» Publishers, Monetize your RSS feeds with FeedShow: More infos (Show/Hide Ads)
Ya. Gw memutuskan keluar dari comfort zone. Alasan resmi yang gw sampaikan adalah karena gw merasa comfort zone ini sudah seperti negeri Inggris :-) Gw merasa seperti Pangeran Charles, yang sampai nyaris punya cucu masih bergelar Prince of Wales. Jaman sudah berganti, istri sudah ganti, mantan istri sudah mangkat... tapi tetap saja posisinya nggak berubah. Bukan semata2 salah sang pangeran; dia hanya kurang beruntung. The right heir to the wrong throne? ;-)
Persinggahan pertama gw hanya berusia 7 bulan. Di bulan kelima, gw sudah mulai gerah dan ingin melanjutkan perjalanan. Beruntung, gw mendapatkan persinggahan baru. Kini, nyaris setahun sudah gw singgah di tempat ini.
Bahagiakah gw?
.
Well... to be honest, I still miss my comfort zone. It isn't easy. Wasn't. And will not be. Sebagian hati gw tertinggal di sana. Mungkin benar kata sebuah lagu dari musikal yang lain, Chess, yang mengatakan bahwa:
"... And you wonder will I leave herYa. Sejauh apa pun melangkah, berapa banyak pun perbatasan yang gw lintasi, gw tetap di sana. Gw nggak menyangkal: sebagian hati gw tertinggal di sana
But how?
I cross every border but I'm still there now"
Tetapi... menyesalkah gw?
Untuk pertanyaan ini, jawaban gw pasti: TIDAK. I am not. I was not. And I will never be. Hard as it is, I found this the BEST decision I've made. Dan kutipan Paulo Coelho dari buku terbarunya ini menggambarkan dengan tepat perasaan gw:
Bagian terbaik dari keputusan gw meninggalkan comfort zone bukan terletak pada ada yang gw dapat. Melainkan pada bagaimana gw menjadi.
For the first time in my life, I got a feedback that I've been too humble, lack of confidence, and doesn't have enough fighting spirit :-) Bukan feedback yang menyenangkan, eh? ;-) But for me, in a way, it is :-) Karena umpan balik ini menunjukkan bahwa gw bisa berubah. Mungkin berubahnya kebablasan... tapi tetap ini adalah perubahan ;-) Sesuatu yang tidak pernah gw bayangkan akan terjadi.
Orang bilang "Life begins at 40". I'm 40 now... and true, my [new] life has begun.
Mimpi gw belum berakhir. Masih banyak tempat yang akan gw singgahi dalam kehidupan ini. Setiap persinggahan akan menjadikan gw sesuatu. Setiap masa tidak akan gw sesali. Meski selalu ada bagian dari comfort zone yang gw rindukan. Bagaimanapun, seperti gaung Anthem: "My
------
Dedicated to a dear friend who will 'close her eyes and leap' tomorrow. To infinity and beyond, darl!
NB - Anthem yang ditautkan ke atas adalah yang bahasa Inggris. Tapi coba deh dengerin yang bahasa Welsh ini. Lebih nanceeeepp ;-)
Mari kita membicarakan bencana yang lain saja. Bencana yang dipenuhi pria2 ganteng bersuara bagus, atau setidaknya bersuara bagus, atau setidaknya ganteng doang ;-) Yup, mari kita bicara tentang "Les Misérables" - film adaptasi musikal West End of London yang sudah memenangkan 3 Golden Globe ini.
Gw termasuk khayalak umum perdana yang nonton film ini. Bukaaan, gw nggak diundang di acara sneak preview yang dihadiri oleh para selebriti itu. Pun bukan pemenang kuis apa pun yang dapat tiket gratis ;-) Gw bisa nonton film ini di tengah malam sebelum filmnya ditayangkan reguler, 12 Januari 2013, karena selama beberapa hari gw nongkrongin situsnya Blitz dan 21Cineplex untuk tahu tanggal tayang pastinya ;-) Yes, that's the price I paid for the chance to watch Les Mis ;-).
Dan... bagaimanakah kesan2 gw setelah menontonnya?
Well, setelah nonton 2x (yang kedua kemarin siang ;-)), beginilah tiga pendapat utama gw:
1. Jangan nonton filmnya dengan tolok ukur teater musikal West End atau konsernya.
Meskipun film ini benar2 adaptasi dari versi teater musikal West End, dan diperankan oleh banyak pekerja teater West End, film ini berbeda. For once, singing voice pemeran2 di film ini tidak sebaik pekerja teater ini. Hugh Jackman bermain bagus, aktingnya sebagai Jean Valjean sangat menyentuh. Tapi... meskipun memiliki latar belakang penyanyi musikal, dia jelas several leagues below Colm Wilkinson di masa muda (the first Valjean I watched :-)), John Owen-Jones (oh, that divine voice of his :-)), ataupun Alfie Boe (eargasm voice!). Sungguh, meskipun gw sangat menikmati akting Hugh Jackman, tak urung gw merindukan salah satu dari Valjean Quartet di lagu "Bring Him Home". Lagu ini, ketika dibawakan oleh keempat pemeran Jean Valjean, benar2 bikin gw multiple eargasm! Sementara, ketika dinyanyikan Hugh Jackman, membuat gw khawatir pita suaranya putus. He's so strained here!
Kalaupun kita mau membandingkan suara dengan konser 25 tahunnya, maka satu2nya yang menang adalah Eddie Redmayne ;-) He's far better than Nick Jonas as Marius Pontmercy :-) Di konser Nick Jonas membawakan Marius seperti pemuda menye2 yang jatuh cinta. Dan suaranya pun terlalu pop, sehingga jauuuuh terbanting ketika bernyanyi bersama pekerja teater papan atas yang memerankan anggota Friends of the ABC lainnya; seperti Ramin Karimloo, Hadley Fraser, dan Killian Donnely. Akting Eddie Redmayne benar2 memukau gw. Gw benar2 melihat Marius Pontmercy yang gw bayangkan ketika membaca bukunya dulu: intelligent, well-educated young man who knows what he is fighting for. Pemuda karismatik yang tidak tertutup bayang-bayang Enjolras, si pemimpin perjuangan. Class! Memang, kelihatan banget pedigree-nya sebagai alumni Eton College ;-) Dan pengalamannya sebagai soloist di koor Eton menjanjikan suara yang lebih tepat untuk membawakan peran ini. I love that deep voice of his... sama sekali nggak nge-pop kayak Nick Jonas.
In a way, Eddie Redmayne bahkan agak menutup sinar Enjolras yang diperankan Aaron Tveit. Well, Aaron bermain cukup bagus, dan adegan kematiannya sangat epik. Tapi... hampir di seluruh film dia lebih kelihatan sebagai pemimpin yang ragu dan takut. Ekspresinya nyaris datar sepanjang film; sama sekali tidak kelihatan sebagai "pusat" seperti Ramin di konser. Jujur, gw rada mempertanyakan mengapa bukan Killian Donnelly, atau Hadley Fraser, yang dipilih untuk memerankan Enjolras. They both have good facial expression as well as good voice ;-) Saksikan saja peran Hadley sebagai Grantaire di konser 25 tahun Les Mis - he's still my favorite Grantaire so far. Apalagi, mereka berdua toh juga ikutan di film ini - Killian sebagai Combeferre dan Hadley sebagai Kapten Angkatan Bersenjata.
2. Tontonlah film ini sebagai versi ringkas dari buku Victor Hugo
Gw punya 2 buku Les Misérables dalam bahasa Inggris. Versi cetak dan versi e-book. Dua2nya unabridged, alias diterjemahkan dari bahasa Prancis tanpa dipotong maupun diringkas sama sekali. Tapi... meskipun gw sudah punya buku ini bertahun2, gw nggak pernah membaca seutuhnya ;-) Dari 1463 halaman buku itu, mungkin sepertiganya gw skip atau speed reading doang ;-)
Lho, kok bisa? Dan apa hubungannya sama film ini? Hmm... mungkin gw musti cerita dari awal mulanya sedikit ;-)
Gw pertama kali mencoba membaca buku ini di SMA, setelah menemukannya di koleksi perpustakaan sekolah. Baru sekitar 250 halaman, gw menyerah. Salah satu faktornya adalah karena gw kesulitan mengingat nama2 dalam bahasa Prancis itu. Lha wong nyebutnya aja susah, apalagi mengingat ;-) Faktor kedua: Victor Hugo senang banget berahasia ;-) Bayangkan, salah satu tokoh yang muncul di awal cuma disebut sebagai Bishop of D___. D___ ini apa? Demak? Denpasar? Gimana gw mau ingat, kalau nggak tahu lokasinya ;-) Dan faktor ketiga: ceritanya detil banget! Menjelaskan tentang si Bishop of D___ ini aja sampai puluhan halaman, sebelum pindah ke tokoh lain. Dan.... ngehe-nya.... Bishop ini bahkan bukan tokoh utama ;-)
So, ketika di Fakultas Psikologi seorang senior menyebutkan Les Misérables sebagai novel yang kaya bahan kajian psikologisnya, gw langsung cerita betapa painful pengalaman gw dengan buku ini. Di situlah, bak Valjean yang mendapatkan pencerahan dari sang rohaniwan, gw mendapatkan saran yang mengubah hidup gw *tsah!*:
"Ada versi ringkasnya. Tapi... saran gw sih jangan baca versi itu. Esensinya hilang. Mendingan loe dengerin versi musikalnya. Coba cari deh di British Council. Baru habis itu baca lagi bukunya biar paham"
Demikianlah. Gw pun mendengarkan laserdisc-nya di British Council. Berusaha memahami ceritanya melalui libretto yang ada. Plus membaca beberapa buku yang menceritakan tentang teater musikal di West End.
Mendengarkan versi musikal ini sungguh berguna, karena saat berikutnya gw membaca buku setebal bantal itu gw jadi tahu bagian mana yang bisa di-skip atau speed reading tanpa kehilangan esensi cerita. Serta bagian mana yang layak dapat perhatian khusus karena di musikalnya kurang jelas.
Segera, gw menemukan bahwa ada beberapa bagian yang diubah dari novel aslinya. Misalnya, di musikal tidak disebutkan bahwa Fantine juga menjual giginya. Bahwa yang menyampaikan surat Marius ke Cosette adalah Gavroche, bukan Eponine. Bahwa Fauchelevent bukan saja sekedar korban yang ditolong oleh Valjean, melainkan juga berkesempatan membalas jasa itu. Dan... bahwa Enjolras dan Friends of the ABC tidak segampang itu menerima Javert sebagai sukarelawan.
Naah... yang gw SUKA di film ini, hampir semua kelemahan yang gw temukan di musikal itu diatasi :-) Di film ini, beberapa adaptasi yang 'terpaksa' dilakukan di teater dikembalikan ke khitahnya. Mungkin inilah hikmah keajaiban teknologi *tsah!* ;-) Karena tanpa keharusan menyesuaikan dekor, mereka dapat membuat ceritanya lebih dekat ke buku.
Bagian Fantine menjual giginya ditunjukkan. And quite gruesome, I must say! Membuat gw ngeri :-) Demikian juga bagian Gavroche mengirimkan surat dan Fauchelevent membalas jasa. Hanya bagian tentang June Rebellion yang masih sedikit kabur.
Gw sempat baca juga riviunya Lea Salonga yang menyebutkan "kembalinya beberapa syair yang sudah lama dilupakan". Gw nggak tahu syair yang dimaksud, tapi... kemungkinan salah satunya adalah Fantine's Death. Gw selalu bingung kenapa di teater Fantine menyanyikan syairnya sebagai "... Look Monsieur, where all the children play?". Anaknya kan cuma satu? Nah... di film ini, syairnya diubah menjadi "... Come Cosette, my child, where did you go?" dan disertai dengan bayangan Cosette yang memudar. Jleb banget! Berasa banget betapa berhalusinasinya Fantine!
Dan ah! Ya! Bicara tentang Anne Hathaway sebagai Fantine, I'd take back whatever doubt I have about her playing Fantine. Benar2 brutal! Pembawaannya tentang Fantine benar2 membuat salah satu lagu favorit gw, I Dreamed A Dream, berasa perih! Dipadu dengan penempatan lagu ini yang TIDAK seperti biasanya, ini benar2 killer song!
Soal penempatan lagu, satu lagi yang membuat gw terkesima adalah On My Own. Lagu ini di teater dinyanyikan saat Eponine mengantarkan surat untuk Cosette - salah satu adaptasi yang dikembalikan ke khitahnya dalam film ini. Lantas, nasib lagu ini gimana? Lagu ini ditempatkan pada situasi setelah Eponine melihat Marius dan Cosette jatuh cinta. Heartbreaking to the max! Apalagi, Samantha Barks memainkan peran ini dengan penuh penjiwaan. Honestly, I think she should change her last name into Roars. Samantha Roars. Obviously she is a lioness, not a dog or puppy ;-)
Satu lagi yang menarik buat gw di film ini berkaitan dengan "kembali ke khitah", yaitu adegan terakhir saat Jean Valjean meninggal. Di teater, arwah Fantine dan Eponine menjemput Valjean. Adegan ini selalu membuat gw bingung. Why Eponine? Eponine salah satu tokoh yang menarik buat gw, tapi... dia nggak pernah punya signifikansi dalam hidup Valjean. Kenapa dia yang jemput? Apa relevansinya?
Di film ini, hanya Fantine yang menjemput Valjean. Dan sekali lagi, Anne Hathaway menguras air mata gw ;-) She is no longer that girlish Princess of Genovia. She is a caring woman! A grateful mother! Perempuan yang secara signifikan mengubah hidup Valjean dengan memberikannya kesempatan "menebus dosa".
Tetapi dia tidak sendiri. Ada seseorang lain yang menunggu Valjean di penghujung lagu. And, Gosh! How meaningful it is that when Valjean is singing "... and remember the truth that once was spoken: To love another person is to see the face of God", there is someone waiting for him at the end of the corridor. The person who ".. bought your soul for God"
Yup! The Bishop of Digne, orang yang mengembalikan kepercayaan Valjean tentang adanya Tuhan yang Maha Baik, adalah wajah yang dilihat Valjean ketika ajalnya tiba.
3. The Full Circle
Akhirnya, gw tiba di penghujung riviu gw yang maha panjang ini ;-)
*What do you expect? It's a 2.5 hour movie based on a very detail 1463 pages of novel, covering the saga of tens of years ;-)*
Gw yakin nggak perlu memberikan kajian filosofis terhadap jalan ceritanya. The world-wide web is full of them. Tapi ada satu hal yang ingin gw soroti dari film ini: ini adalah film yang membuat gw terdiam sepanjang perjalanan pulang. Too emotionally drained bahkan untuk berbincang tentang filmnya. Padahal, ini adalah kisah yang sangat akrab buat gw. Lagu2nya pun sudah gw kenal bertahun2. Tetapi tetap saja: 2x nonton, 2x terkuras air mata. It is so powerful, even for me ;-).
Gw nggak bilang film ini sempurna. Beberapa riviu yang nggak terlalu baik membuktikan itu. Tapi... buat gw, film ini benar2 full circle. The closure dari keterikatan gw terhadap kisah ini: setelah baca bukunya, mendengarkan musiknya, menonton konsernya, kini... gw melihat versi teaternya. Bukan benar2 di West End, memang, tetapi cukup dekat lah dari segi eksekusi. Juga the closure tentang pertanyaan gw yang selama ini tidak terjawab tentang beberapa syair dan adegan teaternya yang menurut gw kurang pas.
Menonton film ini, bagi gw, bak Valjean yang menatap wajah sang penyelamat (jiwa)nya di penghujung ajal. And the fact that it is Colm Wilkinson, the originator of West End's Jean Valjean, who plays the Bishop spices up the closure even more ;-)
Kalaupun ada yang gw menurut gw mengurangi lingkaran penuh ini, itu adalah fakta bahwa Tom Hooper tidak mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Director. I personally think he's brilliant... but perhaps I just don't know what the qualification for the Best Director is. Mungkin, salah satu penyebabnya, adalah beberapa bagian film yang dapat diinterpretasikan sebagai sangat disonan dari nilai2 Kristiani yang menjadi dasar tulisan Hugo. Seperti dibahas di sini. Tapi... jika ditelaah lebih jauh, bukankah Hugo sendiri memulai kisahnya dengan "kebohongan" sang Uskup. Ya, kebohongan itu untuk menyelamatkan Valjean, tapi... kebohongan juga sebuah pelanggaran terhadap 10 Perintah Allah yang diimaninya kan?
