• Shortcuts : 'n' next unread feed - 'p' previous unread feed • Styles : 1 2

» Publishers, Monetize your RSS feeds with FeedShow:  More infos  (Show/Hide Ads)


Date: Wednesday, 21 Sep 2011 00:40

Banyak yang ingin jadi pengusaha, namun tak juga terjun jadi pengusaha bertahun-tahun karena berbagai hambatan, seperti restu orang tua, keluarga atau istri. Hambatan lain: belum punya (kekurangan) modal, serta belum menemukan mitra yang tepat. Yang paling berat adalah hambatan kenikmatan menjadi karyawan, dengan gaji tetap, tunjangan dan bonus (yang  tinggi untuk yang sudah berada di puncak). Kita seringkali tak siap kehilangan pendapatan tetap sebagai karyawan.

Maka, jika sudah mantap menjadi pengusaha, saya sarankan “bakar kapal” seperti yang saya lakukan akhir Desember 2002 saat mengundurkan diri sebagai Direktur IT dan Pemasaran Detik.com.  Keluar bukan untuk melamar menjadi karyawan/eksekutif di tempat lain. Tapi langsung membangun usaha dengan segala risikonya.

Apa risikonya? Cuma dua: berhasil atau gagal. Ada yang berhasil, usahanya tumbuh baik dan mengkilap dalam tempo cepat. Ada yang tumbuh meski banyak tantangan di perjalanan bisnisnya. Tapi tak sedikit yang gagal, merepotkan mitra bisnisnya dan keluarga, dirundung hutang, bahkan ada yang lalu kembali lagi menjadi karyawan.

Agar tidak mudah terjerumus ke jurang kegagalan, bakar kapal harus dipikirkan baik-baik, berdasarkan akal sehat, bukan hanya karena terbakar emosi akibat motivasi seseorang.

Maka, sebelum bakar kapal, pastikan hal-hal di bawah ini sudah dilakukan.

1. Sudah jelas bisnis yang akan ditekuni.

Pernah mendengar kalimat ini: “Saya pingin jadi pengusaha tapi belum tahu mau bikin bisnis apa,“? Saya tak hanya pernah, bahkan sering mendengar beberapa orang berkata begitu dengan semangat tinggi. Biasanya hal ini terjadi karena yang bersangkutan baru mengikuti seminar atau acara lain yang membakar semangat menjadi pengusaha.

Jangan bakar kapal jika masih belum jelas mau bisnis apa. Hasilnya hampir pasti gagal dan buruk buat masa depan.

Saya dulu berani bakar kapal karena sudah jelas visinya: menjadi pengusaha online dengan membangun jasa consulting (Virtual Consulting) yang fokus pada strategi online memang menjadi keahlian saya, plus membangun bisnis online lain yang terkait kompetensi saya (sekarang ada PortalHR.com, Juale.com, dan Musikkamu.com , tidak termasuk beberapa lainnya yang kandas di tengah jalan)

2. Business plan sudah siap.

Jika sudah jelas mau  bisnis apa, berikutnya: sudahkah membuat rencana bisnisnya? Tidak sulit membuat business plan. Jika tidak bisa, minta bantu teman yang ahli. Jika sulit mencari yang bisa membantu membuat rencana bisnis, buat saja yang sederhana, sehingga kita tahu bisnis yang kita akan tekuni itu seperti apa, siapa target pasarnya, berapa potensi pasarnya, siapa pesaingnya, apa sumber daya (manusia, teknologi, modal) yang kita butuhkan dan kita tahu di mana mencarinya.

T anpa 1 dan 2, jangan terburu-buru bakar kapal. Salah-salah, Anda yang terbakar.

3. Bagi yang berkeluarga, pastikan punya cadangan belanja yang aman.

Bakar kapal itu besar risikonya. Bakar kapal itu menghilangkan pendapatan tetap, yang biasa kita nikmati setiap bulan, sejelek apapun performa kita.  Jika kita punya keluarga, kita tetap punya kewajiban untuk memberi nafkah ke mereka. Jangan sampai keluarga kelaparan, berantakan, anak tidak bisa membayar sekolah, karena kita tidak menyiapkan cadangan uang buat mereka selama kita memutus jalur penghasilan tetap itu.

Ingat lho, saat kita memulai usaha sendiri, mungkin saja kita belum bisa menggaji diri sendiri pada awal-awal bulan (seringkali dianggap sebagai utang perusahaan ke eksekutif).

Maka, siapkan cadangan minimal sesuai dengan prediksi kita, berapa lama kita mulai bisa menggaji diri sendiri sebagai eksekutif usaha kita sendiri, yang cukup untuk membiayai kebutuhan normal keluarga. Bisa tiga atau enam bulan, tergantung perhitungan bisnisnya. Dulu, ketika saya membakar kapal, saya sudah siapkan 12 bulan kebutuhan keluarga dalam bentuk deposito yang saya niatkan untuk tidak disentuh sama sekali untuk kebutuhan selain keluarga.

Jika poin 1,2 dan 3 terpenuhi, secara akal sehat, kita boleh bakar kapal.

4. Berbagi risiko dengan istri/suami.

Dalam satu keluarga, sebaiknya suami istri jangan membakar kapal pada saat yang sama meski keduanya sama-sama berniat menjadi pengusaha. Saat yang satu bakar kapal, sebaiknya pasangannya tetap menjadi karyawan, agar dapur tetap ngebul dari gaji rutin sebagai karyawan. Pilih secara bijaksana, mana yang membakar kapal terlebih dulu. Boleh istri atau suami dulu.  Jika yang bakar kapal sudah berhasil, cash flow bagus, yang satunya bisa menyusul jadi pengusaha. Sabar.

5. Berbagi risiko dengan mitra

Risiko gagal akibat bakar kapal bisa kita perkecil jika saat membangun usaha, kita tidak sendirian.  Jika bertiga misalnya, satu atau dua boleh bakar kapal, yang lainnya tetap sebagai karyawan untuk memenuhi kebutuhan minimal bulanan  mitranya yang mungkin belum bisa menggaji penuh dirinya sendiri saat memulai usaha.

Nomor 1,2 dan 3 di atas menurut saya menjadi syarat mutlak bakar kapal. No 4 dan 5 merupakan syarat tambahan untuk menekan risiko.

Ada yang ingin menambahi poin di atas?

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Entrepreneurship, Tips Bisnis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 19 Sep 2011 00:29

Minggu, 18 September, Lala berulang tahun yang ke tujuh. Beberapa kali anak keduaku itu menyebut ingin kue ulang tahun dari The Harvest karena pernah mencicipinya. Maka, untuk pertama kalinya, saya pun membeli kue di toko  The Harvest di Jl Senopati, Jakarta. Setelah melihat-lihat berbagai kuenya, saya memilih kue Chocolatte Devil yang  penuh dengan cokelat dan disukai Lala.

“Ada ukuran yang lebih kecil?” tanya saya ke  pelayan toko yang berseragam warna coklat, karena kue yang dipajang di depan memang terlalu besar.

“Ada pak, ukuran 20 cm x 20 cm,” jawabnya. Saya mengangguk setuju. “Kami harus membuatnya lebih dulu, apakah bapak bersedia sekitar 15 menit?”

Seperempat jam menunggu pembuatan kue ulang tahun tak terlalu lama buat saya. Saya setuju. Nah, sambil menunggu saya pesan secangkir kopi tubruk. Sekitar tiga menit kemudian kopi sudah tersaji di meja. Baru mau meminum kopinya, nama saya dipanggil. Kue ulang tahun sudah jadi! Hanya lima menit dari 15 menit yang dijanjikan! Wow cepat sekali. Mengapa terasa cepat? Karena di benak saya dijanjikan 15 menit, dan ternyata kuenya jadi tiga kali lebih cepat.

Hal yang serupa akan kita temukan di perusahaan-perusahaan bagus lain. Jika biasa mengirim barang dengan JNE misalnya, pengalaman yang sama akan kita rasakan. Jika alamat yang dituju kurang meyakinkan, petugas JNE selalu mengatakan “Barang akan sampai dalam tempo 4-5 hari”. Nanyatanya? Barang sampai ke alamat hanya dalam dua hari.

Di perusahaan online global sekelas Zappos, ini disebut sebagai filosofi WOW. Zappos kini menjadi penjual sepatu via online terbesar dunia dengan 150 ribuan kolesksi sepatu dan angka penjualan menembus US$ 1 miliar alias Rp 900 miliar, antara lain berkat filosofi membuat pembelinya terpana. Di situsnya, Zappos menyatakan bahwa sepatu yang dibeli akan dikirim dalam tempo 4-5 hari. Namun, sebagian besar pembeli menerimanya dalam tempo hanya sehari!

Ini ilmu “memainkan” harapan pembeli/pelanggan. Jangan janjikan pembeli sesuatu yang tak bisa kita penuhi sebagai penjual. Janjikan waktu maksimal yang kita sanggupi ke pelanggan/pembeli.

Memang, di tengah kompetisi bisnis yang keras, kebanyakan pelaku bisnis menjanjikan pelayanan secepatnya agar pelanggan tidak lari, atau untuk mendapatkan pelanggan baru. Ini yang sering saya temui di usaha kecil menengah. Mereka menjanjikan produknya akan dibuat dalam tempo sehari, dan memang betul dalam tempo 24 jam produk tersebut selesai. Bagus. Ya bagus. Tapi dalam persepsi pelanggan, layanan mereka hanya dalam kategori “memenuhi harapan pelanggan”.

Namun, kadang kita menemui penjual yang mangkir jadwal.  Saya pernah membuat jaket kulit di sebuah tempat, dijanjikan tiga hari selesai. Hari ketiga mereka menelpon, minta maaf karena salah ukuran dan harus membuat ulang dan minta tambahan waktu tiga hari lagi. Buat saya sebagai pelanggan, alasan mungkin bisa diterima, tapi tak menutupi rasa kecewa. Ini kategorinya “tidak memenuhi harapan pelanggan”.

“Tidak memenuhi harapan pelanggan” itu salah satu pembunuh bisnis. “Haram” hukumnya dijalankan oleh perusahaan mana pun. Sedangkan “memenuhi harapan pelanggan” itu kelasnya biasa saja. Sudah sewajarnya begitu. Yang lebih tinggi kastanya adalah filosofi WOW: membuat pelanggan terpana atas betapa cepatnya layanan kita karena ekspektasi mereka lebih lama.

Caranya? Latih terus seberapa lambat kita bisa memenuhi harapan pelanggan yang tidak membuat pelanggan itu enggan beli. Contoh, 15 menit menunggu kue dibuat khusus itu waktu yang bisa diterima. Bahkan tergolong cepat menurut saya. Nah, janjikan waktu 15 menit, bukan 30 menit misalnya. Yang jelas, jangan janjikan lima menit, meski kita bisa membuatnya secepat itu.

Inilah prinsip Under Promise Over Deliver.

Terjemahan bebasnya: “Kalau bisa lambat, kenapa harus cepat?

Tapi  terjemahan bebas ini hanya berlaku untuk konteks di atas ya :)

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Tips Bisnis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 17 Sep 2011 00:16

Hobi rutin yang saya lakukan minimal sebulan sekali adalah:  membuka statistik Google AdPlanner untuk mengetahui situs apa saja yang sering dikunjungi orang Indonesia dan negara lain. Saking rutinnya, menjadikan saya kurang peka. Namun, entah kenapa pagi ini sudut pandang saya agak lain.

Bahwa Facebook adalah situs paling banyak dikunjungi orang Indonesia itu suda terjadi sejak lama.  Lalu disusul oleh Yahoo, Blogspot, WordPress, 4Shared, Kaskus, Detik.com, Kompas.com, Vivanews, Multiply (Google AdPlanner Juli 2011).  Tentu harusnya ada Google di situ, tapi datanya tidak dikeluarkan oleh Google Ad Planner.

Tunggu…… ada yang terabaikan selama ini oleh mataku. Perhatikan: dari 10 situs terbesar itu, hanya tiga yang kita sebut sebagai media mainstream, yang kontennya dibuat oleh jurnalis, yakni Detikcom, Kompas.com dan Vivanews.  Konten tujuh situs terbesar lainnya diisi oleh jutaaan manusia non jurnalis!

Bahwa Blogspot dan WordPress di posisi ketiga dan keempat, itu menunjukkan blog masih dibaca dan jadi idola, meski posisisatu dikuasai Facebook. Jadi, publik Internet sebenarnya menyukai konten buatan manusia biasa. Justru karena itulah, para blogger mestinya bisa menjadi alternatif media mainstream tanpa harus menjadi jurnalis.

Jika selama ini kita mengeluh saja terhadap tayangan media mainstream yang kita anggap kurang mendidik, lebai, isinya disitir untuk kepentingan tertentu (agenda setting), meningkatkan rating/klik dengan cara melanggar etika (misalnya menayangkan video kerusuhan terus meski kerusuhan sudah usai, membuat judul yang heboh, dll ), para blogger bisa membuat konten penyeimbang. Misalnya, kita bisa menulis, tayangan-tayangan tertentu tidak masuk akal, alurnya keluar dari logika (tentu kita harus bisa menunjukkannya dengan logika juga).

Atau, jika tak ingin melawan, tulislah banyak hal, apapun yang kita suka. Suka bisnis tulislah hal-hal terkait bisnis seperti yang saya dan pengusaha lain (termasuk Roni Yuzirman dan kawan-kawan di TanganDiAtas) lakukan di blog masing-masing. Punya gagasan inspiratif, tulislah terus seperti Jamil Azzaini yang sebulan belakangan ini menulis blog hampir setiap hari. Atau coba lihat Bukik.com yang penuh ide-ide segar dan rajin diperbarui.  Punya cerita lucu, inspiratif, atau bahkan yang biasa saja, tulislah. Karena yang biasa di mata kita belum tentu biasa di mata pembaca. Blogger aktif bisa menjadi matahari-matahari kecil terus memancarkan cahaya konten.  Nggak tahu caranya? Baca  serial tips tentang “Menulis itu Gampang“.

Semakin banyak blogger rajin menulis blog, semakin banyak konten yang  menjadi alternatif media mainstream. Pembaca disuguhi semakin banyak pilihan. Sirami pembaca dengan konten-konten hangat dan menarik.

Tentu, kita akan menemukan blog yang dibuat untuk provokasi terkait SARA (lalu pemerintah biasanya repot berusaha memblokirnya). Itu saya sebut sebagai blog virus. Beberapa virus akan mati jika terkena sinar matahari dalam waktu tertentu. Kita akan cepat sembuh dari flu dengan berjemur matahari pagi. Blog virus akan “mati dengan sendirinya” kalau semakin banyak para blogger yang rajin menulis banyak hal, menyinari Internet dan menebarkan kehangatan.

Blogger aktif itu, pagi ini, dengan sudut pandang lain, tiba-tiba saya ibaratkan bintang hidup yang terus memancarkan cahayanya seperti matahari. Blogger tidur, yang tak menulis blog lebih dari enam bulan, itu ibarat bintang mati, yang sudah kehabisan energinya, tak mampu menghangatkan alam semesta.

Mungkin pengibaratan saya agak lebai. Tapi itulah yang terlintas saat saya selesai menulis pagi ini dan melihat cahaya matahari pagi menembus jendela.

Jumlah blogger Indonesia, setahu saya sudah jutaan, meski sebagian besar ibarat bintang mati karena banyak faktor, termasuk tersapu oleh microblogging seperti Twitter dan social networking seperti Facebook.

Bangunlah wahai para blogger! Bersinarlah!

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Inspirasi, Menulis Itu Gampang"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 24 Aug 2011 02:08

Pelajaran investasi yang amat populer adalah: jangan taruh telor di satu keranjang. Taruh di banyak keranjang untuk memperkecil risiko dan menuai hasil yang lebih optimal. Ilmu investor ini juga diadopsi oleh banyak pengusaha: membuka banyak usaha, misalnya 10 usaha, agar kalau delapan mati, masih ada dua yang tumbuh tinggi, dan untungnya bisa menggantikan delapan yang mati. Ilmu ini, bahkan juga dipegang erat-erat oleh banyak manajemen perusahaan: cari klien sebanyak mungkin agar penjualan naik pesat, dan jika ada satu dua yang kecewa akan tertutup oleh lainnya yang puas.

