.

Author: "Aar" Tags: "Aar"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 14 Apr 2014 07:34

Mengikuti kakak-kakaknya, Duta belajar “game” matematika di IXL Math. Hampir setiap hari proses belajar dan aku selalu menemani prosesnya.

Proses belajar Duta relatif longgar. Aku memilihkan materi yang menurutku sudah dikuasainya dan sedikit demi sedikit menambahkannya. Duta belajar melompat-lompat, mulai pre-K, Kindergarten, dan kelas 1. Duta sangat suka penjumlahan dan pengurangan, serta geometri.

“Sertifikat” ini adalah dokumentasi proses belajar Duta.

Duta-pre-K-100a

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Duta"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 13 Apr 2014 22:30

Apa yang terjadi kalau anak-anak berkegiatan tanpa TV di rumah? Apakah mereka akan bosan? Apakah mereka akan biasa-biasa saja?

Sudah lebih dari setengah bulan di rumah tak ada TV untuk anak-anak karena TV rusak akibat terkena petir akhir bulan lalu. Sejak itu, anak-anak praktis tak menonton Playhouse Disney kesukaan mereka yang sering menjadi hiburan saat mereka beristirahat usai makan malam.

Aku semula agak mengkhawatirkan Duta. Di luar “jadwal” menonton TV saat malam, terkadang Duta suka menonton TV sebentar, entah siang atau sore hari. Tata juga terkadang menonton Disney channel sambil bermain bersama Duta di kamar.

Intinya, TV adalah hiburan buat anak-anak di rumah. Kami tak melarang mereka menonton TV, tapi kami hanya mengatur jenis channel yang mereka tonton. So far, kami tak memiliki masalah dengan TV: anak-anak tak kecanduan TV walaupun mereka bisa menonton kapan pun, mereka juga tak “lengket” dengan acara-acara yang mereka tonton.

Bahkan, kami mendapatkan efek positif dari TV seperti kemampuan bahasa Inggris pada Yudhis, Tata, dan Duta. Tentu saja, ada aneka pengetahuan dan pembelajaran yang diperoleh Duta seperti mengenal angka, alfabet & pengetahuan umum. Bahkan, Duta belajar membaca dari menonton film World Word.

***

Seminggu berlalu. Waktu berjalan relatif cepat karena kami mengikuti acara FESPER dan pergi ke Salatiga. Tak ada masalah karena kami berada di luar. Sepanjang mengikuti FESPER dan di perjalanan juga tak ada pembicaraan tentang TV.

Minggu kedua di rumah. Aku agak was-was dan cemas. Eh, ternyata kecemasan itu terlalu mengada-ada. Tata dan Duta menyesuaikan diri dengan kondisi. Mereka tahu bahwa TV rusak karena terkena petir dan untuk membeli TV baru dibutuhkan uang yang banyak. Jadi mereka pun pasrah.

Di titik ini, aku melihat bahwa anak-anak memiliki elastisitas dan daya penyesuaian yang luar biasa. Kami memang “tertolong” dengan kegiatan keluar rumah tiga kali seminggu untuk berolahraga di Rockstar Gym yang membuat hari-hari mereka terisi dan penuh kebahagiaan.

Tata dan Duta menyesuaikan diri dengan melakukan inisiatif-inisiatif sesuka mereka. Kadang bermain kereta, menggambar, membaca buku, bikin prakarya, atau ide-ide dadakan seperti membuat gambar dari koin.

rumahkoin1

***

Walaupun Duta (dan Tata) kelihatan tak bermasalah dengan ketiadaan TV, sebagai orangtua kami ingin memastikan bahwa keseharian mereka berkualitas dengan lebih banyak menyediakan diri kami sebagai partner kegiatan mereka.

Karena proses tanpa TV ini mungkin masih agak lama (sampai ada dana untuk membeli TV baru), kami melihat proses ini sebagai “pengajaran Tuhan” untuk tak terikat dengan apapun. Ada TV bahagia, tak ada TV pun tak apa-apa. Anak-anak pun belajar bersama melalui pengalaman ini.

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Duta, Kegiatan Tata"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 10 Apr 2014 22:30

Setelah ditunggu berhari-hari tak kunjung bertumbuh, ternyata jamur Growbox anak-anak tumbuh setelah kami pulang FESPER. Dalam kondisi lelah sehabis melakukan perjalanan panjang, pertumbuhan jamur itu menjadi hiburan tersendiri.

Yang pertama tumbuh adalah jamur Tata. Warnanya pink cantik dari jenis jamur tiram pink (Pleurotus djamoer). Sehari kemudian, jamur Yudhis yang berwarna putih (Pleurotus ostreatus) tumbuh. Duta menunggu jamurnya tumbuh, tapi ternyata tak kunjung tumbuh hingga saat ini.

Kalau dihitung, berarti hampir sebulan waktu yang dibutuhkan untuk tumbuhnya jamur anak-anak.

Begitu jamur tumbuh, Yudhis dan Tata langsung merancang. Jamurnya dimasak apa ya nanti? Mereka kemudian sepakat untuk membuat pizza jamur.

Proses mulai bertanam jamur, memelihara, panen, hingga menjadikannya pizza siap saji di meja makan adalah proses belajar yang menyenangkan.

panenjamur1
Sekarang adalah proses menunggu panen kedua Growbox.

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Tata"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 10 Apr 2014 14:17

Area tempat acara FESPER 2014 adalah Bumi Perkemahan Remaja yang terletak di desa Salib Putih, berada jalan antara Salatiga-Magelang. Kawasan ini memiliki luas sekitar 40 hektar dan merupakan area terintegrasi antara hotel dan bumi perkemahan. Ini yang membuat fasilitas bumi perkemahan menjadi sangat nyaman, baik fasilitas tenda maupun kamar mandinya. Termasuk juga, fasilitas kegiatan anak seperti taman bermain dan kolam renang.

Wah, ini sih camping-nya orang kota! Icip-icip suasana camping, tetapi dengan dukungan fasilitas yang nyaman. Kondisi ini cocok buat anak-anak Jakarta dan para Eyang yang ikut rombongan untuk melihat pertemanan kegiatan HS para cucunya. Eh, sebenarnya aku juga suka sih… maklum, orang rumahan yang jarang berpetualang di luar, hehehehe…

***

tendabesar1

Alkisah, sampailah rombongan kami dari Jakarta yang berjumlah sekitar 80 orang di Bumi Perkemahan Remaja Salib Putih sekitar pk 09.00. Tiga minibus Elf dan satu bus kecil yang membawa kami dari stasiun Tawang Semarang datang bergantian.

Di lokasi, aku sempat kaget. Ada tenda besar sekali dan panggung dengan backdrop FESPER yang keren. Para volunteer juga sudah di meja registrasi seperti bersiap menyambut para tetamu. Tenda besar itu terbagi dua dan pada satu sisinya ada meja-meja untuk makan prasmanan. Serius sekali ini!

“Ada pejabat yang mau meresmikan? Atau ada yang mau kampanye?” tanyaku dengan bercanda kepada mbak Septi yang menyambut kami dengan hangat bersama mas Dodik dan para volunteer Salatiga.

“Hahaha…” mbak Septi tertawa lepas sambil menjawab,”Ini tenda bonus mas. Lumayan buat istirahat sambil menunggu tenda-tenda yang masih dipakai acara lain.”

Proses registrasi berjalan cepat. Setiap peserta mendapatkan data peserta yang digantung di leher. Kaos FESPER juga langsung dibagikan walaupun baru akan dipakai di hari terakhir acara FESPER.

Setelah itu acara bebas karena pembukaan FESPER baru akan dilakukan pukul 13.30.

Nah, cerita tentang kartu nama alias name tag FESPER 2014, aku sangat suka modelnya. Bukan hanya cantik desainnya, name tag seukuran A6 itu sangat fungsional. Di bagian belakang name tag berisi jadwal acara FESPER. Di bagian depan, selain ada nama panggilan peserta yang cukup besar ukurannya, ada nomor tenda, nomor bus untuk fieldtrip (H-1), nomor kelompok
jalan-jalan, dan warna untuk pengelompokan kegiatan anak.

Informasi yang menyatu dalam name tag itu memudahkan proses pengelolaan peserta.Tak ada peserta yang bertanya lagi saya ada di mobil berapa, acaranya apa, dan seterusnya. Ini adalah contoh ide yang bisa menjadi inspirasi FESPER selanjutnya atau kegiatan- kegiatan lainnya.

***

Sambil menunggu acara pembukaan, aku menjaga Duta yang langsung akrab dan bermain bersama teman-temannya. Ada Abi, Maliki, Izzan, Yosua, dan lain-lain. Dengan bahasa “Tarzan”, mereka langsung akrab dan bermain bersama. Bersamaku, ada mas Aji, mas Chandra dan bapak-bapak lain yang juga “bertugas” menjaga anak-anaknya.

Baby sitting, menjaga Duta memang menjadi tugas utamaku selama di FESPER 2014, hehehe… Soalnya Lala kebagian menjadi panitia bagian acara dan pembantu umum yang membantu apa saja.