Buat gw, ini pun menunjukkan bahwa Hugo mempunya pemahaman tersendiri terhadap bagaimana menjadi "baik". Dan jika kita baca bukunya, maka kita akan menemukan suatu kutipan menarik di awal kisah. Bagian yang menjelaskan mengapa si Uskup D___ ini mau melanggar perintah Tuhan demi sang mantan narapidana:
"What do you think of the Bossuet chanting the Te Deum during the persecution of the Huguenots?"Sejak awal, Hugo menunjukkan bahwa selalu ada 2 sisi dari sesuatu. Kebohongan yang menyelamatkan. Doa yang dilantunkan dalam kekejaman. Kebaikan di balik keburukan. Keburukan di balik kebaikan.
- page 42
Dan itu adalah pemahaman yang melengkapi the closure dari film ini :-)
-----
Credit Title: judul "I Didn't Watch One Time Then Die" diilhami dari parodi lagu I Dreamed A Dream oleh Forbidden Broadway.
The reason I wrote this article is: this morning I played "Grammar Nazi" to someone. Again. This friend wrote "aktifitas" and "efektifitas" as a substitute for "activity" and "effectivity" in Bahasa Indonesia. This is wrong, since the right term in Bahasa Indonesia is "aktivitas" and "efektivitas". Use the V-word, although we end the word original adjective with an F.
Then a friend of this friend commented back:
Saya perlu guru bahasa Indonesia juga nih. Kata2 serapan itu aturan tatabahasanya gimana sih? Inggrisnya: "active" > "activist", "effective"> "effectivity", dalam bahasa Indonesia, repotnya kita menghindari huruf "v" tapi tidak kosisten... jadi bingung deh.
That what set me off and triggered this article ;-)
OK, let's start with what our founding father, Ir. Soekarno, our first president said: JAS MERAH. Literally means "red jacket", this word is actually abbreviation from Jangan Sekali-kali Meningggalkan Sejarah (Don't ever leave our history). That's the first thing that set me off ;-)
Well... we did have our brief history with the British Empire. Sir Thomas Stamford Raffles was here for approximately 3 years. One of our national flowers, Rafflesia Arnoldii, was named after him. And he buried his first wife here. But that's it! Our history with the Brits is as short as, but not as (traumatically) memorable as, our history with the Japs.
So, it will be a numero uno mistake to try understanding our language with the reference to theirs. We don't have that connection ;-) Not like the Malaysians. Or Singaporeans. Probably for that same reasons, many kids of my generation still refer to Raffles as "ruff-less", instead of sounding like "battles" ;-)
In relation to Jas Merah, we actually should refer our understanding of Bahasa Indonesia to Dutch. Yes. Dutch. We were their colony for three and a half bloody centuries.... so, yes, that is the language we should refer to in understanding our language.
Mind you, once we relate those words with Dutch, it makes PERFECT SENSE why we should use "aktivitas" and "efektivitas" instead of "aktifitas" and "efektifitas". In Dutch, the words are like this (check it on Babelfish, or just google them ;-)):
- Effektief, and it will change into effectiviteit
- Actief, and it will change into activiteit
So, should we still hang on to the Dutch, while "English is the new Dutch"? Hmmm.... I don't think it's a matter of what language rules now. It's a matter of root. A tree might grow into different mutation. But we cannot change the root, can we? It's always "root before branches". As FinChel of Glee sang:
Oh, why do
I reach for the stars
When I don't have wings
To carry me that far?
I gotta have
Roots before branches
To know who I am
Before I know
Who I wanna be
To know who I am, before I know who I wanna be ;-)
I love my root. And it is heartfelt to see many of the younger generations do not know how to speak proper Bahasa Indonesia anymore :-(
How can they reach for the stars, if they don't have the wings to carry them that far?
***
So... what the F*** is the title about? Well... one of the possibilities is: "Find the Verses" ;-) What verses? Hmmm... that song I attached has verses, right ;-)? The verse about root, and branches, and wings, and stars....
*Gotcha!*
Find the Verses... and live by it, will you?
____
Credit Title: Thanks to Mas R and Mbak B for the inspiration ;-)
Waktu melangkahkan kaki menonton The Dark Knight Rises, gw sebenarnya nggak berharap terlalu banyak. Gw tahu Joker nggak muncul di film ini. Dan review si Mbot agak membuat cemas Bruce Wayne sudah benar2 berubah jadi pria jompo. Nah, lho! Nggak ada Joker, dan Batmannya jompo.... apa yang tersisa buat ditonton coba?
But there's always a lot you'll get when you manage your expectation well :-) I would've been glad if the movie is as entertaining as The Amazing Spiderman, and I got a movie that - for me - wins by a landslide :-) :-)
*SPOILER ALERT*
Betul, Bane bukan lawan yang semengerikan Joker. Betul, peran Robin dan Catwoman di sini sangat signifikan, sehingga film ini mestinya bernama The Dark Knight & Friends Rise. Dan, betul, nggak ada kekuatan super seperti di film superhero lainnya (after all, Batman is just a human - although he's not ordinary ;-)). Tapi... selama ada Christopher Nolan, you can expect a magic :-) Something that'll mesmerize you for nearly 3 hours.
Dan "sihir" itu datang berupa sebuah pemahaman baru tentang the paradox of life. Tentang bagaimana "too much hope will kill you sooner", dan bahwa "sometimes fear is something you must embrace"
OK, here's the first quote that brought this movie up to a higher level for me...
There's a reason why this prison is the worst hell on earth... Hope. Every man who has ventured here over the centuries has looked up to the light and imagined climbing to freedom. So easy... So simple... Many have died trying. I learned here that there can be no true despair without hope.
Selama ini, kita belajar bahwa yang namanya "harapan" adalah sesuatu yang membebaskan. Bahwa "keputusasaan" akan dapat dikalahkan, selama kita masih punya "harapan". Tapi... Bane mengingatkan kita pada hal yang sering kita lupakan. Bahwa hope, too, should be managed. Karena harapan yang terlalu tinggi justru mula dari keputusasaan sesungguhnya. There can be no true despair without hope. Dengan kata lain, harapan lah yang menimbulkan keputusasaan - jika tidak ditangani dengan baik.
Hope... is fire. We need it when it is small. It will be dangerous when it becomes big :-)
Kutipan kedua yang bikin gw bersoja pangkat dua adalah yang ini:
Blind Prisoner: You do not fear death. You think this makes you strong. It makes you weak.
Bruce Wayne: Why?
Blind Prisoner: How can you move faster than possible, fight longer than possible without the most powerful impulse of the spirit: the fear of death.
Bruce Wayne: I do fear death. I fear dying in here, while my city burns, and there's no one there to save it.
Blind Prisoner: Then make the climb.
Bruce Wayne: How?
Blind Prisoner: As the child did. Without the rope. Then fear will find you again
Hanya satu orang yang berhasil melarikan diri dari penjara tempat Batman ditawan. Satu. Seorang anak kecil yang melarikan diri demi nyawanya. Kekuatan yang membuatnya melompat lebih tinggi daripada mereka yang diberi pengaman dengan tali.
Isn't this brilliant? Seumur hidup kita belajar untuk mengatasi rasa takut. Menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna, sesuatu yang harus dihindari.
Kita sering lupa bahwa rasa takut merupakan sesuatu yang harus ditangani dengan baik. Sebab ketika kita tidak lagi takut, sebenarnya kita tidak menjadi kuat. Kita menjadi lemah. Fear gives us impulse of the spirit :-)
Begitulah...
Dua hal yang membuat gw betah bertahan nonton nyaris 3 jam tanpa sekalipun berkeinginan melihat sudah jam berapa, apalagi rela keluar ruangan untuk ke toilet. Hal yang membuat gw bertahan menonton dengan posisi duduk tidak nyaman karena entah kenapa Studio 10 Blitz Megaplex Grand Indonesia ini rasanya kursinya rendah banget. Membuat gw ketutupan penonton di depan gw kalau nggak maju duduknya. Is it just the Studio 10, or am I getting shorter :-s?
Tapi... masih tersisa satu senjata pamungkas Batman yang bikin gw takluk: the final twist! Dang! I should've guessed! All the evidence is there! And all the constant reference to the child of Ra's al Ghul.... :-)
Meminjam kata2 Mr. Darcy kepada Elizabeth Bennett: this movie has bewitched me, body and soul, and I love, I love, I love it!!!
***
Anyway... tulisan ini juga menandai kebangkitan gw menulis lagi setelah 8 bulan vakum. I'm officially one of the friends in the title "The 'Dark Knight & Friends' Rises" :-) What can I say? My husband used to call me Catwoman... although I wasn't, and am not, a burglar :-)
Biasanya, tarian kontemporer nggak terlalu berkesan buat gw, karena genre ini cenderung membuat penari pria jadi kelihatan "melambai". Maklum, gw dibesarkan dalam tradisi tarian2 klasik dimana pembagian peran (dan gerakan) perempuan serta laki2 jelas ;-) Dalam tarian Jawa, misalnya, gerak perempuan dan laki2 memiliki pakem berbeda. Dalam ballet yang gerakannya kurang lebih sama pun, nuansa teknik untuk pria berbeda dengan perempuan.
Tarian kontemporer di atas menjadi berbeda dan berhasil memukau gw karena gerakan penari pria tetap maskulin. Dalam wawancara pra-tayang, koreografer Mandy Moore memang mengakui bahwa tarian ini dibuat extremely athletic untuk menggambarkan hi-and-low emotion yang terjadi. Tapi yang harus mendapatkan kredit juga di sini adalah si penari pria, Neil Haskell, yang berhasil menunjukkan keatletikan; yang biasanya tak lazim muncul pada penari kontemporer pria. Sebagai gymnast-turned-dancer, memang nggak heran kalau dia memiliki kualitas yang nggak biasa. Apalagi sebagai straight guy, jelas vibe-nya maskulin kan :-)
Kalau penari perempuannya nggak usah diomongin lagi deh... hehehe... Melanie Moore (yang kayaknya nggak ada hubungan saudara dengan Mandy Moore), memang dari awal jadi front-runner untuk musim ke-8 ini. Jadi nggak aneh kalau penampilannya ciamik juga :-) Wong akhirnya dia yang jadi juara ;-)
Fabulous choreography, fabulous dancers... is it too much to expect perfection? Ternyata enggak juga! Together, they make the perfect interpretation towards one of my all-time favorite song ;-)
Ah ya :-) Total Eclipse of the Heart adalah salah satu all-time favorite gw. Salah satu lagu yang selalu berhasil "nampol" dan mengaduk2 perasaan setiap kali gw dengar. Simply karena nada dan syairnya! Bukan karena gw asosiasikan dengan ingatan tertentu. Ini salah satu lagu yang gw intuitively feel dibuat dengan "jiwa" :-)
Lagunya, gw rasa semua yang pernah tahu syairnya pasti mengerti, bicara tentang patah hati. Tentang one-sided love; bertepuk sebelah tangan. Atau kalau syair2 awalnya yang bicara tentang "turn around" diartikan secara historikal, ini adalah kisah dimana seorang kekasih ditinggalkan orang yang dicintainya. Ini yg gw mengerti dari lagu ini, tapi nggak pernah benar2 bisa gw visualisasikan....
... sampai gw menemukan tarian ini di YouTube sekitar seminggu lalu.
Koreografi ini benar2 apik memvisualisasikan apa yang terjadi. Bagaimana di setiap bagian gerakan Neil dan Melanie bagaikan tarik-ulur dalam sebuah hubungan. Di satu bagian mereka menari bersama dengan sangat passionate, di bagian lain mereka bak bertarung satu sama lain. Love the part ketika mereka berdua menjatuhkan diri setelah half piroutte ke arah yang bertetangan.
[Background Sound: "And I need you now, tonight. And I need you more than ever..."]
Klimaksnya adalah leap of faith yang dilakukan Melanie, literally, dari jarak sekian meter ke pelukan Neil. And he caught her with perfect accuracy without losing any momentum!
[Background Sound: "I really need you tonight... forever's gonna start tonight..."]
Exquisite! Totally exquisite!
Bagian kesukaan gw?
Hmmm... justru bagian yang paling gw sukai ada pada momen2 setelah leap of faith yang mengesankan semua orang itu :-) Tepatnya di penghujung tarian, ketika Neil melepaskan diri dari pelukan Melanie. Melepaskan diri dari keintiman yang akhirnya berhasil mereka bangun. He says sorry with his eyes,.. while she looks longingly, heart brokenly, at him.
[Background Sound: "Once upon a time I was falling in love, now I'm only falling apart...
There's nothing I can do.. a total eclipse of the heart..."]
So painful, yet exquisite. Painfully exquisite!
Huffff.... nggak heran kalau gw can't get enough of this dance. Gw putar lagi, lagi, dan lagi. Dan yang menarik adalah: begitu terpukaunya gw pada tarian ini hingga luput memperhatikan betapa yummy-nya the shirtless Neil... HAHAHAHA... Mungkin itu efek gerhana total ya ;-)?
*oops, bagian terakhir kayaknya nggak cocok dengan mood keseluruhan tulisan ini ;-)? Yaah... maaf, kalau ada brondong manis gak dibahas, ntar mubazir dong :-p*
2. Kita cenderung hanya melakukannya dgn sikap praktis: beli kambing/sapi, kirim ke pembantaian. Tanpa lagi rasa belas dan empati.#q
6. Keiklhasan paling dalam ketika berkorban justru ketika kita menghayati bhw kita harus melakukan tindakan yg sebenarnya kejam.#q
Salah mengatakan orang yg berqurban tak punya hati nurani. Justru intinya bukan menyembelih, tapi menghayati bagaimana berharganya hidup
Kabar pernikahan mereka menyebar dengan cepat. Dan sekonyong2, bermunculanlah orang2 tak kami kenal yang mengatakan bahwa mereka adalah penggemar kedua adik gw ini. Beberapa dari mereka mencoba mendekatkan diri dengan gw. Dengan beberapa teman yang juga aktif membantu kedua adik ini.
Tentu... kami senang mendapat teman baru. Gw senang mendapat teman baru. Namun... seiring dengan banyaknya message yang gw terima, gw mulai menyadari bahwa cara pandang kami berbeda.
Perbedaan cara pandang yang paling utama adalah mengenai SIAPA kedua adik gw itu :-)
Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun ini, pasangan pengantin ini adalah adik/teman tersayang. Kebetulan saja mereka pernah happening dalam skala nasional, tapi... intinya mereka adalah adik/teman yang sama dengan adik/teman kami lainnya :-) Namun teman2 baru kami masih melihat pasangan pengantin ini sebagai the living icons. Dua selebriti yang dipuja, dikagumi, dan diketahui detil kehidupan pribadinya
Maka bermunculannya pernyataan2 yang membuat dahi gw berkerut, seperti:
"kapan ya idola kita(nia & adit) bisa muncul bareng di tv lagi"
"Yang punya info ttg mereka tiap harinya ato paling ngak info terbaru dari mereka tolong di bagi2 ama kita di sini ya teman2....makasih"
Hal lain yang juga mengganjal adalah perbedaan pandangan tentang kedekatan kami. Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun terakhir, menjadi "dekat" dengan mereka adalah sesuatu yang alamiah. We're friends, of course we're close to each other ;-) Buat teman2 baru yang masih memandang mereka sebagai idola, ini adalah suatu aspirasi. Bahkan sumber iri. Seperti yang diungkapan salah satu mereka berikut ini:
"seneng y jd mbk maya bsa msuk daftar org spesial di hatinya mbk nia....*pinginn dee* tp syang mbk nia gk kenal ak :("
"wah seneng bgt mba bisa knal k'nia lbih dekat bgt jd iri,hehe.."