Ilmu ini sudah dipegang lama oleh banyak kalangan. Taruh telor di banyak keranjang menjadi kalimat sakti. Kalimat “Don’t put all your eggs in one basket” pun menjadi idiom bisnis di seluruh dunia.

Benarkah? Saya akan menjawab khusus untuk bisnis yang baru dirintis, yang istilah kerennya start-up business. Saat memulai usaha, kita akan mencari pelanggan sekuat tenaga. Begitu dapat satu pelanggan, cari pelanggan baru, dan seterusnya sehingga usaha berkembang. Semangat ini dijalankan baik oleh pengusaha retail maupun B2B.

Untuk retail, semangat mendapatkan sebanyak mungkin pelanggan di awal usaha itu benar. Tapi, untuk B2B, yang memberi solusi antar perusahaan, pendekatan itu ternyata tak selalu benar. Riset menunjukkan, yang berhasil, kebanyakan justru yang fokus pada segelintir pelanggan di awal usaha.

Analisa itu disampaikan Helena Yli-Renko, asisten profesor kewirausahaan Lloyd Greif Center for Entrepreneurial Studies di University of Southern California, dan Ramkumar Janakiraman, asisten profesor pemasaran Mays Business School di Texas A&M University.

Mereka memantau 180 perusahaan baru yang bergerak di bidang teknologi di Inggris selama enam tahun. Yang bertahan bagus selama enam tahun kemudian dianalisa. Hasilnya? Mereka yang di awal fokus hanya mengelola segelintir pelanggan utama, pada tahun keenam tumbuh besar, kemudian bisa mengelola lebih banyak pelanggan, dengan rata-rata 46 pelanggan. Sebaliknya, mereka yang di awal haus pelanggan, mencari pelanggan sebanyak mungkin, di tahun keenam malah kehilangan banyak pelanggan, hingga tersisa rata-rata 12 pelanggan saja.

Pelajaran yang bisa kita petik: jika kita memiliki dua perusahaan yang dimulai pada saat yang sama, ukurannya sama, tim manajemennya sama, maka perusahaan yang hanya menfokuskan diri di awal usaha pada sedikit pelanggan, seiring dengan waktu akan tumbuh membesar dan menggaet lebih banyak pelanggan.

Bagi yang berpendapat   “Don’t put all your eggs in one basket”, analisis ini mungkin mengagetkan. Namun, secara manajerial sesungguhnya masuk akal. Saat memulai usaha, kita perlu belajar banyak mengelola pelanggan. Semakin sedikit pelanggan yang kita kelola di awal usaha, semakin bagus mutu layanan kita karena fokus. Dari fokus itulah kita bisa lebih mengenal seluk beluk pelayanan pelanggan, sehingga kita bisa meningkatkan layanan dan produk kita.

Nah, pelanggan yang puas inilah yang kemudian getok tular mengabarkannnya ke perusahaan lain yang kemudian tertarik menjadi pelanggan juga.

Pengamatan dua asisten profesor di atas menunjukkan “menaruh telor di satu keranjang” tidak selalu buruk, bahkan bisa sebaliknya secara jangka panjang lebih baik.

Tapi ingat, analisa ini hanya berlaku untuk para pengusaha yang baru membuka bisnisnya.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Entrepreneurship, Tips Bisnis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Friday, 05 Aug 2011 17:12

Para narablog (blogger) yang tiga tahun lalu begitu rajinnya menulis blog, saya perhatikan, perlahan mulai menurun frekwensi ngeblognya. Sebagian malah berhenti sama sekali. Pada saat yang sama, mereka begitu rajinya berceloteh di Twitter dengan 140 karakternya atau update status di Facebook. Hanya segelintir narablog yang saya kenal, yang masih bertahan dengan kegigihannnya menulis blog, seperti Roni Yuzirman, Yodhia Antariksa, Paman Tyo,  Blontank Poer, Sitta Karina,  Bukik , Okto Silaban, Pitra, Mbelgedez dan Karmin Winarta.

Bukan hanya narablog yang semakin jarang ngeblog. Mereka juga kian jarang blog-walking (membaca blog teman-temannya dan meninggalkan jejaknya di sana dengan sepotong dua potong komentar).

Hadirnya microblogging seperti Twitter dan jejaring sosial seperti Facebook, dituduh sebagai penyebab utama melorotnya minat menulis blog.  Narablog makin jarang ngeblog tapi aktif di Twitter dan Facebook. Mereka yang biasa blog-walking kini lebih cerewet di Twitter dan Facebook, makin jarang meninggalkan komentar di blog. Mereka sepertinya lebih suka berkomentar di jejaring sosial.

Blog pun semakin sepi komentar.  Blog tanpa komentar, bagi banyak narablog, bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan. Ini, antara lain yang membuat narablog kian malas menulis blog.

Tentu social media bukan satu-satunya alasan. Kesibukan, kehilangan sumber ide tulisan, dan kehilangan mood menulis termasuk alasan yang disebut saat saya ajukan pertanyaan di Twitter mengapa mereka kini jarang ngeblog. Saya pun termasuk yang semakin jarang menulis blog, tapi kini perlahan masuk ke jalur yang benar lagi :) .

Bagaimana menyalakan kembali api menulis blog?

1. Hayati lagi, apa alasan kita memulai ngeblog.

Saran bijak kepada pasangan suami istri yang mau bercerai adalah dengan pertanyaan: “coba ingat-ingat, apa yang membuat kalian berdua bersatu menjadi suami istri?”  Jika jawabannya adalah cinta, maka membuka komukasi yang macet akan lebih mudah.

Saya pun mulai ngeblog karena cinta menulis. Saya tetap cinta menulis sampai hari ini. Hanya kesibukan yang amat sangat, termasuk membangun bisnis baru Musikkamu.com, yang membuat frekwensi menulis blog merosot drastis. Kini cinta itu saya gali lagi. Berhasil. Tulisan blog mulai mengalir lagi, baik yang personal di sini, maupun yang korporat di Virtual Consulting.

2. Tetapkan target frekwensi menulis blog.

Saya sangat suka ketika Yodhia Antariksa mengawali blognya langsung memuat pernyataan akan menulis posting blog baru setiap Senin dan Kamis. Dan ahli manajemen sumber daya manusia ini konsisten dengan pernyataannya. Saya sangat suka blog Strategi Manajemen yang ditulis renyah padat dan up to date itu.

Saya juga angkat topi dengan Jamil Azzaini, yang bertekad menulis blog setiap hari di blognya yang baru dirilis beberapa bulan lalu. Setiap hari? Ya. Setiap hari. Selama ini inspirator Sukses Mulia itu konsisten dengan komitmennya. Semoga terus bertahan.

Saya sendiri cukup sepekan sekali menulis blog.

3. Being found itu penting.

Saya aktif di hampir semua jejaring sosial. Rajin ngetweet. Masih semangat di Facebook. Kini sedang berhasrat dengan Google+.  Tapi saya sadar, meski enak bercakap-cakap, bercengkerama, dan bersosialisasi di sosial media, namun media ini memiliki kekurangan yang fatal: tak terarsip dengan baik dan ide kita terpecah-pecah dalam karakter terbatas sehingga berpotensi disalahpahami . Meski kultwit ampuh, tak banyak yang suka membaca tweet kita satu per satu. Dan kultwit itu akan “hilang dan sulit dicari”.

Blog memiliki kelebihan itu. Tulisan bisa sepanjang apapun yang kita mau sehingga teks dan konteks melebur dengan baik, memudahkan pembaca memahami tulisan. Dan yang tak kalah pentingnya, tulisan itu terarsip dengan baik di blog, dan mudah ditemukan di Google.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Manajemen Personal, Menulis Itu Gampang"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 03 Aug 2011 01:02

Dulu, setiap kali ditanya, apakah menjadi pengusaha itu faktor keturunan atau bukan, saya sulit menjawab. Perdebatan mengenai hal ini memang panjang dan mengasikkan. Sayangnya, tak pernah berhenti pada satu kesimpulan yang jelas. Perdebatan terus mengambang. Saking sulitnya melahirkan pengusaha baru, kebanyakan berpendapat bahwa menjadi pengusaha itu didominasi faktor keturunan.

Saya sendiri sempat cenderung berpendapat begitu karena latar belakang keluarga. Kakek saya yang di Semarang itu seorang pedagang sukses, yang dulu terkenal dengan Omah Kapal-nya (rumah kapal) di Kauman, Semarang. Kakek dulu tergolong pedagang kaya raya di jamannya. Beliau meninggalkan aset berupa rumah-rumah mewah di berbagai tempat di Semarang, termasuk di Jl. Pemuda, jalan protokoler, yang kami sekeluarga tempati sejak kecil.

Ayah, lulusan Pedagogi, Psikologi Universitas Gadjah Mada, pun menjadi pengusaha tailor, yang mengkhusukan diri di pembuatan jas. Ibu juga punya jiwa wirausaha. Pada masa jayanya, ayah memiliki 15-an penjahit. Saya pun bekerja di tailor itu sejak SMP hingga lulus SMA. Apapun saya kerjakan, mulai dari menyapu sisa-sisa potongan kain (saya menyebutnya kain gombal), menyetrika, membuat kancing baju, hingga akhirnya bisa mengukur baju dan jas. Tiap Jum’at sore saya gajian, tergantung berapa banyak yang saya kerjakan, persis seperti para penjahit kami.

Meski tak terlalu mengkilat bisnisnya, orang tua kami berhasil melahirkan  lima pengusaha, dari sembilan anaknya. Saya hampir yakin, gen pengusaha orang tua menurun ke kami berlima dan tidak menurun ke empat anak lainnua. Bekerja di masa kecil membuat kami makin terasah dengan dunia usaha.

Teman-teman pengusaha pun saya perhatikan kebanyakan lahir dari pengusaha juga. Ini bisa saja semakin meyakinkan anggapan bahwa pengusaha itu karena faktor keturunan.

Tak sedikit yang membantah ini. Sayang, tak diskusinya selalu tanpa dilengkapi data. Nah, beberapa waktu lalu  saya membaca riset menarik mengenai Anatomy of Entrepreneur: Family Background and Motivation yang dibuat oleh Kauffman, The Foundation of Entreprenurship.

Salah satu temuan menariknya: latar belakang oran tua tak terlalu berpengaruh terhadap kewirausahaan. Hanya 38,8 persen pengusaha yang ayahnya juga pengusaha. Sebagian besar lainnya, 61,2 persen, pengusaha justru lahir tanpa ayah pengusaha. Yang berlatar belakang ibu pengusaha pun hanya 6,9 persen.

Bahkan, 51,9 persen merupakan orang pertama di keluarga yang merintis bisnis!

Temuan ini jelas menunjukkan bahwa pengusaha itu TIDAK dilahirkan. Artinya, jiwa pengusaha bisa diajarkan dan dipelajari!

Jadi tak ada alasan lagi” tak berbakat menjadi pengusaha” karena bukan keturunan pengusaha. Asalkan punya niat yang kuat menjadi pengusaha, siapa pun mestinya bisa!

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Entrepreneurship"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 27 Jul 2011 06:15

Setiap kali membaca berita di berbagai media tentang performa perusahaan, yang paling sering ditulis adalah angka-angka penjualan, rugi/laba, pangsa pasar. Angka-angka itu memang penting untuk menilai sebuah perusahaan. Tapi, di balik semua itu, ada yang tak kalah pentingnya yang disebut sebagai cash flow alias arus kas.

Setiap hari, pekan, bulan, ada uang yang masuk ke perusahaan baik dari hasil penjualan maupun sumber lainnya seperti pinjaman. Pada periode yang sama, ada uang yang dikeluarkan untuk membayar berbagai keperluan, seperti gaji, sewa gedung, operasional pabrik dan lainnya. Lalu lintas uang masuk dan keluar itulah arus kas. Untuk mendapatkan informasinya, perusahaan lalu membuat laporan arus kas (cash flow statement) yang menjadi bagian penting laporan keuangan perusahaan.

Dengan laporan arus kas itu, perusahaan bisa memprediksi arus kas di masa mendatang, apakah akan positif atau negatif. Jika positif, manajemen perusahaan akan bersuka ria. Jika negatif, manajemen harus banting tulang menambalnya.

Nah, laba perusahaan tidak menjamin lancar tidaknya arus kas. Bisa saja, neracanya biru, tapi arus kasnya merah. Bisa saja penjualannya melonjak, tapi arus kasnya masih defisit.

Saya kasih contoh sederhana. Sebuah perusahaan mendapatkan sebuah proyek senilai Rp 1 miliar untuk jangka waktu enam bulan dengan pola pembayaran 10% uang muka, 40% setelah proyek setengah jadi, 40% lagi setelah proyek selesai dan sisanya 10% dilunasi tiga bulan kemudian untuk jaminan support.

Pada prakteknya, uang muka 10% seringkali tidak cukup untuk memulai proyek itu. Bahkan, pada praktiknya, uang muka itu tidak segera cair. Manajemen harus memakai uang perusahaan untuk menjalanan proyek. Berarti mengurangi arus kas. Beruntunglah yang mendapatkan uang muka untuk proyeknya. Banyak proyek yang tidak memberikan uang muka (terutama proyek pemerintah), dan perusahaan harus membiayai sendiri. Ini berarti arus kas lebih banyak lagi yang keluar.

Jika uang di kas perusahaan tidak mencukupi untuk melaksanakan proyek, bisa-bisa perusahaan kena penalti, dan 40% pertama yang harusnya bisa ditagih tak bisa ditagih karena kemajuannya lambat.

Bayangkan sendiri, perusahaan bukan hanya mengelola satu proyek, tapi bisa dua, tiga, empat dan lebih.

Sepertinya perusahaan banyak mendapat proyek, tapi uang masuk ternyata lebih kecil dari pada yang keluar pada periode tertentu. Jika proyek berjalan lancar, dan pemberi proyek membayar dengan baik, maka arus kas perusahaan bagus. Namun, selama melaksanakan pekerjaan, arus kas bisa acak adul.

Untuk perusahaan yang sudah mapan, selalu banyak solusi untuk memecahkan masalah ini. Misalnya saja, mencari pendanaan awal untuk menggarap proyeknya. Namun, bagi pengusaha pemula, apalagi yang ukuran UKM, hal semacam ini nyaris mustahil. Pendanaan dari bank membutuhkan agunan dan laporan keuangan (dua hal yang seringkali tidak dimiliki UKM).

Tapi pendanaan bukan satu-satunya masalah arus kas. Masalah lain: piutang/tagihan tak lancar (dibayar mundur terus) dan tagihan macet (gagal bayar). Masalah lainnya lagi: ketakmampuan perusahaan menghemat pengeluaran. Perlu tulisan lain untuk membahas kedua hal itu.

Intinya, yang lebih menentukan hidup matinya perusahaan bukan angka penjualan dan rugi laba, melainkan arus kas.

Arus kas itu ibarat aliran darah dalam tubuh kita. Secara fisik, bisa saja kita kelihatan sehat. Tapi, jika pada saat tertentu aliran darah macet, tubuh kita akan pegal-pegal, yang jika dibiarkan akan berpotensi melebar ke mana-mana. Secara laporan keuangan, perusahaan bisa saja laba, tapi bisa saja pada periode tertentu arus kasnya negatif, yang jika dibiarkan akan mematikan perusahaan.