Setelah puas bermain di dekat tenda besar, bersama Duta aku berkeliling areal perkemahan. Wah, ada playground. Jadilah Duta langsung berhenti dan memuaskan diri bermain di sana. Di atas playground ada kolam renang. Beberapa anak sudah kelihatan langsung masuk ke kolam renang. Di bawah playground ada areal tenda yang tertata rapi dan teratur.

playground1

Aku tengok tendaku, wah.. enak sekali. Areal tenda berdiri di atas lantai bersemen yang posisinya sedikit lebih tinggi. Alas tidur dari plastik tebal dan ada bagian yang lebih tinggi di bagian kepala yang berfungsi sebagai bantal. Dan.. di setiap tenda yang berisi 6
orang itu ada.. colokan listriknya! hahaha… Belum lagi kamar mandi yang bersih dan jumlah banyak.

Pada satu sisi, fasilitas lengkap di area Bumi Perkemahan Remaja Salib Putih Salatiga ini sangat nyaman, terutama buat keluarga kami yang tipe keluarga rumahan, bukan petualang. Adaptasi untuk anak-anak juga berlangsung relatif mulus tanpa hambatan.

Tetapi pada sisi lain, kenyamanan ini juga menciptakan sebuah ekspektasi tertentu bagi para peserta. Bagaimana dengan FESPER-FESPER yang akan datang yang mungkin fasilitasnya tidak selengkap di Salatiga? Mudah-mudahan para peserta FESPER yang akan datang tetap bisa menikmati setiap tempat yang berbeda-beda kondisi dan tantangannya.

***

Pukul 13.30 tepat, acara dibuka oleh mbak Septi sebagai tuan rumah dan sekaligus ketua panitia FESPER 2014. Selain dihibur dengan musik menggunakan alat-alat dapur oleh anak-anak Lebah Putih, pembukaan diisi dengan perkenalan dengan panitia setiap bagian yang semuanya bersifat sukarela, tak ada yang dibayar. Artinya, kegiatan FESPER disiapkan dan dikelola oleh panitia dari berbagai kota yang merangkap peserta dan dikoordinasikan semuanya secara online.

Sore hari, acara pertama FESPER adalah fieldtrip. Setiap rombongan terdiri beberapa keluarga yang dibawa mengunjungi 2 tujuan fieldtrip di Salatiga. Rombongan kami mendapatkan kesempatan mengunjungi pemadam kebakaran dan industri rumah tangga pembuat bakpia.

Di tempat pemadam kebakaran, Duta tidur di gendonganku. Aku kemudian mencari tempat duduk, eh… tak lama kemudian Tata menyusul tidur lelap dan menyandarkan badan padaku. Kelihatannya efek perjalanan Jakarta-Salatiga baru terasa saat mereka harus duduk diam mendengarkan penjelasan tentang kebakaran, hehehe…

Yang asyik adalah di tempat pembuatan bakpia. Ini adalah industri rumahan, yang berarti proses produksinya dilakukan di rumah. Aku baru tahu ternyata ada bakpia basah dan bakpia kering. Bakpia kering itu yang biasa kita makan. Bakpia basah itu ada pengembangnya sehingga pelapisnya terasa lebih empuk, tapi hanya bisa tahan 3 hari.

fieldtrip1

***

Salatiga memang salah satu tempat yang nyaman untuk tinggal. Kotanya relatif kecil, fasilitasnya lumayan bagus. Udaranya sejuk dan asri, sangat jauh dibandingkan Jakarta. Di sekelilingnya ada gunung-gunung yang mengitarinya Kota ini berada di kaki gunung Merbabi dan gunung Telomoyo.

Salatiga berada diantara Semarang dan Solo. Bahkan kalau dilihat dari pilihan bandara, ada 3 pilihan bandara yang terjangkau dari Salatiga, yaitu: Semarang, Solo, dan Yogyakarta.

Lho, ini kok malah membahas kota Salatiga? Hehehe… soalnya ada beberapa keluarga peserta FESPER yang mempertimbangkan untuk “hijrah” ke Salatiga. Ciyus.. :)

Anyway, kembali lagi ke FESPER. Kegiatan berupa fieldtrip ke beberapa lokasi di Salatiga ini menyenangkan. Tapi kelihatannya tak semua beruntung. Ada rombongan yang “tidak beruntung” karena lokasinya tutup (Kursus Pertanian Taman Tani, KPTT) dan pabrik enting-enting gepuk yang dikunjungi sudah tutup karena pemiliknya sakit.

Overall hari ini menyenangkan. Duta puas menjelajahi lapangan yang luas dan bermain di playground. Aku suka tenda dan alas tidurnya yang nyaman. Yudhis dan Tata sudah langsung menghilang dan bermain bersama teman-temannya sejak pagi.

So, saatnya mandi sore dan bersiap acara perkenalan kreatif dari para peserta FESPER 2014.

<bersambung>

 

Author: "Aar" Tags: "Artikel Umum"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 07 Apr 2014 07:07

Stasiun Senen. Kamis (27/3), 18.05. Kami baru beranjak turun dari taksi. Enam ransel sudah diturunkan. Taksi pun beranjak meninggalkan kami ketika tiba-tiba kami tersentak mendengar teriakan Lala,”Sepatu Duta lepas satu! Kejar taksinya!”

Yudhis langsung terbirit-birit berlari mengejar taksi. Aku sendiri terpaku karena tidak ingat taksi mana yang kami naiki tadi. Banyak taksi yang melintas dan menurun-naikkan penumpang. Sambil terbengong, aku melihat Duta hanya memakai satu sepatu. Kelihatannya sepatunya lepas saat dia tidur di pangkuanku di dalam taksi.

Tak lama, Yudhis kembali tanpa hasil. “Taksinya nggak kekejar”. Dengan panik, Lala kemudian melesat pergi mencari sepatu pengganti untuk Duta. Cukup lama juga Lala menghilang entah ke mana, sementara kami mulai berjumpa dengan teman-teman Jabodetabek plus yang mau berangkat bersama-sama ke Salatiga.

Setengah jam kemudian Lala muncul dengan nafas terengah-engah. “Aku dapat sepatu Duta!” katanya dengan bahagia di antara wajah lelahnya. “Aku lari menyeberang ke pertokoan Senen. Semua toko sudah pada tutup. Untunglah satu-satunya toko yang hampir tutup ada sepatu di display yang ukurannya persis sepatu Duta. Jadi ini benar-benar keberuntungan!”

Hilangnya sepatu Duta di stasiun Senen hanyalah salah satu “drama” yang mewarnai proses perjalanan kami menghadiri FESPER. Banyak drama-drama lain, termasuk petir yang menyambar rumah dan mengakibatkan kerusakan beberapa alat elektronik serta mematikan jaringan Internet kami. Aku sendiri berangkat dalam kondisi agak demam.

Fesper01a

(c) Pras Sarp

***

Tapi lupakan dan tutup dulu semua masalah karena setiap momen harus dinikmati dan disyukuri. Begitu nasihat yang sering kuterima. Sekarang waktunya menikmati perjalanan menuju FESPER bersama sekitar 81 orang dari Jabodetabek plus. Jumlah itu sama artinya dengan rombongan satu gerbong lebih sedikit. O ya, rombongan ini disebut Jabodetabek plus karena ada teman-teman Cilegon, Bukittinggi, dan Bangka-Belitung yang ikut bersama rombongan.

Terima kasih kepada Mella Fitriansyah yang sudah mengkoordinir keberangkatan menggunakan kereta Senja Utama jurusan Semarang hingga Salatiga. Terlihat repotnya membagikan tiket dan berhubungan dengan petugas KA karena adanya perubahan-perubahan nama di menit-menit terakhir.

Pukul 19.30, semua anggota rombongan sudah berada di dalam kereta. Sementara para orangtua mulai duduk tenang, anak-anak mulai sibuk berlarian dan bermain bersama. Suasana betul- betul heboh. Apalagi setelah ada sesi latihan angklung bersama di dalam gerbong untuk acara perkenalan kreatif dan api unggun di FESPER. Suasana makin heboh..!

Kehebohan ternyata tak pernah berhenti sepanjang perjalanan kereta menuju Semarang. Anak-anak melepaskan kain menutup sandaran dan menggunakannya sebagai alas tidur di bawah. Mereka juga tertawa-tawa sambil bermain kartu. Sampai di Semarang sekitar pukul 2.30 dini hari, anak-anak praktis tidak tidur sama sekali di kereta!

Fesper02a

(c) Pras Sarp

Nah, di stasiun ini banyak hal tak kalah seru terjadi. Mella mendapat kabar mendadak dari kendaraan yang akan digunakan dari Semarang menuju Salatiga bahwa mereka baru akan menjemput pukul 06.30. Wah, itu berarti ada waktu sekitar 4 jam untuk menunggu dengan rombongan berisi bayi, anak, kakek-nenek yang pasti kelelahan. Aku sempat bingung juga karena tak tahu medan di Semarang. Ada usulan untuk menunggu di masjid raya, tapi untuk menuju ke sana harus naik taksi dulu.

Kalau sudah begini, fleksibilitas dan komunikasi memang menjadi faktor yang sangat penting. Ketika kondisi ini dibuka kepada seluruh rombongan, ternyata semua memutuskan bertahan dan menunggu di stasiun. Untunglah, atas kebaikan hati bu Ari seluruh rombongan mendapatkan sarapan gratis dan teh hangat di stasiun yang dikirim oleh keluarga bu Ari di Semarang.

Bagaimana anak-anak? Ternyata mereka tetap bersemangat, seolah tak ada habis energinya. Mereka bermain kartu, berkejar-kejaran, dan berlarian di stasiun.