Dan komentar2 ini lah yang kemudian mendorong gw untuk menuliskan posting ini :-) Untuk meluruskan padangan2 di atas :-)
***
Apakah dekat dengan mereka adalah sesuatu yang membuat senang? Tentu saja :-) Nia is really a one sweet little creature. Depan/belakang kamera ya anaknya kayak gitu itu: polos, nggak pernah mikir buruk sama sekali, dan malah saking polosnya kadang2 naif :-) Adit? Di balik gayanya yang rame dan sok funky itu tersembunyi laki2 perasa... HAHAHAHA... Sangat intuitif :-) Juga sangat pintar :-) Nggak banyak orang yang bisa langsung "nangkap" penjelasan atau joke gw yang kadang (eh, seringnya ;-)) terlalu belibet. Adit gak pernah kesulitan menangkap langsung ke intinya :-) Personally, buat gw, adalah keasyikan tersendiri ketemu teman yang "nyambung" :-)
Tapi apakah kedekatan ini terbentuk dengan mudah? Semata2 karena kami punya akses dan gampang bertemu dengan mereka? NO! Sama sekali tidak ;-) Kedekatan yang terjalin antara kami semua ini adalah hasil kerja keras, usaha, dan penyesuaian diri selama 7 tahun :-)
Di masa awal2, ketika mereka masih jadi icon skala nasional, tak terhitung friksi antara kami. Seorang teman pernah sangat tersinggung karena Adit yang sedang moody tak sengaja menyepelekannya. Teman yang lain pernah sakit hati karena kepolosan dan tidak panjangnya pikiran Nia. Beberapa teman juga pernah agak sebal karena Nia & Adit tidak melayat ketika salah satu dari kami meninggal dunia. Atau ketika merasa tidak mendapat terima kasih yang pantas setelah apa yang dilakukannya di pesta kejutan untuk ulang tahun Adit.
Salah satu "drama" perseteruan kami pernah gw tulis di sini (ehmmm...)
Tapi seiring waktu kami semua - baik Nia& Adit maupun gw & teman2 lain - belajar menyesuaikan diri. Belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing2. seiring waktu kami belajar melihat mereka sebagai bagian dari kami. Bukan sebagai sepasang icon yang terpisah dari kami. Belajar melihat mereka sebagai "teman". Belajar menerima bahwa berteman adalah [seperti gw tuliskan pada posting tertaut di atas] "accept and endure any pain for his/her friend". Berteman itu tidak menuntut, tidak berharap something in return... tapi simply... menerima dan ikut menjalani any pain for his/her friend. Termasuk sakit yang disebabkan si teman :-)
Dan waktu menguji segalanya :-)
Sedikit demi sedikit, tirai mulai tertutup bagi Nia & Adit. Mereka yang mengaku sebagai penggemar sedikit demi sedikit tak muncul lagi. Sibuk dengan icon-icon baru yang bermunculan. Sehingga akhirnya tersisa kumpulan yang bisa dibilang 4L: loe lagi, loe lagi :-)
Sebagai perbandingan: puluhan orang hadir di pesta ulang tahun kejutan untuk Adit 3 November 2004 di New York Cafe. Pada tahun 2006, ketika kami mengikuti Kuis Siapa Berani, mengumpulkan 18 orang untuk peserta aja sulitnya bukan main... hehehe... Dan ketika Nia dan Adit meluncurkan mini-albumnya tahun 2008, dengan band Friendz yang namanya masih Djawa dan susunan personilnya masih beda jauh dari Friendz sekarang, yang mau datang nggak sampai 18 orang :-) Itupun yang dua hasil culikannya Mbak Wiet, ya Mbak :-)?
Tapi ini adalah seleksi alam. Survival of the fittest. Atau tepatnya survival of the strongest loyalty :-) Pada akhirnya yang tersisa adalah kumpulan kecil yang mau ikut susah dengan Nia dan Adit :-) Bukan yang cuma mau menunjukkan kepada dunia bahwa dia pernah dekat dengan Pasangan Favorit AFI-2 :-)
Kami yang tersisa ini yang ikut susah payah mengumpulkan tanda tangan ketika Nia & Adit mencoba peruntungannya di Fourth Monkey, dengan janji akan rekaman jika bisa mengumpulkan 1000 pendukung. Kami yang jumlahnya tidak sampai 18 ini mencoba segala cara untuk mengumpulkan yang mau dicatatkan sebagai pendukung. Hema dari Bengkulu sampai membujuk semua teman sekantornya untuk vote :-) Kalau mereka malas vote sendiri, Hema meminjam password email mereka saja, agar bisa vote :-)
*Pada masa itu, jika Hema diculik oleh hacker, dijamin bubar dunia... HAHAHAHA... Berapa password aja tuh ada di tangan dia ;-)*
FourthMonkey memang belum jadi rejeki Nia & Adit. Tapi kami membukukan sukses, karena dalam kurun waktu singkat melakukan the impossible: dari posisi ke sekian puluh, melejit ke posisi kedua di bawah Barry Likumahua :-) Pada akhirnya hanya Barry yang diproduseri, tapi... kami mendapatkan sesuatu yang tak kalah baiknya: PERSAHABATAN.
***
So, jika sekarang ada teman2 baru yang mengatakan betapa irinya mereka pada kami, atau betapa beruntungnya kami bisa "dekat" dengan kedua "idola" ini, gw hanya ingin mengatakan sesuatu: we EARN it :-) We earn this FRIENDSHIP :-)
Ingin seperti kami? Caranya mudah... :-) EARN it :-) Jangan cuma muncul saat mereka tenar, saat mereka diingat orang. Tapi beradalah di samping mereka setiap saat. Dalam suka dan sedih :-) Dalam tenar dan redup :-)
Dan saat berada di samping mereka, stop treating them like idols. Treat them like friends :-) Berhenti berharap mendapatkan "sesuatu" dari/tentang mereka. Tapi berilah sesuatu pada mereka :-)
In good times or bad times,
I'll be on your side forever more
That's what FRIENDZ are for ;-)
Konsep pernikahan mereka memang tidak spektakular seperti pasangan sebelumnya. Namun, setelah gw menemukan waktu untuk bertapa, gw menemukan bahwa it's not so much different from the previous wedding after all ... :-)
Begini ceritanya......
Januari lalu kami mendapat kabar bahwa mereka berdua akhirnya menentukan tanggal pernikahan. Ditetapkan tanggal 17 Juni 2011 sebagai Akad Nikah, dan 25 Juni 2011 sebagai resepsinya. Resepsinya nggak bisa dilaksanakan 18 Juni 2011 bukan karena mereka benci sama gw dan nggak mau berbagi tanggal perayaan yang sama dengan ultah gw... hehehe... Tapi karena masalah klasik calon pengantin: gak kebagian gedung :-p
Gw memutuskan untuk hadir ;-) Tentunya! Karena mereka adalah dua orang yang sangat berarti buat gw :-) Bukan saja gw sangat menikmati penampilan mereka (termasuk exposure terhadap cinlok mereka ;-)) sepanjang sebuah reality show di tahun 2004, tapi ... setelah 7 tahun berteman mereka sudah seperti adik2 gw sendiri. Dan lagi... secara tidak langsung mereka berdua telah menjadi perantara yang membuat gw menemukan beberapa teman terbaik. Baik yang gw kenal dari menongkrongi milis/forum acara tersebut seperti Jeng ini, ini, ini, maupun Bro ini. Atau si seleb-blog yang membuat gw rajin menulis lagi. Dan tak lupa "teman berantem" gw yang tautannya sebaiknya tidak diberikan :-p
Tapi ada satu masalah kecil: 25 Juni 2011 bertepatan dengan hari kelulusan Ima dari SD. Nggak mungkin kan gw nggak hadir di acara kelulusan anak gw sendiri ;-)? Dan gak mungkin kan, Ima nggak hadir di acara kelulusannya sendiri ;-)?
So, gw memutuskan datang pada Akad Nikah-nya saja. Meskipun dengan resiko gw akan mati gaya ;-) Yaaah... nggak akan semati gaya di Bali sih, kan gw datangnya bareng Ima. Lagipula masih ada beberapa teman yang gw kenal di acara yang pastinya lebih banyak dihadiri keluarga besar itu. Dan Surabaya mah gw kenal... ;-) Nggak bakal bingung mau ngapain di sana.
Berniat datang ke pesta, siap kamikaze mati gaya? Hmmm... sounds similar to the other wedding, eh ;-)? Dan kemiripan berlanjut, ketika ternyata gw nggak jadi mati gaya. Bukan dengan menemukan teman2 baru... melainkan karena teman2 lama yang tadinya berniat menghadiri resepsi berbondong2 rescheduled ke Akad Nikah :-)
Pindah jadwal itu terpaksa dilakukan karena sebuah kabar duka. Tanggal 25 April 2011, setelah semua persiapan untuk perhelatan dijalankan, tiba2 ibu mempelai pria meninggal dunia. Serangan jantung. Sebuah hal yang mengubah segalanya...
Sebagai bakti terakhir seorang putra pada almarhumah ibunya, kedua mempelai memutuskan mempercepat pernikahan. Mereka menikah di hadapan jenazah sebelum ibunda dikebumikan. Perhelatan yang rencananya dirayakan 25 Juni 2011 pun dibatalkan. Tak pantas rasanya membuat suatu perhelatan ketika ibunda baru 60 hari dikebumikan. Dan tak pantas pula rasanya membicarakan kapan resepsi akan diadakan, jikapun akan ada resepsi, sebelum duka benar2 berlalu.
Namun Akad Nikah di depan penghulu dari KUA tentu harus tetap dilaksanakan. Karena pernikahan di hadapan jenazah adalah pernikahan siri; pernikahan yang sah menurut Islam, namun tidak mendapatkan surat nikah dari negara karena tidak dihadiri oleh penghulu sebagai saksi dari pihak negara.
Dan itulah yang membuat teman2 berbondong2 mengubah jadwal pesawat untuk menghadiri Akad Nikah.
Menikah di hadapan jenazah ibunda? Mengorbankan kemungkinan pesta meriah demi sebuah Akad Nikah sederhana dalam suasana duka? That's another similarity with the previous wedding: bahwa pernikahan adalah bukan untuk diri sendiri. Walaupun itu sebentuk persatuan antara dua individu, di dalamnya ada bakti kepada orang tua. Karena dalam budaya kita, "menikahkan anak" adalah sebentuk pencapaian bagi orang tua. So it's worth to change all the plan.
***
Pada hari yang direncanakan, Akad Nikah di hadapan KUA berjalan dengan lancar. Kabut duka mulai terangkat, setelah lebih dari 40 hari ibunda berpulang. Kami sangat menikmati pesta sederhana di rumah mempelai putri tersebut. Sebuah pesta yang akrab, dengan sajian hiburan organ tunggal dan the singin' newlyweds ;-) Emang beda ya, kalau suami-istri penyanyi... hehehe... Nggak tahan nggak nyanyi kalau lihat mic :-p
Kabar bahagia pun kami terima. Bahwa setelah masa berkabung usai, kedua pihak keluarga sudah mampu memutuskan bahwa resepsi akan tetap diadakan. Tanggal 15 Oktober 2011 dipilih sebagai tanggal resepsi yang baru. Tanggal dimana mereka akan membagikan kebahagiaan ini kepada lebih banyak lagi orang.
Gw tidak yakin bisa hadir pada tanggal tersebut. Bulan Oktober adalah masa2 penuh pekerjaan buat gw. Oleh karenanya sebuah hadiah kecil dan sebentuk doa yang menyertainya gw sampaikan pada perhelatan Akad Nikah saja. Sebuah bingkai foto berbentuk "Bianglala". Ferris Wheel.
Kenapa Ferris Wheel? Yaaah... karena gw kan orangnya sok simbolis... HAHAHAHAHA.... Gw merasa ferris wheel adalah suatu simbol pernikahan yang tepat sekali. Seperti gw tuliskan di kartu ucapannya:
Dear Nia & Adit,
Pernikahan sejatinya adalah sebuah permainan bianglala.
Kadang di atas, kadang di bawah,
Kadang deg-degan, takut ketinggian dan diterpa angin
Kadang bete karena putarannya berjalan lambat.
Tapi... ketika akhirnya permainan berhenti, hanya satu rasa yang tersisa: BAHAGIA
Selamat menempuh hidup baru!
Semoga tetap sakinah, mawaddah, warrahmah
Enjoy your Ferris wheel ride of love!
*Note: naaah... ini bedanya pernikahan pasangan yang ini dengan pasangan di posting sebelumnya... hehehe... Kalau yang di sebelumnya, gw kan yang tercerahkan dengan kata2 bijak sang mempelai. Kalau di sini, gw yang sok gaya mengeluarkan kata2 mutiara dan analogi... ;-)*
Ada 12 tempat untuk foto di Ferris Wheel itu. Mereka dapat mengisinya dengan foto2 perjalanan cinta mereka. Dimulai dari ketika mereka bertemu di sebuah reality show, menjalani kebimbangan untuk menjadi pasangan, jatuh bangun meniti karir, akhirnya tiba di pelaminan, dan kebahagiaan2 selanjutnya yang akan menggenapi perjalanan cinta mereka.... (punya anak pertama ;-)?)
Once again... enjoy your ride, darlings ;-) Duka cita yang mewarnai awal langkah kalian ke pelaminan semoga menjadi sesuatu yang menguatkan untuk ke depannya :-)
----
Credit title: foto bingkai berbentuk bianglala dipinjam dari sini. Bingkainya mirip siiih... cuma yang dari gw gak seharga sekian poundsterling :-p
Ketika akhirnya kenal dan menjadi teman di dunia nyata, gw makin kesengsem sama mereka. Gw memang belum pernah ketemu Tika di dunia nyata, tapi... setiap kali ketemu, ngobrol dengan, atau baca bukunya Gobind rasanya kematangan spiritual gw meningkat beberapa derajat ;-) Dan karena gw tahu bahwa peran Tika untuk Gobind itu persis seperti Kasturba terhadap Gandhi... ya gw tentunya kesengsem dengan mereka sebagai pasangan juga ;-)
So, atas nama pertemanan dan terima kasih gw atas "pencerahan" yang gw dapatkan selama ini (meskipun pencerahan itu sering kabur lagi akibat terlalu ramainya lalu lintas pikiran gw ;-)), gw HARUS berpartisipasi. Sebisa2nya. Termasuk HARUS datang :-)
Baru, setelah gw memutuskan untuk datang, gw bingung sendiri ... ;-)
Gw nggak kenal Bali! Terakhir kali gw ke Bali untuk senang2 adalah.... tahun 1987 ;-) Setelah itu gw beberapa kali kerja ke Bali, tapi ya nggak sempat ngapa2in juga. So, gw harus ngapain di Bali? Apalagi Sanur yang gw gak pernah injak sama sekali.
Masalah kedua: gw nggak kenal teman2nya Gobind dan Tika :-) Teman mereka kan buaaaaanyaaaakkk banget dari berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sementara, gw ini teman di luar kumpulan itu. Nanti gw sama siapa di sana? Mati gaya aja lah, kalau gw luntang-lantung gak ada teman :-)
Tapi... walau dengan kegalauan seperti ini, gw memutuskan untuk datang. Berharap Mas Boy (satu2nya teman mutual gw dan Gobind) bersedia hadir ke Bali. Atau... berharap bisa membajak Bayik yang emang kerjanya bolak-balik Jakarta dan BAli.
Pada awalnya, masalah tampak teratasi. Bayik bilang dia ada di Bali tanggal segitu. Dan Mas Boy bilang dia ingin sekali datang. Tapi.... pada H-2, kagetlah awak! Bayik tertahan di Jakarta karena boss besarnya datang. Sementara Mas Boy nggak bisa pesan pesawat karena satu dan lain hal. Mampus gw!! Rasanya malang benar gw ;-)
Tapi mosok gw harus membatalkan niat baik cuma karena gak ada teman? Nggak gw banget ;-) Cemen ;-) Akhirnya gw tetap berangkat sesuai rencana. Meskipun siap mental untuk mati gaya ;-)
Dan di situlah baru gw menyadari betapa sebuah keikhlasan, sebuah niat baik yang no expectation, akan dimudahkan oleh Yang di Atas dan membawa keberuntungannya sendiri :-)
Dimulai ketika gw sampai di Bali. Pada awalnya, Bayik merekomendasikan Werdhapura sebagai tempat menginap. Katanya dekat, 10 menit naik taksi dari tempat acara. Tapi.. karena Werdhapura nggak punya kamar dengan double bed, gw memilih memesan kamar di Abian Kokoro. Hotel ini rekomendasi kedua dari Bayik, katanya sedikit lebih jauh - sekitar 15 menit naik taksi ke tempat acara.