Maka, menjadi pengusaha bukan hanya mampu meningkatkan penjualan dan profitabilitas, tetapi juga melancarkan arus kas perusahaan. Apa boleh buat, Manajemen Cash Flow harus menjadi salah ilmu yang harus dikuasai pengusaha.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Entrepreneurship"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 01 Jun 2011 06:36

Salah satu sisi positif social media seperti blog, Facebook, dan Twitter adalah menguatnya fenomena jurnalisme warga (citizen jurnalism). Di pertengahan tahun 2.000-an, blog melahirkan lebih dari sejuta blogger Indonesia, yang begitu aktif menulis apapun di blog masing-masing dan rajin memberi komentar di blog teman-temannya. Tiba-tiba, jurnalisme warga, yang sebenarnya bukan barang baru di radio, menguat di dunia maya. Dan, tanpa bisa ditahan, kian meledak dengan semakin popolarnya Facebook dan Twitter. Tutup tahun 2010, mengguna Facebook di Indonesia tembus angka 32 juta dan Twitter sekitar 10 juta pengguna.

Pertanyaannya, bagaimana kita menjadi bermakna di lautan jutaan pengguna blog, Twitter dan Facebook? Bagaimana kita tidak sekadar menjadi blogger, pengguna Facebook, Twitter dan media sosial lain dan tenggelam di balik hiruk pikuk warganya? Bagaimana kita bisa memberikan kontribusi positif, membrandingkan diri menjadi jurnalis warga yang dikenal dan diakui di bidangnya, lalu mendapat benefit yang layak?

Tangga Teknografi Sosial

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, lebih baik kita fahami dulu tentang Tangga Teknografi Sosial yang diperkenalkan Forester Reaseach.

Di tangga teratas, ada golongan yang disebut sebagai Creator. Ciri utamanya adalah: memiliki blog atau website pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan mengupload audio atau video karyanya ke website (bisa YouTube misalnya). Khusus untuk Indonesia, mengingat beratnya mengupload video dan audio, ciri ini bisa disederhanakan menjadi: memiliki blog dan rajin memperbaruinya.

Blogger memang tepat digolongkan sebagai pekarya. Mereka berkarya membuat tulisan, apapun kategorinya, ekonomi, bisnis, musik, hiburan, cerita. Apapun juga bentuknya, bisa dalam bentuk teks, gambar, audio maupun video. Di Indonesia, sudah ada beberapa yang berkarya dan menyebarkannya dalam bentuk audio di Internet seperti Indonesia Bercerita (indonesiabercerita.org).

Di anak tangga kedua ada Conversationalist. Mereka adalah para pengguna Facebook dan Twitter yang rajin menulis status. Meraka tidak memiliki blog. Tapi mereka rajin menulis, meski hanya 140 karakter di Twitter, atau 300 karakter di Facebook, atau di media sosial lain seperti Linked-In atau bahkan Friendsters. Meski bukan creators, mereka cerewet. Apapun mereka tulis di status, mulai dari barang yang mereka konsumsi, diri sendiri, hingga urusan kantor, tak luput dari update di media sosial.

Menariknya, 140 karakter, jika ditulis rutin, membawa pengaruh cukup besar. Sebuah tulis di blog, dengan seribu karakter lebih, memang memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya. Namun 140 karakter di Twitter dan Facebook juga punya pengaruh, jika diulang-ulang atau disebarkan oleh pengguna lainnya sehingga membentu viral.

Di bawah kedua tangga di atas, masih ada anak tangga lain, yang disebut sebagai Critics (tak punya blog, tidak mengupdate status di Twitter/Facebook, namun mengomentari blog/tulisan orang lain),  Collectors (menggunakan RSS, memanfaatkan tag), Joiners (sekadar bergabung ke jejaring sosial), Spectators (membaca informasi di berbagai jejaring sosial tapi tak punya akun), dan Inactive (tak melakukan apaun).

Namun, hanya dua segmen teratas, yakni Creator dan Conversationalist, yang berperan besar dalam mempengaruhi publik/konsumen pada umumnya mengambil keputusan. Oleh karena itu, jika ingin membangun citra diri dan bermakna di media sosial, syarat utamanya adalah anda harus berada di tangga teratas, yakni memiliki blog/website sendiri, yang rajin diperbarui. Lalu gunakan Facebook dan Twitter sebagai media untuk penyebarannya, sekaligus menjalin komunikasi cepat. Tepatnya, menjadi creator sekaligus conversationalist!

Blog Seperti Apa?

Akhir tahun 2010, tercatat lebih dari dua juta blog yang ditulis pengguna Indonesia, baik itu dibangun di penyedia jasa blog gratis global seperti WordPress.com dan Blogger.com, lokal seperti BlogDetik.com, Kompasiana.com dan Dagdigdug.com, maupun yang dibangun dengan nama domain sendiri. Tidak semuanya populer tentu saja. Lalu, blog seperti apa yang dapat punya potensi populer, mendapat trafik tinggi dan menghasilkan?

Pertama: Fokus pada bidang tertentu.

Buatlah blog sesuai dengan minat. Apa saja. Mulai dari teknologi, komunikasi, hiburan, jalan-jalan, kebudayaan, pemasaran, manajemen makro, manajemen sumber daya manusia, game, dan lainnya. Apapun. Yang penting, fokus yang berdasarkan minat. Karena minatlah sumber utama energi untuk menulis.

Saya menemukan beberapa blogger yang berbasis minat ini sukses meraih nama dan keuntungan lain. Misalnya Trinity, yang saat ini dikenal luas sebagai penulis buku ternama pariwisata Indonesia, yang terus berbagi via blognya di www.naked-traveler.com. Namanya terus berkibar dan pengaruhnya diakui oleh berbagai kalangan, termasuk Departemen Pariwisata, berkat blog dan bukunya.

Contoh lain, Yodhia Antariksa, yang tekun menulis blog mengenai strategi majemen di www.strategimanajemen.net.  Tulisannya sangat renyah dan mudah dicerna, tapi isinya berbobot.  Melalui blognya itu, namanya kian tenar di kalangan manajer, terutama Human Resource, dan rerzekinya terus mengalir dari sini. Ia pun kemudian melahirkan bisnis online menjual materi presentasi manajemen….dan laku!

Hanifa Ambadar, yang semula iseng membuat blog mengenai fashion di www.fashionesedaily.com kini naik pangkat menjadi pengusaha karena blognya menjadi blog komersial yang disukai banyak perempuan di Indonesia.

Saya bisa sebutkan beberapa contoh lain seperti Roni Yuzirman yang ngeblog mengenai kewirausahaan di blog pribadinya, Roniyuzirman.com, Ollie Salsabeela – seorang penulis chicklit yang beberapa bukunya best-seller – memiliki blog Salsabeela.com dan lainnya.

Saya sendiri rajin menulis blog mengenai digital marketing di Virtual Consulting Blog yang kini menjadi referensi bagi banyak perusahaan untuk memahami online marketing, digital marketing, social media marketing dan sejenisnya.

Kedua, rajin mengupdate blog.

Kelihatannya sepele: rajin memperbarui blog. Namun tak banyak yang berhasil di sini. Apalagi di era sekarang, era social media yang sedang didominasi Twitter dan Facebook, di mana penggunanya lebih suka update status daripada update blog. Itu sebabnya, dari juta blog yang dibuat orang Indonesia, hanya segelintir yang punya nama dan pengaruh.

Untuk memaksa diri rajin menulis, Yodhia Antariksa mengumumkan jadwal khusus update blognya secara terbuka: setiap hari Kamis hadir tulisan baru di Strategi Manajemen. Pengusaha pakaian jadi Roni Yuzirman mengupdate blognya sepekan sekali. Sedangkan Hanifa, jangan tanya lagi soal seringnya update blog FashioneseDaily.com karena sudah menjadi portal perempuan top di negeri ini.

Dari pantauan saya terhadap blog-blog yang sukses, mereka meng-update minimal sepekan sekali untuk menjaga minat kunjungan pembacanya.

Ketiga, padukan dengan Facebook dan Twitter

Dulu, andalan penyebaran informasi blog adalah RSS, tautan ke blog lain, dan template aplikasi blog yang memang Google Friendly. Namun, sekarang, di era Twitter dan Facebook, semua itu tidak cukup. Blog masa kini harus diintegrasikan dengan kedua jejaring sosial agar semaksimal mungkin tersebar.

Yang paling sederhana, tambahkan menu Retweet (untuk Twitter) dan Share (untuk Facebook) di setiap posting blog baru. Dengan kedua menu tadi, pengguna Twitter dan Facebook yang jumlahnya puluhan juta itu dengan mudah menyebarkan posting blog yang ia baca. Fakta menunjukkan, blog yang dilengkapi dengan kedua menu ini menunjukkan bahwa Twitter dan Facebook menjadi referensi terbesar trafik blog setelah search engine.

Facebook ini memberi fasilitas baru berupa status “like” yang bisa ditambahkan di blog, untuk setiap postingan. Berbeda dengan “share”, maka “like” menunjukkan bahwa pengguna Facebook itu menyukai tulisan itu, yang akan terbaca oleh teman-temannya di Facebook. Dalam user behavior, status “like” ini lebih tinggi ketimbang “share”

Namun, untuk membangun brand, blogger wajib memiliki Fanpage untuk blognya di Facebook. Buatlah fanpage sesuai dengan nama blognya. Gilamotor.com misalnya, blog penggila motor yang dikelola secara profesional oleh jurnalis warga, memiliki fanpage di Facebook dengan alamat www.facebook.com/gilamotor yang bisa menggaet hampir 200 ribu fans pada akhir tahun 2010 dalam tempo satu tahun.

Kecuali memiliki fanpage di Facebook, blog wajib dilengkapi dengan akun Twitter yang sama dengan blognya. Gilamotor.com misalnya, memiliki akun Twitter @gilamotor.

Keduanya, baik Facebook Fanpage maupun akun Twitter, harus dikelola serius. Tanpa pengelolaan yang serius, kedua akun tadi hanya akan menjadi akun mati dan tidak memberi kontribusi apapun kepada blog. Bahkan, bisa jadi malah merugikan.

Sama seperti blog, kunci keberhasilan akun Facebook dan Twitter adalah percakapan. “Marketing is conversations”. Blog yang hidup akan terlihat dari komentar-komentar di postingannya. Facebook dan Twitter yang hidup akan terlihat dari percakapannya di dua jejaring sosial tersebut.

Sebagai creator, nara blog yang serius akan mengupdate blognya sepekan sekali. Namun, untuk menjadi conversationalist di Twitter dan Facebook, update status sekali sehari saja, serta menjawab pertanyaan follower dan fans, bahkan belum cukup.

Berpikir Jangka Panjang

Saya banyak bertemu dengan creator dan conversationalist yang inginnya instan, langsung berhasil. Langsung memiliki blog yang hebat, follower yang banyak di Twitter, fans yang berjibun di Facebook.

Tidak ada yang instan di membangun citra diri. Semuanya membutuhkan proses, bukti, ketekunan, konsistensi, persistensi. Blog biasanya baru terlihat bagus setelah setahun. Selama setahun itu harus ditunjukkan konsisteni mengupdate blog, menulis yang menarik, kemampuan membagi info dan menjalin komunikasi dengan audiencenya. Pada saat yang sama, untuk menumbuhkan Fans di Facebook dan follower di Twitter pun butuh kerja ekstra.

Maka, membangun citra diri sebagai jurnalis warga, bukan hanya wajib memiliki blog dan mengintegrasikannya dengan Twitter dan Facebook, tetapi juga harus memiliki visi jangka panjang.

Tanpa visi jangka panjang, pekerjaan ini akan cepat melelahkan.

Namun, jika kita berpikir jangka panjang, hasilnya akan manis, seperti beberapa contoh yang saya uraikan di atas.

catatan: tulisan ini dibuat untuk buku Linimas(s)a karya ICTWatch. Ada banyak artikel lain di buku itu, yang antara lain ditulis oleh Ono W Purbo, dapat diunduh gratis di KalamKata.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Life Style, Tips Bisnis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 23 Apr 2011 02:16

Masih ingat gambar kartun yang populer di awal-awal berkembangnya Internet ini? Ya, kala itu, ungkapan “On the Internet, nobody knows you are a dog” sangat populer. Kita sulit melacak, mengetahui, siapa yang sesungguhnya sedang beremail-ria atau ber-chat ria dengan kita. ID-nya bisa saja Nancy, tapi dia pria. Bisa saja ID-nya YoungBoy, tapi ternyata kakek-kakek. Dan seterusnya.

Tapi era misterius itu bakal berlalu. Paling tidak, kini semakin sulit untuk menyembunyikan diri dengan identitas lain di Internet. Berbagai layanan sosial media memperkecil peluang orang untuk menjadi orang lain di Internet. Di Facebook, kita cenderung memberikan data data selengkapnya agar teman-teman lama kita mengenali dan mau menjadi teman kita di jejaring sosial itu.  Dulu, di awal-awal penggunaan Facebook, barangkali banyak yang ceroboh menerima teman. Tapi kini makin selektif. Jika profilnya diragukan, kita enggan menerimanya. Misalnya, jika ia mengaku teman SMP kita, dan daftar temannya tidak ada yang sama dengan teman-teman SMP kita, maka kita sahih mempertanyakan keabsahannnya.

Facebook memberikan data yang cukup mendalam mengenai demografis dan behavioral. Jika penggunanya aktif mengisi wall, menambahi foto, mengomentari teman-temannya, maka kita bisa menerka profil kepribadiannya seperti apa.

Hal itu diperkuat di Twitter, yang hanya menampilkan 140 karakter tulisan. Jika penggunanya rajin ngetweet, sejaim apapun dia, sehati-hati apapun dia, kita bisa menebak dia lebih dalam lagi, termasuk kepribadiannya seperti apa, bahkan kecenderungan seksualnya.

Facebook dan Twitter, khusus di Indonesia, adalah jejak digital paling sering ditinggalkan oleh pengguna Internetnya. Beberapa meninggalkan jejak digital di Youtube, blog seperti WordPress, Blogspot, Blog Detik, Kompasiana, Dagdigdug, dan blog-blog pribadi, serta media sosial lain seperti Koprol.

Dan….semua itu ditangkap dan direkam oleh Google (kecuali beberapa konten Facebook yang memang tertutup untuk Google).

Dengan jejak-jejak digital itu, semakin sulit bagi kita untuk bermuka dua.

Salah satu manfaat dari jejak-jejak digital ini adalah bagi mereka yang sedang mencari pasangan hidup. Kini semakin mudah untuk memutuskan apakah kita akan kencan dengan seseorang atau tidak. Cukup perhatikan profil Facebooknya, siapa teman-temannya. Semakin banyak temannya yang kita sukai yang sama dengan teman kita kita di Facebook, semakin besar peluang memiliki kesamaan minat.

Jika tak cukup dengan profil Facebooknya, cek linimasa Twitternya. Jika ia aktif ngetweet, dari memperhatikan linimasanya kita akan semakin memahaminya.

Jika masih kurang puas dengan dua informasi itu, Googling saja namanya. Jejak digitalnya akan terpetakan dengan baik. Siapa dia, apa kata orang tentang dia, terekam oleh malaikat digital itu.

Tentu, tidak cukup mengandalkan jejak-jejak digital. Jejak lain yang tertinggal di alam non digital pun perlu dibaca.

Yang jelas,  ungkapan “On the Internet, nobody knows you are a dog” sangat populer sekian tahun lalu, kini kurang relevan.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Life Style"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 09 Apr 2011 05:23

dimuat di majalah Rolling Stone edisi 71, Maret 2011

Jumat malam, 14 Januari 2011, Zine al-Abidine Ben Ali dan keluarganya terbang dengan jet menuju Saudi Arabia.  Presiden Tunisia itu melarikan diri, meninggalkan negaranya  dalam kondisi carut-marut oleh demontrasi melawan rezim yang ia pimpin selama 32 tahun.  Tiran itu jatuh setelah sebulan unjuk rasa massal berdarah yang dipicu oleh aksi bakar diri Mohamed Bouazizi, tukang sayur miskin yang tak kuasa melawan kesewang-wenangan polisi yang merampas dagangannya.