***

Fesper03a

(c) Pras Sarp

Saat fajar menyingsing. Rupanya rombongan dari Jakarta sejumlah 80-an orang itu betul-betul memenuhi ruang tunggu stasiun. Padahal, penumpang yang akan bepergian dari Semarang menggunakan kereta pagi sudah mulai berdatangan. Walhasil, kami yang istirahat sambil tiduran di kursi diminta bangun oleh satpam stasiun. Bahkan, menjelang pukul 06.30, kami diminta untuk meninggalkan stasiun. Padahal bus belum datang!

Bagaimana ini?

Jadilah, pelan-pelan kami bersiap keluar dari ruang tunggu stasiun Tawang Semarang. Lalu, berfoto-fotolah kami di halaman parkir. Dan… ternyata itu waktu yang tepat karena kendaraan yang mengantarkan ke Salatiga sudah datang. Eh, tapi kendaraan tak sesuai dengan rencana. Adaptasi baru pun dilakukan karena 5 Elf yang direncanakan ternyata diganti 3 Elf dan 1 bus kecil.

Untunglah semua peserta lapang hatinya dan langsung menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Walaupun bukan koordinator perjalanan, rasanya kami ikut bersyukur melihat proses pengaturan yang berlangsung relatif mulus, tanpa drama-drama heboh akibat dinamika yang terjadi secara mendadak.

Kepada anak-anak, kami pun sudah mengingatkan sebelum berangkat bahwa perjalanan FESPER adalah petualangan.  Artinya, perjalanan dan acara-acara bisa jadi tak sesuai dengan yang direncanakan. Pasti ada perubahan-perubahan mendadak, pasti ada kejadian-kejadian yang tak mengenakkan. Semuanya harus dilewati dengan lapang dan dinikmati tanpa perlu mengomel yang justru membuat hati bertambah sempit.

***

Fesper04a

(c) Pras Sarp

Tapi kelelahan perjalanan itu segera terbayar sesampai di lokasi acara, Perkemahan Remaja Salib Putih Salatiga. Udara sejuk langsung menyegarkan hati dan kepala. Areal kegiatan yang luas langsung dijelajahi oleh anak-anak. Dan tentu saja sambutan ramah dari mbak Septi, mas Dodik, dan tim volunteer Salatiga yang menghangatkan hati.

(Bersambung)

 

 

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 05 Apr 2014 15:09

growbox-1aGegara melihat Growbox dan membelinya, aku jadi suka dengan produk untuk proses belajar anak-anak ini. Kegiatan belajarnya sederhana, materinya siap pakai dan desainnya cakep. Cocok untuk proses belajar pemula yang menekankan pada pengalaman yang menyenangkan.

Apa sih Growbox?

Growbox adalah kotak yang berisi bibit jamur tiram. Istilah kerennya edible growing mushroom kit. Jamur di Growbox dirancang untuk memberikan pengalaman pada anak-anak memiliki kebun jamur tiram sendiri. Dalam waktu 2-4 minggu jamur akan tumbuh, dan bisa dipanen untuk dikonsumsi. 1 box bisa dipakai 4 bulan dan sekitar 3-4x panen.

Growbox ini terutama ditujukan untuk anak-anak. Selain menjual Growbox, tim anak-anak muda ini melengkapi growbox dengan modul edukasi yang bisa digunakan oleh sekolah-sekolah.

O ya, jamur yang dipilih untuk Growbox ini adalah jamur tiram. Mengapa?

Karena jamur tiram merupakan jamur yang cukup kuat yang bisa tumbuh di berbagai ekosistem. Selain itu, cara pembudidayaannya lebih mudah dengan waktu tumbuh yang tidak terlalu lama.

Menurut tim Growbox, jamur tiram merupakan salah satu sumber protein masa depan karena semuanya tersedia secara lokal, tak seperti tempe yang harus mengimpor kedele sebagai bahan bakunya.

Bagaimana cara memelihara jamur di Growbox? Apa yang harus diperhatikan agar berhasil?
Dari pengalaman menanam Growbox, prosesnya sederhana. Setelah segel dibuka dan media tanam disayat, kita tinggal menyemprot Growbox dengan air biasa 2-3x sehari. Jumlahnya tidak perlu terlalu banyak air, yang penting cukup lembap saja.

Growbox disimpan di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung karena jika terkena sinar matahari langsung, media tanam Growbox akan kering. Kami menyimpannya di kamar. Dalam waktu kurang lebih sebulan, jamurnya mulai bertumbuh dan 3 hari kemudian siap dipanen.

growbox-1

Sejarah Growbox

Menarik melihat Growbox, menarik pula proses yang ada di belakang lahirnya Growbox. Menurut cerita para pendirinya, ide Growbox berawal ketika mereka melakukan perjalanan Solo-Yogyakarta. Mereka berhenti di sebuah restaurant yang menyajikan berbagai olahan jamur dengan ornamen media tanam jamur di dalamnya. Lalu mereka berfikir, “bisa nggak ya kita numbuhin jamur sendiri di kota?”

Anak-anak Bandung ini kemudian melakukan riset dan membuat prototype produk berdasarkan interaksi mereka dengan sentra industri jamur tiram di daerah Cisarua Lembang.Dan tanpa disangka, Growbox menjadi salah satu pemenang lomba entrepreneurship dan diberi modal sebesar 10jt.

Ada 4 orang pendiri Growbox, yaitu Ronaldiaz Hartantyo (Arsitektur ITB 2007), Robbi Zidna Ilman (Arsitektur ITB), Adi Reza Nugroho (Arsitektur ITB), dan Annisa Wibi Ismarlanti (IESP Unpad). Merekalah yang berada di balik layar dan sekaligus menjalankan pengembangan Growbox.

Senang melihat inisiatif anak-anak muda yang mengembangkan Growbox dengan slogan “grow your own food” ini. Saat ini varian Growbox adalah Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus), Jamur Tiram Kuning (Pleurotus citrinopileatus), dan Growbox Jamur Tiram Pink (Pleurotus djamor).

Growbox bisa diperoleh di beberapa outlet di Bandung dan Jakarta. Growbox juga bisa dipesan melalui online melalui:
Email to halogrowbox@gmail.com
Fb Page message facebook.com/growboxbdg
SMS 0856 234 9262

***

Senang melihat generasi muda yang menekuni dunia entrepeneurship dan melakukan inovasi.

Author: "Aar" Tags: "Artikel Umum, Growbox, jamur"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 05 Apr 2014 08:36

Akhirnya hari ini aku mulai bisa bernafas lebih lega. Dunia terasa lebih normal setelah hampir dua minggu seperti naik roller coaster. Maraton kegiatan, petir yang menyambar, ditambah kesehatan yang sedang drop menjadikan beberapa hari terakhir serasa dalam mode bertahan alias survival. Masalah seolah tak ada habisnya, datang dan pergi tanpa dapat diduga.

Tapi syukurlah. Tuhan memudahkan prosesnya dengan mengurai satu demi satu. Tuhan menambahkan kelapangan pada hati kami sehingga relatif tak bergejolak saat menjalaninya. Juga, variabel waktu berperan seperti kebijaksaan kuno “time heals”, waktu adalah obat yang membantu mengurai masalah.

Kali ini agak lumayan lah menjaga emosi, walaupun sesekali meletup karena stamina tipis dan tekanan masih tinggi, hehehe…

***

(c) layoutsparks.com

(c) layoutsparks.com

Sebelum berangkat ke Salatiga untuk hadir dalam Festival Pendidikan Rumah (FESPER), sebenarnya kami sudah mengantisipasi dan membuat perencanaan. Beberapa pekerjaan kami lembur dan selesaikan di awal.

Tapi apa mau dikata, tiba-tiba ada kejutan. Selasa malam, ada petir menyambar rumah. Korbannya adalah satu CPU mati, dua monitor rusak, modem, dan televisi. Wah… langsung panik kami. Butuh berapa juta nih untuk membeli alat-alat elektronik ini?

Dan yang langsung terbayang, bagaimana mengirim undangan dan menyelenggarakan webinar HS Usia Dini untuk hari Rabu malam karena Internet mati total. Belum lagi, surat-menyurat pasti kacau. Ditambah, kami belum packing untuk FESPER, padahal harus berangkat Kamis malam. Pfuih… langsung akrobat deh.

Untungnya, di tengah kepanikan itu banyak uluran cinta dan pertolongan. Ada Raken menawarkan modem Bolt (yang sayangnya tak bisa digunakan karena rumah kami termasuk blank spot). Ada Mella yang menawarkan akses Internet di rumahnya untuk webinar. Cinta dan uluran tangan itu menguatkan, walaupun pada akhirnya kami tak menggunakannya.

Rabu siang Lala pontang-panting mencari warnet (yang sudah semakin jarang di Jakarta) untuk mengirim undangan webinar. Eh, tiba-tiba sore hari teknisi Firstmedia muncul dan mengganti modem. Lega rasanya, seperti melihat secercah cahaya tiba. Walaupun Wifi masih mati dan hanya satu komputer yang bisa Internetan, tapi webinar malam itu terselamatkan di menit-menit terakhir. Pfuih.. kami mengelap keringat lega. Sementara Lala begadang mengolah rekaman webinar sampai pagi.

***

Drama itu masih belum selesai. Kami harus segera bersiap untuk berangkat FESPER ke Salatiga.

