Date: Wed, 22 May 2013 09:41:16 +0200
Quote:
- Rumah Inspirasi
Jadi Dosen UI? Mana Sangka
http://rumahinspirasi.com/jadi-dosen-ui-mana-sangka/
Text:
Beneran lho, menjadi dosen dari sebuah universitas adalah sebuah hal yang nyaris tidak pernah masuk dalam pikiran. Lha ini kok malah dapat kesempatan jadi Dosen di UI, universitasku tercinta. Pertama, karena aku merasa hal itu NGGAK BAKAL MUNGKIN banget bisa terjadi, karena aku kan tidak menyelesaikan kuliahku dulu. Jangan tanya alasannya yah, terlalu idealis untuk diceritakan, hehehe.
Alasan berikutnya aku merasa nggak punya potongan (baca: wibawa) dosen sama sekali. Bayanganku dosen itu tuh (pantesnya) keibuan, sabar & lemah lembut seperti dosen2ku di Ars UI dulu. Ternyata memang bener kata Justin Bieber, “Never say never”. Jangan bilang nggak mungkin.
Walau statusnya dosen tamu (ya iyalaaah), tapi menurutku tetap saja ajaib. Aku pegang 3 kelas selama 1 semester, muridku hampir 60 anak dan materi kuliahku adalah Aplikasi Internet. Sebagai dosen tamu, aku berbagi waktu mengajar dengan seorang dosen tetap karena secara peraturan memang tidak bisa seorang dosen tamu memegang sebuah mata kuliah sendiri.
Sebenarnya keputusanku menerima tawaran menjadi dosen bukan semata-mata karena pengen tahu rasanya menjadi dosen, tapi aku ingin mencoba meretas jalan KKNI. Praktisi yang disetarakan dengan akademisi.
Mungkin banyak teman-teman yang belum tahu kalau Januari tahun lalu (2012) pemerinta menerbitkan Peraturan Presiden (perpres) tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI atau yang di luar negeri lebih dikenal dengan istilah National Qualification Framework (NQF) adalah sistem kualifiasi & kerangka kredit yang dikembangkan pertama kali di Inggris dan Irlandia Utara. Kerangka tersebut memiliki 9 tingkat yang mencakup semua tingkat pembelajaran di pendidikan menengah, lanjutan, kejuruan & tinggi.*
Menurut Perpres Nomor 8 Tahun 2012 tentang KKNI, kerangka kualifikasi adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor (Pasal 1).
KKNI terdiri atas sembilan jenjang yang dimulai dari tamatan pendidikan dasar (kualifikasi 1), pendidikan menengah baik SMA maupun SMK (kualifikasi 2), lulusan Diploma 1 sampai Diploma 3 (kualifikasi 3, 4, dan 5), dan lulusan pendidikan profesi (kualifikasi 6) serta S-1/Diploma 4, S-2 dan S-3 (berurutan kualifikasi 7, 8, 9).**
Dalam bahasa sederhananya, KKNI memungkinkan praktisi mendapatkan gelar yang setara dengan akademisi. Misalnya seperti contoh aku yang secara formal hanya memiliki ijazah SMA tapi punya pengalaman 10 tahun malang melintang di bidang web developer, maka melalui KKNI ada kemungkinan suatu hari pengalaman kerjaku ini dites & kemudian mendapatkan gelar yang mungkin setara dengan Si, S2, atau bahkan S3 bidang Web Development.
***
Kembali dalam kisahku menjadi Dosen. Ternyata menjadi Dosen cukup menyenangkan. Apalagi yang aku ajarkan adalah bidang yang aku suka & kuasai. Lebih senang lagi, karena materiku berbasis internet, walau hanya bertemu murid seminggu sekali (terkadang dengan internet yang mati pula di lab) perjalanan belajar tetap berjalan lancar.
Goalku adalah membuat seluruh mahasiswaku bisa bikin web portfolio mereka sendiri. Hasil karya (sementara) mahasiswaku bisa dilihat di sini. Berkat kecanggihan teknologi, aku bisa terus berkomunikasi dengan mereka via jejaring media sosial.
Aku menerapkan penilaian terbuka untuk mahasiswaku, semua materi yang aku ajarkan aku paparkan nilainya dan mereka punya kesempatan untuk memperbaikinya sampai jangka waktu yang ditetapkan. Jadi aturan mainnya sederhana, aku ingin mereka berhasil membuat web, mereka punya kepentingan untuk membuat nilai mereka menjadi baik, karena hasil web mereka adalah hasil UAS mereka. Ternyata sistem ini membuatku tak perlu “mengejar2″ mereka untuk membuat tugas, justru mereka yang mengejar2 aku begitu selesai membuat tugas dan berharap aku segera meng-update nilai mereka di web. Hehe.
Menjadi Dosen UI membuatku berksempatan mencicipi pelatihan membuat BRP (Buku Rancangan Pembelajaran) yang ternyata tak hanya berguna untuk membuat materi kuliah tapi juga untuk menyusun materi untuk anak-anakku sendiri.
Tentu saja, kesempatanku menjadi dosen tamu tak lepas dari usaha sahabat dosenku tercinta Wiwiet yang punya visi luar biasa untuk pendidikan mahasiswanya. Wiwiet tidak hanya berani memasukkan unsur internet yang kekinian dalam beberapa mata kuliahnya, tapi dia juga berusaha memasukkan banyak sekali unsur praktek dan terapan dalam setiap mata kuliah yang dipegangnya. Terima kasih untuk kesempatannya ya Wiet, really appreaciate it!
Sumber:
SKRI
*Wikipedia
**Suara Merdeka
Via FeedShow.com