Untuk mengatasi unjuk rasa nasional itu, sebagaimana rezim penguasa lain, Ben Ali mengendalikan semua media konvensional, baik itu koran, radio maupun teve. Bahkan rezimnya juga menteror wartawan yang  meliput demo.  Internet pun diawasi ketat, situs-situs yang dianggap berbahaya dan melawan diblokir. Beberapa situs jejaring  sosial, terutama video sharing seperti Dailymotion dan Youtube, juga diblokir. Namun, entah kenapa, Facebook justru tidak diblokir. Via jejaring sosial itulah perlawanan digalang, sehingga mendapat dukungan dari banyak pengunjuk rasa lain dan dari aktivis pro demokrasi di luar negeri. Penyebaran informasi,  penggalangan aksi yang masif via social media dan jatuhnya rezim Ben Ali setelah 23 tahun berkuasa inilah yang kemudian menimbukan asumsi bagi para penganut faham cyberutopianism: ”Yang terjadi di Tunisia merupakan Revolusi Twitter pertama di dunia”

Secara sederhana, cyberutopianism adalah pandangan yang mengatakan teknologi dan Internet, mampu mengubah dunia. Internet, misalnya, akan menggedor demokrasi di negara-negara tiran. Internet, bisa meredam teror. Bahkan, Internet bisa meningkatkan taraf ekonomi sebuah negara. Internet diyakini sebagai senjata yang amat ampuh untuk mengatasi segala macam masalah dunia saat ini. Utopia bisa terjadi di Internet

Penganut faham cyberutopianism ini cukup banyak, bahkan diantaranya adalah orang-orang hebat di bidangnya. Mantan presiden Amerika Serikat, George Bush, misalnya mengatakan: “Bayangkan, seandainya Internet bisa masuk ke China, kebebasan akan mengalir deras di sana”. Bahkan raja media Rupert Murdoch, pernah berujar: “Perkembangan teknologi komunikasi, jelas-jelas mengancam para tiran di mana saja, di seluruh dunia.”

Dan kita semua tahu sekarang, ucapan Bush tak terbukti. Di China, Internet berkembang pesat, dengan 350 juta pengguna. Alih-alih demokrasi berkembang, China melakukan penyensoran ketat, Google diawasi ketat, konten difilter, bahkan Twitter dan Facebook diblokir. Demikian pula ucapan Murdoch. Bukan hanya tidak terbukti, lebih dari itu Raja Media itu terpaksa bertekuk lutut di kaki penguasa China, yang mengancam bisnis teve satelit regionalnya.

Namun, paham ini terus berkembang seiring dengan kian banyaknya studi kasus tentang kaitan positif antara demokrasi dan Internet. The Berkman Center for Internet Society di Harvard University misalnya, mensponsori telaah tentang bagaimana pengaruh Internet terhadap demokrasi. Paper pertama mengenai Online Citizen Jurnalism dengan studi kasus media terkenal di Korea: OhMyNews.com, yang digerakkan oleh jurnalis warga, bukan jurnalis profesional.

Para jurnalis warga ini setiap hari menulis berita di OhMyNews.com selayaknya jurnalis profesional.  Tak seperti media tradisional seperti radio, cetak dan tv yang seringkali dikontrol dan disensor pemerintah tiran, jurnalis warga yang dibuat di online tak bisa diintervensi pemerintah. Itu sebabnya, jurnalis warga online ini seringkali mengisahkan hal-hal yang  tak (berani) dimuat di koran, radio dan tv, sehingga memberi warna yang berbeda dari suara resmi pemerintah.   Contoh nyata terjadi di Korea Selatan. Situs berita berbasis juranis warga (user generated content) OhMyNews.com mempengaruhi pemilihan presiden Korea Selatan pada tahun 2002.

Media berita adalah pilar demokrasi, dengan catatan harus memberi ruang dialog bagi publik, bukan hanya menyampaikan hasil demorasi melalui berita saja, tetapi melibatkan publik dalam proses demokrasi.
OhMyNews.com memenuhi syarat itu. Semua warga diizinkan menulis berita, tanpa difilter sama sekali, dan siapapun boleh mengomentari berita itu sehingga terjadi dialog yang intens antar warga. Dengan slogan “Setiap warga adalah reporter”, OhMyNews.com memberi ruang dialog bagi publik yang selama ini tak tersalur di media mainstream.

OhMyNews.com sangat berperan mendudukkan kandidat presiden Roh Moo Hyun dengan harapan menang tipis, akhirnya menjadi presiden di pemilu 2002.

Bergerak mengandalkan taktik di online, termasuk menggalang donasi, Roh bukanlah kandidat populer dibanding yang dari kalangan konservatif. Sebagaimana biasanya, media konvensional lebih banyak memberi ruang untuk kandidat konservatif yang sangat mendukung kehadiran militer Amerika Serikat di Korsel. Namun, taktik gerilya pendukung Roh di online, serta liputan terus menerus dan bebas sensor dari para jurnalis warga OhMyNews.com menaikkan dukungan.

Bukan hanya itu, para aktivis pendukung Roh pun kemudian memanfaatkan semua peranti digital, website, online forum, tentu saja juga SMS, untuk menggalang gerakan offline guna meraih dukungan publik. Mereka sadar, jika semua pengguna Internet memilih pun, tak cukup untuk membawa Roh ke kursi presiden. Maka gerakan online ke offline pun dilakukan secara massif. Secara mengejutkan, Roh, sang kandidat yang tak diharapkan penguasa itu, akhirnya menang pemilu dan menjadi presiden.

Boleh dibilang, tanpa media online berbasis jurnalis warga OhMyNews.com, rezim penguasa di Korsel tidak akan berganti.

Kedua, membahas Orange Revolution di Ukraina yang terjadi pada tahun 2004. Joshua Goldstein dalam telaahnya yang berjudul The Role of Digital Networked Technologies in the Ukrainian Orange Revolution yang diterbitkan The Berkman Center for Internet & Society menyodorkan narasi menarik bahwa Revolusi Ukrainia tahun 2004 dimungkinan oleh Internet.

Di musim dingin November 2004, ratusan ribu rakyat Ukraina melakukan demo damai, menuntut pemilu ulang karena pemilu sebelumnya dianggap curang dan mendudukkan Victor Yanukovych, kader rezim presiden sebelumnya, Leonid Kuchma, sebagai presiden baru. Kandidat presiden yang diusung oleh rakyat banyak, Victor Yuschenko, ternyata gagal menjadi presiden. Merasa dicurangi, rakyat menuntut pemilu ulang, dan akhirnya Yuschenko terpilih sebagai presiden baru.

Revolusi itu disebut sebagai Orange Revolution sesuai warna kampanye “My Ukrine” Yuschenko. Meski tidak disebut sebagai Digital Revolution atau Internet Revolution, Michael McFaul mencatatnya sebagai revolusi pertama di dunia yang digalang besar-besaran via online. Hampir semua alat digital digunakan untuk revolusi, mulai dari SMS, media online independen, hingga forum diskusi online. Catatan: pada 2004 social media seperti Facebook dan Twitter belum populer di seluruh dunia.

Banyak faktor yang memicu dan memuluskan revolusi. Tapi peran Internet sangat vital, paling tidak dalam dua hal. Para aktivis membuat media online sendiri. Sangat mudah. Cukup dengan membuat blog. Dengan pendekatan jurnalis warga inilah mereka mencatat dan menyebarkan informasi terkait dengan kecurangan pemilu dari sudut pandang mereka, yang tidak bisa disensor oleh pemerintah. Kedua, para aktivis pro-demokrasi memanfaatkan konvergensi telepon selular dan Internet untuk mengelola aktivitas skala nasional, termasuk memantau hasil pemilu dan mengorganisasikan protes massal.

Tidak berlebihan jika beberapa pengamat waktu itu mengatakan, tanpa teknologi dan Internet, revolusi Ukraina tak akan terjadi.

Selain Ukraina, yang menjadi perhatian The Berkman Center for Internet & Society adalah peran blogger dalam demokrasi di di Iran tahun 2007. John Kelly dan Bruce Etling menulis telaah berjudul “Mapping Iranʼs Online Public: Politics and Culture in the Persian Blogosphere”.  Mereka menggunakan computational social network mapping yang digabung dengan human and automated content analysis untuk menganalisa blogger Iran.

Hasilnya mengejutkan. Semula banyak yang mengira bahwa blogger Iran didominasi oleh anak muda yang menyuarakan kekecewaan mereka kepada rezim. Faktanya, topik yang ditulis blogger Iran sangat bervariasi, mulai dari topik sekular, puisi, hak asasi manusia, kultur pop dan agama. John Kelly dan Bruce Etling membagi blogger Iran dalam empat kategori. Pertama sekuler/reformis yang terdiri dari ekspatriat dan warga Iran yang terlibat dalam dialog politik. Blogger yang biasa bersuara keras terhadap pemerintah, biasanya pakai akun anonim, agar tidak dipenjara. Kedua, konservatif/religius, yang membahas tiga hal: agama, politik dan isu-isu terbaru. Ketiga, puisi dan literatur. Keempat, kombinasi ketiganya.

Penyebaran konten via blog, keterkaitan antara satu blog dengan blog lainnya, dan diskusi intens di komentar-komentar ini ditengarai berpengaruh besar membuka wacana demokrasi bagi rakyat Iran. Pemerintah sendiri tidak terlalu semangat memblokir blog-blog ini sehingga mudah diakses rakyat Iran dalam negeri maupun luar negeri.

Inilah yang kemudian, dugaan saya, menjadi salah satu faktor protes berdarah terhadap pemilu Iran tahun 2007 yang informasinya kemudian menyebar cepat  ke seluruh dunia via Twitter. Dalam beberapa hari, pemilu Iran merajai trending topic (topik yang paling banyak dibicarakan di seluruh dunia) di Twitter. Meski Twitter kemudian diblok oleh rezim Iran, para ekspatriat di Iran masih bisa membanjiri informasi kekerasan pemilu Iran via Twitter sehingga dapat dukungan dari kalangan internasional.

Namun revolusi tak terjadi. Rakyat Iran lebih mencintai presidennya, Mahmoud Ahmadinejad daripada aktivis pro demokrasi yang didukung pihak asing via Twitter di seluruh dunia. Dukungan internasional via Twitter ternyata tidak menyingkirkan penguasa. Tidak ada Twitter Revolution di Iran seperti yang diramalkan para penganut faham cyberutopianism.

Keampuhan social media untuk politik memang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Blog, forum, video sharing (seperti Youtube.com), jejaring social Facebook dan jejaring informasi Twitter sudah biasa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan politik. Keberhasilan Obama menjadi presiden kulit hitam di Amerika Serikat, diakui banyak ahli, berkat strategi kuatnya di social media, baik melalui Facebook, Twitter maupun jejaring sosial lain yang tumbuh di Amerika Serikat. Bahkan kampanye Obama pun disebut Obama 2.0, karena memang sangat mengandalkan teknologi Web 2.0 yang menjadi platform social media.

Jika web 2.0 ampuh di Amerika Serikat, yang memang negara demokrasi, banyak yang bisa memakluminya. Namun bagaimana jika terjadi di negara komunis? Nah, dua tahun lalu, di sebuah negara kecil Eropa Timur, yakni Modova, terjadi unjuk rasa yang murni awalnya digalang via Twitter, memprotes hasil pemilu. Bahkan Evgeny Morozov, penulis buku The Net Dilution, yang menyangsikan faham cyberutopianism pun mengakui, Twitter memegang peran sentral dalam unjuk rasa itu.

Nah, ketika peran sentral jejaring sosial termasuk Twitter dan Facebook di revolusi Tunisia yang meruntuhkan Ben Ali terlihat nyata,  social media pun dianggap sebagai “senjata” menakutkan negara tetangga. Protes rakyat terhadap rezim penguasa di Tunisia akhirnya merembet juga di Mesir dalam tempo cepat dengan senjata yang sama: Twitter dan jejaring  sosial lain. Apakah Mesir akan menjadi negara Revolusi Twitter kedua di dunia? Hingga tulisan ini dibuat, Husni Mubarak masih berusaha keras bertahan di tahta presiden yang sudah ia genggam selama 32 tahun, meski protes yang melibatkan jutaan rakyatnya sudah memakan ratusan korban jiwa dan perang antara pendukung dan penentangnya merebak di mana-mana. Jika Mubarak jatuh, tersingkir oleh revolusi yang dipersenjatai Twitter, maka semakin kuat peluru argumentasi penganut faham Revolusi Twitter.

Apapun perdebatan para ahli, banyak negara sudah melihat Twitter dan jejaring sosial lain berbahaya.  Mesir sempat memblokir Twitter, Facebook, bahkan mematikan Internet untuk meredam protes yang terus mengalir deras hingga awal Februari ini. China, yang sejak awal sudah mengontrol Internetnya, termasuk memblokir berbagai situs yang dianggap memusuhi pemerintah dan menutup akses Twitter bagi 350 juta pengguna Internetnya, mulai memblokir kata kunci “Egypt” di semua search engine yang bisa diakses di China. Setelah revolusi di Tunisia menular di Mesir, pemerintah China menutup semua informasi tentang pergolakan di Negeri Sungai Nil itu agar tidak memicu para aktivis pro demokrasi di China melakukan  yang sama.

Meski demikian, tak sedikit yang mengingatkan agar tidak berlebihan memandang teknologi dan Internet dalam kasus-kasus di atas.

Yang paling ekstrim adalah pandangan Malcolm Gladwell, penulis buku best-seller The Tipping Point, yang membahas mengenai penyebaran pengaruh dan gerakan di masyarakat. Bagi Gladwell, Revolusi Twitter itu ilusi. Revolusi itu gerakan yang berisiko tinggi, termasuk kerusuhan dan kehilangan nyawa. Risiko tinggi itu hanya bisa dihadapi oleh aktivis sosial yang memiliki akar yang kuat ke bawah dan hubungan yang kuat dengan yang lain. Pengguna Twitter, Facebook dan jejaring sosial tidak memiliki dua syarat itu. Hubungan pertemanan di Facebook itu encer. Apalagi di Twitter yang hanya following/follower saja. Mustahil keduanya menjadi elemen penting revolusi. “Sudah berabad-abad terjadi revolusi yang menurunkan rezim penguasa, terjadi di mana-mana, jauh sebelum Facebook dan Twitter ada,” kata Gladwell. Ya, ia menihilkan peran social media dalam revolusi.

Evgeny Morozov, penulis buku The Net Dilution yang menganggap kaum cyberutopianism terlalu berlebihan memandang peran Internet, dengan cara lebih lunak mengatakan, meletakkan teknologi sebagai kunci tunggal itu pendekatan yang dangkal. Untuk kasus Revolusi Orange di Ukraina misalnya, kita tidak bisa menutup mata terhadap tekad pengunjuk rasa yang rela sebelas hari demo di udara dingin membeku di bulan November, dan kucuran ratusan juta US$ yang menggerakkan unjuk rasa. “Perubahan Rezim oleh pesan teks mungkin tampak realistis di dunia maya, tetapi tidak ada diktator yang telah digulingkan di Second Life, dan tak ada pemilu nyata yang dimenangkan di sana,” kata Morozov. Secondlife.com adalah kehidupan maya 3 dimensi yang sangat populer di AS.

Guru besar sosiologi Zeynep Tufekci, yang juga mengamati revolusi di Tunisia, berpendapat bahwa social media berperan penting dalam revolusi, namun hanyalah “nice to have”,  bukan syarat mutlak. Jillian York dari Global Voice Online, juga sepakat: social media memang bermanfaat, tapi tidak diperlukan dalam revolusi.

Beberapa ahli sosial justru melihat, revolusi disebabkan oleh kemiskinan menahun dan tirani di Tunisia, yang mudah dipicu oleh kasus bakar diri Mohamed Bouazizi. Mirip dengan kasus pergantian rezim di Indonesia tahun 1998, yang disebabkan oleh terlalu lamanya Soeharto berkuasa, yang dengan mudah dipicu oleh penembakan mahasiswa Trisakti.

Saya termasuk yang tidak percaya bahwa Twitter pemicu atau faktor terpenting dalam revolusi. Namun, sebagai orang yang berkecimpung dan hidup sehari-hari di jejaring sosial, merasakan denyut nadinya, saya sependapat dengan Mathew Ingram, bahwa mengabaikan peran jejaring sosial dalam revolusi itu juga pendapat yang keliru.