Ternyata... justru peristiwa ini adalah pangkal dari rangkaian "kemudahan" dan "keberuntungan" yang gw dapatkan :-)
Saat check in di Abian Kokoro, gw menemukan kejutan membahagiakan: perhitungan jarak Bayik tidak akurat :-) Alih2 lebih jauh dari tempat pesta, jaraknya malah sepelemparan batu :-) Menurut GPS gw, jarak garis lurus hanya 900m dari lokasi pesta! Total jalan yang dilalui jika menyusur pantai sekitar 1,2 km saja. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jika ingin lebih nyaman, bisa pinjam fasilitas sepeda dari hotel ini. Gratis!
So, gw nggak perlu repot2 pesan taksi pagi2 buta, dan bingung cari taksi untuk kembali ke hotel setelah acara. Cukup bersepeda mini saja :-)
Kemudahan, atau keberuntungan, kedua yang gw dapat adalah ketika mengembalikan sepeda pinjaman setelah jalan2 sore. Biasa... gw survei dulu untuk tahu letak pestanya, dan ngukur kekuatan kaki untuk bike to wedding besoknya ;-). Di front desk sederhana, dimana nama tamu di ke-18 kamar hotel dituliskan di white board besar, mata gw menangkap bahwa 3 dari 6 kamar di lantai gw adalah "booked by Mr. Gobind". Nah lho? Could it be....?
Segera gw SMS sang calon mempelai, dan ... jawabannya merupakan kejutan yang menyenangkan:
"Hahaha... memang saya pesan untuk teman-teman yang membantu acara besok"
Yiiihaaa! Berarti gw gak akan sendirian! Gw bisa kenalan malam ini dengan beberapa orang sehotel. Setidaknya, besok gw gak jadi orang yang benar2 "asing" di pesta itu. Sukur2 gw bisa minta ikut dilibatkan, membantu apa pun yang bisa gw bantu, supaya gw gak mati gaya.
Gw sebutkan nomor kamar gw kepada sang mempelai, dengan tawaran silakan mengetuk pintu kapan pun malam ini jika temannya butuh bantuan. Meskipun gw nggak yakin teman2nya akan melakukan itu.
But we're talking about people who live to serve and help other human being here.... Orang2 yang nggak ragu ngetuk pintu kamar orang tengah malam jika itu untuk kebaikan. Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.
Jelang tengah malam, ketika gw sudah tak sengaja tertidur, pintu gw diketuk. Salah satu teman Gobind, Mbak Catur, datang dan mengajak gw membantu merapikan suvenir. Sejumlah 1.000 kalender abadi untuk suvenir baru datang malam itu, beserta kotak tempatnya. Keseribu suvenir itu harus masuk kotak sebelum fajar menyingsing
Tugas Sangkuriang itu dapat kami selesaikan sebelum tengah malam. Kerja yang menyenangkan, karena diisi obrolan akrab dan canda tawa. Padahal, gw baru kenal dengan teman2 Gobind ini. Sungguh kumpulan orang yang ramah dan menyenangkan :-)
Paginya, mereka menawari berangkat bersama2. Pagi2 buta :-) Tadinya sempat ragu menerima; bakal bengang-bengong nunggu acara nih... secara panitia pasti semua sudah punya kerjaan. Tapi gw putuskan ikut! Siapa tahu ada yang bisa dibantu lagi di sana. Lagian, bukankah gw sudah siap mental untuk bengang-bengong mati gaya?
Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.
Gw datang pagi2 bertepatan dengan kedatangan pohon2 kecil yang akan dijadikan suvenir. Pohon2 itu tentu harus ditata supaya mudah diambil tamu. Bayangkan... menata 1.000 pohon untuk suvenir!!! Butuh tenaga banyak :-) Apalagi di tiap pohon harus dikalungi nama pohonnya :-) Langsunglah gw ikut terlibat mengangkat2 pohon. Meski dengan rok panjang :-)
Daaaan.... kisah berakhir dengan bahagia. Pesta berjalan dengan lancar. Gw nggak jadi bengang-bengong mati gaya, karena sudah kenal beberapa orang panitia. Gw juga merasa lebih puas hadir di acara, karena bisa ikut "nyumbang tenaga". Ikut terlibat langsung untuk perayaan kebahagiaan sepasang teman. Nggak cuma datang sebagai tamu dan pengamat :-)
Sebuah nikmat yang tak terbayangkan bahkan hingga gw mendarat di Bali. Alhamdulillah yach... sesuatu banget *Syahrini mode: ON* ;-)
***
Dalam perjalanan pulang, gw merefleksikan pengalaman ini. Betapa semua menjadi begitu mudah, justru ketika gw melepaskan segala harapan. No expectation. Yang penting gw datang untuk berpartisipasi pada perayaan kebahagiaan teman. The power of ikhlas... kekuatan dari berani melepaskan... seperti yang selalu coba Gobind sampaikan dalam setiap obrolannya (dan selalu gw lupakan tak lama setelah berpisah dari dirinya ;-)). Kebahagian bisa didapat dengan cara melepaskan. Melepaskan ikanan dari harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Itu isi awareness insight di kalender abadi yang menjadi suvenir, untuk tanggal 1 Mei.
Itu refleksi tingkat pertama ;-) Masih self-oriented ;-)
Refleksi tingkat kedua terjadi setelah gw mulai berpikir tentang orang lain ;-) Dalam hal ini, gw mulai berpikir tentang kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan dunia. Yang bahkan begitu selfless dalam pernikahannya: alih2 menjadi raja dan ratu sehari di pesta, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk memberi lebih kepada manusia2 lain. Dengan mengadakan donor darah di pesta pernikahannya. Dengan mengajak tamu beryoga. Dengan hanya menggunakan makanan/minuman/peralatan yang dapat didaurulang di pesta ini supaya tidak membebani bumi. Dengan mencanangkan satu suvenir kalender hanya dapat diambil jika tamu bersedia juga menanam sebatang pohon, karena kalender dibuat dari mengorbankan pohon. Dengan hanya menyediakan makanan vegetarian dan semua yang berasal dari tetumbuhan.
Dan gw berpikir.... jangan2 segala kemudahan dan keberuntungan ini bukan semata karena keikhlasan gw ;-) Tapi justru sebuah kemudahan bagi kedua mempelai yang sudah begitu ikhlas. Karena keikhlasan mereka, mereka mendapatkan satu lagi tenaga yang siap membantu. Satu teman lagi yang "percaya" dan akan berusaha menjadi lebih baik.
Atau... ini adalah kemudahan untuk kedua mempelai to give away another thing. Dengan gak sengaja gw nginap di hotel yang sama dengan panitia, itu memudahkan kedua mempelai memberikan gw "teman". Memudahkan mereka mengingatkan lagi pada gw tentang pentingnya ikhlas.
Jika demikian halnya, maka semua kemudahan gw di pesta lalu bukanlah apa yang gw dapatkan. Tetapi sebuah awal. Sebuah awal yang akan kembali lagi ke pelaku dalam bentuk yang berkat yang besar. Tangan yang memberi, adalah tangan yang memanen.. demikian awareness insight pada kalender abadi di tanggal 25 April :-)
Ah, how can I not admire them so much? Dalam pernikahan mereka pun, justru gw yang mendapatkan "kado" berupa teman2 baru dan diingatkan kembali akan keikhlasan. Manusia memang tidak akan pernah kehilangan apa-apa, karena manusia memang tidak pernah memiliki apa-apa.
Thank you for the beautiful gift, Gobind & Tika :-) Banyak berkat untuk kalian :-) Teruslah berusaha mengajak orang2 menjadikan dunia lebih baik. I rooted for the two of you during 'that game'... and I'm still rooting for the two of you in this even bigger game: LIFE.
***
Dan sebagai penutup, gw tadi bongkar2 arsip lama di milis tertaut di atas. Gw menemukan bahasan gw sendiri tentang bagaimana gw melihat kolaborasi mereka berdua, even when I haven't known that they'll be one entity :-)
That's the trust I have in them :-) And I think my trust will be the perfect gift for the couple who has given me so much :-)
Bayangkan kamu seorang perempuan, lajang, usia nyaris 35 tahun. Kamu sudah berpacaran selama 10 tahun dengan pria yang membuatmu tergila2. Pokoknya cinta mati deh! Tapi... hubungan ini nggak ada tanda2 untuk berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Si laki2 hanya selalu bilang, "We're soulmate. We'll grow old together, trust me".
Lantas... suatu hari kamu bertemu dengan seorang laki-laki lain. Dia tidak membuatmu tergila2, tetapi juga tidak membuatmu uncomfortable di dekatnya. Dia menawarkan cinta, pernikahan, dan kemapanan.
Manakah yang akan kamu pilih? Menikah dengannya dan belajar mencintainya? Atau ... tetap bertahan pada hubungan yang entah mau dibawa kemana?
Hehehe... ini sebuah pertanyaan hipotetis. Atau tepatnya analogi ;-) Bukan gw mau kawin lagi... HAHAHAHA... But I really want to hear any opinion from you, along with the reason ;-)
Thank you ;-)
Salah satu perseteruan yang sering terjadi bersumber pada pencurian lauk yang dilakukan si kucing. Beberapa kali sekantong daging, atau potongan ayam, atau seekor ikan, raib sebelum sempat diolah. Atau... sudah sempat diolah, tapi raib sebelum sempat dimakan. Kalau si kucing tertangkap basah oleh Bapak, sudah pasti di kucing digebuk. Dan kalau si kucing digebuk, gw ngambek :-) Kalau sudah gitu, Bapak akan bernyanyi:
"Makanya, kalau nggak mau kucingnya dipukul, diatur kucingnya!"
Atau,
"Bapakmu ini ahli hukum. Dimana2 pemilik binatang peliharaan itu memang harus ngatur binatangnya. Kalau binatang tidak bisa diatur, bisa ditembak mati. Atau pemiliknya harus tanggung jawab"
Dan karena pada masa itu gw lebih cinta sama kucing gw daripada sama Bapak (heyyy... don't look at me like that! I was a teenager! And teenager is destined to rebel to their parents ;-)), gw bakalan ngeloyor ke kamar sampai bersungut2. Kalau nggak mau dagingnya digondol, ya dijaga dong! Masukkin kulkas, kek! Tutupin pakai tudung saji, kek!... Begitu gerutuan gw dalam hati ;-)
... And that was what exactly I did! Tiap kali gw lihat daging/ikan/ayam tergeletak di tempat yang accessible buat kucing, pasti gw tutupin. Dan tetap, kalau gw menangkap basah kucing gw dekat2 tempat yang ada daging/ikan/ayam, gw buru2 ngusir. Kalau perlu gw sentil, daripada mencuri dan digebuk Bapak.
Tetapi satu hal yang gw nyerah: gw nggak bisa "mendidik" kucing gw untuk tidak mencuri. Dan kalau Bapak sudah mulai ngomel, gw bersungut2 sambil ngomel dalam hati, "How? Show me lah... gimana caranya ngedidik kucing jadi vegetarian!"
***
Kini, sudah lama gw nggak nonton TV lokal. Nggak menarik acara2nya :-) Mendingan juga gw nonton TV Kabel atau DVD. Tapi gw masih memantau berbagai berita dari media online. Dan berita ini mengingatkan gw pada cerita kucing di atas ;-)
Beberapa hari yang lalu gw memang baca sekilas bahwa our dear governor berkomentar tentang rok mini. Waktu itu sih gw cuma baca sekilas. Kalau berita ini akurat, so what? Nggak ada isyu besar di situ. Dia toh mengatakan keamanan memang harus ditingkatkan, dan akan dibahas oleh pihak yang berwenang. Lantas menambahkan himbauan agar penumpang kendaraan umum juga "menjaga diri" dengan tidak menggunakan pakaian yang menunjukkan banyak bagian tubuh. I never like Foke that much, di banyak posting gw menggerutui dia terus
Makanya gw kaget begitu melihat reaksi demo hari ini. Dengan spanduk2 segede gaban bertuliskan [salah satunya] "'Jangan salahkan baju kami. Hukum si pemerkosa'. Errr.... gw melihat ada cacat pikir di sini: dimana menyalahkan bajunya? Tidak pernah dikatakannya bahwa kejadian ini adalah [murni] akibat baju. Di bagian mana juga pernyataan bahwa di pemerkosa tak akan dihukum?
All what Foke did was, in my opinion, telling YOU that male will be male. Typical male might not be able to restrain the impulse to imagine something kinky just by seeing female's thigh. Just like a cat cannot restrain its instinct to grab a chunk of meat, or fish, or chicken.
Yang membedakan laki2 dari kucing adalah: kalau kucing semua gak bisa nahan tindakannya untuk mencuri daging. Sementara laki2, cuma sebagian aja yang nggak bisa nahan tindakannya. Yang lain berhenti di titik fantasi atau "gerah" doang ;-)
You might think it's so low.... and perhaps, some males are indeed THAT low. But it is natural... and it's a fact :-)
Memang... dalam suatu konteks sosial, laki2 mestinya juga belajar untuk menahan impulsnya. Seperti kucing gw yang harus belajar nggak nyolong kalau masih mau hidup di rumah gw... hehehe.... Tapi, ya dari diri sendiri juga harus ada usaha dong :-) Kita nggak bisa berharap HANYA mereka yang berubah, bahwa semua laki2 berubah menjadi santo yang tak bergeming melihat paha2 mulus. Nggak berfantasi macam2, apalagi melakukan tindakan kejahatan seksual, sementara kitanya bebas2 aja hilir mudik berbaju sesuai mau ktia... :-) Intinya: kalau kita mau bebas2 aja, yang jangan berharap sebuah utopia ;-)
Emangnya kalau semua orang nggak pakai rok mini, lantas gak ada perkosaan? Gitu mungkin salah satu argumen penangkis. Sama seperti argumen salah satu komentator di artikel yang gw tautkan: emangnya nggak tahu bahwa kriminalitas seksual di Arab Saudi tinggi sekali, padahal di sana tertutup?
Ya memang nggak ada yang jamin :-) As I said, cat will be cat. Mereka akan cari kesempatan. And in a way, male will be male. Mereka bukan santo yang tak bergeming lihat paha2 mulus. Dan di antara laki2 itu, laki2 bejat ya pasti selalu ada :-) Laki2 yang meskipun lihat perempuan semuanya ketutup, tapi tetap punya hasrat memperkosa.
Tapi satu hal yang pasti: kalau kita sudah menutup satu pintu, berarti one less worry kan, akan terjadi hal yang tidak diinginkan ;-)?
Intinya, gw sendiri juga bukan anti rok mini. Gw punya anak gadis, dan gw gak ngelarang dia pakai rok mini ataupun tank top. Tapi... ya, lihat2 juga situasinya lah! Nggak di sembarang tempat dan waktu dia bebas2 aja pakai rok mini dan tank top. Kalau harus naik angkot atau ke tempat2 umum terbuka lainnya, ya nggak pakai yang kayak gitu :-) Apalagi kalau perginya sendirian, tanpa ditemani ortunya.
***
Satu logika yang mungkin dilupakan oleh para pendemo ini :-) OK, mungkin korban perkosaan in question adalah orang yang berpakaian tertutup. Mungkin memang CUMA laki2 pemerkosanya aja yang bejat. Tapi... satu pertanyaan gw: how on earth are you sure that this rapist conducted his crime out of nowhere? How can you be so sure that this rapist is not a man who was aroused by a female with a "tempting" appearance, and the victim is just a victim of opportunity?
Nah, sudah siapkah Anda menjadi trigger? Menjadi faktor yang membuat orang lain nan malang menjadi victim of opportunity ;-)?
Cat will be cat. And in a way, laki2 bejat will always be laki2 bejat. Dan sampai sekarang.... gw masih curious dan merasa bersalah: berapa banyak tetangga gw yang pernah jadi victim of opportunity kucing2 gw ;-)?
Pertama2, yuk, lihat video tari yang simple ini dulu. Judulnya "Peace". Dikoreografikan oleh Wade Robson, dengan lagu "Waiting for the World to Change" dari John Mayer. Video ini sudah lama, terbitan tahun 2007 kalau nggak salah, sebagai bagian dari acara So You Think You Can Dance musim ketiga. Saking lamanya, sekarang acara itu sudah selesai dengan musim ke-8 ;-)
Pas ditampilkan pertama kali, koreografi ini sempat jadi kontroversi, karena dianggap memprogandakan anti perang padahal Amerika Serikat baru menyerang Iraq. Well... mungkin benar sih, but even if it was... I don't mind. I even agreed with them ;-)
Lho... kontroversi. Propaganda. World to Change. This post has all the wrong keywords for something simple ya... hehehe... Jadi, simple-nya dimana dong?