Kamis malam, kami berangkat ke Salatiga naik kereta bersama sekitar 80 orang rombongan Jabodetabek plus. Sesampai di stasiun Senen, lega dan bahagia rasanya walaupun kondisi kesehatan tidak terlalu prima. Lupakan dulu masalah petir, komputer yang mati, urusan rumah, dan tugas-tugas yang menumpuk sebagai akibat komputer mati.

Yang penting sekarang fokus urusan FESPER.

Tiga hari menjalani kegiatan FESPER, bahagia meliputi. Capek iya, tapi lebih banyak senangnya. Senang melihat anak-anak bermain tanpa henti bersama teman-temannya, semenjak berangkat hingga 3 hari penuh di FESPER. Senang juga melihat acara berjalan lancar. Tentu saja ada catatan di sana sini yang pengin kutulis nanti.

Usai FESPER, kami masih tinggal di Salatiga sehari. Kami berkunjung dan mengobrol dengan bu Anik dan pak Mahfud mengenai proses ujian persamaan di Salatiga. Bu Anik ini adalah sosok yang membantu Yudhis mengikuti Ujian Paket A tahun lalu. Melihat komitmen dan semangat Bu Anik dan pak Mahfud memperjuangkan anak-anak, kami sungguh terharu.

***

Selasa pagi kami pulang ke Jakarta naik kereta Argo Lawu dari Solo. Kami diantar bu Iping dan pak Edi, kerabat di Salatiga yang menjadi tempat persinggahan kami.

Sampai Jakarta sore hari, pekerjaan langsung menyambut: persiapan dan pelaksanaan webinar sesi terakhir. Kami begadang menyelesaikan materi webinar yang belum rampung karena komputer keburu mati tersambar petir. Hingga Kamis pagi, kami maraton menyelesaikan urusan webinar sambil badan rasanya melayang.

***

Rasa hati ingin beristirahat, tapi kondisi tak memungkinkan. Banyak PR pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan juga, aku harus memastikan Wifi hidup lagi dan komputer menyala agar bisa bekerja normal lagi. Ternyata komputer dan Internet sudah betul-betul menjadi kebutuhan pokok di keluarga kami karena sebagian besar pekerjaan kami memang berhubungan dengan komputer dan Internet.

Tapi tak semuanya hanya berisi kabar kesulitan. Selalu ada kebahagiaan dan penghiburan Tuhan diantara kesulitan. Buku “Apa itu Homeschooling” yang kutulis ternyata sudah masuk proses percetakan. Jadilah itu menjadi hiburan sekaligus pekerjaan baru karena saat ini mulai masuk promosi dan pre-order.

Dan tentu saja, karunia Tuhan menjadi sumber kebahagiaan yang tiada henti. Ketika kami ikhlas dan lapang menjalani semuanya, seolah ada pintu-pintu pertolongan yang terbuka. Dalam setup alat kerja baru (yang rusak karena terkena petir), ada saja kemudahan-kemudahan dan pertolongan-Nya.

***

Hingga hari ini masa kritis sudah dilewati, menuju ke kondisi normal. Mudah-mudahan minggu depan sudah mulai normal. Artinya, berharap karunia Tuhan untuk kepulihan kesehatan, alat-alat kerja bisa bekerja normal, dan satu-demi-satu pekerjaan terselesaikan.

Saat menyusuri dan menjalani proses survival ini, hanya satu hal yang aku usahakan. Aku harus bisa menjaga emosi dan menutup rapat-rapat mulut dari keluhan agar bisa memberi contoh kepada anak-anak cara bersikap saat menghadapi masalah dan kondisi-kondisi yang tidak ideal.

Posting ini juga menjadi cara kami memulai. Yang penting terus berjalan. Yang penting bola terus digulirkan. Maju terus hingga kita kembali kepada-Nya.

 

Author: "Aar" Tags: "Aar"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Tuesday, 11 Mar 2014 01:17

Banyak cara untuk belajar. Salah satunya adalah melalui pengalaman langsung yang dialami anak. Dan itu biasanya sangat efektif dan berkesan pada anak.

Beberapa waktu terakhir ini, kami ingin menghadirkan pengalaman bertanam jamur kepada anak-anak. Awalnya terkesan dengan foto mbak Anna Farida di Facebook tentang bertanam jamur. Terus kemudian tahu Growbox dari salah satu komentar. Dan jadilah aku melihat-lihat Growbox dan tertarik mencobanya untuk anak-anak.

Pertama kali melihat Growbox, aku langsung suka. Suka dengan idenya yang sederhana, packaging-nya, dan tentu saja konsepnya.

Growbox adalah edible growing mushroom kit atau sebuah kotak berisi bibit jamur tiram yang didesain untuk dibudidayakan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Dengan Growbox, kita dapat merasakan pengalaman memiliki kebun jamur tiram sendiri.

Menurut petunjuknya, cara bertanam jamur di Growbox sangat mudah. Setelah segel dibuka dan media tanam disayat, semprot Growbox dengan air biasa 2-3x sehari. Tidak perlu terlalu banyak air, cukup lembab saja. Simpan growbox di tempat yang teduh jangan terkena sinar matahari langsung karena jika terkena sinar matahari langsung, media tanam Growbox akan kering.

Melihat foto-foto jamur tiram yang tumbuh-berkembang itu kelihatannya asyik sekali. Anak-anak pasti suka.

growbox

***

Saat kotak Growbox datang dari Bandung beberapa hari yang lalu, rasanya senang sekali melihat kotak-kotak cantik berisi benih jamur tiram itu. Yudhis dan Tata langsung excited begitu tahu kiriman Growbox itu. Duta juga tak mau ketinggalan, dia mau ikut bertanam jamur juga seperti kakak-kakaknya.

Setelah membuka, memberi nama, anak-anak menyemprot baglog jamurnya dengan bersemangat. Kami kemudian menyimpan Growbox di kamar belakang yang kosong dan agak lembab.

Nah, sekarang Yudhis, Tata, dan Duta punya rutinitas baru, yaitu menyemprot jamurnya. Mereka menyemprotkan air tiga kali sehari, usai sarapan, makan siang, dan makan malam.

Menurut petunjuk Growbox, dalam waktu 2-4 minggu jamur tiram itu akan mulai tumbuh. Tapi menurut pengalaman pengguna Growbox, ada yang baru setelah 2 bulan jamurnya tumbuh. Jadi, kelihatannya banyak faktor yang mempengaruhi seperti kelembaban dan kualitas benih yang ada di baglog.

Buat Yudhis dan Tata, selain menjadi sarana belajar tentang jamur, kegiatan bercocok tanam jamur melalui Growbox ini juga menjadi sarana untuk belajar tentang kesabaran.

tanamjamur

***

Produk Growbox saat ini ada 3 macam jamur tiram, yaitu putih, kuning, dan pink. Setiap jenis jamur memiliki harga yang berbeda-beda.

Bagi teman-teman yang tertarik membeli Growbox, silakan kontak langsung saja dengan Growbox. Kami hanya suka idenya, tapi kami tak menjual produk Growbox. Pertanyaan juga silakan langsung ditujukan kepada mereka.

Web Growbox: http://halogrowbox.com/
FB Page Growbox: https://www.facebook.com/growboxbdg
Email Growboxhalogrowbox@gmail.com

 

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Duta, Kegiatan Tata, Kegiatan Y..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 10 Mar 2014 02:31

Majalah Intisari edisi Maret 2014 membahas tentang homeschooling atau sekolahrumah. Sampul depan Intisari itu bergambar anak kecil yang bersimpah di meja sambil membelakangi pintu yang terbuka, dengan dinding seperti papan tulis berwarna hijau bertuliskan: Homeschooling, Rahasia Sukses Sekolah di Rumah.

Sebagai laporan utama, homeschooling dibahas cukup panjang lebar oleh Majalah Intisari. Bahasannya hingga 24 halaman. Lumayan panjang untuk menjadi sarana belajar dan mengenalkan homeschooling bagi masyarakat luas. Tema yang dibahas mulai pengertian homeschooling, proses kegiatan dalam homeschooling, biaya, pro-kontra, dan isu yang selalu mencuat dalam pembahasan homeschooling: sosialisasi!

Dua tokoh publik yang sekaligus praktisi homeschooling yang dibahaskan dalam Majalah Intisari adalah Julian Assange (Wikileaks) dan praktek homeschooling yang dijalani keluarga KH Agus Salim.

Untuk kasus di Indonesia, sampel keluarga homeschooling yang diliput di Majalah Intisari ini adalah keluarga mbak Moi Kusman dan keluarga kami. Di keluarga mbak Moi ini, semua anaknya menjalani homeschooling. Dua diantaranya sudah kuliah di Universitas Indonesia dan sekarang hampir lulus. Sedangkan yang bungsu menjalani homeschooling tingkat SD.

***

Menurutku, secara garis besar materi homeschooling yang dibahas dalam Majalah Intisari ini cukup lengkap dan cukup praktis. Satu yang kusuka, sudut pandang mengenai homeschooling ditulis dengan benar: bahwa homeschooling adalah keluarga. Majalah Intisari menuliskannya dengan sangat jelas dalam judul di bagian dalam: “Homeschooling itu Keluarga, Bukan Lembaga.”

Salah satu esensi yang membedakan antara homeschooling dengan sekolah adalah: kalau kita memilih sekolah, maka kita mempercayakan/menitipkan anak kita pada sistem & profesional (guru/pengelola) sekolah. Sementara itu, dalam homeschooling, orangtua menjadi penanggung jawab dan mengelola sendiri proses pendidikan, baik secara mandiri atau menggunakan jasa luar untuk bagian-bagian tertentu dalam rancangan proses pendidikan yang dijalaninya.