Social media sangat berbeda dengan media komunikasi sebelumnya, termasuk SMS. Pesan pendek, yang disebut-sebut turut berperan dalam revolusi di Filipina, tidak memiliki keterhubungan sosial serumit Twitter, apalagi Facebook.  Di Twitter, penyebaran informasi secepat SMS, namun memiliki kelebihan tertaut dengan informasi lain seperti blog, berita, maupun website penting. Twitter juga memiliki kelebihan Trending Topics yang bisa dilihat bukan hanya oleh pengguna di negaranya, tetapi juga di luar negeri, sehingga bisa menaikkan isu lokal, menjadi nasional, dan kemudian menjadi internasional. Ini terlihat dalam kasus Tunisia. Semula lalulintas Twitter masih membahas Mohamed Bouazizi, lalu berkembang menjadi Sidi Bouzid (tempat unjuk rasa pertama) dan memuncak menjadi Tunisia. Begitu menjadi Tunisia, dunia tahu apa yang terjadi di negara itu, dan para simpatisan global pun bergerak membantu, termasuk dengan menyerang situs-situs pemerintah Tunisia.

Facebook, lebih dari itu. Dalam kasus Tunisia, jejaring sosial terbesar dunia yang kebetulan tidak diblokir saat sosial media lain diblokir, itu dimanfaat untuk berbagi video tentang kekejaman rezim dan kehidupan mewah para pejabat dan istrinya. Segala fitur di Facebook yang amat kaya itu, termasuk wall, email, chat, group, fanpage dan agenda, dimanfaatkan para aktivis pro demokrasi. Di situlah mereka bisa berbagi informasi, membangun agenda, mengorganisasikan gerakan turun ke jalan.

Sebagai jejaring komunikasi dan informasi, Facebook dan Twitter sangat powerful. Inilah senjata untuk melawan rezim. Militer sangat faham, mematikan komunikasi adalah strategi ampuh menekan lawan. Dulu, senjata revolusi adalah jejaring komunikasi fax dan telpon, kini SMS, Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lain.  Tentu, senjata seperti Twitter dan Facebook bukan pemicu revolusi. Tapi mengabaikan peran senjata itu juga keliru.

dimuat di majalah Rolling Stone edisi 71, Maret 2011

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Inspirasi"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 28 Mar 2011 08:57

Jumat, 25 Maret 2011 pagi, saya live di DeltaFM Jakarta, diwawancarai satu jam oleh Muhammad Farhan, mengenai tips jitu pemasaran via Facebook dan Twitter. Sebagai penyiar handal, Farhan sangat pintar melemparkan pertanyaan yang tajam namun juga santai. Soal sembarangan tagging foto di Facebook, cara yang benar memanfaatkan Facebook untuk meningkatkan penjualan ditanyakan dan saya jawab detil, yang intinya “haram” memanfaatkan akun pribadi dipakai sebagai medium pemasaran dengan mengotori halaman Facebook orang lain.

Soal Twitter juga saya jelaskan, mengingat mahluk yang satu ini berbeda dengan Facebook. Twitter adalah jejaring informasi, sedangkan Facebook adalah jejaring pertemanan. Beda mahluk beda karakter beda pula pemanfaatannya.

Bagi yang belum sempat mendengarkannya secara langsung di 99,1 FM tersebut, silahkan mendengarkan di sini.

Ada empat sesi yang bisa Anda nikmati. Sebenarnya setiap jeda sesi ada selingan lagu. Untuk menyingkat waktu, lagu-lagunya tidak diperdengarkan di sini :)

Semoga bermanfaat.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Tips Bisnis"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 26 Feb 2011 03:28

Awal Desember 2010, kancah perpolitikan dunia diguncang oleh Wikileaks. Situs wistleblower itu merilis ratusan ribu kawat diplomatik rahasia Amerika Serikat. Banyak data-data yang mengguncang dunia sehingga merepotkan AS dan negara yang terlibat. Pantas jika pendiri Julian Assange, warga negara Australia, tak berani muncul ke publik dan menjadi incaran interpol. Bahkan situsnya pun menjadi sasaran serangan DDOS yang bisa mematikan server. Bahkan layanan komersial Internet pun enggan berhubungan dengan Wikileaks. Amazon.com misalnya, tidak mau meng-host situs Wikileaks. Domain wikileaks.org pun dimatikan otoritas resmi penyedia domain di AS, sehingga harus ganti-ganti domain ke negara lain. Bahkan, Paypal pun menghentikan sumbangan Wikilieaks yang ditransfer secara online via jejaring alat bayar online itu.

Respon pelaku bisnis itu diduga keras karena tekanan pemerintah AS dan dunia.Bahkan AS sendiri disinyalir melarang tentaranya membaca Wikileaks. Begitu Wikileaks membocorkan kabel diplomatik rahasia AS, negara adijaya itu segera memberikan penjelasan ke negara sekutunya, serta mencari jalan mengantisipasi penyebarannya. Australia misalnya, secara resmi memelisik Julian, yang memang warganya. Perancis, melarang semua layanan server Internetnya dipakai Wikileaks.

Meski dilawan otoritas resmi negara, Wikilieaks didukung banyak individu. Dalam beberapa hari saja, followernya di Twitter mencapai 380 ribu. Mereka secara aktif ikut menyebarkan apapun yang ditulis Wikileaks di Twitter. Juga, dalam beberapa hari, penggemarnya di Facebook menembus angka 600 ribu fans. Angka ini masih terus bergerak naik.

Pemerintah AS dan sekutunya membenci Wikileaks. Perusahaan yang berdomisili di AS tertekan untuk mendukung langkah pemerintah. Namun, ratusan ribu warganya membangkang di online.

Fenomena di atas tidak hanya terjadi di level global. Di level negara kita pun terjadi. Ketika Presiden Yudhoyono berpidato resmi mengenai polemik bentuk monarki Jogjakarta versus Republik, dengan berdiri di podium berlambang Garuda, dan menggunakan iPad, banyak yang berkomentar miring. Esensi pidato presiden yang menjelaskan soal pernyataannya yang menimbulkan gejolak masyarakat Jogja itu luput dari perbincangan publik. Yang menonjol malah soal presiden menggunakan iPad untuk pertama kalinya di depan publik. Misalnya, ada yang tidak rela logo Apple berada di atas lambang Garuda yang tertera di podium. Padahal ya normal saja meletakkan iPad, yang sedang dibaca presiden, di atas podium. Ada pula yang komentar, via Twitter, “Monarki vs Republik, yang menang iPad”.

Presiden memang sedang menjadi sasaran empuk di Twitter. Apapun langkahnya, hampir selalu menuai kritik. Tatkala SBY berkantor di Yogyakarta agar lebih dekat dengan lokasi bencana Merapi, masih ada yang mengkritik “mengapa hanya tiga hari”, “mengapa berada di dalam gedung” dan lainnya. Di Twitter, lebih mudah menemukan kritikan daripada pujian kepada SBY.

Bukan hanya presiden, menteri pun menjadi sasaran kritik pengguna Twitter. Awal Mei 2010, ada pengguna Twitter yang kesal melihat mobil menteri masuk jalur busway di saat yang lain kena macet di jalur biasa. Segera ia memotret mobil itu, dengan plat nomornya, dan disebarkan via Twitter. Dan ternyata itu mobil dinas Menteri Sosial Salim Segaf Aljufrie. Segera saja tweet mobil menteri menerobos jalur bus Trans Jakarta itu menyebarluas via Twitter dan akhirnya terpantau media tradisional dan menjadi berita hangat di berbagai media cetak, radio dan teve. Seorang menteri yang harusnya memberikan contoh, malah melanggar hukum.

Salim Segaf segera bereaksi positif, secara jantang mohon maaf ke publik dan mendatangi Polsek Metro Mampang untuk klarifikasi dan siap ditilang. Respon cepat dan positif secara pribadi juga disampaikan via Twitter resmi Salim Segaf ini disambut baik dan diberitakan di media tradisional, sekaligus disebarkan oleh pengguna Twitter lain.

Coba ganti kata “pemerintah”, “presiden”, dan “menteri” dengan kata “produsen”. Ganti pula kata “warga” dengan konsumen. Produsen tidak lagi bisa mendikte suara konsumen, baik di level global, regional maupun domestik!

Sebuah riset yang dilakukan Edelman tahun 2010 menunjukkan, merek-merek teknologi yang paling banyak diperbincangkan di social media Indonesia adalah Google, Indosat, Nokia, Intel, Telkomsel, AMD, Excelkomindo, Asus, Samsung dan Microsoft. Apakah mereka diperbincangkan secara positif semua. Tentu saja tidak. Coba search kata Indosat, Telkomsel dan Excelkomindo di Twitter, Facebook dan Kaskus, kita akan mendapat gambaran yang sesungguhnya. Pengguna layanan seluler yang kesal karena layanan buruk akan menumpahkan kekesalannya di media sosial. Sekali ditumpahkan, dan dibaca oleh pengguna lain yang juga kesal, akan memperkuat pesan kesal itu karena mereka akan menyebarluaskan pesan itu ke followernya atau temannya.

Semenakutkan itukah media sosial terutama Twitter, Facebook dan blog? Ya. Bagi yang tidak siap. Dan siap atau tidak, itu tergantung pemimpinnya.

Social Media memiliki sisi positif yang jauh lebih banyak ketimbang negatifnya. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh di luar negeri. Di dalam negeri saja bergelimpangan banyak contoh positif. JiFFest (Jakarta International Film Festival) misalnya. Ajang film Indonesia pertama terbesar di Asia Tenggara ini sempat terancam batal karena keterbatasan dana. Padahal JiFFEST membawa film-film berkualitas dari berbagai belahan dunia yang tidak mungkin diputar di bioskop umum sampai sekarang. Sampai 2009, Jiffest telah ditonton oleh lebih dari 350 ribu orang, dan telah memutar hampir 1500 judul film dari 40 negara. JiFFest memperkaya khasanah penonton dengan keragaman gagasan dan budaya dari penjuru dunia. Sayang jika hanya karena masalah dana, JiFFEST bubar tahun ini. Maka dibuatlah gerakan SAVEJiFFEST yang disebarluaskan melalui Twitter dan Facebook. Gerakan masif ini memang tidak menghasilkan banyak dana sumbangan individual. Dalam sebulan “hanya” mengantungi Rp 210 juta, dari Rp 1,5 Miliar yang dibutuhkan. Namun panitia yang terharu dengan semangat gerakan itu memutuskan untuk tetap melaksanakan ajang itu awal Desember 2010, dan gerakan SAVEJiFFEST diperpanjang selamanya.

Contoh lain adalah gerakan sosial yang terbentuk secara otomatis via jejaring sosial untuk membantu korban letusan gunung Merapi, tsunami di Mentawai dan longsor di Wasior. Tanpa komando, banyak yang insisiatif sendiri, mengumpulkan dan menyalurkan dana ke tiga wilayah itu. Gerakan untuk korban Merapi kelihatan menonjol dibanding  Mentawai dan Wasior karena masyarakat lebih mudah menyumbang dan mengirimkan bantuan langsung.

Lebih dari itu, sosial media dimanfaatkan untuk menyebarkan berita perkembangan situasi lapangan, menjadi tempat berbagi informasi cepat antar pengguna media sosial (terutama Twitter). Yang tak kalah pentingnya, social media membangkitkan empati untuk para korban melalui penyebaran emosi.

Amerika Serikat sendiri, yang kini terpojok oleh ulah Wikileaks, sebenarnya menikmati efek positif media sosial terlebih dulu. Di Amerika Serikat, jejaring sosial lewat Internet berperan besar terhadap terpilihnya Obama, warga kulit hitam, sebagai presiden Amerika Serikat. Di negara lain, yakni Iran, Twitter menjadi pemasok informasi ke luar negeri tatkala pemerintah memblokir seluruh akses informasi di saat pemilu. Pemerintah mencoba meredam informasi kekerasan pemilu. Namun akhirnya bocor via Twitter meski akses Internet pun diblokir. Banyak yang menyebut saat itu sebagai Revolusi Twitter Iran.

Di luar negara, para seleb pun melakukan gerakan media sosial yang hebat. Dimotori Alicia dan didukung Keys, Ryan Seacrest, Kim Kardashian, Lady Gaga, Serena Williams, Justin Timberlake serta Elijah Wood, para seleb tersebut “mematikan” akun Twitter dan Facebooknya sampai terkumpul US$ 1 juta untuk disumbangkan ke korban AIDS. Melalui program “Keep a Child Alive” mereka benar-benar membisu, tidak akan update apapun, tidak akan merespon apapun di akun Twitter dan Facebook sampai target pengumpulan dananya tercapai.Dan semua itu kuncinya ada di individu. Bukan di korporat. Bukan di pemerintah.

Ini perubahan luar biasa bagi para pemimpin. Dulu, segalanya berpusat di lembaga, perusahaan, pemerintah. Dan di lembaga selalu ada segelintir orang yang disebut pemimpin, yang menentukan warna dan arah kebijakan. Masyarakat dan konsumen hanya menerima

Dengan budget yang luar biasa besar, “pusat” pemerintahan, lembaga dan perusahaan dapat menyetir suara konsumen. Sudah bukan rahasia lagi, eksekutif dan legislatif, dengan budgetnya yang amat besar, seringkali bertindak di luar keinginan rakyatnya. Demikian pula perusahaan, dengan budget pemasarannya yang banyak, mampu mengarahkan suara konsumennya karena keterbatasan media bagi konsumen.

Maka, di era sebelum Internet, terutama sebelum social media, yang terkenal adalah pendekatan mass marketing, yang menganggap semua orang itu sama, dan hanya dipilah-pilah berdasarkan segmentasi jenis kelamin, daya beli dan lokasi. Jika kita membaca koran Kompas, semua pembaca (tidak peduli pria/wanita, miskin/kaya, juragan/ekskutif/karyawan) melihat iklan yang sama, pesan yang sama. Demikian pula ketika kita membaca portal Detik.com. Pengalaman yang sama kita rasakan ketika melintas di Jalan Sudirman atau jalan-jalan besar Jakarta yang dipenuhi billboard. Kita melihat pesan yang sama, tak peduli kita siapa.

Itulah mass marketing. Semuanya ditembak dengan pesan sama.

Ciri lain mass marketing adalah, iklan itu bicara sendiri, tak mengindahkan suara konsumen. Iklan itu suara perusahaan. Suara merek. Jika ada iklan yang berbicara konsumennya, itu testimonial. Itu pun yang mendukung suara perusahaan/merek.

Di era media sosial, ikan seperti ini sudah kian diabaikan. Perannya terhadap konsumen semakin tipis. Hasil riset Michael Hulme of the Institute for Advanced Studies di Lancaster University menunjukkan, 95% responden tidak percaya iklan. Separoh lebih responden percaya bahwa perusahaan hanya mau menjual produk ke konsumen, dan tak peduli apakah produk itu tepat buat mereka.

Sebaliknya, justru kepercayaan konsumen kepada sesama konsumen, terutama teman di jejaring sosial, kian meningkat. Riset yang dilakukan AC Nielsen 2009 menunjukkan, rekomendasi teman dan kerabat masih menduduki posisi tertinggi sebagai sumber terpercaya. Yang menarik di posisi kedua adalah: opini konsumen yang ditulis di online. Inilah yang muncul di blog, Twitter dan Facebook dan jejaring sosial lain. Peer recommendation kuncinya.

Nah, dengan perubahan yang luar biasa ini, pemimpin yang biasa melakukan mass marketing, memandang semua konsumen itu sama, hanya beda segmentasi, akan tergusur. Saat ini dibutuhkan pemimpin yang mendengarkan suara konsumen secara langsung. Bukan hanya mendengarkan suara biro iklan, konsultan PR dan sejenisnya. Dan suara konsumen itu bergeletakan, telanjang, di social media. Konsumen itu bicara apa saja mengenai produk yang mereka konsumsi di social media. Tinggal merekamnya, membacanya, menghayatinya, dan kemudian bertindak berdasarkan customer insight tersebut.