Hmm... pertama2, koreografinya simple banget. Nggak banyak macem2. Bajunya juga simple banget. Kaos-celana putih dengan sablonan logo peace di depan dan satu kata di belakang. Sablonannya juga dari cat semprot hitam biasa.
Koreografi yang sama ini ditarikan sebagai solo oleh Top 10 Finalist. Masing2 cuma "mengusung" satu kata di kaosnya. Dan... walaupun koreografinya sama persis, latar belakang masing2 finalis yang berbeda membuat detilnya berbeda. Pasha, misalnya, membuat beberapa gerakan agak kaku dengan kaki yang perfectly straights - sesuai latar belakangnya sebagai penari ballroom. Lauren lain lagi: nuansanya agak hip-hop. Neil, membuatnya benar2 kontemporer... dan... the b-boy Dominic Sandoval menutup pose akhir dengan gerakan menyentuh dadanya yang [menurut gw] membuatnya berbau tarian anak gank banget :-)
Gabungkan hal2 di atas dengan judul lagunya: Waiting for the World to Change.... dan di situlah letak simple-nya :-) Change the world could be as simple as that: just do what you have to do with the best purpose in mind. With peace. With honesty. With patience, understanding, trust, hope, and love. Support it with good communication. And don't forget to always have humility. Hasilnya beda2? Nggak apaaa... kalau digabungkan bagus juga kok ;-)
Simple kan ;-)? Se-simple mengatakan, "Wade Robson, I heart you for this!" ;-)
***
Dan karena hari ini negeri tercinta ulang tahun, ke-simple-an ini mungkin juga berlaku untuk "mengubah" Indonesia tercinta ;-)
Me and all my friends
We're all misunderstood
They say we stand for nothing and
There's no way we ever could
Now we see everything that's going wrong
With theworldcountry and those who lead it
We just feel like we don't have the means
To rise above and beat it
So we keep waiting
Waiting on theworldcountry to change
We keep on waiting
Waiting on theworldcountry to change
It's hard to beat the system
When we're standing at a distance
So we keep waiting
Waiting on theworldcountry to change
...
One day our generation
Is gonna rule the population
So we keep on waiting
Waiting on theworldcountry to change
Selamat ulang tahun, Indonesia ;-)
Anyway... tulisan kedua ini juga tentang pertanyaan seputar "konsekuensi cinta" (halah!).
Jadi, alkisah, di waktu lengang gw suka baca twitnya mereka ini. To satisfy my curiousity about their point of view. "They" dalam kelompok besar ya, bukan hanya mereka berdua ;-) Tapi gw melihat mereka memposisikan diri sebagai "penyambung lidah
Jika homophobia attitude scale itu ada, gw rasa gw akan ter-cluster-kan sebagai "kaum moderat" :-) Artinya, gw sejuk2 saja (baca I'm cool, gitu deh) punya teman2 yang orientasi seksualnya sejenis. Gw tidak akan menghajar, menista2kan, menghujat, apalagi mem-bully mereka. Tetapi.... gw juga tidak akan mendukung jika mereka minta gw ikut menandatangani petisi agar gay pride parade atau semacam PFLAG dilegalkan di Indonesia. If that's what they ask, then I'm ready to sacrifice our friendship.Sikap gw masih seperti di tulisan ini ;-)
Anyway... bahasan gw kali ini bukan tentang sikap gw kok ... hehehe... Seperti gw katakan tadi di awal, ini tentang "pertanyaan" gw. Pertanyaan ini muncul setelah gw membaca tautan ke artikel ini di twitter tertaut di atas.
Artikel di atas memberikan argumen tentang "kebaikan" gay marriage. Ini artikel kesekian yang pernah gw baca tertaut di twit mereka. Gw nggak mau membahas argumennya ya. Namanya juga orang promosi... tentunya semua kebaikan diangkat lah ;-) Yang mau gw bahas adalah: why do they bother to get married?
Ini yang sampai saat ini belum gw mengerti dan terasa sebagai paradoks buat gw ;-) If they want to deconstruct the so-called "puritan" belief about marriage, then why do they bother to get the right to marry each other?
Dalam salah satu sesi tanya-jawab yang kemudian mereka berdua dokumentasikan di blog, yang gw tahu hubungan dua sejenis ini tidak sama seperti di hubungan pernikahan lawan jenis. Dalam soal hubungan seksual, misalnya, dua2nya cowok atau dua2nya cewek. Bukan salah satu jadi perempuan dan lainnya jadi laki2. So, why bother with the marriage?
Kalau tujuannya adalah "pengakuan di mata hukum", seperti yang gw duga dari jawaban yang terdokumentasikan di blog itu, kenapa harus berbentuk "pernikahan"? Can't they think of a different form? Sehingga hukum2 dan aturannya juga nggak akan sama dengan "pernikahan tradisional"? Apalah bentuknya, "persekutuan" kek, "penyatuan kasih" kek, atau apa gitu. Sehingga punya aturan2 sendiri, kebijakan2 sendiri, hukum2 sendiri yang sama sekali berbeda dengan "pernikahan".
I'm sorry, I just don't understand at all. Mengapa memaksakan seluruh masyarakat untuk mengubah paradigma, sehingga mereka bisa "masuk" ke institusi yang sudah ada? Mengapa tidak menuntut pembentukan jenis "institusi baru", kalau tujuannya adalah untuk melindungi their so-called human right? Kenapa jadi kayaknya mereka yang memegang kebenaran, dan boleh menentukan bagaimana seharusnya sebuah institusi ya... sementara the rest of the society hanyalah sekumpulan orang2 "bodoh" dan "terbelakang" yang harus mengubah paradigmanya? How can a stupid and underdeveloped society have an institution good enough for you, then?
Hehehe... tulisan ini mungkin akan mengundang beberapa reaksi keras, bahkan dari teman2 gw sendiri ;-) That's OK ;-) I'm not trying to attack each of you personally... but if you see it that way, then... you know me: I won't try to change your perception ;-)
Sumber kepuasan gw ada dua: pertama, ya karena akhirnya nggak perlu nunggu terlalu lama untuk bisa menikmati film ini. Rasanya kan gimana yaa... setelah 7 film semuanya gw tonton di bioskop, mosok versi terakhirnya nggak bisa ditonton? Kentang dong :-) Yang kedua... ya karena filmnya memang sesuai harapan gw. Tidak seperti film keenam yang adaptasinya enggak banget, film penutup ini sangat memuaskan lah! Kayaknya David Yates sudah bisa connected sama ceritanya... hehehe...
Bagian yang paling gw sukai, seperti sudah gw tuliskan di Facebook beberapa waktu lalu, bukanlah bagian Lord Voldemort kalah. Itu mah gw terima sebagai layak dan seharusnya... hehehe... Yang paling "kena" buat gw justru sekitar menit 83.
*kalau ada yang heran kenapa gw hafal menitnya, itu karena gw udah nonton bajakannya ;-) Di bajakan, itu menit ke 82 sekian detik. Tapi di bajakan ternyata ada bagian depan yang terpotong, jadi kira2 ada beda beberapa detik - 1.5 menit lah ;-)*
Bagian yang paling menyentuh gw adalah bagian ketika Snape merapalkan Expecto Patronum, dan memunculkan patronusnya: seekor kijang betina.
Ya, yang baca bukunya pasti ingat bagian ketika Harry Potter masuk ke dalam kenangan yang diberikan Snape menjelang kematiannya. Kenangan tentang perintah Dumbledore untuk memberitahu Harry bahwa ia memang harus mati di tangan Voldemort. For the greater good, eh ;-)?
Saat itu Dumbledore bertanya, apakah setelah sekian tahun berlalu akhirnya Snape memiliki rasa sayang pada Harry. Snape hanya membalas dengan memunculkan patronus kijang betina. "After all these years?" tanya Dumbledore. "Always," jawabnya. Singkat, tapi sarat makna. Bahwa setelah sekian tahun berlalu, Snape tetap mencintai Lily Potter (nee Evans), ibu Harry. Dan bahwa ia melakukan semua ini demi Lily.
Dan di situ tiba2 gw sadar: the whole story is actually about Severus Snape's redemption, although Harry Potter gets all the credit ;- ) Bahkan, mungkin Snape hanya mendapat kredit nomor sekian, setelah Dumbledore dan Voldemort :-)
Kalau Snape tidak menyampaikan kepada Voldemort ramalan tentang anak yg lahir di akhir Juli, kisah ini tak akan ada. Voldemort tidak akan mengejar Harry. Lily tidak akan mati. Harry Potter mungkin akan tumbuh jadi sekedar penyihir medioker (dia gak jago2 amat, ingat ;-)). Dan mungkin akan ada pahlawan lain yang mengakhiri kuasa Pangeran Kegelapan.
Kisah ini ada, dan terjadi, gara2 aduan Snape. Dan kisah ini berakhir seperti ini, karena Snape menjaga Harry. Agar - meminjam percakapan mereka - the boy could die at the proper moment.
See? Saga ini seperti lagu dangdut. Snape yang mulai, Snape yang mengakhiri. Atau versi Inggrisnya: Snape's the one who started out, and Snape's the one to make it stop. Uhmmm... in my opinion, this whole story should be called the "The Redemption of Severus Snape", bukan "Harry Potter Saga" :-)
***
Tapi OK-lah :-) Kisah sudah bergulir, dan sudah usai. Dalam hidup memang tidak semua yang berjasa dapat kredit yang memadai. Dalam kerjasama kan ada pembagian tugas: ada yang dapat kerjanya, ada yang dapat samanya... HAHAHAHA.... Lagian, kayaknya kurang menjual ya, kalau Severus Snape dijadikan judul :p Anggaplah ketiadaan kredit baginya adalah salah satu lagi "konsekuensi kasih tak sampai"-nya pada Lily. Deal ;-)?
Buat gw, setelah saga ini berakhir, hanya satu pertanyaan yang tersisa. Pertanyaannya, apa yang akan dikatakan Lily Evans pada Severus Snape saat mereka bertemu di alam sana? I mean... mereka akan bertemu di alam yang sama kan? Dua2nya akan... let's say... masuk surga karena dua2nya baik kan? Lantas, jika mereka bertemu, Lily akan bilang apa pada pada pria yang mencintainya sekaligus secara tidak langsung membunuhnya? Pada pria yang menyengsarakan anaknya, sekaligus melindunginya? Will "thank you" do? Or will she say "sorry" too?
Ada yang punya prediksi ;-)?
Kalau Petir, pemirsa sms penghuni yg dia dukung, kalau Big Brother pemirsa sms penghuni yang mau mereka keluarin, di Petir ada PK di Big Brother nggak ada. Kalau diibaratkan demokrasi, Big Brother itu demokrasi langsung, Petir itu demokrasi perwakilan. Gw lebih suka demokrasi langsung lebih " keliatan" bahwa suara publik dihargai
penghuni nominasi 3 orang yg akan dikeluarin, yg keluar adalah yg smsnya paling banyak dari 3 orang itu. Kebayang donk orang sampai sms supaya org tersebut keluar berartikan hubungan emosionalnya tinggi banget
Beberapa di antaranya, seperti Jomblo, memang benar2 gw nikmati. Sisanya? Selalu bisa membangkitkan gairah gw untuk mengulasnya ;-)
Lantas, film "?" bagaimana?
Hmm... film ini juga hebat lah! Buktinya, bisa membuat gw kembali menulis setelah membiarkan blog ini mati suri selama hampir setengah tahun ;-)
Tidak seperti film terakhirnya yang gw ulas ini, setidaknya "?" tidak bikin gw ngantuk. Pencahayaan dan pengambilan gambarnya juga cukup gw nikmati. Tapi... secara keseluruhan... terpaksa gw cuma kasih nilai 3 dari skala 0 - 10.
Plot sekuel yang bodoh? Yaaah... untuk menangkis inspirasi "bodoh" pindah agama gara2 masalah suami-istri, ya ciptakan counter-inspirasi yang sama "bodoh"-nya saja ;-) Gitu aja kok repot ;-)
Sikap gw menjadi cenderung ke pro fatwa haram ketika adegan beranjak ke nasihat si Ustad bahwa it's OK bagi Surya masuk gereja dan berperan menjadi Yesus dalam acara "sakral" umat Katholik: Ibadah Jalan Salib. Hmmm... semasa 13 tahun sekolah di sekolah Katholik, gw juga keluar masuk gereja - meskipun gw Muslim. I have nothing against the idea of a Moslem entering a church. Tapi... entering a church as the Christ during this devotion is more complicated than that, isn't it? Bagi umat Katholik, Ibadah Jalan Salib itu adalah devosi. Prosesi renungan sengsara Yesus sejak ditangkap hingga wafat di kayu salib. Entering this sacred procession is totally intrusive... and pointless, if you talk about pluralism!
Betuuul... seperti kata Dedi Soetomo yang berperan sebagai Pastor di film itu, "Apa ada keimanan yang runtuh hanya karena sebuah drama?". Tapi pertanyaan saya, Romo, adalah, "Apakah benar Ibadah Jalan Salib itu hanya sebuah drama?"
*Uhmm... lagian, sejak kapan sih untuk drama di gereja itu pakai casting dan terima orang luar? Setahu gw, ini selalu jadi acara internal deh!*
Gw jadi semakin memahami jika MUI mau mengharamkan film ini ketika adegan Soleh dkk menyerbu restoran tempat Menuk bekerja. Soleh, yang anggota Banser NU, memprovokasi orang2 untuk menyerbu restoran HANYA karena mereka buka di hari lebaran kedua? Hadooooh... Hanung, what a stupid plot! Gw tahu sih ada ormas yang mudah diprovokasi untuk sweeping rumah makan saat Ramadhan, tapi... itu nggak pas ditaruh di konteks lebaran kedua, Mas!
Sweeping saat Ramadhan adalah karena mereka percaya bahwa tidak puasa di bulan Ramadhan adalah dosa. Stupid, maybe, but it is not groundless. Lha, kalau restoran buka di hari lebaran kedua, salahnya apa? Lebaran kedua, lho, Mas, tanggal 2 Syawal. Nggak ada kewajiban kita untuk mengistimewakan hari itu dengan libur/tutup. Tanggal 2 Syawal itu semua sudah kembali ke semula lagi.... malah puasa Syawal aja udah boleh mulai kok! Masalah silaturahmi bisa dilakukan hingga sebulan ke depan. Nggak perlu lebaran kedua libur ;-)
Bener deh! Sengaja atau tidak, Hanung malah mendegradasi any dignity left in Moslem dengan adegan ini. Muslim tidak saja digambarkan sebagai suka kekerasan, melainkan juga "goblok to the max" ;-) Mau2nya diajak nyerbu restoran cuma karena seorang laki2 cemburu, padahal nggak ada dalil/dasarnya dalam agama :-)
***
Alasan gw yang kedua adalah: selama film gw pingiiiinnn sekali menarik Hanung Bramantyo ke sebuah ruangan kecil, mendudukkannya di kursi, dan.... melakukan tes MBTI kepadanya ;-) Asumsi gw: dia perceiving characteristic-nya [S]ensing banget, nggak ada i[N]tuiting-nya ;-)
Asumsi ini terbangun lantaran filmnya ini jauh panggang daripada api ;-) Maksudnya, pluralisme itu kan isyu yang "dalem". Agar film ini bisa menyentuh hati, menurut gw sih mestinya penggambarannya depth banget. Nggak perlu banyak plot, tapi masing2 plot-nya "dalam". Masih inget film Children of Heaven? Film ini bisa menyentuh justru karena bermain2 dengan konflik dan emosi pemerannya, bukan karena banyak plotnya. Atau contoh lain adalah Paradise Now. Setidaknya, kalau mau bikin film yang plotnya berjejalan kayak pasar, coba seperti Crash. Setidaknya seperti Identity. Atau kalau mau versi Indonesianya, Daun di Atas Bantal
Ah... ya. "Crash". Seharusnya ini jadi referensi yang baik saat membuat film "?". Isyunya pun mirip sebenarnya, antara rasis dan pluralisme. Sayang, alih2 membuat gw keluar gedung bioskop dengan insight baru seperti film peraih Oscar itu, "?" malah membuat gw merasa habis nonton sinetron yang dipadatkan: plotnya kebanyakan, karakter dan plotnya nggak mendalam, dan detil2nya banyak yang mengganggu logika ;-)
Beberapa detil yang mengganggu logika, selain ketika Rika menawari Surya ikut casting drama Paskah, adalah ketika Menuk melarang Surya makan sebelum Jalan Salib selesai, karena, "... Mas, masih puasa!". Sumpah, pingin ngakak gw... HAHAHAHA... Soalnya, setahu gw, puasa pra-paskah itu dilakukan dengan berpantang sesuatu (biasanya daging) pada hari2 tertentu. Jadi, lucu aja kalau ada orang yang dilarang makan, bolehnya nanti kalau sudah selesai acara, karena masih "puasa". Emang loe kira puasa Ramadhan, kalau udah bedug boleh buka? HAHAHAHA...