Tentu saja, artikel tentang homeschooling di Majalah Intisari ini tidak murni dengan sudut pandang praktisi/keluarga homeschooling. Ada juga komentar orang-orang yang melihat homeschooling dari kejauhan, seperti pengamat pendidikan dan psikolog. Tak semua sudut pandang keluarga homeschooling diterima begitu saja.  That’s life. Selalu ada setuju dan tidak setuju. Dan setiap kita bebas menentukan posisi sikap kita masing-masing tanpa harus merasa tersinggung dengan orang lain yang berbeda pendapat dengan kita.

Bagi orangtua yang ingin mengenal homeschooling atau mengenalkan homeschooling pada keluarganya, Majalah Intisari edisi Maret 2014 ini bisa menjadi pintu masuk yang lumayan bagus.

intisari

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling, Artikel Pendidika..."
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 02 Mar 2014 22:00

Anak-anak sering memberikan kejutan. Itulah salah diantara hal yang selalu menyenangkan saat menjalani proses homeschooling bersama anak-anak. Ketika mereka merasa nyaman dengan dirinya, ketika ada sarana bagi mereka untuk eksplorasi, ketika cukup waktu luang untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai, kejutan-kejutan itu sering datang.

Beberapa hari yang lalu, kejutan itu diberikan oleh Tata. Siang hari saat aku sedang di depan komputer, tiba-tiba Tata mendatangiku dan bercerita bahwa dia hampir menyelesaikan proses belajar membuat program di code.org. Padahal, tak ada jadwal belajar pemrograman untuk Tata. Dia berinisiatif sendiri tanpa diminta atau dibujuk.

code

“Semua level sudah selesai. Tapi yang level 7 susah, aku nggak bisa!” kata Tata sambil menunjukkan hasil belajarnya. Aku ingin membantunya, tetapi karena tidak mengikuti prosesnya sejak awal, aku juga tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Karena gagal mendapatkan bantuanku, akhirnya Tata kembali ke komputer dan berusaha sendiri menyelesaikan proses belajar yang dimulainya sendiri.

Cukup lama Tata berusaha. Yudhis yang awalnya tak tertarik jadi ikut-ikutan mencoba program belajar di Code.org seperti Tata. Karena ada Sparring partner Yudhis, Tata menjadi makin bersemangat. Dan tiba-tiba dia berteriak kegirangan.

“I did it! I did it!” teriak Tata dengan gembira.

Aku menghentikan pekerjaanku sebentar dan kemudian menyambut teriakan Tata.

“Yay! Selamat ya Ta!” kataku sambil menghampirinya dan mengelus-elus kepalanya.

certificate-programming-Tata1

***

Menarik melihat perkembangan dan inisiatif Tata. Menarik pula melihat perkembangan code.org yang sangat pesat. Dibandingkan sekitar setahun yang lalu saat aku melihat Code.org, materi yang ada di dalamnya sudah banyak berubah. Bukan hanya semakin lengkap, tetapi proses belajarnya juga semakin mudah dan menyenangkan.

Materi-materi belajar di Code.org sangat membantu guru dan sesuai untuk orangtua yang ingin mengajarkan pemrograman dan proses membuat game/aplikasi pada anak-anak.

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Tata"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 02 Mar 2014 11:53

Dalam homeschooling banyak hal diserap anak melalui proses pengamatan terhadap apa-apa yang terjadi di rumah. Karena sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama orangtuanya, maka anak menyerap sebagian besar kebiasaan orangtua. Itulah sebabnya, ketika kita ingin melakukan homeschooling, modal terbesar yang perlu dimiliki orangtua adalah keinginan untuk selalu belajar & pantang menyerah.

Seperti kata Naomi Aldort, “Raising Children, Raising Ourselves”, mendidik anak itu sebenarnya mendidik diri kita sendiri sebagai orangtua.

***

Belajar dan Berbagi Cerita pada Anak

Sebagian besar pengetahuan yang aku miliki saat ini seperti membuat website, penguasaan aneka software desain, aransemen musik, masak, dll aku pelajari lewat internet secara otodidak. Anak-anak melihat proses yang kujalani dan mendengar cerita tentang proses belajar yang kulakukan.

Dalam prosesku belajar, aku tidak malu untuk berbagi pengalaman keberhasilan maupun kegagalan kepada anak-anak. Aku ingin mereka tahu bahwa setiap keberhasilan itu tak datang tiba-tiba, tapi seringkali merupakan proses setelah melewati beberapa kali kegagalan atau buah dari rentang waktu panjang kerja keras.

Seperti dalam hal masak-memasak, anak-anak melihat semua proses belajar yang kulakukan, termasuk saat proses memasak itu gagal.  Anak-anak terkadang harus menikmati makanan yang gosong, bantat atau keasinan sekian kali sebelum akhirnya aku berhasil memasaknya dengan benar.

Dua Kali Percobaan yang Gagal

Nah, pengalaman kegagalan itu terjadi lagi saat aku mendadak pengen banget mencoba membuat Pita Bread/Pocket Bread. Percobaan pertama gagal total. Entah kenapa aku salah membaca resep dan menaruh garam 3x lebih banyak dari seharusnya. Plus, resep pertama yang aku coba tanpa ragi membuat rotinya bener-bener gagal total: sudah nggak ngembang, asin banget pula.

Percobaan kedua, aku mencoba resep lain yang kali ini pakai ragi. Ternyata yang berhasil hanya roti pertama & kedua. Selebihnya nggak ngembang sama sekali. Hasilnya mirip tortilla tapi tebel. Hehehe.. Untungnya anak & suami tetap mau memakannya, walau kata Yudhis rahangnya capek karena ketebelan ‘roti’nya.

Karena masih penasaran, aku coba lagi masih pakai resep yang sama tapi kali ini aku betul-betul ikuti petunjuk dalam resep untuk memisahkan tiap lembar roti dengan tisu/kertas roti. Dari pengalaman percobaan kedua aku belajar bahwa kalau roti tidak dipisah, adonan roti itu akan sedikit menempel satu sama lain walau sudah ditaburi tepung yang banyak. Proses memisahkan adonan roti itu menyebabkan lapisan luar roti robek, sehingga udaranya keluar. Walau secara kasat mata lapisan roti kelihatan aman/tidak robek, tapi ternyata tetap tidak bisa membuat roti mengembang. Makanya yang berhasil hanya roti pertama & kedua yang belum terlalu menempel satu sama lain.

Percobaan Ketiga yang Berhasil

Nah, akhirnya setelah 2 kali percobaan yang gagal, pagi ini akhirnya aku berhasil membuat roti itu mengembang sempurna, membentuk kantong cantik di dalamnya. Wuaaa senang sekali. Lebih bahagia lagi karena proses ini diikuti oleh anak-anakku. Tanpa mereka sadari, mereka sedang belajar tentang persistensi: kalau kita terus berusaha dan belajar, suatu saat pasti bisa. Walau harus melewati beberapa kali kegagalan, tapi ketika berhasil rasanya sangat menyenangkan.

Salah satu isi Pita Bread/Pocket Bread ini sebenarnya adalah selada. Tapi karena seladanya sudah habis dimakan untuk menemani percobaan roti-roti sebelumnya, rotinya kali ini hanya diisi dengan potongan kecil timun. tomat & ayam suwir dan Thousand Island.

HomeMadePita

Buat yang mau membuat Pita Bread bisa mencoba resep di bawah ini. Resep ini aku adaptasi dari video tutorial ini dengan sedikit modifikasi:

Bahan 1:

  • 1/2 cangkir air
  • 2 sdt gula
  • 1 sdt ragi instan

Bahan 2

  • 4 cangkir tepung
  • 2 sdt garam (resep asli 1sdt, tp dari percobaan pertama rasanya terlalu tawar)
  • 1sdm minyak sayur (resep asli tanpa minyak sayur, tp dr video lain katanya minyak bisa membuat roti lebih lembut)
  • 1 cangkir air hangat (resep asli 1.5 cangkir)

Cara Pembuatan:

  • Campur bahan 1, sisihkan 10 menit
  • Campur tepung + garam. Tambahkan bahan 1. Aduk.
  • Masukkan air sedikit demi sedikit sambil terus diuleni hingga kalis. Lumuri adonan yang sudah kalis dengan minyak sayur. Sisihkan 1 jam
  • Bagi menjadi bola-bola kecil, lumuri tepung. Sisihkan 10 menit
  • Giling setiap bola menjadi lempengan. Sisihkan 10 menit. Penting: Usahakan ketika menyisihkan lempengan agar tidak saling ketemu satu sama lain. Karena titik ini ternyata penting sekali untuk membuat roti kita mengembang sempurna
  • Panggang di pan anti lengket satu persatu

Isi Pita Bread/Pocket Bread bisa apa saja. Aku memakai sayuran dipotong kecil-kecil + persediaan ayam suwir yang memang aku buat dalam jumlah banyak karena bisa dimanfaatkan untuk apa saja, soto, bubur ayam, nasi/mi/kwetiaw/bihung goreng, isi roti, pizza, spageti, lemper, sushi dll. Sebagai saus bisa digunakan mayonais atau thousand island sesuai selera.