Pemimpin yang seperti itu akan mengantarkan perusahaan ke level yang lebih tinggi. Contoh legendaris adalah Dell Corporation, yang berhasil mengumpulkan 1,5 juta lebih konsumennya di Twitter dan menghasilkan sales sampai US$ 6 juta hanya dari Twitter.

Sayang, saat ini banyak pemimpin perusahaan, lembaga, dan pemerintah yang jauh dari media social. Masih banyak yang berparadigma mass marketing. Jika tidak segera berubah, mereka akan terlindas zaman.

Note:

tulisan saya ini dimuat di majalah Forum Manajemen Prasetya Mulya Vol XXV no 01, terbit Januari-Februari 2011

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Inspirasi, Manajemen Personal"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Sunday, 30 Jan 2011 02:34

Tak sengaja saya menemukan kolom yang saya tulis di majalah SWA tujuh tahun lalu, edisi 10/XX/13-26 Mei 2004. Saat itu sekitar setahun setelah saya pindah kuadran dari eksekutif Detik.com, membangun usaha sendiri, Virtual Consulting. Saat itu memang banyak eksekutif puncak yang meninggalkan posisi nyamannya untuk memasuki lahan baru yang berisiko.

Tulisan itu saya baca ulang. Dan sepertinya masih layak dibaca saat ini. Saya bagi di blog ini, siapa tahu bermanfaat untuk yang ingin menjadi pengusaha.

menjadi wirausaha, siapa takut?

“Pertaruhan terbesar dalam hidup adalah ketika saya memutuskan menjadi wirausahawan?” Itulah sebaris kalimat yang berkecamuk di benak seorang eksekutif perusahaan ketika memutuskan pindah kuadran menjadi wirausahawan (entrepreneur).

Berlebihan? Tidak. Bertahun-tahun membangun karier di jalur profesional, merintis dari posisi terendah hingga mampu menembus level direksi, membuat sebagian besar kita merasakan nyamannya posisi ini sehingga enggan melepaskannya. Gaji dan tunjangan yang berkecukupan. Jaringan bisnis yang terbangun lumayan luas. Nama besar yang mengikuti jabatan di perusahaan terpandang.

Siapa yang mau kehilangan sederetan kenikmatan langka itu untuk memasuki dunia baru yang penuh tantangan? Dunia yang penuh risiko — bisa meludeskan modal yang kita tabung bertahun-tahun dan memudarkan nama kita yang sebelumnya lumayan terpandang.

Johannes Kotjo dan Judiono Tosin, misalnya, amat mengilat karier dan namanya sebagai eksekutif puncak Grup Salim pada tahun 1980-an. Ketika keluar dari konglomerasi terbesar Indonesia yang masih dikomandoi Om Liem saat itu danmembangun bisnis sendiri, mereka sempat menjadi ikon eksekutif yang berani pindah kuadran. Namun, tak berapa lama nama dan bisnis mereka pudar.

Meski demikian, dunia kewirausahaan sepertinya tak mengenal trauma. Ada saja eksekutif yang berani terjun ke dunia usaha. Ira Koesno, presenter kondang SCTV, seperti ditulis dalam Sajian Utama SWA, berani melangkah ke dunia itu. Begitu pula kawula muda lain yang sebelumnya memiliki posisi lumayan bagus di perusahaan tempat mereka bekerja sebelumnya. Saya sendiri setelah berolah pikir cukup lama akhirnya berani meninggalkan posisi direktur di Agrakom dan Detikcom — portal nomor wahid yang menjadi fenomena bisnis Internet di Indonesia karena mampu menjadi yang terbesar, baik dari sisi pengakses maupun iklan yang berhasil didulang di dunia maya.

Langkah para eksekutif muda (umur 30-40 tahun) memasuki dunia wirausaha saya lihat sebagai langkah unik jika melihat tingkat retensinya. Bagi mereka yang sejak lahir sudah tercetak menjadi wirausahawan karena keturunan, seperti para pedagang, serta pebisnis warung Tegal dan Padang, dunia usaha bukanlah hal yang aneh. Biasanya mereka menerjuni bisnis ini sejak kecil dengan membantu orang tua atau kerabatnya. Di kemudian hari mengambil alih atau mengembangkan bisnis serupa di tempat lain. Tipe ini nyaris tidak memerlukan pendidikan tinggi dan tidak memiliki retensi untuk menjadi wirausahawan.

Agak berbeda kasusnya dengan mereka yang mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi. Kebanyakan dari lulusan universitas cenderung menjadi eksekutif perusahaan. Hanya segelintir yang berani langsung membuka usaha sendiri begitu selesai wisuda.

Orang yang terbiasa menjadi eksekutif biasanya memiliki retensi besar untuk membangun usaha mandiri. Mereka yang sukses di jalur ini kebanyakan setia pada jalurnya. Jadi, kalau memang ada segelintir yang berani pindah jalur, ini layak dicatat.

Mereka yang pindah kuadran ini di atas kertas sebenarnya memiliki peluang sukses cukup besar. Alasan utamanya, mereka yang pernah mencicipi posisi eksekutif puncak pasti sudah terlatih jiwa kewirausahaannya di dalam perusahaan (intrapreneurship).

Pekerjaan manajerial memang tergolong penghindar dan penekan risiko (risk aversive and risk minimalist). Namun, semakin tinggi posisi manajerial seseorang, semakin pekat pekerjaan yang berbau wirausaha, yang bersifat menentang risiko (risk taker). Tanggung jawab manajemen puncak untuk membuka pasar baru, membuat produk baru, membuka unit bisnis baru, serta meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan adalah tanggung jawab yang pekat dengan jiwa kewirausahaan. Artinya, jiwa kewirausahaan mereka sudah terasah.

Alasan lain, nama mereka sudah cukup terpandang dan jaringan bisnisnya sudah lumayan luas sesuai dengan kehebatan perusahaan yang dikelolanya. Ini bisa menjadi modal awal yang sangat bagus untuk membangun bisnis baru.

Namun, yang indah di atas kertas memang lain dari di dunia nyata. Dengan wadah usaha baru, jalan untuk menembus proyek dan mendapatkan revenue jadi semakin berat. Memangnya mudah kita mengikuti tender betulan dengan perusahaan seumur jagung yang minim portofolio bisnis? Pengalaman profesional yang jika ditulis bisa berlembar-lembar ternyata tidak bisa begitu saja ditransfer dalam bisnis baru. Wirausahawan baru pun, dalam hal modal, memiliki banyak keterbatasan. Apalagi, perusahaan baru yang dirintis wirausahawan baru biasanya tidak/kurang bankable.

Apa boleh buat, wirausahawan yang baru pindah kuadran akan pusing tujuh keliling ketika cash flow perusahaan kacau-balau. Hal ini kurang dirasakan ketika bekerja sebagai eksekutif karena berbagai resource — termasuk keuangan — disediakan pemilik perusahaan. Itulah tantangan dunia usaha. Seorang wirausahawan bukan hanya pintar memanfaatkan peluang, tetapi juga dituntut untuk piawai memanfaatkan berbagai resource, termasuk keuangan, sumber daya manusia dan teknologi, setelah berhasil menangkap peluang.

Eksekutif yang pindah kuadran menjadi wirausahawan sama saja dengan ikan yang pindah kolam. Ia akan mabuk sesaat. Ia membutuhkan waktu untuk adaptasi. Sebagian akan mati. Saya sendiri sudah menyaksikan beberapa rekan yang pindah kuadran dengan optimisme tinggi, tapi setahun kemudian ambruk. Namun, yang lolos seleksi berpotensi menjadi wirausahawan yang tangguh. Rekan saya, misalnya, kini menjadi wirausahawan yang memiliki tower seluler begitu banyak di Indonesia. Seorang rekan lain mampu membuat usaha ekspor mebel dan mengelola 600-an karyawan.

Mereka yang lolos seleksi dan tumbuh sehat akan mendapatkan pemandangan yang jauh lebih indah. Persis seperti anak-anak kura-kura yang baru menetas di pinggir pantai dan berebut masuk ke laut. Ada yang mati dimakan binatang lain atau manusia. Namun, yang berhasil masuk ke laut akan tumbuh dan berkelana, menyaksikan indahnya lautan luas, warna-warni terumbu karang, indahnya tarian beraneka ragam ikan, dan kemudian beranak-pinak. Itulah indahnya jika sukses di dunia usaha. Patut disyukuri jika banyak kawula muda yang berani pindah kuadran menjadi wirausahawan.

Menjadi wirausaha, siapa takut?

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Entrepreneurship, Inspirasi"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 30 Oct 2010 09:38

Sudah banyak keluhan, betapa social media seperti Facebook, Twitter, Koprol dan Foursquare dengan segala alatnya seperti Blackberry, iPhone, serta telpon genggam cerdas lainnya, meresahkan keluarga. Mereka yang asik bermedia sosial, seperti tak bisa lepas dari telpon genggam cerdasnya, di mana pun update status, tak peduli mereka sedang bersama keluarga, di kantor, atau bahkan di tengah acara bisnis penting. Media sosial mendekatkan yang jauh, tapi sekaligus menjauhkan yang dekat. Saya bahkan pernah disindir anak: Istri ayah Blackberry ya?.

Sahabat saya, Ronny Yuzirman, pendiri Tangan Di Atas, bahkan bersyukur ketika Blackberrynya hilang. “Pada tingkat tertentu, BB itu bisa menjadi pengganggu konsentrasi kita karena selalu menginterupsi perhatian kita,” katanya, mencoba mengambil hikmah kehihalangan BB-nya. Terus terang, sejak memakai BB, jumlah buku yang ia baca menurun drastis. “Waktu 1-2 jam per hari bisa melayang untuk perangkat segengggaman tangan ini,” ujarnya.

Fakta-fakta itu tidak dapat dipungkiri.

Itu sebabnya, banyak yang bilang, social media membuat penggunanya kian kurang sosial. Hidupnya lebih banyak dengan gadget dan berkomunikasi dengan teman-temannya di jejaring sosial. Pengguna media sosial itu nirsosial. Bahkan ada yang sampai mengatakan, pengguna sosial itu bentuk baru autisme (saya tidak setuju dengan istilah autis ini karena menyinggung para penderita autis).

Namun, hasil riset menunjukkan sebaliknya. Pengguna jejaring sosial bukannya semakin nirsosial, justru semakin sosial, semakin banyak temannya dan semakin bagus hubungan pertemannya.

getconnected1

Riset yang dilakukan Harris Interactive menujukkan, bahwa 59% pengguna jejaring sosial merasa kian terhubung dengan teman-temannya dibanding sebelum mereka menggunakan jejaring sosial. Ini mudah dipahami. Dengan Facebook misalnya, saya terhubung lagi dengan teman-teman SD, SMP, SMA dan kuliah, yang secara langsung tidak mungkin saya temui sekarang karena masalah jarak dan waktu.

harris-socnet-life-relationships-oct-2010

Bukan hanya soal keterhubungan yang dirasakan. Lebih dari itu, jejaring sosial itu membuat teman-teman baru kita bertambah dan kita kian berani melakukan kontak langsung.

Riset lain yang dilakukan ExactTarget dan CoTweet bahkan menunjukkan, pernyataan pengguna sosial cenderung nirsosial itu hanyalah mitos. Pengguna sosial media yang aktif di Facebook dan Twitter justru kemudian sering berinteraksi dengan teman-temannya di dunia nyata! Dengan meneliti banyak fanpage merek-merek yang bertebaran di Facebook, 27% konsumen merek tersebut akhirnya berkenalan dan jumpa darat alias kopdar. Ini artinya, teman baru di online, menjadi teman sesungguhnya di dunia nyata.

Bagaimana dengan pertemanan di Twitter? Mereka yang rajin twitteran ternyata juga akan kopdar.  Riset menunjukkan, 46% pengguna Twitter aktif akhirnya saling jumpa darat, dan 33% paling tidak pernah saling kontak via telpon.

Kini jelas sudah. Pengguna media sosial tidaklah nirsosial. Malah sebaliknya: kian sosial.

Persoalannya tinggal bagaimana menyelaraskan antara kecenderungan kian sosial ini kecenderungan multitasking (ngetweet saat bersama keluarga, pertemuan bisnis dan lainnya)?

Ini tergantung kedewasaaan kita mengelola hal ini.

Buat saya, media sosial beserta gadgetnya itu tidak layak dihindari. Persis seperti media-media lain (teve, koran, radio) dan telpon genggam. Semuanya bermanfaat. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan hal-hal baru (telpon genggam cerdas dan jejaring sosial) untuk peningkatan taraf hidup kita.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Life Style"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 20 Oct 2010 07:40

Saya diwawancarai majalah TARBAWI dan terbit pada edisi 237 Th. 12, 21 Oktober 2010. Di bawah ini artikelnya di rubrik TATAP MUKA.

socmed

Melalui Internet, gerbang dunia maya terbuka lebar. Memasuki budaya online terasa semakin niscaya. Dukungan tekhnologi dan konten semakin memikat orang untuk masuk ke alam virtual ini. Ditambah akses yang kian murah, kini hampir semua kalangan bisa berinternet ria. Lihatlah pengguna jejaring sosial di negeri ini, pertumbuhannya sungguh mencengangkan. Puluhan juta orang indonesia memiliki akun Facebook, sehingga mencatatkan Indonesia dalam 10 negara pengguna terbesar media sosial ini. Sebagai produk tekhnologi, Internet pastilah datang dengan dua wajah: positif sekaligus negatif. Dalam orientasi berinternet yang positif, menjadi tantangan kita semua untuk bisa memanfaatkan gaya hidup online secara sehat dan produktif. Bagaimana caranya? Berikut perbincangan Tarbawi dengan Nukman Luthfie, salah seorang tokoh terdepan dalam strategi pemanfaatan Internet di negeri ini.

Puluhan juta orang Indonesia kini terhubung melalui Internet. Apa makna sosial dari fakta ini?

Internet telah menjadi media sosial raksasa. Perhatikan angka-angka ini. Pengguna Facebook di Indonesia sekarang ini 26,8 juta orang, pengguna Twitter sekitar 8 jutaan, sedangkan pengguna Internet di Indonesia sekitar 45 juta orang. Kalau mereka ikut FB, artinya mereka sudah terjaring dengan jejaring sosial. FB itu sebenernya diperuntukkan agar kita bisa bersilaturahmi secara virtual dengan orang-orang yang dulu pernah kenal kita, bukan dengan orang-orang baru. Makanya, yang menjadi teman kita biasanya teman SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, atau teman kerja. Sejak lahirnya, FB memang digunakan mahasiswa untuk berhubungan dengan sesama mahasiswa atau dengan teman-teman sekolah sebelumnya.

Kenapa semestinya digunakan untuk yang sudah saling kenal?

Dari segi fungsinya, FB seolah-olah memindahkan kegiatan sosial kita, dari offline ke online. Kita bisa bikin meeting di situ, kita bisa sharing cerita, kita bisa memindahkan gambar, kita bisa chatting dan lain-lain. Kita bisa begitu, hanya kepada orang-orang yang kita anggap dekat. Setelah lulus SD, SMP, SMA, kita punya jalan masing-masing. Beda kota, beda kerja, beda profesi, dan macam-macam.  Akibatnya, pertemuan sulit dilakukan secara langsung. Nah, FB itu menjembatani tali silaturahmi yang terputus karena jarak dan waktu. Sebetulnya FB itu sangat positif, karena dengannya kita tetap bisa tersambung, bersilaturahmi, dengan lingkungan yang terbatas. Berteman dengan orang baru di FB, dalam banyak kasus, terbukti merugikan. Maka saran saya, jika belum pernah bertemu darat, janganlah menerimanya sebagai teman di FB.

Bagaimana dengan jejaring sosial yang lain?