Lagi, ketika si Menuk nangis2 karena suaminya minta cerai ;-) Ya ampyuuuuunnnn.... yang bisa menjatuhkan cerai suami, bukan? Istri punya hak untuk minta talak cerai karena nggak ridha suaminya sudah menyalahi taklik talak, tapi kalau gak mau cerai juga gak apa2. Jadi... ngapain istrinya jerit2 histeris cuma karena suaminya "minta" cerai? Kalau emang suaminya mau menceraikan, gak perlu suami yang "minta", lageee ;-) Aneh!
Dan yang membuat jidat gw berkerut sepanjang acara adalah: mosok iya, ada restoran sekecil itu punya standar kualitas yang sedemikian tinggi? Memisahkan perlengkapan dan peralatan buat babi dan non-babi sedetil itu kan sama aja seperti punya 2 restoran. Lha, emang restoran ini omzetnya berapa sih sehari, sampai mampu membiayainya? Lagian, dari sisi bisnis, apa iya worth it untuk punya 2 business line yang bertentangan begitu? Emang berapa banyak dalam sehari Muslim taat yang masuk ke restoran itu, sampai dibela2in ada peralatan/perlengkapan khusus?
***
Terus terang, menurut gw film ini gagal total menggambarkan pluralisme. Film ini cuma menempelkan peristiwa2 fanatisme dan menambahkan peristiwa2 yang bertentangan dengannya. Seolah2 pluralisme adalah antonim dari fanatisme ;-)
Menurut pemahaman gw, pluralisme justru bukan antonim fanatisme. Pluralisme adalah bukti bahwa kita telah melewati batas fanatisme. Ketika seseorang belajar agama, sampai pada penghayatan tertentu dia mungkin menjadi fanatik. IMHO, ini adalah "godaan" dalam belajar agama. Jika orang menyerah dan lantas tutup mata gak mau belajar lagi, maka dia akan menjadi fanatik buta. Tapi kalau dia mau belajar, mau membuka mata, maka tahap selanjutnya akan membuat dia melihat bahwa semua perbedaan itu fana. Bahwa keimanannya menembus perbedaan2 yang ada.
Pesan ini yang gagal ditampilkan oleh Hanung dalam film "?", karena tempelan peristiwa2nya justru menggambarkan orang2 yang belum benar2 mengerti agama. Mereka menafikan perbedaan karena mereka tidak menilai tinggi agama. Bukan karena menunjukkan pluralisme.
Contoh yang paling gamblang adalah tokoh Rika. Jika ia memang memahami agama, jika dia memang mengakui Tuhan itu tak dibatasi agama, dia tidak perlu pindah agama. Dia cukup mendalami agamanya, dan menemukan penyembuhan dalam agama yang dianutnya. Karena semua agama sama ;-) Kalau dia sampai pindah agama, itu justru menunjukkan bahwa dia masih belum bisa melihat bahwa semua agama itu sama ;-) Implikasinya: dia hanya tidak menunjukkan fanatisme, tapi belum tentu sampai pada level pluralisme.
Selama ini Gus Dur selalu disebut2 sebagai tokoh Pluralisme. Gw setuju dengan itu. Menurut gw Gus Dur sudah tahu begitu banyak sehingga sampai pada titik mampu menunjukkan pluralisme. Tetapi even seorang Gus Dur gw yakin tidak akan bertindak sejauh Romo yang menjadikan Surya pemeran Kristus, atau Ustad yang mengijinkan Surya menjadi bagian dari ritual ibadah ;-). Kalau Gus Dur masih hidup, gw gak yakin beliau akan mengijinkan non-Muslim menyembelih kambing/sapi qurban pada saat Idul Adha - meskipun mereka mampu dan mau menyembelih sesuai syariat Islam. Karena... dalam penyembelihan itu ada kandungan ibadahnya. Bukan cuma sekedar menyembelih tanpa makna.
Dan itu yang membedakan sebuah pluralisme dari pluralisme periferal
Jalur yang gw lalui lancar. Bahkan jalan Pramuka lengang sekali. Tetapi nggak lama setelah gw melewati Hotel Sentral, gw menyadari mobil di depan gw jalannya lambat banget. Padahal gw jalan di jalur kanan, jalur yang mestinya paling cepat. Gw, tentu saja, memberi lampu dan klakson, sebelum akhirnya menyalip dari kiri.
Tetapi... beberapa menit kemudian, mobil bernomor DG 99xx FE itu menyalip gw kembali dan menghentikan mobilnya. Beruntung gw selalu menjaga jarak, sehingga gw menghentikan mobil tepat waktu - dengan jarak cukup besar di antara kami. Khawatir pengemudi di depan mengalami kesulitan, gw tidak langsung ambil ancang2 menyalip. Gw menunggu dulu.
Ternyata... menunggu itu adalah suatu kesalahan!
Pengemudi sedan itu, seorang laki2 kekar berwajah sangar, menggebrak2 mobil gw, menyuruh gw buka jendela dan turun dari mobil. Instinktif, gw hanya membuka sekitar 2cm kaca jendela gw; cukup untuk bercakap2, tetapi tidak cukup untuk tangannya masuk.
"Ada masalah apa klakson2 dari tadi, hah?"
"Nggak ada masalah, Pak. Hanya kan Bapak di sebelah kanan jalannya lambat, jadi saya klakson supaya lebih cepat, atau pindah ke kiri"
"Turun loe dari mobil, kalau berani! Gw tonjok loe!"
Oleh karenanya, alih2 berdebat atau gantian memaki, gw memilih melakukan sesuatu yang "nggak gw banget": minta maaf padahal gw tidak bersalah.
"Kalau begitu saya minta maaf sudah mengklakson Bapak. Maaf ya, Pak, saya nggak bisa turun. Saya sedang bawa anak saya, harus pulang cepat"
"Turun loe!! Kalau enggak, gw kempesin mobil loe!!"
"Saya sudah minta maaf, Pak. Kalau Bapak mau memperpanjang, mari kita bicarakan di kantor polisi saja. Tetapi saya tidak bisa turun di sini"
"Kalau gitu STNK mana! Kasih ke saya!"
Walaupun ngeri dan sulit berpikir jernih, untungnya intuisi gw masih berperan besar menunjukkan sesuatu yang nggak beres, dan membantu mulut memberikan alasan.
"Bapak kan bukan polisi, dan saya tidak melakukan pelanggaran lalu lintas. Bapak tidak berhak minta STNK saya. Kalau mau lihat STNK saya, saya berikan di depan polisi. Tidak di sini!"
Pria sangar itu makin marah2 dan menggebrak mobil. Sebelah tangannya mengambil dompet di saku belakang. Dan... untuk sesaat, demi membuka dompetnya dia mengeluarkan tangan yang selama ini diselipkan di kaca jendela gw.
It happened for only a second or so, but it was enough for me to close the window. Thank God, for providing me a good reflex.
Begitu gw berhasil menutup jendela, gw segera menyalip mobil itu dan melaju kencang. Tujuan gw hanya satu: kantor polisi! Gw ingat bahwa di perempatan by pass ada kantor polisi, tapi entah kenapa tujuan gw adalah kantor polisi yang agak jauh di Jalan Pemuda. Sambil jalan, gw sesekali melihat ke belakang apakah mobil tersebut mengikuti; tapi karena mobilnya sedan hitam, dan banyak sekali mobil hitam di belakang gw, amatan gw tak terlalu jelas. Mbak-nya Nara bilang mobil itu tampaknya belok kanan di perempatan by-pass, pas di depan kantor polisi, but I can't be really sure.
Sampai kantor polisi, gw parkir mobil gw. Lima menit berlalu, lantas nyaris seperempat jam. Mobil itu nggak datang-datang hingga akhirnya gw memutuskan untuk pulang. So much for intimidating me ;-)
Berhubung ada hal2 yang lebih penting, gw cuekin teleponnya. Dan dia berhenti menelepon setelah 3x.
Tetapi rupanya mereka pantang menyerah. Besoknya, Jumat 5 November 2010 jam 14:11, ada lagi telepon dari +6288210724630. "Salam pembukanya" masih sama, dengan menyebut2 bangsanya si Napoleon dan Snowball di Animal Farm ;-) Tetapi sekali ini gw lebih siap. Siap untuk iseng dan merumitkan hal yang sepele maksudnya... HAHAHAHAHA...
Segera gw aktifkan fitur speaker phone, dan gw keluar ruangan kerja sambil bilang ke seluruh teman yang sedang berkumpul, "Ada yang mau dengar orang maki2 gw?" Oops, mendadak sontak, perempuan pemaki di telepon itu segera mematikan teleponnya.
Sebagai gantinya, pukul 14:24, ada telepon masuk lagi. Kali ini dari +6281382851128. Tetap dalam keadaan speaker phone aktif, gw terima teleponnya, dan dia berkata begini:
"Halo, Ibu Maya, saya Bintang. Saya anak buahnya Bu Dina. Tadi saya lewat ruangan Bu Dina, saya dengar boss saya sedang marah-marah pada Ibu. Itu kenapa ya, Bu?"
Gw nggak tahu penipu2 ini memang segitunya naifnya, atau just plainly stupid ;-) Normalnya sih, kalau kita lihat boss marah, anak buah akan tanya kepada boss-nya mengapa marah2. Bukan bertanya kepada orang yang ditelepon boss-nya ;-) Dan lagi... dari mana dia dapat nomor gw ya? Dalam hitungan detik, lagi! Is she a kind of psychic ;-)?
Setelah gw sarankan dia tanya saja pada boss-nya, telepon gw matikan. Nah! Setelah telepon mati inilah drama dimulai ;-)
Awalnya, gw terima SMS dari si Bintang ini dengan bunyi demikian:
----- SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:31
Ibu maya saya mau knfrmsi masalah htg krt kdt citibank ibu [NAMA NYOKAP GW] ttl tghn 6.8jt sampai tgl 15 ini byr kami bnt 3jt lunas silahkan dtg ke CB Jl gt subroto gdg menarajamsostek lt 5 ketemu atasanku pak henson atau pak wahyu no krtnya ibu 5421.7701.2021.[CENSORED].Tlg etika baiknya.Tks.Bintang.Balas
Hmmm... pertama2, setelah si Dina menelepon pada 24 September lalu, gw sudah sempat cek ke nyokap apakah beliau punya tunggakan kartu kredit. Dan... seperti telah gw duga, boro2 ada tunggakan, wong kartu kredit aja nyokap gw gak punya ;-) Beliau memang pernah punya kartu kredit Citibank, tetapi sudah ditutup tahun 1996.
Dan setelah 14 tahun dia mau memutihkan hutang 6.8jt menjadi 3jt? Hahaha... get real ;-)
Semakin yakin bahwa ini tipuan, gw jawab aja dengan santai, dan terjadilah percakapan berikut:
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:32
Ibu saya tidak punya kartu Citibank sejak tahun 1996
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:35
Siapa bilang ibu?Thn 92 buka krt thn 96 tdk byr2 kalau ga ada htg mana mgkn namanya diblklst di BI?Kalau ibu tdk keberatan kami undang ibu ke CB bsk bisa dtg?
Nah, ini lucu lagi ;-) Kalau yang dipermasalahkan adalah kartu kredit nyokap gw tahun 1996, apalagi yang dibikin tahun 1992, maka NGGAK MUNGKIN gw yang jadi "Emergency Contact"-nya nyokap ;-) Waktu itu alamat nyokap dan alamat gw masih SAMA. Jadi pasti aplikasinya bakal ditolak kalau beliau mencantumkan gw ;-)
Dan lagi, kalau nyokap bikin kartu itu tahun 1992, maka NGGAK MUNGKIN beliau mencantumkan nomor HP gw yang ini ;-) Tahun itu gw belum punya HP... hehehe... Bahkan nomor HP ini belum dibuat oleh providernya, wong providernya aja baru berdiri SETELAH 1996 kok ;-)
Jadi, dari mana dia tahu nomor HP gw ;-)?
Makin yakin ini praktek penipuan, ya gw santai aja meneruskan percakapan dengan:
----- SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:38
Ya sudah di-blacklist kan? Masalah selesai dong :) Lagian, mana ada bank baru nagih 14 thn kemudian ;)? Aneh2 aja orang mau nipu :) Lagipula saya sudah konfirmasi ke Citibank, tidak ada itu Henson/Wahyu! Apa jabatannya? Lagipula, kalau masalah hutang piutang, kenapa gak lapor polisi aja? Kenapa mau bantu dan 3jt lunas? ;)?
As I predicted, mereka mulai back-off setelah dengar kata2 "polisi". Seperti terlihat pada percakapan berikut, they did whatever they could to avoid "the police":
----- SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:41
Ingat bu sampai matipun akan tetap ditagih kalau saya mau nipu knp ibu saya undang keCB?dan semua saya tau data2nya?Buat apa saya menipu?Justru saya mau bantu
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:43
Kalau soal bank mah bukan urusan hidup mati! Urusan hukum ;) Laporkan polisi saja ibu saya :) Ngapain mau bantu2 segala ;)?
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:45
Mrk manager collection citibank silahkan ibu telp citibank 021.52909223 atau 021.52909256 knp dpt 3jt?Karna kami niat n tulus membantu biar masalah ibu cpt selesai dan merupakan tugas kami jd kami harap ibu ada respon baik
Huh? Tulus membantu ya? Baru tahu gw ada orang yang mau membantu tapi mulai dengan memaki2 yang akan dibantu ;-) Bukankah kalau menurut Al Baqarah QS 2:263 "perkataan yang baik dan pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima)" ;-)? Tetapi mungkin si Bintang ini bukan Muslim, jadi nggak baca Al Quran ;-)
So, dengan santun gw ucapkan terima kasih. Tetapi tetap gw nggak mau terperdaya untuk bayar 3jt :-) Kecuali kalau memang ada bukti gw WAJIB membayar :-)
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:48
Oh, terima kasih kalau tulus mau bantu. Cuma saya heran mau bantu kok pakai memaki2 segala :) Tapi tdk usah dibantu deh, tuntut secara resmi saja. Kita selesaikan di pengadilan :)
Dan seperti gw duga, jawaban ini membuat mereka menjadi kasar... HAHAHAHA... Simak percakapan berikut ini:
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:56
Perlu ibu tau ini ga ada hbgnnya ama polisi yg teramat penting adalah hukum moral apalg ibu anda sdh berumur anda selaku anak dimana bakti anda?Banyak nasabah saya ga menutup kemungkinan keluarga ya byr kalau memang ibu tdk mau ksh no hp ibu anda jgn menghindar krn thn 06 ibu anda pernah minta diskon setelah deal tdk ada pmbyrn sampai sekarang tlg anda seret ibu anda ke citibank tunjukkan moral manusianya masa mau coba pinjan uang ga akan bisa ibu
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:59
Hahaha.. Urusan hutang piutang itu masuk hukum perdata, Mas!
Silakan perkarakan saja deh, ini urusan hukum, bukan moral. Perlu saya kutipkan pasal UU Perdatanya ;)? Lagian, mana bisa Citibank besar kalau manajemennya manajemen moral :) Emangnya bank-nya Mohamad Yunus? Bank syariah aja gak main moral2an. Hutang ya masalah hukum. Ok?