Author: "Lala" Tags: "Artikel Homeschooling, Lala"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 28 Feb 2014 00:39

Minggu (16/02/2014), Yudhis mendapatkan kesempatan untuk melakukan presentasi mengenai kegiatannya di dunia desain grafis dalam forum “Suara Anak“. Suara Anak merupakan kegiatan penutup dalam kegiatan Festival Bakat Anak yang diselenggarakan oleh Indonesia Bercerita.

Ini adalah pengalaman pertama bagi Yudhis melakukan presentasi di publik. Walaupun materi yang dipresentasikannya adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukannya, proses persiapan yang dilakukannya cukup serius.

Selama hampir seminggu, Yudhis mempersiapkan presentasinya. Semua materi presentasi dibuat oleh Yudhis sendiri, tapi kami ikut menemani dan sesekali memberikan feedback kepadanya. Satu hal yang kami ajarkan kepada Yudhis, hasil yang bagus dan maksimal selalu diperoleh melalui persiapan yang baik. Dan itu membutuhkan proses, kerja keras, dan latihan.

Jadilah, Yudhis bekerja keras membuat materi presentasi, mencari gambar, dan berlatih presentasi di rumah. Yudhis yang memulai dan mengerjakan semua proses itu, tapi kami hadir untuk memberikan apresiasi sekaligus masukan jika dianggap perlu. Menyiapkan presentasi bagus dalam 5-8 menit adalah sebuah tantangan bagi Yudhis.

yudhis-suara-anak-02

***

Presentasi Yudhis di Suara Anak berkenaan dengan kegiatan di komputer yang dilakukan Yudhis hampir setiap hari. Ketertarikannya pada dunia grafis mungkin awalnya terdampak oleh paparan aktivitas Lala yang memang menggeluti dunia grafis. Tapi proses yang terjadi selama lebih dari 3 tahun ini benar-benar dilakukan sesuai minat Yudhis.

Ada masa Yudhis sangat bersemangat dengan Photoshop. Ada saat dia ingin membuat game. Dan setahun terakhir ini Yudhis sibuk mengeksplorasi dunia 3D melalui software Blender. Sebagian besar proses belajar itu didokumentasikannya di www.DuniaYudhis.com.

Apakah Yudhis berbakat di dunia grafis? Aku tak berani menyimpulkannya seperti itu. Yang pasti Yudhis senang dan menikmati proses belajarnya di dunia Blender.

Buat kami, hal terpenting yang kami lakukan adalah memelihara passion Yudhis. Selain itu, peran yang kami mainkan adalah menjadi sparring partner, agar proses apapun proses yang dijalani Yudhis semakin meningkatkan kualitas dirinya.

***

Inilah presentasi Yudhis di Festival Bakat Anak 2014, bertempat di gedung Jakarta Design Center (JDC) Jakarta.

***

Selain Yudhis, ada presentasi anak-anak lainnya. Presentasi anak-anak lain selengkapnya dapat dilihat di: http://blog.temantakita.com/video-suara-anak-perdana/

 

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Yudhis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 27 Feb 2014 04:49

Webinar yang disenggarakan Rumah Inspirasi menggunakan platform Wiziq (www.Wiziq.com). Untuk memandu para peserta yang baru pertama kali mengikuti webinar, berikut ini langkah-langkahnya.

Webinar-Homeschooling-Usia-Dini

  1. Gunakan akun email aktif yang selalu Anda cek karena kami mengirimkan berbagai informasi melalui email. Jika Anda tidak membukanya, maka Anda sendiri yang akan rugi.
  2. Pastikan Anda mempersiapkan diri sebelum webinar. Lakukan registrasi di Wiziq menggunakan akun EMAIL SAMA (BUKAN Facebook) dengan yang Anda gunakan mendaftar di Rumah Inspirasi. Tutorial membuat akun Wiziq: http://www.youtube.com/watch?v=s955Vcoaxlo
  3. DOWNLOAD & INSTAL aplikasi yang sesuai dengan alat yang Anda gunakan:

4. Tontonlah video tutorial masuk ke ruang webinar: http://www.youtube.com/watch?v=r24UMc1LIWA

Berikut ini problem yang sering dialami peserta saat berusaha mengikuti webinar.

1. Terlanjur login menggunakan Facebook
Jika Anda terlanjur register dan login menggunakan Facebook, maka Anda tidak akan mendapati ruang webinar.

Solusi: logout dari Wiziq (lihat gambar), kemudian register menggunakan akun email yang Anda gunakan saat mendaftar webinar.

signout

2. Tidak ada coming class
Anda sudah berhasil login, tetapi tidak mendapati ada kelas webinar yang ingin Anda ikuti seperti yang ada di video tutorial.

Solusi:
a. Jika Anda menggunakan broser (komputer), coba cek di menu My Classes: http://www.wiziq.com/class/myclasses.aspx (pastikan dalam kondisi LOGIN). Kalau ada, Anda bisa mengikuti webinar dengan mengklik kelas yang sesuai.

b. Kemungkinan lain masalah ini terjadi karena undangan webinar dikirimkan sebelum Anda membuat akun Wiziq. Jika Anda mengalami masalah seperti ini, silakan berkirim email ke: support@rumahinspirasi.com untuk minta dikirim ulang undangannya. Setelah itu, lakukan signout. Kemudian lakukan login lagi seperti yang sudah Anda lakukan sebelumnya.

myclasses

3. Ruang kosong
Anda sudah berhasil login dan launch webinar, tetapi hasilnya seperti layar yang kosong.

Solusi:
Masalah ini mungkin disebabkan oleh koneksi Internet di tempat Anda yang sedang buruk. Lakukan logout dan ulangi lagi proses bergabung ke ruang webinar.

4. Tombol Launch tak mau jalan
Kemungkinan terjadi masalah dengan Flashplayer di browser Anda.

Solusi:
Pastikan Anda mengunduh dan menginstal Windows Apps: di komputer Anda. Aplikasi ini khusus Windows dan membuat proses launching ruang webinar berlangsung lebih cepat dan ringan.

Berikut ini sampel rekaman video Trial Session Webinar yang lalu. Proses seperti inilah yang akan dilihat peserta webinar. Video seperti ini nanti bisa diunduh (paling cepat) sehari setelah webinar.

Author: "Aar" Tags: "Artikel Umum"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Tuesday, 25 Feb 2014 04:36

Berikut ini panduan pelaksanaan Webinar Homeschooling Anak Usia Dini yang diselenggarakan oleh Rumah Inspirasi. Webinar akan berlangsung 4 sesi, setiap hari Rabu, mulai tanggal 5 Maret 2014.

Proses Webinar

  1. Webinar akan diselenggarakan menggunakan platform Wiziq (www.Wiziq.com). Para peserta mengikuti webinar dari komputer atau tablet (iPad/Android) yang tersambung dengan koneksi Internet.
  2. Materi webinar (ebook) akan dikirimkan satu hari sebelum webinar.
  3. Undangan akan dikirimkan pada hari-H. Jika sampai pukul 16.00 Anda belum menerima undangan, silakan mengirimkan email ke support@RumahInspirasi.com
  4. Slideshow dan rekaman akan dikirimkan sehari setelah webinar.
  5. Materi webinar, slideshow, dan rekaman dikirim melalui email dalam bentuk link unduhan. Peserta mengunduh sendiri materi-materi tersebut untuk disimpan di komputernya masing-masing.
  6. Jika Anda berhalangan hadir atau kualitas Internet sedang buruk, Anda tetap bisa menikmati webinar melalui rekaman.

Webinar-Homeschooling-Usia-Dini
Persiapan Teknis

  1. a. Alat yang dibutuhkan untuk mengikuti Webinar Rumah Inspirasi adalah komputer/laptop/tablet (iPad/Android). Anda butuh speaker, tetapi tak membutuhkan mic.
  2. Pastikan Anda memiliki sambungan Internet yang baik. Kualitas webinar dipengaruhi oleh kualitas jaringan internet pada saat webinar berlangsung, baik kualitas Internet pembicara (Rumah Inspirasi) maupun kualitas Internet peserta.
  3. Untuk mengikuti webinar, buatlah akun di Wiziq (www.Wiziq.com) dengan menggunakan AKUN EMAIL YANG SAMA dengan yang Anda pergunakan untuk mendaftar Webinar. Tutorial untuk membuat akun di Wiziq dapat disimak di: http://www.youtube.com/watch?v=s955Vcoaxlo
  4. Download dan instal aplikasi yang sesuai dengan alat yang Anda gunakan untuk mengikuti webinar:

5. Cobalah ruang webinar dengan mengakses tautan berikut: http://www.wiziq.com/class/action/try-virtual-classroom.aspx

 

Trial Session

  1. Untuk memperlancar proses webinar, Rumah Inspirasi akan mengadakan Trial Session Webinar. Trial Session diadakan hari Rabu (26/2) dan Jumat (28/2), pukul 19.00-20.00.
  2. Setiap peserta (terutama yang baru pertama kali mengikuti webinar) diharapkan mengikuti Trial Session Webinar. Trial Session Webinar akan memastikan bahwa proses webinar akan Anda jalani berlangsung dengan lancar. Seandainya ada masalah, identifikasi dapat dilakukan dengan cepat dan alternatif solusi dapat dicari sebelum webinar yang sebenarnya berlangsung.
  3. Undangan untuk Trial Session I (26/2) sudah kami kirimkan melalui Wiziq ke alamat email Anda. Jika sampai hari Selasa (25/2) Anda belum menerima undangan webinar, silakan berkirim email ke support@rumahinspirasi.com
  4. Sebelum mengikuti Trial Session Webinar, pastikan Anda sudah melakukan registrasi di Wiziq.com.
  5. Video tutorial panduan masuk ke ruang webinar dapat disimak di: http://www.youtube.com/watch?v=r24UMc1LIWA
  6. Anda hanya bisa masuk ke ruang webinar HANYA pada waktu yang sesuai undangan (Rabu, 26/2/2014, pukul 19.00-20.00). Sebelum dan sesudah waktu tersebut Anda tidak bisa masuk ke ruang webinar.