Di twitter, sama juga. Twitter bukan jejaring sosial, tapi jejaring informasi. Kita bisa mendapatkan informasi yang berkualitas dari orang-orang top. Kita tinggal follow mereka saja. Kalau saya, memilih orang yang saya anggap punya referensi bagus, punya ilmu di Twitter, sehingga secara otomatis ilmu pengetahuan saya ikut naik. Membaca apa yang mereka sampaikan, secara mental juga jauh lebih baik, karena mereka sering berbagi wisdom, baik wisdom mengenai pendapat, agama, bisnis maupun yang lain-lain. Saya bisa menyerap semua itu dari orang-orang yang saya anggap hebat.

Jadi, mestinya kehaditan jejaring social itu paralel dengan kualitas hidup kita?

Kehadiran FB atau Twitter, di atas kertas, seharusnya memperbaiki, yang pertama, kualitas silaturahmi dengan orang-orang yang terputus oleh jarak dan waktu. Kedua, meningkatkan ilmu bagi orang-orang yang berniat belajar di media sosial. Ketiga, meningkatkan emosional intelegensinya. Dengan mengikuti orang-orang yang punya wisdom tinggi, sehingga kita dimungkinkan untuk berbuat yang lebih baik. Jadi sebetulnya sangat positif. Bahwa kemudian ada yang menggunakan untuk hal yang negatif, itulah kehidupan kita, selalu ada yang positif dan negatif. Artinya yang salah sebenarnya bukan medianya, tetapi kita. Tergantung orangnya. Ibarat pisau saja, pada awalnya adalah netral.

Apakah memasuki dunia online, memang niscaya bagi kita semua?

Begini, ketika radio datang, pada akhirnya orang menggunakan radio, meskipun awalnya ada yang meragukan. Koran datang, kita juga tidak semuanya baca koran, tapi akhirnya banyak yang membaca. Ketika TV datang, akhirnya semua juga nonton. Ketika handphone datang, banyak yang nggak bisa menggunakan, tapi akhirnya semua menggunakan. Sama juga ketika social media muncul, tidak semua menikmati, tapi lama-kelamaan semua menikmati. Itu sebuah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Sebuah perkembangan perilaku yang kita nggak bisa hindari. Ya sudah, itu hukum alam. Sesuatu yang datang dengan memberikan benefit pasti kita terima. Ya kan?

Jadi, bagaimanapun, manfaat dunia online tetap lebih besar?

Medium itu netral, sebagaimana pisau itu. Benefitnya mau banyak atau sedikit, itu tergantung kita. Pisau itu bentuknya macam-macam dengan fungsi yang beragam. Dengan kecerdasan, kita bisa mau pakai seperti apa. Praktiknya, dalam pengamatan saya, Internet tetap lebih besar sisi positifnya. Misalnya, banyak yang dapat jodoh dari online. Banyak yang bias bersilaturahmi lagi lewat online. Yang tadinya putus hubungan nyambung lagi. Media memang suka mengangkat kasus-kasus seperti kejadian gadis yang dibawa lari orang, tapi yang positif tidak banyak yang diangkat.

Dalam konteks bisnis, apa yang bisa dimanfaatkan dari media social itu?

Semakin paham kita menggunakan FB, semakin banyak dampak positifnya. Semakin sering kita berlatih menggunakan pisau, semakin ahli kita menggunakannya, dan semakin hebat pula dampak positifnya. Pisau di tangan pendekar akan jauh berbeda hasilnya dengan pisau di tangan amatir. Seorang eksportir mebel asal Jepara misalnya, menyediakan rumah besarnya secara cuma-cuma sebagai kantor “Facebook Jepara”, sebagai tempat belajar bagi para pengusaha Jepara agar bias meningkatkan ekspor mebel via online, sekaligus memanfaatkannya sebagai forum untuk mendidik anggotanya untuk meningkatkan bisnis mereka. Dari kantor inilah lahir banyak pengusaha mebel online yang menembus pasar Eropa dan belahan dunia lain, penyumbang devisa yang cukup besar ke negeri ini. Para produsen, terutama kerajinan tangan seperti batik, tas, sepatu, baik terbuat dari kulit maupun non-kulit, banyak yang memanfaatkannya untuk menjual produknya. FB digunakan sebagai kanal baru penjualan. Ada yang mengaku bisa membeli mobil  baru hanya menjual batik via FB. Bahkan seorang produsen herbal bisa meraih omset sangat tinggi di jejaring sosial ini.

Tapi, dari kasus-kasus kriminal karena online itu, pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Salah satunya, masalah timbul karena kita sering melanggar peraturan. Seperti FB, kan sebenarnya bukan untuk anak-anak dibawah 13 tahun, tetapi kita mengabaikannya. FB menyediakan data yang melimpahbagi orang yang berniat tidak baik. Selain itu, juga dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk berinteraksi,mulai dari email, berbagai foto, bahkan hingga chat. Perpaduan kelimpahan data dan fasilitas interaktif itu sangat mempermudah orang menjalin hubungan dengan orang lain. Termasuk dengan orang asing sekalipun. Anak-anak yang masih polos, akan mudah tertipu oleh kalimat-kalimat manis. Anak-anak yang biasanya tanpa perasangka buruk, lebih mudah terjebak untuk berkomunikasi dan menjalin keakraban jika terus menerus diajak komunikasi dengan berbagai fasilitas di FB. Tidak mengherankan jika para penggemar sex dengan anak-anak di Amerika Serikat mencari korban melalui jejaringan sosial ini. Bagi orang tua, lebih baik menghindarkan anak-anaknya yang belum berumur 13 tahun dari FB dan jejaring sosial sejenis. Memang banyak game-game menarik di FB yang bisa menggoda anak-anak, namun tetap saja hindari. Masih banyak game lain yang menarik tanpa harus jadi anggota FB. Bahkan untuk remaja pun, perlu mendapat perhatian. Orang tua harus tahu. Bertemanlah dengan mereka di FB dan jejaring sosial lain. Kenali teman-temannya, jadi sahabatnya di dunia maya, sehingga orang tua mengenal betul dengan siapa anaknya berteman di jagad maya ini.

Secara makro ekonomi, apakah pertambahan akses itu juga berdampak signifikan?

Banyak negara menunjukan bahwa pertumbuhan pengguna Internet akan aktivitas digital itu akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Banyak yang sudah membuktikan. Apakah Indonesia akan seperti itu, secara angka belum ada datanya. Tapi kalau berkaca pada negara-negara lain, sudah pasti seperti itu, misalnya Singapura dan Malaysia. Coba perhatikan Singapura, yang sudah online itu sekita hampir 90% dari total penduduknya. Di Malaysia, angkanya juga lebih tinggi dari kita. Meskipun di Indonesia ada pengguna internet 45 juta orang, itu kan baru sekitar 15 persen. Jadi, belum secara keseluruhan berpengaruh pada negara. Tapi nanti kalau sudah 90 persen, pasti berpengaruh. Sekarang baru 15 persen saja sudah lahir enterpreneur-enterpreuner baru berbasis online yang membuka lapangan kerja.

Jadi, pemerintah mestinya memberikan perhatian khusus pada peningkatan akses itu?

Di atas kertas, kenaikan akses otomatis harus menaikan taraf ekonomi. Makanya negara punya tugas mulia untuk memperbaiki infrastruktur, selanjutnya membuka peluang sebanyak mungkin orang Indonesia belajar di luar Internet dengan ilmu barunya,  dan ketiga, memperkaya konten di Internet sehingga mempermudah orang Indonesia menggunakannya. Itu kalau kita mau makmur, kalau ingin kehadiran Internet berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi.

Secara riil, sejauh ini, belum banyak yang dilakukan pemerintah?

Sudah, hanya pemerintahkan punya keterbatasan. Tapi kalau swasta jalan, pengusaha Internet tumbuh terus, pengguna Internet tumbuh terus, koneksi Internet juga macam-macam, mulai dari akses yang lewat rumah, lewat kantor, mobile bertebaran dimana-mana, juga akan menjadi solusi. Sekarang nuansa itu mulai terasa dimana-mana. Kalau kita jalan ke mall, café, sudah dipasang Wifi. Di Solo sebagai misal, di Jalan Slamet Riyadi, Wifi sudah dipasang sama Telkom. Akses Internet sudah banyak di mana- mana. Memang, percepatan akses menjadi suatu tantangan, tapi kita lihat pemerintah juga berusaha menurunkan harga akses. Makin hari akses makin murah.

Tapi budaya online dianggap berpengaruh negatif terhadap cara berpikir kita. Menurut anda?

Ya, memang banyak tesis seperti itu. Gara-gara Internet kemudian generasi Internet jadi kurang fokus terhadap hal tertentu, kemudian jadi multitasking, seperti nonton TV, sekaligus belajar, Internetan. Jadi nggak fokus. Memang itu menjadi kritikan utama. Sudah ada beberapa tesis mengenai itu, termasuk bahwa sebenarnya internet, misalnya Google, membuat otak kita jadi dangkal. Karena, kita cenderung enggan belajar secara mendalam. Orang cenderung cuek, gak mau masuk perpustakaan, gak mau membaca. Sekarang, setelah ada Internet, tren membaca buku, dalam arti buku beneran, sekian halaman, sudah memudar. Dia gak kuat lagi baca buku. Orang cenderung baca yang pendek-pendek, seperti baca Twitter. Karena gak kuat baca buku atau majalah. Yang didapat kemudian adalah kalimat yang pendek-pendek yang dangkal. Dia akan tahu kedalaman ilmu kalau dia baca buku.

Jadi, perlu semacam kearifan untuk menyikapinya?

Ya. Ini memang harusnya menjadi PR kita semua. Bagaimana cara mengatasinya, kalau sekarang kita lihat anak SMP, SMA, semakin malas baca buku. Baca koran aja nggak, mereka malah baca FB. Nah, ini memang terjadi pertarungan antara penganut yang setuju terhadap FB dengan yang tidak, karena ada juga yang mengatakan, “Ya gak apa-apa, karena otak manusia kan fleksibel, dia kan berevolusi”. Lagi pula kenapa harus melahirkan Einstein sekarang? Kan ilmu pengetahuan sudah mengalami puncaknya. Kalau baca buku ‘The End of Science’, kelihatannya tidak akan lagi ada penemuan yang baru, yang hebat mengenai fisika. Sudah mentok ilmunya, sebab sekarang yang berkembang adalah ilmu terapan. Tapi intinya adalah harus disadari dengan Internet orang makin dangkal. Nah, sekarang tugas orang tua, bagaimana supaya anaknya tidak ketinggalan terhadap tren berinternet, tapi masih punya kemampuan untuk mendalami apa yang sudah menjadi kebiasaan baik, misalnya tradisi membaca itu.

Kalau Anda sendiri, bagaimana cara Anda menghadapinya?

Saya juga belajar melalui multitasking di Internet, tapi saya harus punya satu senjata yang menjadi andalan untuk menjalani kehidupan. Mendalami sesuatu secara khusus dari buku tak bisa ditinggalkan. Jadi, kalau kembali ke kasus anak-anak tadi, tidak perlu dilarang atau dikurangi akses Internetnya, tapi tumbuhkan tradisi dialog dengan mereka, misalnya mengenai plus minus Internet itu apa. Sehingga kita tetap bisa menuntun anak-anak, “ kamu boleh Internetan, tapi harus tetap baca buku.”

Internet kini menjadi ruang berbagi raksasa. Banyak yang membagikan pengetahuan secara gratis, termasuk anda juga. Tak khawatir akan merugikan?

Saat membagi pengetahuan, saya justru mendapat pelajaran dari pengusaha-pengusaha muda. Ternyata, dengan semakin banyak sharing, saya kan dituntut untuk belajar hal baru. Kalau saya sharing, berarti saya sudah menguasai, dan kalau saya kuasai berarti saya harus cari hal yang baru. Dengan sharing, saya dituntut untuk belajar hal baru dan selalu ada di depan. Sayang, di Indonesia ini gak banyak orang yang mau dan punya waktu untuk berbagi ke orang lain. Saya kebetulan punya waktu, ya sudah bagi saja. Kalau kemudian mereka jadi pesaing, ya gak apa-apa. Dalam sebuah forum saya pernah bercerita, betapa saya sangat pintar ketika dSMP namun agak bodoh ketika di Perguruan Tinggi. Karena, pada saat SMP saya memiliki teman yang selalu memaksa saya untuk mengajari mata pelajaran yang kurang ia pahami. Saya terpaksa belajar lebih banyak agar bisa menjelaskan dengan mudah dan cepat. Namun ketika masuk Perguruan Tinggi, semua teman lebih pintar dari saya. Akibatnya, saya tidak dipaksa untuk mengajari orang-orang lain. Hasilnya, Indeks Prestasi saya di bawah rata-rata. Artinya apa? Di saat kita memberi ilmu ke orang lain, tentu saja ilmu kita harus lebih tinggi dari ilmu orang yang meminta. Membagi ilmu memaksa kita untuk lebih pintar. Silahkan ganti kata ilmu itu dengan kata lain, misalnya harta.

Bagaimana ceritanya, kok Anda menjadi tertarik untuk menekuni dunia online ini?

Saya dulu kan juga wartawan, di dua bidang, yakni bidang ekonomi-bisnis dan juga ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Saya kuat di dua-duanya. Di tekhnologi gak ada masalah, begitupula di Ekonomi. Ketika Internet tumbuh, saya melihat, ini dunia yang sangat menarik. Kan Internet itu basic-nya ada tiga, satu mengenai ilmunya itu sendiri, kedua mengenai konten, dan ketiga mengenai komunikasi. Ketiganya menyenangkan. Sebagai orang dengan latar belakang tekhnologi yang pernah jadi wartawan, kemudian mengombinasi tekhnologi dan konten, itu kan menarik.

Oleh Edi Santoso, majalah TARBAWI Edisi 237 Th 12, 21 Oktober 2010. Rubrik Tatap Muka. Halaman 34-40

tarbawi

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Inspirasi, Life Style"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 13 Oct 2010 09:05

Rabu, 13 Oktober 2010, pagi tadi, lahir anak ketiga kami. Anak pertama, perempuan, Hanani Marha Luthfina, hadir di bumi 15 tahun lalu. Disusul sembilan tahun kemudian oleh Salsabila Salma Haniva. Perempuan juga. Enam tahun setelah Lala, panggilan sayang Salsabila, keluarga semakin lengkap dengan lahirnya seorang bayi mungil, lelaki, seberat 2,86 kg dan panjang 48 cm.

Sebulan sebelumnya saya dan istri sudah berusaha mencari nama yang baik untuk sang anak ketiga kelak. Akhirnya kami mendapat nama yang bagus dari paman kami, seorang kiai di Kendal. “Fannan,” kata sang paman. Artinya, orang yang berilmu. Ayah saya yang ikut mencari nama juga setuju dengan usulan itu. Saya dan istri pun langsung terkesima dengan nama Fannan.

Saya dan istri mencari pelengkap nama Fannan, agar menjadi dua kata. Setelah riset kesana kemari, kami sepakat dengan sebuan nama: Nayotama, bahasa Sanskerta, yang artinya bijaksana.

Jadilah Fannan Nayotama. Seorang anak lelaki yang berilmu dan bijaksana. Itu harapan saya dan istri sebagai orang tuanya.

Maka, di hari kelahirannya, kami belikan domain www.fannannayotama.com. Anak yang lahir di era digital perlu memiliki domain :)

Sebagai anak yag lahir di era 2.0, ia juga perlu akun Twitter. Saat ini akunnya: @fannanna. Kalau kurang suka, kelak ganti sendiri ya nak :) .

Selamat datang di semesta yang indah ini Fannan Nayotama. Terserah engkau menjadi apa kelak. Namun doa ayah dan ibu, apapun jalan hidupmu, jadilah yang berilmu tinggi dan bijaksana.

fannan

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Inspiring Person"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Monday, 06 Sep 2010 16:03

Pengemis itu kaya. Mungkin kalimat itu terasa aneh. Namun kalau membaca tulisan Kompas hari ini tentang mereka, tidak keliru kalimat itu. Talem dan Marta, disebutkan masing-masing dapat mengantongi Rp 50 ribu per hari alias Rp 1,5 juta per bulan hanya bermodal “baju dinas” robek sana sini dan tampang memelas. Padahal ketika berangkat dari Depok, Jawa Barat, mereka berpakaian normal, naik bus membayar penuh.