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 15:06
Kasihan saya jd liat anda blg aja ibu anda kalau ga ada uang jgn sok org kaya dan team khusus akan tagih kermh susah bicara dgn manusia tdk bermoral
Yah, mau dibilang nggak bermoral juga gw nggak masalah kok ;-) Gw kan nggak pernah peduli kata2 orang ;-) Kalau cuma dikatain dan difitnah, gw udah kenyang ;-)
Lagipula, gw lebih gak suka dikenang sebagai orang BODOH yang bayar 3jt pada orang nggak jelas, daripada disebut "tidak bermoral" ;-)
Dan lihat bagian SMS si Bintang ini yang gw bold ;-) Aneh banget gak sih ;-)?
Kalau memang benar nyokap gw berhutang, mestinya si Bintang ini punya data2 lengkap nyokap gw dong! Termasuk nomor HP dan rumah nyokap gw ;-) Wong data nasabah pasti tercatat dan diverifikasi oleh bank sebelum mendapatkan persetujuan kartu kredit ;-) Lha, kok malah dia nggak tahu nomor HP nasabah yang dia kejar? Malah tahu2nya nomor HP gw yang providernya aja belum berdiri saat nyokap gw bikin kartu kredit itu! Aneh banget gak sih ;-)?
Makin yakin gw bahwa gw berurusan dengan sekelompok penipu ;-) Makanya malah makin gw mainkan jurus Devil's Advocate gw. Pingin tahu sejauh mana logika dan persiapannya :p
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 15:07
Ya sudah. Anggap saya tidak bermoral. Saya nggak keberatan kok ;)
Ohya, kalau mau datang ke rumah bilang2 ya, nanti saya siapkan suguhan :) Suka donat :)?
Lagipula, ngapain Anda kejar2 saya? Memangnya “Emergency Contact” SINONIM dari “Penanggung Jawab” :p?
Dan jawabannya, seperti sudah gw duga, makin melantur tur tur... ;-)
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 15:30
Itu khan ibu anda?Bkn mslh ec tp itu ibu anda yg lahir dari rahimnya?Blg jgn menghindar kayak maling
Deuh! Apa hubungannya hutang kartu kredit dengan lahir dari rahim siapa ;-) Ganti jurus nih ye... jurus "moral" ;-) Either too naive, or plainly too stupid to differentiate between "law" and "morality" ;-) Makanya dengan "tulus iklas dan siap membantu", gw coba ajarkan batasan yang TEPAT ;-)
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 15:43
Subject: Ya masalah, dong!
Ya masalah, dong! Secara hukum, Anda sudah bisa saya tuntut melakukan hal tidak menyenangkan karena memaki2 saya pdhl saya gak punya salah. Semua orang dimata hukum bertanggung jawab atas dirinya sendiri! Emangnya bisa, kalau Anda melanggar hukum lantas Ibu/Bapak Anda yang dituntut :p?
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 15:55
Hukum apa?Ini hukum moral dimana moral ibu anda?Itu saja sgr bayar
HUAHAHAHAHA... Hukum moral? Apaan tuh? *mata ngedip sebelah*
Kayaknya mesti gw kasih tautan ke tulisan gw yang ini ;-) Bahwa "moral" bukan "hukum". Hukum itu jelas aturan benar-salahnya, sementara moral itu acuannya prinsip/kepercayaan. Sesuatu yang tergantung pada norma, dan tidak secara jelas dituangkan dalam bentuk aturan baku seperti hukum.
Lha, kalau "hukum moral" kayak apaan tuh? HAHAHAHA...
Lightly, I tried to put some sense in her 486-class processor brain:
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 15:56
Anda ini Citibank atau FPI sih? Klo FPI sih emang urusannya moral. Kalau Citibank, sebuah perusahaan berbadan HUKUM, mestinya sih ngomongin hukum ya :p?
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 16:05
Anda tau?Hukum kartu kredit hukum moral paham?
HUAHAHAHA... masih nggak ngerti kesalahan terminologinya dia ;-) Terpaksa disentil lebih keras:
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 16:08
Hahaha… Semua yang berkaitan dgn badan HUKUM adalah hokum. Bukan moral :p Lagian mana ada “hukum moral” ck ck ck…
Moral tuh, ya, misalnya ketika memaki2 orang yg tidak bersalah ketika kesal :) Secara hukum tidak salah, tetapi secara MORAL tidak tepat. Ngerti ;)?
Dan... TOUCHE! Sentilan gw nembus! BULL'S EYE!
From then on, this grifter became more and more aggressive ;-) Simak percakapan berikut:
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 16:16
Lw bgo y, cm sgtu pngertian moral bg lw. Gw ksi tau lg moral tu ap?Moral apabila seseorang mlakukan yg tdk bnar dmata hukum n agama prbuatan yg tdk bs dpertanggungjawabkan,ya spt kamu dan ibumu
Agar ibu loe tenang kalau mati jgn sampai htg dibawa mati
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 16:21
Oooh, gitu ya ;)? Lha, kalau yang Anda lakukan ini, pura2 "membantu" agar dapat 3jt, namanya apa ;)
Moral itu kaitannya dengan "baik-buruk", kalau dengan "benar-salah" namanya hukum :) Kalau di Islam, moral kaitannya dgn aqidah, hukum dgn syariah. Tuh, kan, beda :p
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 17:20
Ya dg pngertian lw ma ibu lw itu tmasukda mlanggar aqidah n syariah. Kn lw bdua da pake n nikmati dana dr citibank (wktu itu ibu lw mhon2 pinjam dana k cb),klu ga lw ma ibu lw balikin ntu namany ap?Da lha jgn bnyk ngmong kyna omongn lw mo mnghindar aj dr aqidah n syariah
HAHAHA.. tuh, kan, Bintang ini pasti nggak paham apa yang gw omongkan;) Nggak bisa bedakan antara syariah dan aqidah rupanya ;-)
Nggak heran sih ;) Sejak dia bawa2 moral di atas memang sudah aneh. Kalau dia paham, mestinya dia tahu bahwa kewajiban gw membayar hutang ortu gw adalah jika beliau sudah meninggal. Hutang itu termasuk warisan kan ;)? Tetapi selama ibu gw masih hidup, ya ibu gw bertanggung jawab atas diri sendiri. Perkara nanti ibu gw perlu bantuan gw untuk menutup hutang, itu urusan ibu gw dengan gw. Bukan urusan pemilik piutang ;)
OK, sudah melantur tuh orang. Waktunya kembali ke fokus awal :) Mau dibayar? Buktikan bahwa gw memang WAJIB membayar ;-)
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 18:20
Saya patuh pada hukum negara Indonesia kok. Kalau pengadilan bilang saya harus bayar, ya saya bayar. Nggak usah pakai korting2an segala seperti yg Anda tawarkan :p Tapi kalau yg nagih cuma tukang maki2 .. "Sorry, sorry, sorry, Jek" :p Jelas ;)? Ditunggu langkah hukumnya :)
As clear as the blue sky, kan ;)? Gw sudah tawarkan win-win solution. Harusnya sih dia terima hal ini, KALAU BENAR dia dari Citibank dan nyokap punya hutang di sana. Tinggal Citibank gugat aja, serahkan buktinya, dan nyokap gw akan terpaksa membayar.
Tetapi kalau dia penipu, ya akan mencoba menghindar sedapat mungkin. Seperti yang ia lakukan berikut:
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 18:29
Subject: Klu lw patuh ma hukum indonesia...
Klu lw patuh ma hukum indonesia hrsny lw bayar hutang ibu lw k citibank ga usa lw pduli ma gw klu mang niat byar hutang!! N ga plu msti pngadilan yg suru lw byar hutang, masa lw lbi patu ma pngadilan drpd ma Tuhan.Plu lw tau hukumny hutang BAYAR!
Hahaha... lucu juga baca argumennya ;-) Setelah maki2 gw, dia bawa2 nama Tuhan sebagai dasar? Pakai merasa bahwa dirinya "instrumen" Tuhan lagi! Penyampai "wahyu" dari Tuhan ;) Makanya kalau gw memilih pengadilan, instead of bayar dia langsung, artinya gw "lebih patuh pada pengadilan daripada Tuhan" :)
*eh, tapi gw rasa, penulis SMS yang ini beda dgn yang awal. Lihat perbedaan bahasanya. Bukan cuma beda intonasi persuasif jadi agresif, tetapi yang terakhir ini gaya nulisnya rada alay. "Ada" jadi "da", "patuh" jadi "patu", dan "loe" jadi "lw"... hehehe... Alay banget gak sih ;)?*
Sambil kasih argumen balasan, gw jadikan dia hiburan siang. Sekaligus memvalidasi kata2 sebelumnya di awaaaal tadi bahwa kantornya di Menara Jamsostek ;)
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 18:43
Subject: Saya kan nggak berhutang?
Saya kan nggak berhutang? Jadi nggak ada hukumnya saya harus bayar :p. Eh, si Dina kok gak nelfon dari nomor +622183702590 lagi? Takut ketahuan itu bukan nomor daerah Menara Jamsostek ya? :*
Dan... HAHAHAHA... some people just don't know when to surrender ;-)
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 18:49
Subject: Eh lw itu bhutang moral ma ibu lw.
Eh lw itu bhutang moral ma ibu lw. Ibu lw kn mnghndar dr citibank jd ga sala klu gw tagi k lw.Asal lw tau lw bsar scara tdk lnsung dr citibank.Jd klu lw ga mrasa bhutang jambak ibu lw k cb tuk bayar ap yg dia pake.
HAHAHA.. makin lucu aja ;-) Gw dibilang berhutang moral sama nyokap, TETAPI dalam satu tarikan napas yang sama gw disuruh "jambak" ibu gw dan dibawa ke Citibank? Gimana caranya gw menunaikan the so-called "hutang moral" dengan cara yang "tidak bermoral" ;)?
Makanya makin gw tanggapi dengan santai orang ini. Gw biarkan dia berputar2 dengan argumen "moral"-nya, sambil gw ajak bermain matematika. Mencongak hutang bunga-berbunga selama 14 tahun: kalau hasil akhirnya 6.8jt, padahal bunga sekitar 3.5% per bulan, maka hutang pokoknya berapa ya ;)?
Ini catatan percakapan selanjutnya. Nggak terlalu penting gw bahas, tapi boleh aja kalau mau dibaca. Paling yang mau gw highlight SMS yang terakhir di kutipan ini:
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 18:52
Haha.. Besar karena Citibank ;)? Get real :) Mosok biaya membesarkan saya cuma 6.8jt :p
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:03
Itu kn sisa tagihany bkan pmakaiany,bgo lw y. Blang ma ibu lw citibank da bgtu baik n tugu lm kdatangnny jg ga sabar dia byar hutangny!! O Ya bkn dina lg yg hndle ibu lw tp skr gw!
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:08
Subject: Ngapain jg Citibank susah2 nagih...
Haja.. Kalau sisa tagihan PLUS bunga selama 14 thn cuma 6.8jt, berarti hutangnya gak banyak dong :p
Ngapain jg Citibank susah2 nagih stlh 14 thn cuma buat recehan ;)? Get real :)
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:13
Besar n receh ttp aj yg namany utang ya utang jd lw yg mstiny GET REAL. Nah lw da sadar kan, skr cpatlah antar ibu mu k cb tuk slsaikan hutgny.
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:21
Lho, saya sdh get real dari tadi ;) Asal ada keputusan hukum yg sahih, saya bayar. Klo cuma tukang maki2 yg nagih sih no way :p Apa susahnya sih Citibank nuntut ke pengadilan :p?
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:25
Duh dulu waktu ibu lw pake dana citibank aliaz msi aktiv ga libatkan pngadilan ko da nunggak skr libatkn pngadilan. Dmn get real lw??
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:31
Haha, dimana2 kalau ada dispute ya ujungnya pengadilan. Bukan cuma kirim tukang maki2 :) Yang heran kenapa Anda susah banget ya diajak ke pengadilan :p?
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:42
Lw ga malu y tuk byar 6,8 jt hrz pake k pngadilan.Kcil bgt hrga diri n nyali lw. Sbnarny ni ga plu dispute klu ibu lw ga susa tuk slsaikn hutangny n sdar klu dia btanggung jwb dg yg dia nikmati aplgi dulu pinjamny baik2.
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:47
Gak, saya tidak malu :) Itu sesuai prosedur. Jadi jika Anda ingin dibayar, lakukan sesuai prosedur hukum. OK? Case closed.
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 20:06
Hey, lw bukn byar k gw tp k citibank omongan lw gayany tnggi tp otak lw bgo.Case iz closed klo your mom pay hutang k cb!!
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 20:07
In that case, mari kita ke pengadilan :) Jangan cuma berbalas SMS :)
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 20:13
No, in this case no need to use the law but u need to pay your mom crdit card billing or let me tell n speak to ur mom.
Deuh, Neng, Neng :) Dari awal juga siapaaaaaa yang melarang situ ngomong ama nyak gw???? Kagak ade, Neng, kagak ade!
Dari awal pan aye udah bilang: perkarain aja nyak gw ke polisi, ke pengadilan. Situ kan punya datanye ;)?
Nah, kalo ente sekarang minta disambungin ama nyak aye, aye pan nyang bingung: situ nagih nyak gw tapi kagak punye nomor HP-nye. Malah punyanye nomor HP aye yang PASTINYE kagak ade di formulir aplikasi nyak aye ;)? Pigimane sih, Neng?
POKUS, Neng, POKUS ;) Nih, aye bantuin ye:
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 20:18
Go ahead! Talk to her! But I stand my ground: payment will only be made upon a court's order! We'll not gonna pay just because an unknown individual harrassed us. So go ahead! Sue my mom!
And as I've predicted, here came the final answer. The kind of answer that made me smugly smiled:
------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 20:25
Okay, I can not sue ur mom but trust me God will sue ur mom in the hell!!
You can't sue my mom, eh? I've thought so ;-) Because you're nothing but a bunch of grifters :)
Dan sebagai kata akhir, gw sampaikan jawaban berikut ini:
------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 20:27
Why can't you sue my mom ;)? Not enough proof :p? As for the afterlife, let God be our judge :)
Untuk sementara, mereka diam. Tapi gw yakin mereka mirip dengan Arnold Schwartzenegger di "The Terminator". They'll be back ;-) Mungkin lusaaaa, atau di lain hari ;-)
*eh, yang terakhir itu mah Koes Plus ya ;-)?*
***
Apa analisa gw tentang kejadian ini?
Hmmm.... ada beberapa kemungkinan. Salah satu kemungkinan yang hendak gw bagi di sini adalah: ini sejenis penipuan gaya baru. Versi lebih canggih daripada "Mama Minta Pulsa" ;-)
Kemungkinan, terjadi kebocoran data dari salah satu formulir aplikasi kartu kredit gw; entah dari bank yang mana. Bahkan belum tentu juga aplikasi gw yang di Citibank. Di aplikasi kartu kredit, kita kan harus menuliskan nama ibu kandung DAN nomor HP kita yang aktif toh? Hal ini menjelaskan bagaimana dia mendapatkan nomor HP gw yang TIDAK MUNGKIN ada di aplikasi kartu kredit nyokap gw tahun 1992 ;)
Begitu tahu nama ibu kandung gw, mereka tinggal pura2 aja ibu gw berhutang. Gebrak dengan makian supaya gw panik dan bayar. Atau supaya gw jengkel dan bayar.
Menentukan angka berapa yang mereka minta untuk "menganggap lunas" hutang? Gw rasa dari data tentang limit kartu kredit yang gw dapatkan. Dasar dari dugaan ini adalah karena beberapa waktu yang lalu seorang teman di kantor pernah juga "kena" modus operandi seperti ini: ada yang telepon, ngakunya dari bank-nya, dan mau membantu memutihkan hutang dengan "cukup" bayar Rp 500.000. Uangnya dibayarkan tunai oleh teman gw di kantor, dan... tetap saja hutangnya nggak diputihkan ;-)
Lho, data nasabah kan terjamin kerahasiaannya? Hmmm... memang. Tetapi kan juga ada batas penyimpanan formulir yang sifatnya fisik. Anggaplah formulir fisik harus dimusnahkan setelah data di-entry ke dalam sistem, atau setelah kurun waktu tertentu. Nah, siapa yang jamin tidak ada data tercecer? Atau dicecerkan oleh oknum? Seperti yang dialami oleh kupon undian hipermarket di cerita gw ini.