 

Author: "Aar" Tags: "Artikel Pendidikan"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 17 Feb 2014 06:31

Festival Bakat Anak yang pertama telah usai. Ditutup dengan acara “Suara Anak” di gedung Jakarta Design Center (JDC) Jakarta pada Minggu (16/02/2014), festival yang diinisiasi oleh mas Bukik dan tim Takita telah memulai sebuah perguliran baru untuk dunia pendidikan Indonesia.

Festival ini diselenggarakan dengan spirit penghargaan terhadap keunikan setiap anak, dorongan kepada orangtua untuk memperhatikan minat/bakat anak dan kesediaan mendengarkan suara anak. Kegiatan ini adalah ruang apresiasi, bukan kompetisi yang memperebutkan tropi kejuaraan.

Oleh karena itu, tak ada juara dalam acara presentasi suara anak yang menampilkan 5 anak dengan bakat/hobi yang ditekuninya masing-masing. Kelima anak ini maju dan bercerita tentang bakat/minat yang ditekuninya.

Mereka adalah: Zaky Ilham Nasution (Zaky), Ayashadanica Aldea Khusna (Ayasha), Ayunda Damai Fatmarani (Damai), Elysa Ng (Elysa), Yudhistira GS (Yudhis).

Zaky (11 tahun), dari Bandung, menceritakan tentang kegiatan menggambar manga yang menjadi kesukaannya. Ayasha (7), dari Tegal, menceritakan tentang kesukaannya pada biola dan bercerita. Damai (8 tahun) tinggal di Sidoarjo dan menekuni hobi menulis di blognya: http://ayundadamai.com/. Akibat letusan gunung Kelud yang mengakibatkan bandar Juanda Surabaya ditutup, Damai tidak bisa berangkat ke Jakarta dan melakukan presentasi melalui rekaman video.

Zaky (11 tahun)

Zaky (11 tahun)

Ayasha (7 tahun)

Ayasha (7 tahun)

Damai (7 tahun)

Damai (7 tahun)

Presentan keempat adalah Yudhis (12 tahun) yang menekuni dunia grafis dan bercerita tentang proses belajar Blender yang dilakukannya hingga membuat video-video tutorial online di Akademi Visual (http://akademivisual.com). Presentasi anak terakhir dilakukan oleh Elysa (12 tahun) yang menceritakan passion-nya pada kucing. Elysa yang bercita-cita menjadi dokter hewan ini juga rajin menulis di blognya di: http://elysafaithng.wordpress.com/

Yudhis (12 tahun)

Yudhis (12 tahun)

Alysa (12 tahun)

Alysa (12 tahun)

Selain presentasi anak, acara Festival Bakat Anak juga dimeriahkan oleh bintang tamu yang berbagi cerita dan inspirasi untuk para orangtua. Ada Rene Suhardono (Pembicara Publik, Penulis Buku Career Coach dan Ultimate U), Mira Julia (Aktivis homeschooling dan penggagas DigitalMommie), dan Bukik Setiawan (Pengembang Takita, media sosial untuk pengembangan bakat anak).

Acara dipandu dengan meriah oleh kak Nina Rose dan kak Ariyo.

06FBA

***

Kami senang bisa ikut terlibat dan mendukung acara Festival Bakat Anak ini. Acara ini menarik karena non-kompetisi & mengapresiasi keragaman anak, mengajari anak utk bercerita tentang passion/proyek karya (bukan narsis & pamer). Melalui forum semacam ini, anak bisa belajar public speaking, tetap dengan sisi anak-anak yang melekat pada mereka.

Aku punya harapan, acara Suara Anak ini bisa berjalan kontinu, bahkan berkembang menjadi gerakan menghargai anak & mendengarkan suara anak. Keren kalau inisiatif ini bisa berkembang seperti TED, tapi dalam format suara anak.

Tantangannya adalah proses kurasi/seleksi memilih minat/bakat anak yang ditampilkan agar tetap terjaga kualitas dan keragamannya. Dan tentu saja, stamina penyelenggara juga sangat penting diperhatikan agar gagasan ini bisa berjalan maraton dan jangka panjang.
***

Video liputan acara “Suara Anak” & “Festival Bakat Anak”

Kredit photo Yudhis & Elisa: (c) Takita
Dokumentasi foto: pribadi

Author: "Aar" Tags: "Uncategorized"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 15 Feb 2014 22:00

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan tentang berapa biaya homeschooling. Ada dua kemungkinan maksud dari pertanyaan tentang biaya homeschooling itu:

Pertama, orang yang bertanya tersebut kemungkinan menganggap homeschooling itu seperti sekolah, jadi dia menanyakan biaya mendaftar & biaya bulanan homeschooling.

Kedua, orang ingin tahu berapa biaya yang kami keluarkan untuk proses homeschooling di keluarga kami.

dollars-books

(c) graemereynolds

***

Homeschooling adalah keluarga bukan lembaga

Untuk penanya pertama, saya ingin menjelaskan bahwa yang disebut homeschooling adalah keluarga yang menjalani pendidikan sendiri untuk anak-anaknya. Jadi, homeschooling adalah sebutan untuk keluarga, bukan lembaga.

Lalu, bagaimana dengan iklan dan promosi lembaga-lembaga pendidikan yang menyebutkan diri homeschooling dan marak di mana-mana? Menurut pengetahuan saya dari membaca literatur & mencermati homeschooling di berbagai penjuru dunia, tak ada lembaga yang disebut homeschooling. Namanya saja sudah memakai kata “home”, jadi proses utamanya tentu saja di rumah. Kalau menitipkan anak pada sebuah lembaga (sistem & profesional), maka sebutannya adalah sekolah.

Untuk lembaga-lembaga yang kegiatannya masuk beberapa hari dalam seminggu dan menjalani proses yang tak seketat sekolah, sebutan yang lebih tepat adalah flexy-school, sekolah fleksibel. Jadi, dia adalah sekolah, tak lebih fleksibel. Posisinya berada di antara sekolah dan homeschool.

Untuk lebih jelasnya, silakan baca: school, homeschool, & flexi-school

***

Biaya homeschooling = fleksibilitas

Karena homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga, biaya yang dikeluarkan oleh keluarga untuk menjalani homeschooling sangat bervariasi. Menanyakan biaya homeschooling serupa dengan menanyakan biaya makan setiap bulan; antara satu keluarga berbeda dengan keluarga lain.

Biaya homeschooling sangat tergantung pada program yang dirancang oleh keluarga untuk anak-anak, juga tergantung pada resource yang digunakan untuk proses belajar. Komponennya bisa berbeda-beda pada setiap keluarga.

Untuk keluarga yang sering melakukan kegiatan keluar, mungkin biaya terbesarnya adalah biaya transportasi. Untuk keluarga yang berbasis internet, mungkin biaya terbesarnya adalah biaya berlangganan program belajar online. Untuk keluarga yang banyak menggunakan klub/kursus, biaya terbesar bisa pada biaya kursus.

Jadi, biaya homeschooling sangat fleksibel; sesuai program pendidikan yang dirancang orangtua dan kemampuan finansial orangtua.

***

Biaya Homeschooling bisa mahal atau murah

Karena fleksibel, maka biaya homeschooling tak bisa dibandingkan antar satu keluarga dengan keluarga lain. Biaya homeschooling bisa menjadi mahal ketika:

  • banyak menggunakan lembaga eksternal yang bersifat khusus, misalnya: guru privat untuk setiap bidang yang ingin dipelajari, kursus/les, dan sejenisnya.
  • membeli produk-produk kurikulum dan materi siap pakai buatan luar negeri.
  • melakukan kegiatan outdoor yang membutuhkan biaya transportasi besar.
  • pembelian materi-materi belajar, baik fisik maupun digital, yang tidak bijaksana dan melebihi kebutuhan yang digunakan anak.

Tapi biaya homeschooling juga bisa sangat murah ketika:

  • menggunakan materi-materi yang dimiliki dan ada di sekitar rumah.
  • menggunakan buku-buku bekas (yang penting materinya kan, bukan baru atau bekas).
  • berbagi resource dengan praktisi homeschooling lain.
  • menggunakan materi internet (misalnya: membership atau printable) yang bisa digunakan banyak anak sekaligus
  • menggunakan kreativitas untuk menggunakan materi-materi gratis yang ada di Internet.

Sekali lagi, isu dalam biaya homeschooling bukan mahal atau murah, tetapi fleksibilitas pembiayaan. Seberapapun biaya yang dikeluarkan oleh keluarga, semuanya digunakan sepenuhnya untuk kepentingan proses belajar anak. Penghematan juga dilakukan karena biaya-biaya tetap (fixed cost) seperti biaya gedung, seragam, pemeliharaan fasilitas bisa ditiadakan. Keluarga hanya membayar sesuai dengan fasilitas yang dipakai (pay as you go).