Di Jakarta, seorang pengemis sedikitnya bisa mendapat Rp 30 ribu, dan jika beruntung dapat Rp 280 ribu sehari. Artinya, penghasilan mereka, sedikitnya Rp 900 ribu, nyaris menyentuh UMR Jakarta. Tapi kalau beruntung bisa menangguk  Rp 8,4 juta sebulan!  Ini setara dengan gaji kantoran di ibukota.

Tak ada data berapa banyak pengemis di ibu kota, apalagi di negeri ini. Yang jelas, kita dengan mudah menemukannya di perempatan jalan, di keramaian, di rumah-rumah ibadah. Memasuki bulan Ramadhan, apalagi menjelang lebaran, ibukota dibanjiri pengemis. Kita dengan mudah menemukan peminta-minta di berbagai sudut jalan dan tempat-tempat ibadah, menyambut mereka yang sedang berusaha membersihkan hartanya melalui zakat dan sedekah.

Islam mengajarkan, sisihkan 2,5% harta kita untuk zakat bagi yang berhak, termasuk kaum miskin. Agama lain juga memiliki ajaran yang serupa. Semua agama mengajarkan agar umatnya mengasihi kaum miskin.

Dalam kondisi normal, tidak ada yang mau miskin dan menjadi pengemis. Namun, kisah yang diungkap Kompas ini menujukkan, sebagian pengemis menjadikan mengemis sebagai profesi yang menjanjikan. Cak To, dimuat di Jawa Pos, bahkan dengan bangga pamer bahwa penghasilannya Rp 6-9 juta sebulan, memiliki mobil CRV dan tanah seluas 400 m2 di Surabaya dari mengemis!

“Industri mengemis” inilah yang  antara lain melahirkan jasa sewa bayi. Tarifnya? Rp 30 ribu sehari! Kasihan bayi itu digantang di bawah sinar matahari, menyedot debu jalanan dan asap knalpot.

Pemda DKI Jakarta sampai mengeluarkan Pada Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum untuk mengatasi hal ini.  Pasal 40 huruf c disebutkan setiap orang atau badan dilarang memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil. Bagi yang melanggar pasal tersebut dikenai ancaman pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari atau denda paling sedikit Rp 100 ribu dan paling banyak Rp 20 juta.

Faktanya, Perda ini hanya jadi macan kertas, tak mampu melawan hasrat memberi kepada yang miskin, apalagi di bulan-bulan suci, di mana kebanyakan memang sedang mengobral zakat dan sedekah.

Bagaimana pun,  zakat dan sedekah itu hak kaum miskin. Kita harus menyisihkannya. Namun, pastikan zakat dan sedekah itu sampai kepada yang berhak. Bukan kepada para pengemis profesional, yang bisa saja sesungguhnya lebih kaya daripada si pemberi. Pengemis profesional yang berpenghasilan Rp 6-9 juta seharusnya malah wajib berzakat.

Gunakan akal sehat dan hati nurani untuk mengenali yang berhak mendapat zakat dan sedekah. Sulit memang, karena tampilan pengemis profesional dan orang yang terpaksa mengemis itu hampir sama.

Kita tetap berbagi dengan kaum miskin. Tapi jangan berbagi sehingga membuat mereka semakin senang menerima dan tak bisa memberi selamanya. Islam sendiri tidak mengajarkan umatnya untuk miskin dan menjadi peminta-minta. Tidak ada satu pun ayat yang mengajarkan seperti. Nabi Muhammad pun tak pernah mencontohkan menjadi miskin dan meminta-minta. Beliau adalah pedagang.

berbagi

Maka, seringkali saya tidak memberi uang kepada:

1. Pengemis anak-anak — semata karena tidak ingin membangun mental pengemis kepada mereka sejak kecil.
2. Pengemis yang memamerkan bayinya tapi tidak ada tanda-tanda ia seorang ibunya. Besar kemungkinan itu bayi sewaaan.
3. Pengemis yang memamerkan lukanya seolah-olah luka baru namun berbulan-bulan tidak sembuh dan ia mengemis di tempat yang sama. Besar kemungkinan itu bukan luka.
4. Pengemis yang merokok.

Intinya, pastikan zakat dan sedekah kepada kaum miskin yang berhak, agar jangan sampai jatuh ke tangan pengemis profesional.

Saya lebih menghargai kaum miskin yang tetap giat bekerja, apa saja, mulai dari menyemir sepatu, kuli, penarik becak, pemulung dan lainnya meski pendapatannya lebih kecil ketimbang pengemis profesional.

Mereka  memang tidak akan datang ke kita dan meminta, namun karena kemiskinannya mereka berhak mendapatkannya.

Kitalah yang seharusnya mendatangi mereka untuk berbagi.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Life Style"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Saturday, 04 Sep 2010 08:08

Kemarin, tepatnya Jumat, 3 September 2010, nama Stephen Hawking bertengger di posisi puncak trending topics di Twitter. Artinya, di media microblogging yang sedang ngetop itu, nama fisikawan kelas dunia itulah yang paling banyak diperbincangkan  oleh dengan 145 juta penggunanya di seluruh dunia. Penulis buku A Brief History of Time tentang penciptaan alam semesta itu akan merilis buku barunya: The Grand Design, yang isinya meralat buku sebelumnya. Di A Brief History of Time, Hawking masih menempatkan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Namun di The Grand Design, ia justru menyingkirkan peran Tuhan.

Di buku terbaru, Hawking menjawab pertanyaan yang belum terjawab di buku pertamanya: Mengapa alam semesta ada?  Mengapa kita eksis? Mengapa ada hukum-hukum alam dan seperti apa mereka? Apakah alam semesta perlu perancang dan pencipta? Ini ucapan lengkapnya untuk menjawab pertanyaan terakhir:

“Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from nothing. Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist. It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper and set the universe going”

hawking

Oleh koran The Times, kalimat itu ditafsirkan, dalam fisika modern,  ”Tuhan tidak berperan dalam penciptaan alam semesta” – “leaves no place for God in the creation of the universe”. Sedangkan The Guardians memaknai “Tuhan tidak menciptakan alam semesta” - “God did not create the universe”. Dua tafsir yang sangat berbeda. Tak ada yang tahu siapa yang benar sampai bukunya terbit. Saya juga penasaran, sehingga kemarin pre-order ke Amazon.com.

thegranddesignApapun tafsirnya, kalimat Hawking menghebohkan, seperti terbukti di Twitter menjadi trending topics teratas dalam beberapa jam. Tanpa membaca bukunya (saat ini belum terbit) hanya akan menjadi spekulasi. Saya perhatikan, kebanyakan justru kaum beragama yang gerah dengan pernyataan Hawking. Dan mereka cenderung membenturkannya dengan iman atau menyangkalnya, padahal belum membaca bukunya sama sekali.

Ini beberapa contohnya:

  • Sejauh ini tidak khawatir dengan pencapaian sains. Selain sikap sains yang mudah dikoreksi, hasil sekarang masih terlalu dini untuk berbenturan dengan keimanan.
  • God’s answer to Hawking: there is no need to invoke your theory to make people believe in Me. If you argue with spontaneous creation, I offer universal “hidayah”, guidance. Deal?
  • Itu orang memang bener2 atheis tulen pak.
  • Bukunya Brief History of Time jg musti dibaca hati-hati. Buku atheist tuh…waktu tdk berujung.
  • Gimana ya pak? Kondisi udah sepert itu kok masih saja ndak berpikir bahwa Allah itu ada, padahal profesor kan? apa profesor itu begitu kali ya?
  • Still In God We Trust!
  • So, who create this design?
  • Kalau semesta tercipta krn gravitasi, trus yg menciptakan gravitasi siapa?
  • Wuich, baca sedikit kutipannya saja saya sudah bayangkan kontroversinya…. semoga iman tetap di atas nalar dan naluri.
  • Ilmu itu penting, tapi tetap harus berpegang pada ajaran agama kan?

Masih banyak lagi komentar yang senada.

Ini cerminan bahwa masih ada sengketa antara ilmu pengetahuan dan agama  dalam pikiran manusia. Pemeluk agama yang basisnya iman, akan waspada jika ada temuan ilmiah yang berbeda dengan yang mereka imani, atau malah berusaha menyangkal sebelum memahaminya. Sebagian mencoba mencocok-cocokkan teks-teks kitab suci dengan ilmu pengetahuan dan bersorak gembira ketika cocok.

Menolak ilmu pengetahuan jika bertentangan dengan dogma. Bersuka ria jika ilmu pengetahuan cocok dengan dogma.

Sikap seperti itu bisa dimengerti karena yang namanya iman dalam agama itu tak dapat ditawar.

Namun, sikap itu dapat merugikan upaya meningkatkan taraf hidup manusia melalui pehamanan yang mendalam tentang alam semesta, tempat di mana kita hidup, yang sesunggunya bisa didapat melalui ilmu pengetahuan.

Sejak lahir, tanpa diminta, kita mendapatkan/diberi otak, akal budi, dengan segala kemampuannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan kita tahu, basis ilmu pengetahuan adalah keragu-raguan, mempertanyakan, yang 180 derajad berseberangan dengan basis iman.

Amat sayang jika modal ini kemudian selalu dibenturkan dengan doktrin-doktrin.

Tidak bisakah dua hal ini, iman dan ilmu pengetahuan, hidup damai dalam satu tubuh dan pikiran?

Tidak dapatkah kita meletakkan kedua hal itu, iman dan ilmu pengetahuan, dalam porsinya masing-masing?

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Life Style"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Wednesday, 01 Sep 2010 07:10

Sudah sering terima SMS yang isinya seperti ini: “Tolong isi pulsa mama Rp 100 ribu di nomor …..segera ya, mama sedang ada masalah?’ Saya sudah sering. Sepekan belakangan ini malah sehari dapat tiga kali. Sudah jelas, itu SMS  tipuan, karena ibu saya sudah meninggal dan seumur hidup beliau tidak pernah memanggil dirinya sendiri dengan mama. Teman-teman saya rupanya juga sering mendapat sms semacam itu. Nah, hari ini saya menerima yang lebih menyentuh emosi lagi. Sebuah surat yang ditulis tangan, sangat rapi, sampai ke meja saya.

Saya tidak akan mengetik ulang sepenuhnya di sini karena panjangnya dua halaman dan dilengkapi dengan fotokopi kliping. Tapi intinya dan urutannya seperti ini:

1. Ia (perempuan) mengaku berusia 16 tahun, kelas 3 SMA,  anak dari seorang teman saya. “Papa meninggal tahun lalu,” tulisnya.

2. Bapak, bolehkah (ia menulis namanya) minta bantuan bapak sebesar Rp 950 ribu untuk membayar kekurangan daftar ulang dan SPP bulan Agustus?

3. Mama sedang tidak punya uang, dan habis sakit demam berdarah

4. Ia meminta agar segera mentransfer bantuan ini seusai baac suratnya.

5. “Bapak, (ia menulis namanya) kan tidak punya rekening, jadi pinjam dulu rekening om (ia menulis namanya) di ..(ia sebutkan no rekening dan banknya).

6. Ia minta maaf tidak dapat memberikan alamat rumah karena belum memberi tahu mama soal meminta bantuan ini.

7. Ia mengaku tahu kantor saya, karena pernah diajak papanya ke kantor saya.

8. Ia menulis: “mohon maaf, bapak jangan marah, boleh tidak digenapi menjadi Rp 1 juta agar sisanya buat ongkos ke kantor bapak?”

surattipuan01

Selintas membaca surat itu saya langsung tersentuh. Namun setelah dua tiga kali membacanya saya merasa janggal.

1. Saya tidak memiliki teman dengan nama yang disebutkan, apalagi pernah datang ke kantor.

2.  Surat dikirim dari Jakarta juga, kalau memang kenal dan kebutuhan mendesak ia bisa datang ke kantor.

3. Ia tidak memberikan alamat rumah dan nomor telpon

4. Uang ditransfer ke rekening lain.

Saya menyimpulkan, itu surat tipuan, yang dengan sentuhan emosi (ayah meninggal, ibu sakit, harus segera membayar sekolah), secara tidak sadar membuat penerima surat tersentuh dan tanpa sadar mentranfer uang.

SMS mama minta pulsa sudah memakan banyak korban, yang tanpa sadar mengirim pulsa antara Rp 50-100 ribu. Diantara ribuan yang menerima SMS itu pasti ada saja yang jadi korbannya. Siapa yang tega menolak isi pulsa mamanya yang sedang bermasalah?

Nah, kini tipuan dengan sentuhan emosi itu meluas melalui surat dengan tulisan tangan.

Dengan fenomena ini, sebaiknya baca dulu informasi yang diterima, segenting apapun, dengan akal sehat, baru kemudian memberikan respon.

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Review"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Date: Thursday, 26 Aug 2010 03:34

Melihat kartun di bawah ini, saya langsung teringat dengan celetukan Lala (6 tahun) beberapa waktu lalu. “Istri ayah Blackberry ya?”

Saya hanya bisa tersenyum kecut mendapat teguran seperti itu. Tak bisa menjawab apapun. Yang ditanyakan Lala sungguh benar. Boleh dibilang, saya tidak bisa lepas dari mobile gadget.  Setiap saat mengecek dan mengupdate Twitter, Facebook, Koprol, Plurk. Membaca dan menjawab  email, baik itu urusan kantor maupun pribadi, lebih sering via smartphone  ketimbang laptop.

twitteraddict

Bangun tidur, yang dicari pertama kali adalah smartphone. Buang hajat, tenteng telpon cerdas juga dan berlama-lama di kamar kecil. Perjalanan menuju kantor tak bisa lepas dari alat komunikasi tersebut. Di kantor, fungsi telponnya saja saja yang saya pakai, fungsi bermedia-sosial diambil-alih oleh laptop. Celakanya, perjalanan pulang ke rumah, bahkan sampai di rumah, saya tidak bisa lepas dari alat satu ini.

Tanpa sadar, saya seperi memiliki anak baru di rumah. Celakanya, anak baru ini jauh lebih saya manjakan dibanding anak yang sesungguhnya. Celetukan Lala bahkan membuktikan bahwa saya lebih sayang Blackberry ketimbang istri.

Saya tahu, ini bukan hanya terjadi pada saya sendiri, tetapi juga banyak orang, yang menggunakan telpon cerdas (apapun jenisnya — iPhone, Blackberry, Nexia, Nokia dan lainnya) dipadukan dengan media sosial, entah Twitter, Facebook, maupun lainnya. Coba perhatikan di mal-mal, dengan mudah kita menemukan orang yang sambil jalan atau naik elevator pun masih beraktivitas dengan telpon cerdasnya.

Tak bisa disangkal, telpon cerdas plus media sosial memang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dalam beberapa kasus, ini bisa menimbulkan keretakan rumah tangga karena kurangnya perhatian terhadap pasangan, atau peluang munculnya teman dekat baru.

Gabungan telepon cerdas dengan media sosial menghadirkan banyak peluang baru untuk bersosialisasi dan berbisnis, yang dapat meningkatkan taraf hidup kita. Namun pada sisi lain, bisa menurunkan taraf hidup berkeluarga. Kemesraan berkomunikasi dengan anak-anak, terutama yang di bawah umur dan belum memegang telpon cerdas, sudah pasti tergerus. Demikian pula dengan pasangan hidup kita di rumah.

Akal sehat mengatakan, batasi penggunaan media sosial di rumah. Tumpahkan waktu keluarga sebesar-besarnya untuk keluarga.

Hmm.. mudah diucapkan.

Sangat menantang untuk dipraktekkan.

Ada gagasan lain teman?

Author: "Nukman Luthfie" Tags: "Life Style"
Comments Send by mail Print  Save  Delicious 
Next page
» You can also retrieve older items : Read
» © All content and copyrights belong to their respective authors.«
» © FeedShow - Online RSS Feeds Reader