So, cerita ini gw bagikan kepada publik agar publik semakin berhati2 ;-) Dan supaya bank2 di Indonesia, terutama Citibank yang namanya dicatut di sini, lebih berhati2 dengan data nasabah.
Dan in case para penipu itu baca blog gw (which is QUITE possible, since they seem to know my tendency of speaking fully in English whenever I want to make a point), coba beli DVD bajakannya Leverage sana! Belajar jadi grifter yang baik :p
______
NB: Terima kasih pada fitur "Forward as Email" dari Blackberry, yang memungkinkan gw langsung co-pas isi SMS tanpa harus ketik ulang ;-)
I found their website without any difficulty. But I didn't leave any comment there. Instead, I had a good laugh reading their articles. Geez! I was amazed by their delusion :-) Their rants and rambles were - in my not-so-humble opinion - too bizarre to convince any people who could keep their head cool :-)
Take a look at the article called 10 Reasons to Burn a Koran. Anyone could see that all they have is accusation and prejudice - without any logical evident to support. Here are some examples of their accusation, and how easy it is to show their logical fallacy :)
One
The Koran teaches that Jesus Christ, the Crucified, Risen Son of God, King of Kings and Lord of Lords was NOT the Son of God, nor was he crucified (a well documented historical fact that ONLY Islam denies). This teaching removes the possibility of salvation and eternal life in heaven for all Islam's believers. They face eternal damnation in hell if they do not repent.
There is a huge difference between denying the occurence of crucifixion and denying the identity of those who were crucified. If only they read the Koran carefully, at least An Nisa QS 4: 157 - 159 part, they will realize that Islam only denies that Jesus Christ was the Son of God :-) Islam never denies the "well documented historical fact" that there was a crucifixion :-)
It is said: That they said (in boast), "We killed Christ Jesus the son of Mary, the Messenger of God";- but they killed him not, nor crucified him, but so it was made to appear to them, and those who differ therein are full of doubts, with no (certain) knowledge, but only conjecture to follow, for of a surety they killed him not:-
See? There is no denial towards the "well documented historical fact" of crucifixion :-) We just deny the identity of the person they crucified ;-) Since we put that person - who you believe as Son of God - as something extra-ordinary. Someone God love so much to save and raise up :-) Nay, God raised him up unto Himself; and God is Exalted in Power, Wise;-, the Koran says.
I had a good laugh reading this first reason, because they have served their logical fallacy right from the beginning ;-) See the first sentence? They mix up the "well documented historical fact" with their own belief :-) The "well documented historical fact" only proves that the crucifixion happened. It does not prove the identity of the condemned. It is their belief that links the "well documented historical fact" with the identity of that person. And now they think they hold the truth ;-)? What a logical fallacy :-) From the way I see it, the same "well documented historical fact" supports BOTH Islamic and Christianity's belief :-)
Two
The Koran does not have an eternal origin. It is not recorded in heaven. The Almighty God, Creator of the World, is NOT it's source. It is not holy. It's writings are human in origin, a concoction of old and new teachings. This has been stated and restated for centuries by scholars since Islam's beginnings, both Moslem and non-Moslem.
This so-called 2nd reason made me laugh even more :-) They are so sure to say Koran is not this, Koran is not that. But.... anyone notice that they fail to mention even ONE single argument to convince others ;-)? Who the scholars that made the statement? What statement did they make?
I don't know how others will take it. But I always look for a convincing proof before accepting something as a truth ;-)
***
I won't bother to criticize or comment the rest of the articles ;-) At the end of the day, I realize that this congregation does not need any comment from me. They are not a bunch of Islam-haters; they are just a bunch of people who are so lost in their own delusion. It's not prejudice towards Islam they have; it's delusion. So deluded they are, that they even think that the best way to fight Islam is by doing what is forbidden by their own religion: committing violence.
This phenomenon gives us a very important learning: no matter how GOOD the teaching of your religion is, fanatism will always lead us to BAD act. That fanatism and the not willingness to listen objectively to what others believe in are the root of all prejudice and violence.
John Lennon once sang that the brotherhood of man might come when there is no possession, no countries, no religion. Well... I don't share the same belief with him. I think the brotherhood of man depends on how we learn to practice our empathic skill towards diversity. We don't have to extinguish all the difference; we just need to learn to accept them.
... and let God be your judge of what the Truth is ;-)
As in Al Maaidah QS 5: 48 says, we mortals never know what the Truth is ;-) It's the prerogative of God. If God had so willed, He would have made you a single people, but (His plan is) to test you in what He hath given you: so strive as in a race in all virtues. The goal of you all is to God; it is He that will show you the truth of the matters in which ye dispute
Happy Eid Mubarak, September 10. Nine years ago, 9/11 was a tragedy. Let's make 9/10 event a remedy for that.
Tahu kan, gw paling alergi kalau baca argumen yang cacat pikir, yang seolah2 logis padahal penuh prasangka dan/atau dilandasi dasar pengetahuan yang tidak memadai? Argumen asal jeplak! Dan posting, maupun komentar2 di comsys-nya, menurut gw termasuk argumen seperti itu. Dimulai dari argumen pembukanya:
Apa mereka tidak sadar ya, kalau masjid mau tidak pakai ijin, mau lebih dari enam di satu RT, tidak ada yang segel. Kalau alasannya berisik, apa ada yang protes kalau corong speaker Toa setel kaset sampai subuh? Kalau alasannya kristenisasi, apa ada yg nuduh islamisasi kalau masjidnya ada 10 di satu RT? Apa ada yang protes kalau syiar dan dakwah terang -terangan mulai dari bagi-bagi daging kurban sampai wakaf Quran, tidak ada yang marah.
Entah sampai kapan penganut agama yang mengaku damai dan toleran ini sadar? Apa sampai Tuhan memberikan gempa dan tsunami lagi supaya tidak ada satupun rumah ibadah berdiri?
Hehehe... gw gak akan bahas deh, kalimat penutupnya yang tendensius itu ;-). Gw juga nggak akan bahas juga ceracauan tentang syiar/dakwah terang2an dengan Wakaf Al Quran ;-) Gw anggap saja itu ketidaktahuan seorang rekan non-Muslim, bahwa ada syarat2 yang harus dipenuhi untuk menjadi penerima wakaf. Dan khususnya tentang Wakaf Al Quran, seperti disitir di situs ini, target penerima wakaf Al-Quran ini adalah yayasan-yayasan Islam, Masjid dan Mushola, Majlis Taklim yang memang layak untuk menerimanya. Jadi dijamin nggak ada islamisasi di sini... hehehe... Al Quran ini nggak dibagi2 kepada mereka yang non-muslim kok ;-) Jangan takut ;-)
Gw lebih tertarik ngebahas sisi statistiknya aja, yang dijabarkan di kalimat pembuka ;-)
Uhmmm... gw belum pernah dengar sih ada mesjid sampai 6 di satu RT, apalagi sampai 10. Tetapi anggaplah si penulis blog memang punya datanya, dan bukan asal jeplak secara emosional. Pertanyaan gw: so what? Jika ijin diberikan kepada mereka, sementara ijin yang sama tidak diberikan untuk membangun SATU gereja saja, apakah itu berarti diskriminasi?
Hmmm... kalau kita berpegang pada Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9/2006 atau 8/2006 sih sah2 aja. Dalam Pasal 14 ayat 2, jelas dikatakan kok bahwa syarat pendirian rumah ibadah adalah (a) Daftar nama dan KTP pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah, dan (b) Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan lurah/kepala desa.
Dengan fakta bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, apalagi di Pulau Jawa yang kepadatan penduduknya tinggi, mendapatkan 45 keluarga batih yang akan menggunakan mesjid di satu RT bukan hal yang susah. Apalagi kalau keluarga itu bukan keluarga batih; ada bapak/ibu/mertua/tante/oom/anak/mantu yang juga sudah punya KTP. Kuota KTP 90 orang pengguna rumah ibadah mungkin hanya butuh 15 - 20 keluarga saja :) Masih dengan fakta mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, dukungan 60 orang juga menjadi lebih mudah didapat.
Hal ini menjadi sulit bagi umat beragama lain, contohnya Kristen atau Katholik. Mereka butuh wilayah cakupan yang lebih besar untuk berhasil mengumpulkan 90 orang pengguna. Menjadi lebih sulit lagi karena aliran dalam Kristen itu banyak. Masing2 aliran punya detail ritual ibadah yang berbeda, sehingga butuh gereja sendiri2. Nggak bisa berbagi gereja secara permanen.
Akibatnya, jika di satu RW bisa nemu 100 keluarga Muslim (yang berarti punya 200 - 600 KTP calon pengguna mesjid, dan bisa bikin 2 - 7 mesjid), mungkin baru bisa nemu 20 keluarga Kristen di satu kelurahan. Harus menggalang KTP dari lokasi yang lebih luas lagi, mungkin kecamatan atau kotamadya, untuk mendapatkan 90 KTP calon pengguna gereja.
Lebih repot lagi ketika dari 20 keluarga itu yang 5 keluarga gerejanya HKBP, yang 7 Gereja Baptis, yang 4 Gereja Kristen Jawa, dan sisanya gereja2 lain. Tentunya akan butuh radius yang lebih luas lagi sekedar untuk membuat satu gereja.
Dan di sinilah potensi konflik muncul ;-)
Ingat kan, ada Pasal 14 Ayat 2 bagian B? Tentang harus mendapatkan dukungan dari minimal 60 penduduk sekitar? Dengan sebaran umat di radius yang sangat luas, berarti akan sulit menemukan radius kecil yang bersedia "ketempatan" suatu bangunan yang tidak akan mereka pergunakan. Sulit menemukan masyarakat yang OK saja daerahnya akan didatangi ratusan orang2 setidaknya 1 hari seminggu.
Memang, orang Indonesia adalah masyarakat toleran; yang dengan gampangnya nutup jalan kalau ada perkawinan/kematian. Tapi jangan lupa: orang Indonesia ini adalah masyarakat yang sama dengan mereka yang memasang penghalang jalan di kompleksnya agar mobil2 yang tidak dikenal tidak merusak aspal mereka ;-) So... adalah sesuatu yang wajar (dan tidak sepenuhnya rasis) ketika masyarakat tidak mendukung berdirinya sebuah rumah ibadah yang akan digunakan oleh orang2 tak dikenal di tempat mereka.
Sampai di sini, gw masih melihat bahwa penolakan terhadap pendirian gereja sebagai reaksi yang normal (dan tidak sepenuhnya rasis). Dan masih bisa mengerti - meskipun tidak ikut mendukung apalagi berperan serta aktif - dalam aksi penutupan gereja.
Nah, kalau begitu, apa dong win-win solution yang bisa ditawarkan? Apakah kalau begitu biarin aja umat non-Muslim keleleran dimana2 tanpa rumah ibadah? Apakah kita harus menghalangi mereka beribadah, hanya karena mereka tersebar di kantong2 pemukiman?
Gw terpikir satu solusi yang mungkin bizarre, tetapi bukan tak mungkin terjadi - jika pemerintah mau menjalankan tugasnya sesuai Pasal 14 ayat 3: dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 huruf a terpenuhi sedangkan persyaratan huruf b belum terpenuhi, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadah. Semacam ide lebih sederhana, dan lebih prakmatis, daripada jabaran opini ini.
Konsep bizarre ini gw namanya: Church Center ;-)
Iya, gw tahu bahwa kalau masing2 aliran dalam Kristen/Katholik mau bikin gerejanya sendiri2, maka pemenuhan syarat Pasal 14 ayat 2 huruf a itu sulit sekali. Apalagi Pasal 14 ayat 2 huruf b! Tetapi... jika mereka mau bersatu padu menggalang dukungan untuk membuat satu gereja saja, maka kesulitan itu dapat dikurangi (dan mudah2an berkurang secara signifikan).
Lho??? Gimana caranya bikin satu gereja??? Kan ritual ibadahnya lain2!!!
Ntar dulu... :-)
Kita bikin gedung gerejanya satu saja, tapiiiiiii....... tingkat lantainya banyak! Jadi konsepnya kayak gedung kantoran gitu. Masing2 kongregasi/aliran bisa dapat beberapa lantai. Kalau kita bisa bikin satu Church Center segede Pacific Place, atau Mal Taman Anggrek, atau Grand Indonesia, di setiap kotamadya, mosok sih problem tidak teratasi?
Lho, nanti jadinya lebih gampang dong nge-bom gereja, kalau semuanya di Church Center??
Gw pikir malah lebih sulit dong! Karena malah akan lebih mudah menjaga keamanan di satu lokasi besar daripada di beberapa lokasi terpisah. Jadi, dari segi keamanan, Church Center lebih aman.
Lha, emangnya gampang dapat tanah segede Grand Indonesia?
Yaaah... enggak sih ;-) Susah! Tanah mahal... hehehe.... Tapi, di situlah peran serta pemerintah sesuai Pasal 14 ayat 3 diperlukan. Tugas merekalah menentukan dan memfasilitasi berdirinya Church Center. Dan gw yakin pemerintah bisa melakukannya, kalau mereka mau. Kan tinggal konversi peruntukan tanah aja! Daripada tanah2 semua jadi mal, mendingan sebagian didedikasikan untuk rumah ibadah kan?
Tapiiii... kalau satu kotamadya cuma ada satu Church Center, sebagian umat akan kesulitan dong mencapainya?
Yaaah... itu memang satu masalah sih. Tapi... let's face it. Kita2 ini kalau mau ke mal, seberapa jauh juga dijabanin. Yakin bahwa umat tidak akan melakukan hal yang sama demi beribadah? Gw sih yakin, kalau keimanannya kuat, hal ini akan dilakukan. Jadi, kalau mereka tidak melakukannya, itu masalah keimanan yang gak kuat ;-)
Masih ada yang keberatan dengan usul ini?
Hmmm... mungkin ada yang mikir bahwa ini bentuk lain dari diskriminasi terhadap minoritas. Nggak adil, karena kalau Muslim bisa bikin mesjid dimana2, sementara kaum minoritas harus berada di satu lokasi. Mirip seperti ghetto jaman holocaust dulu!
Well... untuk yang ini, gw terpaksa bilang bahwa keadilan itu juga harusnya proporsional. Tidak sama rata sama rasa ;-) Gw rasa jabaran mengenai keberatan masyarakat "ketempatan" gedung yang tidak akan dipakainya juga merupakan sebentuk ketidakadilan. Sudah dibayangkan bahwa jalanan di lokasi pemukiman mereka akan lebih cepat rusak karena setidaknya seminggu sekali didatangi ratusan orang dari tempat lain?
Sebagai catatan, di negeri2 yang muslimnya bukan mayoritas, bikin mesjid juga sama susahnya kok. Bahkan di beberapa negara yang gw kunjungi, mesjid terdekat bisa jadi adanya di kota lain. Masih ingat kan, belum lama ini Hamburg menyegel sebuah mesjid? Alasan resminya sih karena dicurigai itu tempat rekrutmen Al Qaeda, tapi... kalau menurut gw sih, tangkap saja rekruternya. Nggak perlu nutup mesjidnya juga kan ;-)?
So, apa yang gw ajukan ini mungkin memang bukan yang ideal, tetapi bukan berarti diskriminasi :-) Ini sebentuk keadilan yang proporsional.
***
Konsep ini adalah konsep tatakota kedua yang gw jabarkan di blog ini. Sebelumnya, gw pernah menyinggung tentang ide bahwa motor harus dilarang atau dijadikan satu2nya transportasi ;-) Emang sih, di situ singgungannya bernada nyindir... tetapi.... setidaknya itu beberapa langkah lebih maju daripada pemerintah Jakarta yang baru sekarang2 mikirin pembatasan motor.
Kalau konsep Church Center atau derivat2nya kelak dikembangkan juga oleh pemerintah... hmmm... kayaknya gw layak ya, jadi ahli tata kota? HAHAHAHA....
---------
Credit Title:
Judul posting dimodifikasi dari bukunya Goenawan Mohammad yang berjudul "Tuhan dan Hal-hal yang Tidak Selesai". Gw merasa judulnya pas banget untuk dipinjam... karena posting ini membahas hal-hal tidak selesai yang berkaitan dengan beribadat kepada Tuhan ;-)