***

Biaya homeschooling keluarga kami

Sebenarnya agak susah menghitung berapa biaya homeschooling di keluarga kami. Sebab, kami sangat banyak memanfaatkan fasilitas yang ada di rumah. Sebagai contoh, kami memaksimalkan Internet karena pekerjaan kami banyak berhubungan dengan Internet. Internet bukan hanya digunakan untuk bekerja, tetapi juga digunakan secara maksimal oleh anak-anak untuk proses homeschooling mereka. Jadi, anak-anak mendapat fasilitas Internet “gratis” karena biaya Internet itu sudah masuk dalam biaya pekerjaan kami.

Karena kami banyak menggunakan Internet untuk proses belajar anak-anak, kami berlangganan materi belajar online. Materi belajar online yang kami gunakan berganti-ganti sesuai kebutuhan. Yang relatif permanen adalah IXL Math, Mark Kistler Live (untuk Tata), dan Reading Eggs (untuk Duta). Sesekali kami membeli apps pelajaran untuk iPad, misalnya: iTooch untuk proses belajar bahasa Inggris.

Biaya terbesar dalam proses homeschooling kami saat ini adalah kegiatan eksternal/outdoor, baik biaya kursus maupun transportasi. Anak-anak belajar di luar rumah 3 kali seminggu: renang, basket, tenis, gym, taekwondo, yoga, street jazz, dll. Untuk semua kegiatan itu, biayanya sekitar 350ribu/bulan/anak. Ini “paket murah” karena kebetulan kami mendapat program promo & sibling-discount.

Yang mahal sebenarnya adalah “opportunity cost”. Kehadiran orangtua yang mendampingi proses belajar anak-anak adalah biaya tak terlihat dalam proses homeschool. Tapi, dalam kasus kami, itu  tak menjadi biaya lagi karena kami sudah menemukan pola bekerja dari rumah dengan menggunakan Internet.

Jadi, secara total biaya homeschooling di keluarga kami pada saat ini (2014) kurang lebih sekitar Rp 700 ribu – 1 juta/bulan/anak. Itu sudah all-in, termasuk biaya alat tulis, transport, percobaan, masak, craft, dll. Biaya ini berfluktuasi tergantung jenis kegiatan yang kami lakukan.

Mahal atau murah? Dibilang murah, tidak juga. Dibilang mahal, tergantung perbandingannya. Biaya ini tergantung kualitas pembelajaran, jenis kegiatan, dan kota tempat tinggal kita.

Untuk ukuran Jakarta, biaya ini masih lebih murah daripada biaya sekolah swasta pada umumnya di mana rasio guru/muridnya kecil. Apalagi dibandingkan sekolah internasional. Tentu saja, biaya itu terasa lebih murah lagi karena kami tak harus mengeluarkan uang pangkal atau uang gedung tahunan.

Sebagai perbandingan, berikut ini infografik biaya sekolah swasta dan sekolah internasional di Jakarta tahun 2014 menurut data Detik.com.

Author: "Aar" Tags: "Artikel Homeschooling"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 10 Feb 2014 04:39

“Pagi ini Ibu mau ke pasar bersama kak Yudhis. Jadi Bapak yang menyiapkan sarapan, ya?” kata Lala pagi itu. Lala sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng di meja. Ada ayam dan wortel yang dipotong kecil-kecil.

“Oke!” aku mengangguk. Suaranya mantap, tapi sebenarnya hatiku dag dig dug. Bisa nggak ya? haha.

Lala kemudian memberi petunjuk step-by-step proses membuat nasi goreng. Tapi mungkin melihat mukaku yang tidak terlalu meyakinkan, Tata yang sedang main komputer dipanggil, hehehe..

“Nah, pertama-tama goreng kerupuknya. Kalau sudah, sisakan minyak secukupnya kemudian goreng telurnya. Telurnya di-scramble ya? Kalau sudah ditaruh di piring,” petunjuk Lala kepada Tata. Aku ikut mendengarkan dan menyimaknya. Aku tahu yang mengerjakan nanti pasti aku. Tapi prosesnya pasti lebih mudah karena karena ada Tata yang membantu.

“Oke, bu. Aku mengerti,” jawab Tata.

“Setelah itu, sisakan minyak goreng sekitar dua sendok makan. Lalu masukkan bawang putih yang sudah di-geprak dan potong-potong kecil. Goreng sampai wangi, setelah itu masukkan ayam suwir, baru setelah itu wortel, baru terakhir nasi. Lalu, bumbuin dengan garam, satu sendok kecil gula, dan totole.”

Tata menyimak baik-baik petunjuk ibunya. Aku juga berusaha menghafal langkah untuk memasak nasi goreng.

Begitu Lala berangkat ke pasar bersama Yudhis, aku langsung menyelesaikan potongan wortel yang sudah hampir selesai. Tata langsung ke dapur menyiapkan wajan dan peralatan menggoreng.

“Pak, tolong tuangin minyak goreng donk,” kata Tata kepadaku. “Aku agak susah masukinnya.”

“Kamu mau goreng kerupuk, Ta?” tanyaku sambil menuang minyak goreng dan menyalakan api kompor.

“Bapak aja dulu,” jawab Tata.

Sambil menemani aku menggoreng kerupuk dan telor, Tata terus beredar. Dia menyiapkan nasi putih yang akan digoreng. Bahkan, Tata sempat ikut menggoreng kerupuk setelah melihat bahwa proses itu tak sulit dan tak berbahaya.

(c) 40andnow.wordpress.com

(c) 40andnow.wordpress.com

***

Senang memasak bersama Tata. Dia sangat ringan tangan dan terus mengajak mengobrol sepanjang proses memasak. Kalau ada hal yang menurutnya bisa dilakukannya, dia langsung aktif dan mencobanya.

Usai nasi goreng siap, Tata dengan cekatan langsung menyiapkan piring di meja makan. Kami pun sarapan bertiga bersama Abby.

Senang melihat Tata belajar memasak nasi goreng. Eh, maksudku senang akhirnya aku bisa bikin nasi goreng untuk sarapan anak-anak. Rasanya lumayan saja. Terbukti langsung habis tak bersisa, hehehe :)

 

Author: "Aar" Tags: "Aar"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 06 Feb 2014 22:00

Sudah sekitar setahun ini Yudhis belajar tentang membuat dan mengolah 3D dengan menggunakan tools software Blender. Yudhis melakukan proses belajarnya secara intens dengan menggunakan materi-materi tutorial Blender yang ada di Internet.

Selain berguru pada Andrew Price (Blender Guru) dan mengikuti tutorial-tutorial yang dibuat Andrew. Dia follow dan bercakap-cakap dengan Andrew via Twitter, juga dengan para artist Blender lain yang disukainya.

Terakhir, Yudhis minta belajar dari tutorial belajar di CG Cookies dan dia sempat menekuninya selama kurang lebih sebulan.

blender1

(c) scrapduncan.com

***

Membuat Video Tutorial Blender

Kemudian mulailah proses “naik kelas”. Yudhis mulai belajar membuat video tutorial Blender dalam bahasa Indonesia. Proses ini sebenarnya sudah diawali akhir tahun 2013 yang lalu. Tapi Yudhis baru benar-benar menyelesaikan dan meng-uploadnya beberapa hari terakhir ini.

Bagi siapapun yang ingin belajar tentang Blender, silakan menyimak dan memanfaatkan video-video tutorial Blender yang dibuat oleh Yudhis. Yudhis membuat video tutorial mulai dari basic, mengunduh dan menginstal Blender hingga mengenal environment Blender, serta membuat bentuk-bentuk sederhana.

1. http://duniayudhis.com/tutorial/blender-untuk-pemula-1-download-install/
2. http://duniayudhis.com/tutorial/blender-untuk-pemula-2-interface-navigation/
3. http://duniayudhis.com/tutorial/blender-untuk-pemula-3-modelling-basic/

Yudhis sudah memiliki beberapa stock video tutorial lain yang siap di-uploadnya dalam beberapa hari mendatang.

***

Belajar Dengan Cara Mengajar

Senang melihat proses pembelajaran Yudhis. Dengan cara membuat video tutorial, Yudhis melakukan proses belajar yang berbeda. Dia tak lagi sekedar belajar dari mengikuti tutorial, tetapi belajar dengan cara mengajarkan kepada orang lain.

Ini adalah sebuah bentuk belajar dan sebuah skills baru yang dipelajari Yudhis selama membuat video tutorial.

Pada saat membuat video tutorial Blender ini, kami sempat berdiskusi apakah materi video tutorial ini dijadikan materi berbayar atau materi gratis. Sebab, di luar negeri sudah biasa ada materi-materi video tutorial yang berbayar.

Tapi kami kemudian memutuskan untuk menjadikannya materi gratis supaya menjadi proses pembelajaran yang maksimal bagi Yudhis yang tak terbebani oleh kewajiban melayani orang-orang yang sudah membayar. Dan Yudhis tidak berkeberatan dengan proses ini.

Semoga video tutorial Blender ini bisa menjadi sarana bagi Yudhis untuk berbagi manfaat bagi sesama, membuka berkah untuk hidupnya sendiri.

 

Author: "Aar" Tags: "Kegiatan Yudhis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Next page
» You can also retrieve older items : Read
» © All content and copyrights belong to their respective authors.«
» © FeedShow - Online RSS Feeds Reader